Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Hari ulang tahun Fiona!


__ADS_3

Selama beberapa hari setelah kembali ke rutinitas masing-masing, Dave dan Fiona hanya bertemu di malam hari. Bahkan Dave sering pulang ketika Fiona sudah tertidur dan mereka hanya bertemu di pagi hari saat sarapan. Itupun mereka hanya akan berbincang sebentar.


Hari Jumat pun tiba, Fiona sedang bersama Angie di kantin di kampus. Angie sengaja menelpon Fiona dan mengajaknya makan siang. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka memilih duduk di luar karena cuaca sedang bagus hari itu.


"Fio, selamat ulang tahun. Semoga semua impianmu tercapai, bahagia dan banyak rejeki ya! Nih kado untukmu! Semoga kamu suka ya!"


"Terima kasih ya, Nggie!" ucap Fiona sambil membuka kado dari Angie.


Fiona membuka kertas kado dan dilihatnya, sebuah gaun berwarna biru gelap dengan panjang selutut. Fiona suka sekali dengan kado dari Angie langsung memeluk sahabatnya.


"Terima kasih, Nggie. Aku sungguh suka sekali. Tunggu sebentar, aku juga punya sesuatu untukmu!


Fiona membuka tasnya dan mengambil gaun pantai yang ia beli di bandara. Fiona memberikan gaun tersebut kepada Angie.


"Apa ini?" tanya Angie.


"Oleh-oleh dong. kamu suka?"


"Suka banget. Aku akan memakainya suatu saat ketika kita pergi ke pantai bersama. Terima kasih, Fio!"


"Sama-sama."


"Apa rencanamu nanti malam? Apakah Dave sudah memberikanmu hadiah?"


"Dave belum memberikanku hadiah namun dia berjanji akan mengajak aku untuk keluar nanti malam. Karena aku akan keluar malam ini, bagaimana kalau sebagai gantinya aku akan mengajakmu untuk makan siang besok? Apakah kamu sibuk?"


"Tidak, untuk sahabatku, aku tidak sibuk. Kalau begitu besok kamu akan kujemput jam 12 siang! Jangan lupa ya, ceritakan semua detail bagaimana malam ini berjalan. Aku agak penasaran." jawab Angie sambil mengedipkan mata.


"Apaan sih! Kita cuma makan malam tahu!" jawab Fione tersipu malu.


"Lebih dari makan malam juga gak apa-apa. Kalian kan sudah sah sebagai suami istri."


Fiona dan Angie melanjutkan makan siang mereka dan saling bertukar cerita tentang mereka masing-masing selama mereka tidak bertemu. Waktu berlalu cepat tanpa terasa dan mereka saling berpamitan. Angie ada kelas sore sedangkan Fiona sudah tidak ada kelas lagi. Fiona bergegas untuk pulang kerumah untuk bersiap-siap.


Sesampainya di rumah, Fiona segera menaruh tas dan pergi mandi. Untuk hari ini, Fiona memutuskan untuk sedikit berdandan dan memakai gaun yang diberikan Angie. Tidak lupa, Fiona memasang aksesoris seperti anting dan kalung peninggalan mama.


Oh, aku juga harus memakai gelang pemberian Dave, pikirnya.


Akhirnya jam sudah menunjukkan jam 19.15 namun Dave belum kunjung datang. Apakah Dave melupakan ulang tahunku? pikir Fiona.


Tiba-tiba ponsel Fiona berdering.


Itu pasti Dave! batin Fiona.


Namun dilihatnya, bukan Dave yang menelponnya melainkan Tommy.

__ADS_1


Fiona mengangkat ponselnya.


"Halo."


"Hi, Fio. Lagi apa?" tanya Tommy.


"Lagi duduk dirumah. Kamu lagi dimana?"


"Masih di kantor. Kamu  sudah makan?"


"Belum."


"Kalau begitu pas. Maukah kamu pergi menemaniku ke pembukaan restaurant milik temanku?"


Fiona berpikir bagaimana jika nanti Dave datang ketika dia sedang pergi bersama Tommy. Namun Dave seharusnya sudah datang dari tadi.


"Baiklah kalau kamu tidak malu membawaku." Ucap Fiona.


"Seharusnya kamu yang malu jika pergi bersamaku. Kalau begitu sampai jumpa 10 menit lagi."


Tommy mematikan ponselnya dan segera bergegas pergi ke rumah Fiona. Selang 10 menit sesuai perkataan Tommy, bel pintu rumah berbunyi.


Fiona membukakan pintu. Tommy terperangah melihat penampilan Fiona.


"Wow, kamu cantik sekali."


"Kalau begitu, ayo kita pergi!"


Fiona segera mengambil tas tangannya dan mengunci rumah. Tommy membukakan pintu mobil untuk Fiona dan mempersilahkan Fiona untuk masuk layaknya lelaki sejati.


Setelah mereka berada di dalam mobil, mereka segera meluncur di restaurant milik teman Tommy.


Sesampainya di restaurant, Fiona langsung jatuh cinta dengan restaurant tersebut. Restaurant tersebut terlihat berkelas dan mahal. Banyak mobil-mobil mahal parkir berjejer di parkiran. Restaurant tersebut memiliki konsep mediteranian, restaurant tersebut dikelilingi kaca-kaca yang memperlihatkan suasana taman yang mengelilingi ruangan. Di tengah terdapat lampu gantung yang tidak begitu terang sehingga menimbulkan kesan romantis. Semua meja dan kursi terbuat dari kayu dengan hanya hiasan bunga dan lilin di setiap meja.


Tommy menggandeng Fiona ketika mereka turun dari mobil. Teman Tommy langsung datang menyambut dan menyalami Tommy. Setelah berbasa-basi sebentar, teman Tommy memerintahkan pelayan untuk mengantarkan Tommy dan Fiona ke meja mereka. Mereka langsung memesan supaya bisa langsung dibuatkan.


"Kamu hari ini sungguh cantik sekali. Apakah kamu berdandan untukku?"


"Boleh aku jujur?" jawab Fiona.


"Boleh dong."


"Sebenarnya hari ini aku berulang tahun yang ke 19 dan Dave sudah berjanji akan membawaku keluar makan. Namun sampai kamu menelponku, Dave juga belum datang juga." ungkap Fiona.


"Lho, apakah Dave tidak memberitahumu? Hari ini dia senang sekali karena dia akan pergi ke Gala Dinner bersama super model, Lana Wilson! Dia sudah membicarakan hal ini terus menerus sepanjang hari di kantor tadi!"

__ADS_1


"Ah. Aku tidak tahu itu." raut wajah Fiona menunjukkan kekecewaan.


Tommy langsung menyadari perbedaan raut wajah Fiona. Dia tidak seharusnya membuat Fiona sedih.


"Maafkan aku, aku seharusnya tidak memberitahumu."


"Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu karena telah mengajakku ke restaurant mahal seperti ini. Tanpa ajakanmu, aku tidak akan pernah bisa pergi kesini. Aku juga sangat bersyukur karena aku tidak harus menghabiskan hari ulang tahunku sendirian."


"Kalau begitu, selamat ulang tahun Fiona! Maafkan aku karena tidak memberimu kado. Kadonya menyusul ya?"


"Ini sudah menjadi kado yang spektakuler bagiku! Sungguh aku berterima kasih kepadamu." ucap Fiona tulus.


Tanpa terasa waktu berlalu sangat cepat. Jam sudah menunjukkan jam 1 malam. Berbicara dengan Tommy sungguh sangat menyenangkan. Makanan dan minumannya semua enak.


Dave yang sudah pulang ke rumah, menemukan keadaan rumah kosong dan gelap. Dave mencari-cari Fiona di seluruh bagian rumah namun gadis itu tidak ada di rumah.


Dimana Fiona jam segini? batin Dave. Dave juga sudah mencoba menghubungi Fiona namun gadis itu tidak menjawabnya atau membalas pesannya.


Dave memutuskan untuk menunggu Fiona di sofa yang terletak di ruang keluarga. Lampu rumah juga tidak dinyalakan. Tidak lama kemudian, suara mobil datang mendekati rumah. Fiona yang telah pulang, membuka pintu rumah dan masuk.


"Darimana saja kamu?" suara Dave yang marah membuat Fiona kaget.


"Dari pergi bersama Tommy?" jawab Fiona enteng.


"Kamu pergi bersama Tommy hingga selarut ini?" Dave menghidupkan lampu di ruang keluarga.


Dave melihat penampilan Fiona yang terlihat cantik dan elegant. Dia merasa marah sekali karena melihat Fiona sengaja berdandan dan memakai gaun mahal untuk lelaki lain. Diraihnya tangan Fiona.


"Iya. Aku diajak Tommy untuk pergi makan di restaurant mahal!"


"Kenapa kamu tidak memberitahuku? Aku juga bisa mengajakmu ke restaurant mahal!"


Sesaat raut wajah Fiona berubah menjadi sedih. Disingkirkannya tangan Dave dari tangannya.


"Hari ini ulang tahunku. Kamu sudah berjanji akan mengajakku pergi! Namun kamu malah menggandeng super model untuk pergi ke Gala Dinner! Kenapa aku tidak bisa pergi bersama lelaki yang mengajakku pergi di hari ulang tahunku?"


Dave yang sudah lupa akan hari ulang tahun Fiona, mendadak merasa bersalah. Wajah Dave berubah pucat.


Fiona langsung berlari ke arah kamar dan menguncinya. Fiona tidak mau mendengar penjelasan Dave.


Dada Dave terasa sakit lagi karena dia telah bodoh. Dia sudah berjanji akan mengajak Fiona pergi namun dia sendiri malah lupa karena ajakan dari super model.


Dave membayangkan Fiona yang sudah berdandan cantik dan memakai gaun itu untuk dirinya, namun dia malah lupa. Dia juga membayangkan Fiona yang telah menunggunya namun dia tidak kunjung datang.


Dave sungguh merasa frustasi dan bersalah.

__ADS_1


Namun nasi telah menjadi bubur.


__ADS_2