
Hujan deras dan petir yang menyambar menjadi suasana di luar rumah, Fiona duduk di meja dan mencoba untuk berkonsentrasi untuk belajar ujian tengah semesternya. Namun ada sesuatu yang mengganggu hati kecilnya, pertanyaan Dave tentang jatuh cinta!
Tidak mungkinkan kalau Dave tahu kalau aku jatuh cinta dan masih mencintainya dari sejak aku kecil? pikir Fiona.
Fiona tidak mampu berkonsentrasi dan menatap Dave yang sedang bekerja dengan laptopnya di seberang meja. Sikap Dave sejak makan malam, menjadi aneh. Wajah tampan Dave yang semula ceria menjadi muram! Dave yang semula agak bersemangat, setelah bertanya pertanyaan tersebut ke Fiona, menjadi pendiam!
Suasana malam itu menjadi canggung dan sunyi. Fiona bangkit dari kursi dan pergi menuju ke dapur dimana kulkasnya berada. Dia membuka kulkas dan mengambil melon untuk dikupasnya. Dengan pisau kecil tapi tajam, Fiona menggunakan pisau tersebut untuk mengupas melon. Dibuangnya kulit dan biji melon. Melon yang sudah dikupas, dicuci bersih dan diletakkan dalam mangkuk besar. Lalu Fiona membawanya ke tempat Dave bekerja dan meletakkan mangkuknya di meja.
"Aku sudah mengupas melon. Yuk, kita makan bareng-bareng!" ajak Fiona untuk mencairkan suasana.
Dave menoleh dan menatap Fiona, hatinya sakit mengetahui Fiona sudah pernah dan masih jatuh cinta kepada lelaki lain. Nafsu makan Dave hilang karena rasa sedih. Namun Fiona mengambil garpu dan mulai menyuapi Dave.
"Dave, makanlah!"
Akhirnya karena Fiona sendiri yang menyuapinya, Dave mau membuka mulutnya. Melon itu terasa sangat manis seperti Fiona.
"Kenapa kau bertanya tentang apakah aku pernah jatuh cinta?"
"Karena aku ingin tahu. Baru-baru ini aku juga baru merasakan rasanya jatuh cinta!" jawab Dave.
Deg, suara jantung Fiona yang berdetak serasa mau copot berbarengan dengan suara petir yang menyambar.
Dave sudah jatuh cinta! Apakah dia jatuh cinta bersama Lana? pikir Fiona.
"Apakah kamu jatuh cinta kepada Lana?"
"Bukan, aku tidak pernah jatuh cinta kepada Lana dan tidak akan pernah!"
"Kalau bukan dengan Lana, boleh aku tahu dengan siapa kamu jatuh cinta?"
Dave menatap mata Fiona dengan lebih dalam dan membuat Fiona menjadi kalang kabut. Jantungnya berdetak kencang.
Tidak mungkinkan kalau Dave jatuh cinta kepadaku? batin Fiona.
"Bolehkah aku bertanya lagi?" tanya Dave.
__ADS_1
"Boleh!" ucap Fiona yang berusaha mengontrol suaranya sendiri.
"Bolehkah aku tahu siapa lelaki yang beruntung itu?"
"Lelaki yang beruntung? Lelaki yang mana?"
"Lelaki yang sudah membuatmu jatuh cinta dan menunggu!"
Perasaan Fiona sungguh-sungguh berdebar kencang. Perasaannya ragu untuk mengatakan yang sebenarnya! Wajah Dave menjadi serius dan di antara mereka hanya ada kesunyian karena Fiona tak kunjung menjawab!
Fiona mengumpulkan keberaniannya dan sambil menelan ludah berkali-kali karena masih ragu-ragu untuk menjawab!
"Lelaki itu adalah..."
Fiona masih ragu untuk menjawab! Bagaimana jika Dave menjadi jijik jika mengetahui kalau Fiona mencintainya? pikir Fiona.
"Lelaki itu adalah?" ulang Dave bertanya karena tidak sabar untuk mendengar jawaban dari gadis itu.
"Dave Emanuel!" ucap Fiona sambil menutup mata dan merasakan jantung berhenti sejenak.
Dave kaget sekaligus senang! Fiona yang menutup matanya, enggan untuk membukanya karena takut melihat ekspresi wajah Dave. Sebuah bibir lembut mencium bibirnya dan membuat gadis itu untuk membuka mata!
"Aku juga mencintaimu!" ungkap Dave.
"Eh?"
"Aku sudah jatuh cinta kepadamu, Fiona! Tommy berkata bahwa aku adalah orang yang bodoh karena tidak bisa melihat tanda-tanda darimu!"
"Tommy tahu kalau aku sudah cinta kepadamu? Bagaimana ia tahu?"
"Itu tidak penting sekarang!" jawab Dave sambil menggendong tubuh mungil Fiona secara tiba-tiba.
Fiona kaget karena digendong Dave dan tidak bisa melawan. Dave membawa istrinya tercinta ke dalam kamar. Setelah masuk ke dalam kamar, Dave meletakkan tubuh Fiona dengan lembut di atas ranjang. Bibir Dave mengecup bibir Fiona berulang kali dengan lembut.
"Aku telah berhasil menikahimu dan mendekatimu, sekarang kamu tidak mungkin untuk lepas dariku!" ucap Dave sensual.
__ADS_1
Bibir Dave membuat otak Fiona lumpuh dan tubuh gadis itu mendamba! Bibir sensual Dave membuka bibir Fiona dengan penuh gairah. Tubuh Dave menekan tubuh Fiona dengan lembut sementara ia menciumi gadis itu dengan perasaan mendamba yang sudah ditahannya selama berminggu-minggu. Ketika Fiona mengerang, Dave merasa tubuhnya gemetar karena kebutuhan yang menyakitkan.
"Kau membunuhku!" katanya serak.
"Ap...apa?"
Dave mengangkat kepalanya dan menunduk menatap mata cokelat besar yang lembut dan penasaran.
"Kau sama sekali tidak tahu," gumam Dave. "Bisakah kau tahu saat seorang pria sedang sekarat karena gairah?"
Alis Fiona terangkat sementara Dave menopang berat tubuhnya di tangannya yang berada di atas ranjang dan tiba-tiba mendekap Fiona erat-erat dengan tangan yang lain.
Fiona menelan ludah susah payah dan wajahnya berubah menjadi memerah. Cara Dave menatap Fiona sungguh sangat berbeda dengan caranya menatap gadis itu sebelumnya. Ada rasa lapar di mata Dave ketika menatap gadis itu sekarang. Tangan Dave dengan cepat meluncur ke arah punggung Fiona dan menarik kaus yang dikenakan gadis itu ke atas untuk mencopotnya. Fiona yang juga terbakar dengan api gairah, hanya patuh kepada pria itu.
"Kau terasa seperti permen!" bisik Dave di telinga gadis itu.
"Kau tidak pernah bilang kalau aku manis atau cantik atau sebelumnya!"
"Kau memang manis. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Kau membuatku bergetar setiap kali berada di dekatmu!"
Fiona terkesiap merasakan kenikmatan yang hangat. Tangannya melilit rambut Dave dengan jari-jari lentiknya.
"Apakah kau sungguh siap untuk melakukan lebih daripada tidur bersama?"
Fiona mengangguk pelan dengan malu. Fiona juga ingin menjadi istri sesungguhnya untuk lelaki yang sudah dicintainya bertahun-tahun. Rasanya lega dan bahagia mengetahui kalau Dave ternyata juga memiliki perasaan yang sama dengannya, yaitu CINTA!
Dave merasakan tubuh Fiona tersentak ketika gadis itu mencoba menolak kejutan dari penyatuan tubuh mereka, tetapi mulut Dave mencium lembut bibir Fiona, tangannya menenangkannya, menggodanya, membujuknya, membiarkan penyatuan mereka.
Fiona teerkesiap, tangannya mencengkeram punggung Dave dengan campuran rasa takut dan bahagia.
"Sakitnya tidak akan lama!" bisik Dave menenangkan, dan lidaahnya mendesak bibir gadis itu sementara ia memulai irama pelan dan mantap yang menjalari saraf Fiona seperti kenikmatan murni saat menaiki roller coaster.
"Aku mencintaimu, Sayang." bisik Dave lembut.
Kebahagiaan membanjiri Fiona. "Aku juga sangat mencintaimu!" bisiknya terengah.
__ADS_1
Selama beberapa saat merasakan rasa baru untuk mereka berdua, kenikmatan puncak mendatangi mereka berdua secara bersamaan. Nafas mereka berdua terengah-engah.
Dave menarik Fiona ke pelukannya sembari menguap lebar dan sementara hujan lebat di luar mengiringi mereka, mereka tertidur lelap dengan rasa bahagia dan lega. Hanya kesunyian malam yang menemani pasangan yang berbahagia itu!