Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Lana pingsan!


__ADS_3

Sesudah mendengar kabar bahagia tersebut, raut wajah Tommy terlihat lebih rileks dan lembut. Dia menyuruh Lana untuk sarapan lebih banyak dan melarang Lana untuk meminum kopi. Lana merasa sesak dengan perhatian tiba-tiba dari lelaki yang sedang duduk di hadapannya. Gadis itu tahu bahwa perhatian yang didapatkannya, itu karena dia sedang mengandung anak lelaki tersebut dan bukan karena lelaki itu mencintainya. Hatinya terasa sedih.


Waktu berlalu dengan cepat dan menunjukkan pukul delapan pagi. Lana berpamitan ke kamarnya dan bersiap-siap untuk mengganti pakaiannya. Sesudah berpakaian, Lana memoles wajahnya tipis dan puas dengan hasilnya. Persidangan ini akan menjadi yang pertama dalam hidupnya, Lana menjadi sedikit takut dan khawatir tapi ia enggan untuk memberitahu Tommy. Ia takut jika Tommy akan berpikir bahwa dirinya adalah wanita yang bodoh dan lemah.


Lana turun dari lantai dua dan menuju ke sofa dimana Tommy sedang duduk dan menelpon seseorang. Tommy melihat kedatangan Lana yang terlihat cantik dengan gaun berwarna putih dengan potongan pendek selutut dan sederhana. Tommy langsung menghentikan percakapannya dengan sekretarisnya. Tommy mengabari sekretarisnya bahwa ia tidak akan mampir ke kantor dan akan langsung menuju ke pengadilan bersama Lana sehingga sekretarisnya dapat menyiapkan berkas-berkas lainnya ketika ia kembali ke kantor nanti.


Mereka berdua bergegas menuju ke pengadilan dengan mobil Tommy. Sesampainya di pengadilan, mereka duduk di bangku panjang di depan ruang persidangan. Tak lama kemudian, datanglah desainer yang melecehkan Lana. Desainer itu memandang Lana dengan jijik dan melecehkan. Tommy melihat desainer tersebut dan menatapnya dengan tatapan dingin. Sebagai pengacara yang handal, Tommy sudah berlatih bertahun-tahun untuk bisa mengendalikan perasaannya. Namun Tommy melihat ada yang aneh dengan Lana.


Gadis itu terlihat cemas. Tangan Lana saling menggenggam dan jari Lana bergerak tidak lazim dan menyakiti jari yang lain. Gadis itu tampak sangat takut dan khawatir. Tommy berusaha menghentikan Lana untuk menyakiti tangannya sendiri. Tangan Tommy menggenggam tangan Lana dan meremasnya lembut untuk menenangkan hati gadis tersebut.


Lana menatap Tommy dengan rasa bersyukur dan terima kasih, namun tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tommy menyadari apa yang terjadi bagi Lana dan bertekad ia akan melindungi gadis itu dan memenangkan kasus tersebut.

__ADS_1


Banyak sekali wartawan yang datang dan mengambil foto dari Lana dan desainer tersebut dan membuat keadaan semakin tidak menyenangkan. Beberapa saat kemudian, ruangan persidangan dibuka. Lana dan Tommy masuk ke dalam. Seperti biasa, agenda persidangan pertama hanya untuk mendengarkan gugatan dalam kasus tersebut sehingga tidak memakan waktu lama. Semua berlangsung normal dan lancar. Jadwal persidangan selanjutnya akan dilaksanakan seminggu kemudian.


Mereka bersiap-siap untuk keluar dari ruangan, namun puluhan wartawan sudah menunggu untuk mendapatkan kabar eksklusif ini. Desainer tersebut sudah keluar lebih dahulu dan memberikan pernyataan kepada wartawan bahwa Lana tidak sepolos seperti yang orang pikir dan gadis itu dengan terang-terangan sudah mencoba untuk menggodanya terlebih dahulu.


Lana yang tidak terima dengan pernyataan tersebut, berusaha mendatangi desainer tersebut. Namun para wartawan yang terlalu banyak tersebut, menghalangi jalannya. Desainer tersebut berhasil untuk masuk ke mobilnya dan meninggalkan gedung pengadilan. Sedangkan banyak wartawan masih berkumpul dan menghalangi Lana untuk masuk berjalan ke parkiran mobil.


Tommy tampak berusaha untuk melindungi gadis itu, tapi banyak wartawan dengan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan. Dengan sinar matahari yang lumayan terik, banyaknya wartawan dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan gadis itu, Lana terasa sesak nafas dan pandangan matanya mulai kabur menjadi putih.Tommy yang sedang berusaha mencari jalan untuk mereka berdua, melihat Lana jatuh pingsan ke lantai.


Jalanan yang macet, membuat Tommy semakin marah. Setiap saat, Tommy selalu berusaha untuk mengecek keadaan Lana. Tak berapa lama, gadis itu sadar dari pingsannya setelah Tommy mengoleskan minyak di hidungnya.


"Kita ada dimana?" tanya Lana dengan lemah.

__ADS_1


"Kita dalam perjalanan ke rumah sakit!" jelas Tommy.


"Aku..Aku ingin pulang!" pinta Lana.


"Kita harus ke rumah sakit!"


"Please, tolong. Para wartawan pasti akan mengejar kita kesana. Aku hanya ingin pulang!"


Tommy tidak ingin membantah Lana yang terlihat sangat rapuh dan lemah. Tetapi ia tidak membawa Lana kembali kerumahnya melainkan membawa gadis itu ke apartemennya. Gadis itu tertidur dan wajahnya tampak sangat pucat. Setelah sampai di apartemen, Tommy membaringkan gadis itu di ranjangnya. Tommy meninggalkan Lana untuk beristirahat dan berjalan ke arah ruang keluarga dan menelpon sekretarisnya bahwa ia tidak akan datang ke kantor hari ini.


Setiap beberapa menit, Tommy datang ke kamar untuk mengecek keadaan Lana. Gadis itu tertidur namun wajahnya tampak tidak ada kedamaian dan hanya kecemasan. Diusapnya wajah gadis itu! Tommy yang menunggui dan menjaga Lana akhirnya jatuh tertidur juga karena ia tidak bisa tidur semalam.

__ADS_1


__ADS_2