Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Kedatangan papa mama Dave.


__ADS_3

Sebelum matahari terbit, papa Dave, Om Johan sudah ribut untuk bersiap-siap dan berangkat ke bandara. Tante Julia, sang istri yang sudah menikah puluhan tahun, hanya menggelengkan kepala, melihat kelakuan suaminya yang masih tidak berubah walau usianya sudag bertambah tua dan rambut putih sudah semakin banyak dibandingkan dengan rambut hitam.


Walau Papa Dave sudah cukup berumur, namun ketampanannya masih tidak pudar. Tidak heran Dave yang mewarisi ketampanan dari ayahnya, juga banyak dilirik oleh para gadis-gadis. Fiona menyadari ketampanan suaminya ketika Dave dan Tommy datang menjemputnya di kampus, banyak para gadis lainnya melihat Dave dan Tommy seperti seorang aktor Korea yang ada campuran dengan bule. Ketika para gadis tersebut bahwa kedua lelaki itu datang untuk menjemput Fiona, mereka iri dan banyak bergosip di belakang Fiona. Namun gadis itu tidak terpengaruh sama sekali karena Angie selalu berkata untuk cuek saja.


Papa dan mama Dave sudah mengabari Tommy kalau saat ini mereka sudah dalam perjalanan ke bandara dan akan sampai di sana dalam waktu dua jam. Tommy juga sudah bangun walaupun masih terlalu awal. Akhir-akhir ini Tommy semakin parah penyakit insomnianya. Dia juga merasa kesepian dan merindukan Lana. Namun Tommy merasa dia harus memberikan kesempatan kepada Lana untuk bernafas. Tommy tidak ingin Lana merasa terdesak oleh dirinya. Kata-kata yang diucapkan Dave dan Fiona tentang bagaimana mereka akhirnya jatuh cinta, banyak mempengaruhi kondisi psikis Tommy.


Tommy yang berasal dari keluarga berantakan, sangat mengidamkan kedamaian dan rumah tangga yang harmonis.


KOMITMEN??? Apakah hanya komitmen akan cukup dalam berumah tangga? Bagaimana jika aku atau Lana akhirnya menyadari bahwa salah satu dari kami ternyata sudah jatuh cinta kepada orang lain? Bagaimana dengan nasib pernikahan atau anak yang saat ini masih berada di dalam kandungan? batin tommy sambil mengepalkan tangan.


Tommy berdiri di dapurnya sambil menikmati kopi hitam pahitnya. Ditatapnya sepasang cincin pernikahan dan satu cincin tunangan yang berada di hadapannya. Mereka tampak begitu berkilau dan mewah. Namun buat apa cincin mahal yang tampak berkilau jika orang yang memakainya hanya untuk formalitas? Tommy menginginkan pernikahan yang bahagia. Dia sungguh tidak ingin menjadi seperti ayahnya dan dia takut jika ia akan menjadi seperti ayahnya.


Tommy menutup kotak cincin-cincin tersebut dan memasukkannya ke lemari penyimpanan di kamar. Ia melanjutkan persiapannya dengan mandi dan kemudian bergegas ke  bandara untuk menjemput kedua orang tua Dave.


 


*****Di Bandara*****


Papa dan mama Dave sudah mengambil bagasi mereka dan meletakkannya di trolley. Om Johan mendorong trolley mereka dan melangkah keluar. Pandangan Om Johan dan Tante Julia mencari sesosok lelaki yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Tommy yang kesulitan mencari parkir mobil, akhirnya mendapatkan parkir dan langsung berlari ke pintu kedatangan. Tommy terengah-engah karena habis berlari yang cukup jauh.


"Pagi Om, Tante. Maaf saya sedikit terlambat. Susah untuk mencari parkir Om,Tante!" ucap Tommy.


"Tidak apa-apa, Tom. Om dan Tante juga baru saja keluar kok!"

__ADS_1


"Bagaimana penerbangannya Om? tanya Tommy yang sedang menyalami dan mencium tangan kedua orang tua Dave.


"Baik sekali. Sama sekali tidak ada turbulensi!"


"Syukurlah. Rencana Om dan Tante, kita mau langsung ke rumah sakit atau ke rumah Fiona?"


"Kita ke rumah sakit aja. Tante sudah tidak sabar untuk melihat keadaan menantu Tante!" jawab Tante Julia yang memotong perkataan Tommy.


"Iya, kita ke rumah sakit aja. Masalah koper Om dan Tante, biarkan nanti Dave yang mengirim ke rumah." lanjut Om Johan.


Mereka menghabiskan waktu dengan berbincang ringan dalam perjalanan ke parkiran mobil. Setelah mencapai mobil, Om dan Tante disuruh Tommy untuk langsung masuk ke mobil sedangkan Tommy memasukkan koper-koper mereka ke dalam mobil dan mengembalikan trolley ke tempat asalnya. Kemudian Tommy kembali bergegas ke mobil dan mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.


"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini, Tommy? Apakah sudah menemukan wanita idaman hati?" goda Om Johan.


"Baik sekali Om. Kantor semakin sibuk. Dave handal sekali dalam menarik kepercayaan orang-orang besar sehingga kami banyak mendapatkan kasus dari perusahaan-perusahaan besar. Untuk wanita...hmmm..."


"Saya sudah melakukan kesalahan Tante. Tante tahu seorang model terkenal?"


"Siapa?" tanya Tante Julia kebingungan dengan maksud dari Tommy.


"Lana Wilson!"


"Lana yang jadi brand ambassador dari kosmetik terkenal yang wajahnya ada dimana-mana itu? Ada apa dengannya, Nak?"

__ADS_1


"Dia hamil anak saya, Tante! Jadi saya sedang berusaha untuk menikahinya!"


"Apa?!" jerit Om Johan dan Tante Julia bersamaan.


"Iya Om dan Tante. Maafkan Tommy. Saya sudah menganggap Om dan Tante seperti orang tua Tommy sendiri, jadi Tommy tidak ingin berbohong kepada kalian. Tommy melakukan kesalahan karena mabuk, Tante!"


"Kamu harus bertanggung jawab!" ucap Om Johan.


"Tetapi saya salut denganmu. Kamu tidak enggan untuk mengakui kesalahanmu. Doa Om, semoga kalian bisa menemukan cinta kalian dan berbahagia. Jangan lupa untuk mengundang Om dan Tante!" lanjut Om Johan sambil menepuk pundak Tommy.


"Makasih, Om! Kalau saya tidak serakah, bolehkah saya meminta sesuatu kepada Om Johan?"


"Apa saja, Tom! Om akan membantu apapun semaksimal mungkin!"


"Saya ingin Om menjadi saksi dalam pernikahan saya. Lana juga tidak memiliki orang tua lagi, bisakah Om Johan yang menggandengnya ke altar Om?"


"Tentu saja bisa. Tapi untuk menggandeng tangan Lana menuju ke altar, akan lebih baik jika kamu bertanya kepada gadis itu sebelum mengambil keputusan. Siapa tahu dia sudah memiliki orang lain untuk melakukan itu?"


"Kalau begitu bagaimana kalau nanti malam, saya menjemput Om dan Tante untuk makan malam bersama Lana?"


"Atur saja, Tom! Kalau keadaan Fiona sudah membaik dan tidak mengkhawatirkan, bisa saja!"


Raut wajah Tommy menjadi lega. Dia sudah menjadi seperti anak sendiri bagi kedua orang tua Dave. Mereka juga sudah banyak membantu Tommy ketika awal Tommy mulai bekerja dengan Dave. Tommy merasa bersyukur bisa menemukan orang-orang seperti Dave dan keluarganya.

__ADS_1


Akhirnya mereka telah sampai ke rumah sakit. Tommy menelpon Dave untuk turun ke parkiran mobil untuk memindahkan koper kedua orangtuanya dan kemudian berpamitan untuk berangkat ke kantor! Mereka berterima kasih kepada Tommy dan berkata bahwa mereka akan menunggu info tentang makan malam dari Tommy. Lalu Dave sudah mengambil alih untuk mengantar kedua orangtuanya menuju ke kamar Fiona. Dalam perjalanan menuju ke kamar, Dave menceritakan kronologi kejadian yang menimpa Dave. Awalnya Om Johan sudah mau memarahi anaknya, namun ketika melihat keadaan Dave yang bertambah kurus dan terlihat merana, Om Johan menjadi enggan untuk memarahi anaknya.


Dalam perjalanan ke kamar, Om dan Tante berhenti untuk mencari dokter jaga yang sedang bertugas untuk mencari tahu lebih jelas tentang keadaan menantunya. Dave memberitahu kedua orang tuanya nomor kamar Fiona dan pergi meninggalkan mereka terlebih dulu ke kamar.


__ADS_2