Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Fiona menghindari Dave!


__ADS_3

Di subuh hari, Fiona yang tidak bisa tidur langsung pergi untuk pergi mandi. Fiona melirik ranjang dan Dave tidak ada disana. Mungkin semalam Dave tidur di luar atau di kamar tamu, pikir Fiona. Fiona bergegas untuk memakai pakaiannya dan pergi keluar dari kamar. Fiona membuka pintu kamar dengan pelan dan melihat Dave sedang tidur di sofa. Fiona berjalan mengendap-endap agar tidak membangunkan Dave dan segera keluar dari rumah. Tidak lupa, Fiona mengunci pintu rumah.


Cuaca di pagi hari sungguh sejuk dan segar. Tidak banyak orang yang keluar dari rumah, paling hanya ada beberapa ibu-ibu yang sedang menyapu halaman rumah. Fiona tidak mempunyai tujuan, dia hanya tidak mau berada di rumah dan bertemu dengan Dave. Hatinya masih terasa sakit!


Fiona berjalan tanpa arah dan akhirnya sampai di sebuah taman besar dengan danau kecil di tengahnya. Beberapa orang terlihat sedang berolahraga. Ada yang sedang berjalan, bersepeda dan berlari. Fiona yang sedang tidak bersemangat, hanya duduk di sebuah bangku di taman.


Apa yang harus kulakukan hingga jam 12 siang nanti? Aku harus mengabari Angie supaya tidak menjemputku dirumah! pikir Fiona.


Segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan singkat buat Angie untuk menemuinya di salah satu mall.


Ketika hendak memasukkan ponselnya, ada seseorang memanggil namanya.


"Fiona? Apa yang sedang kamu lakukan? tanya Tommy yang berhenti dari lari paginya. Tommy duduk di samping Fiona.


"Aku dan Dave bertengkar semalam dan aku tidak mau menemuinya. Jadi aku menyelinap ketika dia masih tidur! Kalau kamu, apa yang sedang kamu lakukan disini?" Fiona merasa bodoh.


Kenapa sih aku bertanya padahal Tommy jelas-jelas sedang berlari. Dilihat dari pakaiannya aja sudah kelihatan kalau dia sedang olahraga.


"Aku hampir setiap hari berlari disini. Kalau tidak sempat di pagi hari, aku berlari ketika malam setelah pulang kerja. Jarak apartemenku ke sini dekat. Kamu sudah makan?"


"Belum." ketika Fiona berkata belum, perutnya berbunyi menandakan bahwa dia sedang lapar. Tommy terkikik ketika mendengar suara perut Fiona.


"Apa kamu suka bubur ayam dan dim sum?"


"Suka semuanya." jawab Fiona lantang.


"Aku rasa kebahagiaanmu dari makanan ya?"


"Iya. Kamu tidak akan melanjutkan lari pagimu? Aku bisa menunggumu disini."


"Tenang, aku sudah berlari sejak jam 5 pagi dan aku juga merasa agak lapar."


"Oke kalau begitu, yuk. Tapi kali ini biarkan aku yang mentraktirmu. Anggap saja perayaan ulang tahunku yang tertunda."

__ADS_1


"Aku tidak akan segan-segan untuk memesan banyak kalau begitu. Bagaimana kalau kita beli untuk kita bawa pulang?"


"Bawa pulang? Aku tidak mau pulang!"


"Bukan pulang ke rumahmu tapi ke rumahku! Kan kamu belum pernah ke rumahku!"


"Boleh." ucap Fiona merasa tenang.


"Kamu tidak takut masuk ke kandang macan?"


"Maksudmu?" Fiona merasa bingung dengan perkataan Tommy.


"Iya, gadis secantik kamu akan datang ke rumahku. Bujangan tua yang sendirian!"


"Hahaha. Kamu kan tidak setua itu, ya kan?"


"Aku lebih tua darimu 12 tahun lho. Tahun ini aku akan menjadi 31 tahun. Tepatnya bulan depan. Aku lahir tanggal 16 Oktober."


"Tunggu, aku akan memasukkan tanggal ulang tahunmu di kalender ponsel. Nanti kita akan merayakannya!"


"Kamu serius? Kamu serius mau menemaniku merayakan ulang tahunku?"


"Iya, kenapa tidak? Kamu kan sudah jadi teman baikku!" ucap Fiona lugu.


Tommy mencerna perkataan Fiona yang polos. Teman? Jadi itu yang dirasakan Fiona terhadapnya? Tunggu saja. Dia bahkan belum memulai usaha apapun untuk menaklukkan hati gadis ini.


"Ayo kita pergi, aku sudah lapar!" panggil Fiona dengan ceria.


Mereka berjalan menyusuri taman dengan santai dan berbincang-bincang. Di lain sisi, Dave yang sudah terbangun berusaha mengetuk kamar namun tidak ada jawaban. Dave membuka pintu kamar dan menemukan kamar kosong. Dave mengambil ponselnya yang diletakkan di atas meja dan mencoba menghubungi ponsel Fiona namun tidak diangkat.


Gadis itu pasti sangat marah dan kecewa, gumam Dave. Karena tidak bisa menghubungi Fiona, Dave membuka media sosialnya. Dibukanya satu persatu teman-teman Dave yang sudah bangun dan meng-update status mereka di Minggu pagi. Dave melihat kalau Tommy sedang memposting beberapa foto. Foto pertama menunjukkan kalau Tommy sedang berlari di taman dekat apartemennya. Foto kedua nampak foto Tommy sedang bersama Fiona yang sedang tersenyum merekah. Darah Dave terasa sedang mendidih. Dave mencari nomor kontak Tommy dan mencoba menghubunginya. Namun Tommy juga tidak menjawabnya! Dave segera mengambil kunci mobilnya dan meluncur ke arah taman.


Disusuri seluruh tempat di taman namun Tommy dan Fiona sedang tidak ada disana.

__ADS_1


Kemana mereka berdua? batin Dave.


Fiona dan Tommy yang sedang berjalan ke arah apartemen Tommy dengan bubur dan dimsum di tangan, sedang bercanda. Kenapa aku tidak pernah bisa bercanda seperti ini dengan Dave? pikir Fiona.


Sesampai mereka di apartemen, Fiona terpukau dengan apartemen Tommy yang besar dan bersih.


"Apakah ini apartemenmu?"


"Iya, aku membelinya dan pindah kesini tahun lalu. Kenapa? Kamu suka?"


"Gila, ini pasti mahal banget. Suka! Dari sini bisa melihat pemandangan kota dan taman."


"Anggap aja seperti rumah sendiri ya. Aku akan pergi mandi sebentar biar gak bau. "


Tommy masuk ke dalam kamar dan mengecek ponselnya. Dilihatnya Dave sudah menghubunginya lebih dari 20 kali. Ditaruhnya ponselnya dan Tommy pergi mandi. Sementara Fiona di luar sedang mencari-cari letak piring dan sendok. Fiona membuka makanan yang sudah dibelinya agar nanti kalau Tommy sudah selesai, mereka bisa langsung makan. Selesai membuka semua makanan, Fiona membuang bungkusan makanan dan mencuci tangannya. Sembari menunggu Tommy, Fiona membuka ponselnya.


Dave menguhubunginya beberapa kali dan ada beberapa pesan dari Dave.


"Dimana kamu, Fiona?"


"Apakah kamu sedang bersama Tommy?" dibelakangnya ada emoji marah.


"Angkatlah telpon dariku!"


"Balas pesanku, please!"


Tiba-tiba Tommy sudah berdiri di depan Fiona. Tommy memakai kaos putih polos dan celana pendek. Perut Tommy yang rata terlihat ketika memakai kaos ini. Rambut Tommy masih basah. Tommy tidak kalah menarik dari Dave, pikir Fiona. Hidupku yang semula biasa-biasa saja namun sekarang dikelilingi pengacara-pengacara tampan!


"Siapa, Fio?"


"Dave! Tidak ada yang penting kok!" Fiona memasukkan ponsel ke dalam saku.


"Kalau begitu, ayo makan!" ajak Tommy.

__ADS_1


Ketika mereka hendak makan, ada orang yang membunyikan bel apartemen Tommy. Tommy berjalan untuk membuka. Setelah dibuka pintunya, Dave menerobos masuk! Dave menemukan Fiona sedang duduk di meja makan di dapur! Dave terlihat sangat murka.


__ADS_2