Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Fiona menjaga jarak dan Dave merasa frustasi!


__ADS_3

Pagi ini, mereka malas untuk sarapan di restaurant yang kemarin mereka kunjungi. Jadi, mereka memutuskan untuk memesan makanan supaya diantarkan ke bungalow mereka. Selama menunggu makanan, Fiona duduk di sofa dan menonton TV. Sedangkan Dave sedang berada di pantry atau tepatnya di belakang Fiona. Dave sedang mencoba untuk fokus bekerja, namun dia malah fokus melihat punggung Fiona yang sedang menonton TV. Walaupun Fiona tetap memakai gelang pemberian Dave, Fiona bersikap berbeda terhadap Dave. Dave sangat sadar perbedaan sikap Fiona yang lebih sopan dan menjaga jarak.


Saat itu, Dave ingin sekali bertanya kepada Fiona tentang Tommy yang merupakan rekan kerjanya. Apakah Fiona akan memberi kesempatan kepada Tommy? Apakah Tommy betul-betul menyukai Fiona? Bagaimana kalau Tommy dan Fiona saling menyukai satu sama lain setelah mereka bertemu? Apakah Fiona akan menceraikanku? Apakah aku akan siap untuk menceraikan Fiona? pikir Dave.


Dave yang menjadi semakin gusar, mengepalkan tangannya. Rasanya, ia ingin sekali datang menghampiri Fiona dan menjadikannya miliknya. Tapi itu akan menjadi keputusan yang sangat buruk. Saat ini yang bisa dilakukan Dave hanya melihat Fiona dari belakang. Ketika Dave merasa gusar, Fiona sedang tertawa terpingkal-pingkal oleh acara yang sedang ditontonnya.


Bahkan suara tawanya saja, sangat enak didengarkan. Rambut Fiona yang pendek dan berpotongan Bob, mempertontonkan leher jenjang Fiona yang mulus. Ingin rasanya Dave menciumi leher tersebut seperti kemarin dan membuat dirinya dan Fiona bernafsu. Dave mengenang kembali bagaimana rasa bibir Fiona di bibirnya, bibir Fiona yang merekah ketika dicium dan digigiti olehnya. Dave tidak mampu mengendalikan dirinya yang sedang bernafsu saat ini, dia mengerang dengan keras.


Fiona yang mendengar Dave mengerang, mambalikkan badannya.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Fiona.


Dave tidak menjawab Fiona, hanya menatapnya lama. Sekarang Fiona sedikit merasa khawatir dan memutuskan untuk berdiri. Fiona berjalan ke arah Dave yang hanya berdiri mematung dan menatapnya. Sekarang Fiona sudah berdiri di hadapannya dengan hanya ada pembatas meja pantry.


"Dave. Kamu tidak sakit kan?" ulang Fiona.


Dave masih diam dan tidak menjawab. Fiona ragu apakah dia harus berjalan menghampiri Dave yang berada di belakang meja. Kenapa sih, dia hanya diam aja? batin Fiona.


Setelah memutuskan, kekhawatiran Fiona lebih besar daripada keinginannya untuk menjaga jarak. Fiona menghampiri Dave dan menaruh tangannya di dahi Dave untuk mengecek apakah dia sedang sakit atau tidak.


Normal! Dave tidak sakit!

__ADS_1


Fiona yang segera mundur, ditahan oleh Dave. Dave memeluk pinggang Fiona.


"Dave, aku mohon. Jangan seperti ini!" mohon Fiona.


"Aku akan melepasmu kalau kamu menjawab pertanyaanku." jawab Dave.


"Apa?"


"Apakah kamu akan meninggalkanku? Menceraikanku?"


"Suatu saat kan memang kita akan berpisah seperti keinginanmu."


"Bagaimana kalau aku berubah pikiran?"


"Kita bisa untuk belajar saling mencintai?"


"Bagaimana kalau ternyata salah satu dari kita tidak bisa mencintai?"


"Ya kita akan bercerai!"


"See, lebih baik kalau kita seperti ini. Bersikap baik satu sama lain seperti seorang teman!" Fiona menjawab Dave lugas.

__ADS_1


"Apakah kamu akan bertemu Tommy? Apakah kamu akan menyukainya?"


"Dave, tolong kamu lebih masuk akal! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Namun kalau memang itu sudah ditakdirkan oleh Tuhan, kenapa tidak?"


"Tidak boleh!" jawab Dave marah.


Mata Dave berkilat marah dan Fiona berusaha untuk lepas dari pelukan Dave. Posisi Fiona saat ini sungguh tidak bagus. Tetapi Dave bergerak cepat, dia mulai mencium bibir Fiona dengan liar. Ditekannya bibir Fiona dan dilumatnya dengan ganas. Fiona yang mulai kehabisan nafas, terengah-engah.  Tapi Dave tidak kunjung melepasnya, malah semakin menjadi-jadi. diciumi leher Fiona. Dave tidak bisa berpikir apa-apa lagi, dia dibakar api cemburu dan ingin membuat Fiona menjadi miliknya.


Fiona mulai menangis namun tangisan Fiona tidak membuat Dave berhenti. Dua kancing baju tidur Fiona sudah dibuka oleh Dave. Dave meraba payudara Fiona yang membesar akibat rangsangan dari Dave.


"Please, jangan Dave!!" tangis Fiona.


Dave tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Fiona. Ditariknya tubuh Fiona dan didorongnya ke arah ranjang. Akhirnya baju Fiona sudah terbuka semua dan Dave menciumi dada Fiona hingga meninggalkan bekas ciuman merah-merah. Fiona sungguh tak kuasa untuk melawan Dave karena tenaga Dave sungguh kuat, akhirnya Fiona hanya menangis dan pasrah.


Ketika Dave akan bertindak lebih lanjut, bel pintu bungalow mereka berbunyi. Dave mau tak mau, menghentikan apa yang dilakukannya. Dave segera berdiri dan berjalan ke arah pintu utama sedangkan Fiona segera merapikan bajunya.


"Tuhan, terima kasih masih melindungiku!" isak Fiona.


Pelayan segera mengantarkan makanan mereka di ruang Tv dan meninggalkan bungalow. Dave yang merasa malu, bahkan tidak bisa memanggil Fiona untuk makan. Fiona masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Dilihatnya bagian leher dan bagian leher bawahnya, banyak sekali bekas ciuman Dave.


Fiona sebenarnya dengan rela tidur dengan suaminya jika Dave tidak membuat surat perjanjian tersebut. Karena perasaan Fiona terhadap Dave tidak pernah berubah. Dia masih mencintai Dave!

__ADS_1


Fiona memutuskan untuk menjaga dirinya agar tidak menjadi lebih dekat dengan Dave dan akan bersikap sopan. Fiona keluar dari kamar mandi dan menuju ke ruang Tv. Fiona makan dan menonton Tv, bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Melihat Fiona bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi, justru membuat Dave lebih frustasi!


__ADS_2