Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Fiona menangis!


__ADS_3

Malam itu, Dave sudah tertidur di ranjang untuk penunggu karena kecapekan setelah bekerja non-stop. Sedangkan Fiona sama sekali tidak bisa tidur setelah tidur hampir sepanjang siang. Fiona meraih ponselnya untuk melihat postingan teman-temannya di media sosial dan melihat berita apa yang sedang hangat sekarang ini. Fiona sudah lama tidak mengikuti berita-berita terbaru atau melihat apa yang terbaru dari teman-temannya karena kondisinya yang tidak memungkinkan.


Fiona membuka facebooknya dan mulai melihat berita-berita baru. Kemudian Fiona menemukan sebuah foto dari sebuah berita. Foto tersebut nampak sangat tidak asing bagi dirinya. Orang-orang tersebut tampak sangat familiar baginya. Dibukanya berita tersebut dan Fiona langsung kaget.


Ada mertua lelaki dan perempuannya sedang bersama dengan Lana Wilson. Fiona sempat bertanya kepada Dave kenapa kok papa mama tidak datang malam ini. Ternyata mereka sedang pergi makan bersama Lana. Fiona membaca lagi judul dari berita tersebut dan dirinya bagai disambar petir.


"Lana Wilson akan segera menikah dan tertangkap sedang bertemu dengan calon mertuanya!"


Fiona mengetahui bahwa kedua mertuanya sempat marah kepada dirinya dan Dave tentang surat perjanjian pernikahan itu. Namun Dave dan Fiona sudah lega karena kedua orang mereka hanya menginginkan mereka untuk memberi seorang cucu.


Apakah papa dan mama berubah pikiran dan akan menjodohkan Dave dengan Lana? pikir Fiona sedih. Secara tidak sadar, air mata menetes dari mata Fiona dan membasahi kedua pipinya. Fiona berpikir apakah mertua mereka berubah pikiran dan merasa kalau Lana lebih baik untuk menjadi menantu mereka. Jika memang itu yang diinginkan oleh kedua mertuanya dan itu menjadi yang terbaik bagi Dave, ia akan menceraikan Dave dengan ikhlas.


Fiona bergerak dengan pelan dan mencabut infus dari tangannya perlahan. Sakit! Rasanya seperti disengat lebah dan panas sekali tangannya. Fiona kemudian perlahan mengganti pakaiannya dan mengambil kertas dan menuliskan sesuatu di kertas tersebut. Kemudian dengan tenaga yang tersisa, gadis itu mengambil barang-barang miliknya yang seperlunya saja dan keluar dari kamar itu. Fiona berjalan tanpa menoleh dan air mata tidak henti-hentinya menetes dari matanya.


Fiona yang sebelumnya berpikir untuk pergi ke rumah Angie, mengurungkan niatnya dan hendak pergi ke sebuah hotel. Namun di perjalanan keluar dari rumah sakit, Dokter Rio menangkap Fiona yang hendak pergi itu.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Dokter Rio.


"Saya mau pergi, Dok! Tolong jangan halangi saya!" Fiona memohon Dokter Rio dengan berlinang air mata.


"Kamu masih belum sehat. Kalau ada apa-apa denganmu bagaimana?"

__ADS_1


"Saya mohon Dok."


"Kalau begitu, kamu mau ikut saya ke rumah saya?"


Fiona menatap ragu-ragu Dokter Rio.


"Bukan seperti yang kamu pikirkan! Saya merasa kamu sedang bersedih dan tidak baik jika kamu melarikan diri seperti ini malam-malam. Akan lebih aman jika kamu tinggal di tempat saya dan saya bisa memantau perkembangan kesehatanmu!


Fiona yang sudah tidak bisa berpikir jernih, mengangguk kepada Dokter Rio dan mengikuti dokter tersebut ke arah mobilnya. Selama di perjalanan, Fiona hanya berdiam diri dan Dokter Rio berpikir jika Fiona memerlukan waktu untuk berpikir sehingga dia tidak menganggu gadis itu.


Sesampainya di rumah Dokter Rio, Fiona tidak memiliki keinginan untuk melihat-lihat keadaan sekeliling dan bertanya kepada Dokter Rio apakah ia bisa langsung beristirahat. Dokter Rio yang juga sudah kecapekan karena bekerja dua belas jam, mengantar Fiona ke kamar tamu dan mempersilahkan Fiona untuk beristirahat dan tidur.


 


*****Keesokan pagi*****


Fiona terbangun dari tidurnya dan merasa bingung karena dirinya sedang berada di kamar yang terasa asing untuknya. Fiona segera bangun dan merapikan ranjang yang sudah ditempatinya. Kemudian dia masuk ke kamar mandi dan menemukan semua peralatan mandi masih baru tertata rapi di kamar mandi. Tidak menunggu waktu lebih lama lagi, Fiona segera mandi. Selesai mandi, Fiona bergegas keluar dari kamar dan melihat keberadaan Dokter Rio yang sedang sarapan dan minum kopi di dapur minimalis miliknya.


"Pagi. Sarapan?" tanya Dokter Rio.


Fiona hanya mengangguk malu dan duduk di hadapan Dokter Rio.

__ADS_1


"Untuk kamu, teh saja ya! Apakah tidurmu nyenyak?"


"Terima kasih Dokter. Tidur saya nyenyak, dok!"


"Panggil saya Rio saja. Kan kita sedang tidak berada di rumah sakit saat ini!" ucap Dokter Rio.


"Baik, Dok! Eh Rio."


"Kalau boleh tahu, kenapa kamu melarikan diri dari rumah sakit? Malam hari lagi! Apakah kamu sedang ada masalah dengan suamimu?"


Fiona enggan untuk menceritakan kepada Dokter Rio. Namun ucapan Dokter Rio yang akan menghubungi Dave saat ini juga, langsung membuat Fiona menceritakan semuanya. Ketika Fiona bercerita, gadis itu tidak kuasa menahan air matanya.


"Lebih baik, kamu kembali ke rumah sakit dan bertanya kepada mereka terlebih dahulu. Jangan langsung mempercayai media!" saran Dokter Rio.


Namun Fiona menggelengkan kepala. Dokter Rio yang melihat betapa keras kepalanya gadis itu, berpikir kalau dia akan membiarkan Fiona untuk berada disini untuk sehari lagi. Ia akan bertemu dengan Dave dan keluarganya dan memberitahu segalanya. Jika memang keluarga Dave memiliki rencana busuk terhadap gadis itu, Dokter Rio sendiri yang akan melindungi Fiona.


Dokter Rio menyuruh Fiona untuk beristirahat lagi dan memberinya obat bius lagi karena gadis itu masih belum stabil dan merasa kesakitan. Fiona kembali ke kamar untuk beristirahat sedangkan Dokter Rio kembali ke rumah sakit untuk bekerja. Sebelum bekerja, Dokter Rio menghubungi asisten rumah tangganya yanng selalu datang jam sembilan pagi dan pulang jam lima sore, bahwa ada seorang tamu di kamar tamu. Jika gadis itu bangun, siapkanlah makanan dan keperluan yang diminta!


 


 

__ADS_1


__ADS_2