Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Makan malam!


__ADS_3

*****Di kantor*****


Tommy yang telah mengantarkan kedua orang tua Dave ke rumah sakit, langsung pergi ke kantor. Sesampainya di kantor, Tommy melepas jasnya dan menaruhnya di gantungan. Dia duduk dan menghidupkan laptopnya. Namun dia tidak langsung bekerja. Di kepalanya sedang memikirkan banyak hal, salah satunya adalah mengajak Lana untuk keluar malam ini. Tommy merindukan gadis itu tanpa ia sadari!


Sekretaris Tommy mengetuk pintu dan mengembalikan kesadaran Tommy dari lamunannya. Sekretaris Tommy, Wulan, datang menyerahkan banyak sekali tumpukan berkas-berkas yang harus dipelajari dan dikerjakan oleh Tommy. Tommy menghela nafas melihat banyaknya pekerjaan yang berasa tidak ada habisnya. Tiba-tiba terbersit di benak Tommy untuk bertanya kepada Wulan yang sudah menikah dan memiliki seorang anak.


"Wul..."


"Iya bos?" tanya Wulan yang menghentikan langkahnya untuk keluar dari kantor bosnya.


"Saya boleh bertanya tentang hal yang bersifat pribadi?Tetapi kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu boleh kok menolak!"


"Apaan sih bos? Kayak sama siapa aja!"


"Duduklah dulu supaya agak nyaman!" perintah Tommy.


Wulan langsung duduk dan meletakkan berkas laporan yang lain di meja. Bosnya bersikap agak aneh akhir-akhir ini. Namun Wulan tidak berani untuk bertanya lebih jauh karena takut jika bosnya akan tersinggung. Maka Wulan mencoba untuk bersikap profesional dan menjalankan pekerjaannya dengan baik.


"Begini, bolehkah saya tahu berapa lama kamu dan suami kamu berpacaran sebelum memutuskan untuk menikah?"


"Hahaha.  Saya sudah naksir suami saya sejak lama bos. Namun dia pernah dikhianati oleh calon istrinya. Jadi saya sudah naksir empat tahun. Saya selalu berada di sisinya selama itu. Namun sikap dia kasar kepada saya dan menyamakan saya dengan mantannya. Jadi saya akhirnya berkata kepadanya bahwa saya mau menyerah saja. Eh, dia akhirnya malah mengajak saya untuk menikah. Saya akhirnya menikah dengannya! Namun dia masih saja menjadi dingin dan saya akhirnya berkonsultasi dengan  Pak Dave untuk menjadi pengacara saya dalam bercerai dengan suami saya!"


"Jadi kamu bercerai?" tanya Tommy ingin tahu.


"Tidak bos!"


"Lho kok bisa?"


"Karena saya hamil, bos!"

__ADS_1


"Apakah setelah itu dia masih bersikap dingin dan acuh tak acuh?"


"Tidak bos. Dia dan saya sekarang sudah menikah delapan tahun dan kami masih saling mencintai. Keluarga saya kecil namun bahagia bos. Saya tidak pernah menyesali tekad saya untuk mencintainya bos!"


"Jadi bagaimana cara dia melamarmu?"


"Kalau dipikir-pikir lagi, caranya melamar tidak ada yang spesial bos. Dia cuma bilang, ayo kita menikah saja!"


Tommy terdiam dan memikirkan cara melamar suami Wulan sungguh tidak ada yang spesial dan dia tidak bisa melakukan hal yang sama kepada Lana. Tapi Tommy ikut bahagia bahwa sekretaris yang sudah lama bekerja untuknya bahagia dengan pernikahannya.


"Baiklah, terima kasih. Kamu boleh keluar! Saya tolong dibikinkan kopi seperti biasa ya!"


"Baik bos. Segera saya antarkan kopinya!" sahut Wulan ambil tersenyum.


Tommy mengambil ponselnya dan menghubungi Lana. Namun setelah berdering cukup lama, masih belum diangkat juga. Kemudian pria itu menaruh ponselnya dan memulai untuk bekerja. Beberapa menit berlalu, Wulan sudah mengantarkan kopi hitamnya dan tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihat ponselnya dan nama Lana yang terpampang. Tanpa menunggu lama, Dia mengangkat ponselnya.


"Hi. Tadi kamu menelponku? tanya Lana dengan suara lembutnya.


"Tidak ada. Kosong."


"Kalau begitu, aku akan menjemputmu pukul enam."


"Baik."


"Maukah kamu menginap di tempatku nanti?"


"Tommy, Aku sebenarnya mau untuk menginap. Namun apa pandangan orang jika mengetahui kita yang tidak menikah dan aku sering datang ke tempatmu dan menginap?"


"Aku tidak peduli. Menginaplah!" ucap Tommy dengan nada yang tidak bisa ditolak oleh Lana.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu nanti!"


"Lana, aku lupa memberitahumu kalau nanti aku ingin mengenalkanmu kepada orang yang sudah aku anggap seperti orang tua sendiri. Kau tidak keberatan kan?"


"Tidak...tidak sama sekali!" ucap Lana tidak yakin dengan dirinya sendiri.


"Kalau begitu, sampai ketemu nanti!"


"Sampai ketemu nanti."


Lana mematikan ponselnya. Gadis itu mengira-ngira siapa yang akan ia temui nanti. Hatinya berdebar kencang dan ia merasa sedikit takut. Jika Tommy mengatakan bahwa mereka sudah selayaknya orang tua, bagaimana persepsi mereka terhadap Lana yang sedang hamil di luar nikah dengan Tommy!


Apakah mereka akan berpikir bahwa Lana adalah wanita murahan? Apalagi dengan profesinya sebagai model!


 


Tommy menghubungi Om Johan untuk bertanya apakah nanti malam mereka bisa untuk pergi makan malam dengannya atau tidak. Ternyata Om Johan menjawab dengan terkekeh bahwa tentu saja mereka bisa. Namun Om Johan berkata bahwa Tommy tidak perlu menjemput mereka. Mereka akan naik taksi ke restaurant. Akan lebih baik jika Tommy bersiap-siap dan menjemput gadisnya. Tommy tidak memiliki pilihan lain dan tidak ingin mendebat Om Johan.


Jadi Tommy bisa pulang ke apartemennya terlebih dahulu untuk mandi dan bersiap-siap.Tommy memakai pakaian yang lebih kasual. Baju polo berkerah berwarna  hitam dan celana panjang berwarna putih. Dia terlihat sangat tampan dan gagah. Puas dengan penampilannya sendiri, Tommy langsung pergi untuk menjemput Lana.


Satpam di rumah Lana sudah ingat wajah Tommy sejak terakhir kali ia datang, langsung membukakan pintu gerbang untuknya. Tommy tidak mengira bahwa Lana sudah siap dan menunggunya, membunyikan bel pintu rumah. Bukan Bi Ina yang membukakan pintu melainkan Lana sendiri yang membukakan pintu dan bersiap untuk pergi.


"Halo. Kamu sangat cantik malam ini!"


"Terima kasih!" jawab Lana tersipu malu.


"Lho dimana Bi Ina? Kok kamu yang membukakan pintu?"


Lana yang tidak ingin Tommy mengetahui bahwa gadis itu sudah berjalan mondar-mandir selama setengah jam untuk menunggu kedatangan Tommy, telah menyuruh Bi Ina untuk beristirahat saja di dalam kamarnya. Lana memakai gaun berwarna biru muda yang membuat wajahnya terlihat polos dan cantik.

__ADS_1


Sangat cocok dan cantik, puji Tommy dalam hati.


Tanpa menunggu lama lagi, Tommy menggandeng tangan Lana dan mengarahkan gadis itu ke mobil. Dibukanya pintu mobil untuk Lana dan tidak lama kemudian, Tommy sendiri masuk ke dalam mobil dan mulai untuk menyupir ke arah restaurant.


__ADS_2