
Setelah terakhir Fiona lari dari rumah sakit dan ditemukan oleh Dokter Rio, keadaan Fiona sepertinya sudah menunjukkan kemajuan yang sangat pesat. Luka tusukannya sudah menutup dan sedikit kering, sesuai dengan harapan Dokter Rio. Untuk bronkitisnya, memang masih memerlukan waktu yang agak lama namun Dokter Rio sudah memerintahkan Dave untuk membeli alat uap untuk membantu proses penyembuhan gadis itu.
Dokter Rio sore itu datang untuk memeriksa Fiona dan akhirnya memberikan kabar yang sudah dinanti-nanti oleh semua orang. Fiona sudah boleh pulang besok pagi dan sore ini akan menjadi hari terakhir untuk infus yang menghiasi tangan gadis itu selama beberapa minggu.
Fiona tersenyum lebar ketika mengetahui kabar itu. Dia melihat ke arah Dave.
"Besok kita akan pulang ke rumah!" jerit gadis itu.
"Tetapi ingat, kamu tidak boleh beraktivitas terlalu banyak dan berat dulu!" kata Dokter Rio mengingatkan.
"Iya iya aku tahu Dok! Aku kan hanya akan berada di rumah. Pekerjaan apa sih yang bakal terlalu berat untukku?" jawab Fiona sambil cengengesan.
"Baguslah kalau begitu. Dave bisakah kita berbicara di luar?"
Dave mengangguk dan mengikuti Dokter Rio keluar dari kamar. Setelah mereka berada di luar, Dave menutup pintu kamar supaya Fiona tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Apakah orang yang menusuk Fiona sudah tertangkap?"
"Belum Dok! Polisi masih berusaha untuk mencari orang tersebut!"
"Kalau begitu apakah kamu akan meninggalkan Fiona seorang diri di rumah? Kedua orang tuamu kan akan kembali ke rumah mereka besok malam!"
"Aku sudah memperkerjakan asisten rumah tangga di rumah, Dok! Jika aku tidak ada persidangan atau meeting, sebisa mungkin aku juga akan bekerja dari rumah."
"Baguslah kalau begitu. Jangan lupa untuk membawa Fiona minggu depan untuk kontrol ulang ya!"
"Baik, Dok! Terima kasih banyak ya!"
Dokter Rio berjalan meninggalkan Dave seorang diri yang kemudian Dave kembali masuk ke dalam kamar, dan berjalan menghampiri Fiona.
"Apakah kamu yakin kalau kamu sudah cukup sehat untuk pulang ke rumah?"
"Kamu dengar kan, sayang, apa kata dari Dokter Rio! Aku kan sudah boleh pulang karena keputusan Dokter bukan karena keputusanku sendiri!" ucap Fiona mantap.
"Kalau begitu, aku juga sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam bersama istriku sayang yang sudah sehat!" goda Dave sambil mengedipkan mata.
"Untuk hal itu, rasanya aku masih belum sehat deh, sayang!"
"Alasan! Hahaha... Tenang saja, aku akan melakukannya lebih lembut kok!" jawab Dave sambil tertawa lebar.
__ADS_1
Dave naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Fiona.
"Malam ini aku akan tidur bersamamu disini ya? Aku bosan tidur sendirian di ranjang penunggu yang keras itu!" ucap Dave sambil menunjuk ranjang yang berada di dekat pintu masuk.
"Tidurlah disini, sayang. Aku juga kangen kok tidur bersamamu!"
"Wah istriku yang mungil ini sudah pintar menggoda ternyata!"
Dave menciumi wajah Fiona dan Fiona merasa geli sendiri namun tidak menolak ciuman dari Dave karena gadis itu dapat merasakan rasa cinta dari suaminya itu.
"Aku sebenarnya takut kalau papa dan mama akan menikahkanmu lagi dengan Lana. Waktu aku melarikan diri, aku sungguh sakit hati. Namun aku sadar sayang, kalau aku bukan tandingan dari Lana!"
"Kenapa kamu tidak membangunkanku dan bertanya denganku secara langsung apakah aku akan setuju jika papa dan mama akan menikahkanku lagi! Apakah kamu masih tidak mempercayai bahwa aku mencintaimu? bahwa perasaanku kepadamu sungguh besar dan kuat?" tanya Dave.
"Maafkan aku sayang. Namun rasa tidak percaya diri dan cemburuku yang menggerogotiku dari dalam! Besok-besok jika ada keraguan dalam diriku, aku akan bertanya kepadamu!"
"Bagus. Kamu harus bertanya dulu! Jangan mengambil keputusan seorang diri. Aku benar-benar merasa takut ketika mengetahui bahwa kamu menghilang!" ucap Dave sambil membelai kepala Fiona.
Fiona hanya mengangguk dan memeluk tubuh Dave lebih erat.
"Sekarang lebih baik kita istirahat dan besok kita bisa meninggalkan rumah sakit yang mahal ini!"
*****Keesokan paginya*****
Dave sudah turun ke bawah untuk membayar biaya administrasi selama Fiona berada di rumah sakit. Sementara Fiona sedang berkemas barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Kedua orang tua Dave sedang menunggu di rumah. Mereka hendak pergi ke rumah sakit namun dilarang oleh Dave karena mereka akan sampai di rumah dengan cepat.
Dave sudah kembali ke kamar untuk menjemput Fiona dan membantu membawakan barang-barang mereka.
Dave sudah datang bersama perawat yang membawakan kursi roda untuk Fiona. Fiona terlihat malu dan menolak untuk duduk di kursi roda, namun gadis itu kalah berdebat dengan pengacara kelas kakap seperti Dave. Gadis itu duduk di kursi roda denga wajah yang cemberut. Dave yang melihat istrinya masih berpikir, walaupun Fiona cemberut tapi masih tetap cantik. Apakah dia sudah gila?
Sesampainya di mobil, Dave membukakan pintu untuk Fiona. Setelah Fiona masuk dan duduk dengan nyaman di mobil, Dave mulai memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil dan mengucapkan terima kasih kepada perawat yang sudah membantu dan mengantarkan mereka ke mobil.
Mobil hitam SUV Dave yang mahal kemudian melaju dengan mulusnya ke jalanan. Fiona sungguh-sungguh menikmati perjalanan mereka kembali ke rumah. Beberapa minggu di dalam kamar, sungguh membuat dirinya bosan setengah mati. Fiona melihat pohon-pohon yang berjajar di sisi jalan, lalu lalang mobil dan kendaraan bermotor lainnya di sekitar mobil mereka dan juga melihat orang-orang yang sedang berjalan menikmati keadaan sekitar. Karena perjalanan mereka lumayan memakan waktu, Fiona tidak sadar kalau dirinya jatuh tertidur di dalam mobil.
__ADS_1
Pagi ini mereka memang bangun subuh-subuh karena mereka bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Jadi memang tidak salah jika Fiona jatuh tertidur di mobil. Dave yang menyadari bahwa istrinya tertidur, hanya tersenyum simpul dan tetap berkonsentrasi untuk menyetir.
Akhirnya mereka sudah sampai di rumah. Dave yang tidak ingin membangunkan Fiona, menggendong gadis itu masuk ke dalam rumah dan menuju langsung ke kamar mereka. Mama Dave yang sedang bersama Bi Ayu, memasak di dapur. Sedangkan papa Dave sedang berada di ruang depan karena menunggu mereka. Setelah Dave membaringkan Fiona di ranjang, Dave mulai keluar dan mengambil barang-barang mereka dari mobil.
"Fiona tertidur ya, Dave?" tanya Papa Dave.
"Iya Pa! Fiona bangun subuh tadi karena bersemangat untuk pulang kerumah. Mungkin dia masih mengantuk tapi ingin balik ke rumah. Dave lapar, Pa! Dave mau membereskan barang-barang ini dulu. Habis itu kita makan ya pa!"
"Papa bantu ya Nak?"
"Gak usah,Pa! Papa duduk saja. Ini juga paling sebentar sudah beres." kata Dave menolak bantuan dari ayahnya.
Setelah selesai, Papa Dave dan Dave pergi ke ruang makan. Mama Dave dan Bi Ayu sudah menyiapkan makanan yang banyak di meja.
"Lho Fiona mana, Dave?" tanya mama Dave.
"Fiona tidur, Ma! Biarkan aja. Nanti kalau sudah bangun, Dave antarkan makanan buat Fiona. Jam berapa papa dan mama harus pergi ke bandara sore ini?"
"Jam enam papa dan mama harus berada di bandara. Kemarin Nak Tommy sudah menelpon papamu, katanya dia yang akan mengantarkan papa dan mama ke bandara karena mama bilang kalau hari ini Fiona kembali dari rumah sakit!" ucap mama Dave.
"Tidak apa-apa Ma! Biar Dave aja yang mengantarkan mama dan papa nanti sore!"
"Sudah-sudah! Ayo makan! Biarkan Nak Tommy yang mengantarkan papa dan mama nanti sore. Kamu jaga saja Fiona!" sergah Papa Dave yang sudah mulai menikmati makanan yang terhidang di meja.
Mereka akhirnya berbincang-bincang sedikit di meja makan. Ketika Dave dan papanya sudah selesai makan, mereka pindah ke depan rumah. Mama Dave pergi ke dapur untuk membuatkan suami dan anaknya kopi hitam.
Dave dan papanya jarang sekali menikmati waktu bersama seperti ini karena kesibukan mereka masing-masing,
"Papa masih ingat ketika papa mengajak kamu dan mama mengunjungi sahabat papa disini! Sekarang sahabat papa sudah tidak ada dan anaknya sudah menjadi menantu papa! Kamu harus menjaga anak sahabat papa dengan baik, Dave!"
"Iya pa. Dave melakukan kesalahan sebelum ini. Namun Dave sudah menyadari betapa Dave mencintai Fiona!"
"Memang seharusnya seperti itu. Lelaki mungkin bisa dicintai oleh banyak wanita, namun lelaki sejati harus bisa mencintai satu orang wanita saja, yaitu istrinya!" papa Dave memberikan nasehat kepada Dave.
"Papa agak kecewa ketika mengetahui surat perjanjian pernikahanmu dengan Fiona. Tapi ketika papa dan mama sudah menyadari bahwa kalian saling mencintai, papa dan mama menjadi lega. Semoga aja kalian bisa diberikan momongan secepatnya!" lanjut papa Dave.
"Iya pa, tapi Dave tidak ingin memaksa Fiona untuk hamil secepat mungkin. Dave akan berbicara dengan Fiona. Fiona kan masih muda dan masih memiliki impian yang ingin dikejarnya. Dave ingin menjadi orang yang selalu mendukung Fiona, pa!"
"Baiklah-baiklah. Kamu atur saja dengan istrimu. Tapi jangan lama-lama. Papa dan mama ingin menggendong cucu kami!"
__ADS_1
Dave dan papanya menghabiskan sore itu berbincang-bincang santai sebelum Tommy akhirnya datang untuk menjemput kedua orang tua Dave dan mengantarkan mereka ke bandara.