Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Makan malam


__ADS_3

Sinar matahari sudah tidak tampak lagi dari jendela kamar Dave dan Fiona, namun kedua pasangan itu masih bergelung di ranjang. Mereka telah menghabiskan siang mereka dengan gairah yang sama-sama membara. Bi Ayu yang tidak melihat majikannya makan siang tadi, merasa ragu-ragu untuk mengetuk kamar majikannya. Namun ketika hendak mengetuk pintu kamar majikannya, bel pintu depan malah berdering. Bi Ayu segera bergegas ke arah depan rumah dan membuka pintunya.


Tommy dan Lana adalah orang yang membunyikan pintu rumah. Mereka memutuskan untuk datang untuk menjenguk keadaan Fiona. Terutama Lana karena ia tidak sempat untuk menjenguk Fiona akhir-akhir ini.


"Bi, Dave ada?" tanya Tommy.


"Ada, Tuan. Tapi dari tadi siang Nak Dave dan Nak Fiona sama sekali tidak keluar dari kamar mereka. Bahkan mereka tidak keluar untuk makan siang. Saya baru saja akan mengetuk kamarnya, Tuan!"


"Ya udah Bi. Aku yang akan mengetuknya. Juga Bi, jangan panggil aku tuan, panggil saja Nak Tommy!" perintah Tommy.


Tommy langsung masuk ke dalam rumah dan berhenti di ruang keluarga. Tommy menunjuk sebuah sofa untuk Lana duduk disana.  Sesudah Lana duduk dengan nyaman, Tommy berangsur pindah ke depan sebuah pintu dan mengetuknya.


Dave dan Fiona yang masih tidur, mendengar ketukan kamar. Tetapi mereka malas untuk bangun dan membukanya karena berpikir Bi Ayu yang mengetuknya. Tapi Dave akhirnya samar-samar mendengar suara Tommy di balik pintu kamarnya.  Dave dan Fiona langsung tersadar dari tidurnya dan saling menatap di atas tempat tidur. Fiona langsung menyelimuti tubuh telanjangnya di balik selimut mereka yang besar sedang Dave langsung memakai celana dalam dan celana pendeknya lalu bergegas untuk membuka pintu.


 


"Apa sih yang kalian lakukan sepanjang siang di kamar?" tanya Tommy ketika Dave membuka pintu.


Penampilan Dave sudah tidak secara langsung menjawab pertanyaan Tommy. Bekas kuku yang menancap di pundak dan juga bekas ciuman di leher sudah sangat jelas untuk menjawab pertanyaan Tommy.


"Fio, kamu tidak mau bangun nih? Kalau dalam lima menit kamu tidak keluar, aku akan masuk ya!" goda Tommy.


Fiona langsung beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk mandi. Dia takut dengan ancaman Tommy yang mau masuk ke dalam kamar dan menemukan keadaannya yang dalam situasi memalukan. Sedangkan Dave yang melihat Lana sedang duduk di sofa, langsung mengambil kaos bersih dari dalam lemari dan memakainya lalu keluar dari kamar dan bergabung dengan gadis itu di sofa.


Tidak lama kemudian, Bi Ayu datang dan membawakan minuman untuk tamu yang datang. Dave yang melewati makan siang, bertanya kepada Bi Ayu apakah ada makanan untuk makan malam.


"Bi, apakah ada makanan untuk makan malam?"


"Ada Nak. Kan tadi siang Nak Fiona sudah mengungkep ayam dan bibi tinggal menggorengnya kalau Nak Dave mau makan!" jelas Bi Ayu.


"Mau bi. Aku lapar sekali. Sekalian bikinin sambal yang pedas dan mantap ya Bi!"


"Baik, Nak! Apakah Nak Tommy dan istri mau makan disini juga?"


"Dia baru tunangan Bi. Kami baru mau bertanya-tanya ke Dave dan Fiona tentang pernikahan. Makanya kami datang kemari. Boleh bi, saya juga lapar!"


Bi Ayu yang mendengar kalau tamu mereka juga mau bergabung makan, langsung kembali ke dapur dan bersemangat menyiapkan makanan untuk mereka.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Fiona?" tanya Tommy.


"Baik. Dia baik-baik saja!" jawab Dave sambil tersenyum-senyum.


"Gila kamu ya! Jangan bilang kalau kamu sudah mengajak Fiona untuk beraktivitas berat sepanjang siang ini!"


"Bukan aku yang mengajak! Sumpah. Kamu tanya aja Fiona sendiri!" canda Dave dengan nakal.


"Jangan kamu pikir karena Fiona adalah gadis muda, aku tidak akan bertanya ya! Aku pasti akan bertanya kepadanya nanti!" ancam Tommy.


"Omong-omong, kalian kenapa kemari malam ini?"


"Kami datang mau menjenguk Fiona lagi dan juga bertanya tentang pernikahan!"


"Wah kalau tentang pernikahan, jangan tanya kami deh! Awal kami menikah, semuanya salah. Kami memakai wedding organizer untuk membuatkan dan mengatur acara kami. Teman Fiona, Si Angie tuh yang banyak membantu!"


"Iya juga ya! Kalian kan menikah dalam waktu dua minggu setelah kedua orang tua Fiona meninggal. Kalian juga hanya menikah di gereja tanpa pesta. Bagaimana kalau pesta pernikahanmu digabung saja denganku?"


"Kami sudah menikah, walaupun tanpa pesta, kami baik-baik aja kok! Itu akan menjadi pernikahanmu, jangan dicampur dengan kami!" jawab Fiona spontan yang sedang keluar dari kamar dengan rambut basah karena habis keramas.


"Lagipula kamu harus mendiskusikannya dengan calon istrimu, Lana! Pernikahan kan hanya sekali!" tambah Fiona.


Fiona yang duduk di samping Dave, menatap suaminya.


"Sayang, kita tidak usah pesta lagi ya. Nanti aja kalau kita punya anak, baru kita bikin pesta untuk babtis anak kita." rayu Fiona ke Dave. Dave yang baru berbunga-bunga pasti akan mendengar dan mengabulkan apapun permintaan dari istrinya.


"Apapun buat kamu, sayang!" jawab Dave yang menatap istrinya dengan tatapan sayang.


Tommy dan Lana langsung merasa sedikit canggung melihat kemesraan kedua orang ini.


"Lho kalian berencana mau punya anak segera ya?" tanya Tommy.


"Sebenarnya aku tidak mau memaksa Fiona untuk segera hamil. Tapi papa dan mama menemukan surat perjanjian pernikahan kami yang sebenarnya mau aku sobek. Nah, mereka marah besar! Mereka mengancam kami untuk bercerai saja atau memberi mereka cucu. Kamu pikir deh, mana yang akan kami lakukan?" cerita Dave secara lengkap ke Tommy dan Lana.


"Kalian bercerai saja! Nanti Fiona untuk aku!" goda Tommy.


Dave mengira Tommy sedang gila. Bagaimana dia bisa mengucapkan hal seperti itu di depan calon istri dan calon ibu dari anaknya. Lana yang sedang duduk, juga merasa marah dan kecewa mendengar kata-kata Tommy. Lana berpikir jika Tommy belum bisa melupakan perasaannya kepada Fiona. Sedangkan Fiona yang merasa canggung dan tidak enak, langsung memberikan alasan untuk meninggalkan ruang keluarga dan bergabung dengan Bi Ayu untuk menyiapkan makan malam.

__ADS_1


"Jadi kapan kalian akan menikah?"


"Kami masih belum yakin kok kalau kami akan menikah atau tidak!" jawab Lana dengan nada sewot.


Tommy menatap dengan penuh tanda tanya karena percakapan terakhir mereka, mereka memutuskan untuk menikah di akhir bulan ini. Tinggal tiga minggu lagi, tapi kenapa jawaban Lana kepada Dave sangatlah berbeda dengan apa yang telah mereka rencanakan.


Tommy berpikir apakah dia melakukan salah?! Tommy memutuskan akan bertanya kepada Lana ketika mereka kembali ke apartemen nanti malam. Dave dan Lana membicarakan tentang kasus Lana dan Tommy disana hanya mendengarkan percakapan itu dan Fiona kembali ke ruang keluarga dan memberitahu bahwa makanan sudah siap. Dave yang memang  sedang kelaparan, langsung berdiri dan mengikuti istrinya yang masih menyiapkan piring-piring.


"Sudah sayang, kamu duduk aja! Aku yang akan membantu Bi Ayu untuk menyiapkan makanan dan piring-piring!"


"Sudah selesai kok." jawab Fiona.


"Bi Ayu, ayo ikut makan bersama. Sekalian!" ajak Fiona kepada Bi Ayu.


"Nak, bibi mau makan di kamar aja sekalian nonton sinetron kesukaan bibi!" tolak Bi Ayu.


"Ya udah, Bi! Jangan lupa, ayamnya dimakan juga! Kita kan sudah kayak keluarga!" ucap Fiona.


Bi Ayu langsung mengambil ayam dan berterima kasih kepada Fiona. Bi Ayu tidak menyangka bahwa ia akan mendapatkan  sepasang majikan yang walaupun masih muda tapi sopan dan baik sekali. Fiona dan Dave yang baru kembali ke rumah kemarin, selalu bersikap baik dan menganggap Bi Ayu sebagai seorang keluarga. Bahkan Fiona tadi pagi, bilang bahwa gadis itu merasa beruntung karena Bi Ayu datang ke rumah ini karena gadis itu sudah tidak memiliki orang tua lagi. Bi Ayu langsung menyayangi Fiona sebagai anaknya sendiri.


Tommy dan Lana duduk bersampingan dan memulai untuk makan. Fiona masih sibuk untuk melayani Dave dengan mengambilkan nasi dan lauk beserta sayur asem. Menu hari ini ada ayam goreng ungkep, tahu dan tempe goreng, sayur asem dan sambal terasi yang sangat enak. Ketika Fiona mengambilkan makanan untuk Dave, Dave mengambil kulit goreng yang tidak disukai oleh Fiona. Mereka tidak ragu lagi untuk menunjukkan kemesraan mereka. Lana menjadi sangat cemburu sekali karena dia juga ingin dicintai seperti Fiona!


Makan malam berlangsung lancar dan enak sekali. Lana membuat alasan kepada Tommy bahwa gadis itu lelah sekali sehingga Tommy berkata kepada Dave bahwa mereka tidak akan berlama-lama lagi. Apalagi langit di luar sudah sangat gelap dan petir sudah mulai menyambar dan membelah langit. Tommy ingin pulang sebelum hujan mulai turun.


Kemudian Tommy dan Lana berpamitan kepada Dave dan Fiona.


"Sayang, aku merasa Tommy akan mendapat masalah ketika mereka kembali ke tempat mereka nanti!" ucap Fiona,


"Kenapa kamu berkata seperti itu, sayang?" tanya Dave kebingungan.


"Kalian ya, para lelaki, sungguh sama sekali tidak peka! Kamu tidak lihat bagaimana raut wajah Lana?" ucap Fiona sambil melihat suaminya sebal.


"Aku pikir raut wajahnya sama aja! Ayo kita masuk dan beristirahat. Hujan sudah mulai turun. Kamu juga harus beristirahat!"


"Kamu tidak mau melanjutkan yang tadi siang, sayang?" goda Fiona.


"Kali ini tidak! Aku harus mendengar kata-kata Dokter Rio. Aku tidak mau kamu jatuh sakit lagi!" tolak Dave.

__ADS_1


Fiona langsung menunjukkan raut wajah tidak sukanya tetapi gadis itu menurut dan masuk ke dalam rumah. Hujan sudah mulai turun dengan derasnya dan petir tak berhenti untuk saling menyambar. Fiona berharap bahwa Tommy tidak akan mendapatkan masalah yang serius dari Lana, pikir Fiona dalam hati!


__ADS_2