Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Keadaan Tommy


__ADS_3

Setelah mengantarkan Fiona kembali ke rumahnya karena Dave sudah menghubungi gadis itu terus menerus,Lana menjadi bimbang. Kata-kata Fiona terngiang-ngiang di kepala Lana.


Apakah ia memang harus untuk pergi dan melihat keadaan Tommy? Apakah memang ia harus menyatakan cinta kepada Tommy? batin Lana.


Beberapa orang yang dekat dan mengenalnya, menasehatinya untuk membuang egonya dan memberikan kesempatan lain kepada Tommy. Walaupun otaknya memerintahkan untuk mempertahankan ego-nya namun hati kecilnya berkata sebaliknya.


Lana ingin sekali untuk melihat lelaki itu lagi. Ia ingin sekali memeluknya dan memberitahu lelaki itu bahwa ia mencintainya. Di lampu merah, Lana berpikir keras, jika ia pergi ke kanan, ia akan kembali ke rumahnya sendiri. Tapi jika ia memilih untuk pergi ke kiri, maka tidak lama kemudian ia akan sampai di apartemen Tommy yang memang jaraknya lebih dekat.


Lampu sudah berubah menjadi hijau dan banyak mobil di belakang sudah membunyikan klakson kepada gadis itu. Lana akhirnya membanting setirnya ke arah kiri dan dia akan pergi melihat keadaan Tommy,


Sesampainya di apartemen Tommy, penjaga keamanan disana sudah hapal dengan Lana dan membiarkan gadis itu masuk ke area parkiran yang memang hanya diperuntukkan untuk penghuni apartemen elite itu. Lana memarkirkan mobilnya dan menuju ke lift. Akhirnya ia sampai di depan pintu tetapi ia masih enggan untuk membunyikan pintu.


Tapi aku kan sudah sampai disini, tidak ada salahnya jika aku ingin melihat keadaan Tommy, pikir Lana.


Dibunyikan bel pintu beberapa kali, tetapi masih tidak ada orang yang membukakan pintu. Lana menjadi kecewa dan pergi berbalik ke arah lift.  Lana sudah di dalam lift dan melamun! Hingga pintu liftnya terbuka dan seorang cleaning service yang memang ditugaskan untuk membersihkan apartemen masuk ke dalam lift. Lana hendak keluar tetapi menyadari kalau itu bukan lantai yang ingin ditujunya.


Gadis cleaning service itu memberanikan untuk berbicara kepada Lana.


"Maaf Nona. Apakah Nona Lana Wilson?" tanya gadis itu.


"Iya, saya Lana Wilson. Ada apa ya?"


"Tidak apa-apa, Nona. Saya seorang fans. Bolehkah saya berfoto dengan Anda?"


"Boleh saja. Ayo!" ajak Lana ramah.


 Gadis cleaning service itu mengambil ponsel dari sakunya dan mengabadikan dirinya dengan model pujaannya itu. Lana mendekatkan dirinya dan tidak canggung untuk berfoto dengan gadis itu.  Gadis itu berterima kasih karena Lana sudah bersedia untuk memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk berfoto.


"Terima kasih, Nona. Nona mau ke lantai berapa?"


"Saya tadinya mau ke lantai delapan, tapi sesampai disana, saya membunyikan bel dan tidak ada orang yang membukakan." ucap Lana dengan nada yang agak kecewa.


"Lantai delapan kan hanya ada empat tempat Nona. Apakah Nona akan mengunjungi tempat Tommy Wong?"

__ADS_1


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Lana.


"Saya kan memang bertugas untuk membersihkan dari lantai enam sampai lantai delapan, Nona. Di lantai delapan, semuanya sudah berpasangan kecuali Tommy Wong dan saya juga pernah melihat Nona bersama dengan Tommy Wong belum lama ini." jelas gadis cleaning service.


"Tapi belum lama ini saya hendak membersihkan tempat Tommy Wong. Tapi saya takut, Nona. Lampunya semua dimatikan dan di dalam sangat berantakan!"


"Bagaimana caranya kamu bisa masuk? Apakah dia membukakan pintu untukmu?"


"Oh tidak, Nona. Kami yang bertugas membersihkan memiliki kartu universal yang diberi oleh pusat apartemen ini sehingga kami bisa masuk kapanpun sesuai dengan jadwal untuk membersihkan ruangan itu."


"Hmmm, apakah kamu bisa membantuku? Bisakah kamu membukakan pintu Tommy Wong untukku?" pinta Lana.


"Saya tidak berani, Nona. Saya tidak boleh memberikan akses untuk orang luar!" tolak gadis itu.


"Dengar baik-baik, aku adalah tunangan Tommy Wong dan kami akan segera menikah. Tetapi kami bertengkar beberapa hari yang lalu, maka dari itu ketika kamu masuk ke dalam apartemen Tommy, semuanya dalam keadaan berantakan. Saya mohon kepadamu. Saya sungguh khawatir dengan keadaan dia! Jika kamu mendapat masalah, saya yang akan menghadapinya nanti!" jelas Lana.


Gadis itu melihat mata Lana dan bisa melihat rasa khawatir yang besar di mata Lana, akhirnya mengangguk dan menyetujui Lana untuk membantu membukakan pintu. Mereka berdua akhirnya menuju ke lantai delapan.


Lana dan gadis itu sudah berada di depan pintu apartemen dan gadis itu membuka dengan kartu universal terssebut. Pintu sudah terbuka dan seperti yang dikatakan gadis cleaning service itu, semua dalam keadaan gelap gulita dan berbau alkohol.


"Iya, tidak apa-apa! Terima kasih ya!"


Gadis cleaning service itu segera beranjak meninggalkan Lana seorang diri. Kemudian Lana masuk ke dalam apartemen dan tangannya berusaha meraih tombol untuk menyalakan lampu. Setelah beberapa saat, akhirnya Lana bisa menjangkau tombol tersebut. Lampu langsung dinyalakan.


"Siapa itu? Pergi!!!!" ucap Tommy dengan kasar.


Tommy sedang berada di ruang keluarga dan berbaring di atas sofa, keadaannya sungguh kacau. Lana tidak pernah berpikir bahwa ia akan melihat Tommy yang tampan dan berwibawa dalam keadaan seperti ini. Wajah Tommy yang biasanya bersih dan rapi, sekarang terlihat brewokan. Rambutnya jatuh ke bawah dan tidak teratur seperti sebelumnya. Lelaki itu masih mengenakan kemeja kerja yang entah kapan terakhir kalinya diganti. Bau tubuhnya berbau alhokol yang sangat menyengat.


Beberapa botol alhokol juga berserakan di lantai. Makanan yang berada di meja hanya kacang dan remah remah biskuit asin yang hanya tinggal bungkusnya.


Tommy berusaha untuk mengetahui siapa yang datang, tapi dia masih dalam pengaruh alkohol. Hingga akhirnya Lana datang mendekatinya, Tommy baru bisa melihat siapa yang telah datang.


"Apa maumu, Huh?" tanya Tommy dengan kasar.

__ADS_1


"Aku ingin melihatmu. Apa tidak boleh?"


"Kenapa? Kamu mau melihat keadaanku dalam keadaan seperti ini?! Supaya kamu bisa menertawakanku, kan? Aku sudah berlaku kasar kepadamu terakhir kali. Bisa dibilang aku memperkosamu!"


"Aku... Bisakah kita tidak membicarakan itu?" kata Lana terbata-bata.


"Kenapa? Bukankan kamu bisa menggunakannya untuk membuatku masuk penjara?"


"Kamu adalah ayah dari anakku. Bisakah kamu berhenti menyiksa dirimu seperti ini?" Lana memohon kepada Tommy.


Lana mendekati Tommy dan  duduk di samping lelaki itu. Gadis itu berusaha untuk mengangkat tubuh Tommy sehingga ia bisa duduk dengan normal. Tetapi badan lelaki itu sungguh terlalu besar untuk ditopangnya. Tubuhnya yang langsing malah tertimpa tubuh Tommy dan mengenai perutnya.


"Aduh, sakit....sakit sekali perutku!" isak Lana.


Tommy yang sadar bahwa tubuhnya telah menimpa perut Lana menjadi sadar dan takut jika terjadi apa-apa dengan bayinya.


"Bagian mana yang sakit? Apakah kamu baik-baik saja?"


"Aku akan beristirahat di sofa ini sebentar. Bisakah kamu pergi mandi dan membereskan kekacauan ini? Aku mual dengan bau alkohol ini dan aku juga lapar karena aku tadi hanya makan sedikit."


Tommy yang masih enggan untuk pergi dari sofa itu, masih duduk di sofa. Namun ia juga memikirkan keadaan Lana yang baru hamil sehingga ia beranjak bangun dan pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Setelah Tommy masuk ke dalam kamar mandi, Lana mengikuti Tommy dan masuk ke dalam kamar karena ia tidak tahan dengan bau alkohol yang menyengat dan membuatnya mual. Lana tidak memiliki pilihan lain selain memasuki kamar Tommy. Gadis itu menghidupkan  TV dan naik ke atas ranjang untuk beristirahat sejenak.


Lana menarik selimut untuk membuat perutnya lebih hangat dan mengatur posisi yang enak supaya perutnya yang agak kesakitan tadi menjadi lebih baik.


Ia menunggu Tommy untuk  keluar dari kamar mandi namun Tommy tak kunjung selesai karena harus mencukur janggut dan kumis yang sudah tumbuh tidak beraturan.


Rasa kantuk datang melanda Lana yang sedang nyaman di atas ranjang yang sudah ditempatinya beberapa saat lalu. Apalagi AC bekerja dengan baik di kamar itu, membuat pertahanan Lana untuk tetap terjaga, gagal total. Lana jatuh tertidur.


Tommy keluar dari kamar mandi dan melihat Lana sudah tertidur di ranjangnya. Gadis itu tertidur tetapi dahinya masih berkernyit karena menahan rasa sakit perutnya. Tommy berdiri dan berjalan ke arah meja untuk mencari minyak angin yang biasa Lana gunakan ketika perutnya sakit ketika gadis itu menginap di apartemennya.


Tommy menemukan minyak angin tersebut dan kembali ke ranjang dimana gadis itu tidur. Ditariknya selimut hingga terbuka dan dibukanya baju  yang dipakai Lana. Diusapnya secara perlahan perut Lana dengan perlahan dengan minyak angin dan ditutupnya kembali. Tommy menyelimuti Lana  kembali.


Tommy tidak berpikir bahwa Lana akan kembali setelah apa yang terjadi kepada mereka terakhir kali. Namun Tommy tidak ingin mengganggu Lana yang sedang tertidur, hanya untuk menanyai kenapa gadis itu masih mau kembali dan bertemu dengannya. Di dalam hati, Tommy agak lega dan bahagia karena melihat Lana yang sedang tertidur di ranjangnya. Tommy memutuskan akan bertanya lebih lanjut nanti. Tommy keluar kamar untuk membuat teh jahe untuk dirinya dan Lana, karena teh jahe lumayan berguna untuk menghangatkan badan dan membantunya untuk meredakan mabuknya.

__ADS_1


Tommy juga memutuskan untuk memesan makanan untuk mereka. Selama Tommy menunggu pesanan makanannya datang, ia membersihkan dengan cepat apartemennya dan membuang sampah di lantai bawah, di ruangan yang khusus untuk membuang sampah. Sekembalinya Tommy di apartemen, dia masuk ke dalam kamar untuk mengecek Lana, tetapi gadis itu tetap masih tidur. Tommy menghabiskan waktunya untuk menatap Lana yang sangat cantik walaupun terlihat letih dan pucat. Tommy menjadi lebih baik ketika ia lebih sadar dan Lana berada di ranjangnya.


__ADS_2