
Setelah kejadian tadi pagi, Fiona menjadi lebih diam dan menjaga jarak. Kali ini, Dave sungguh tidak bisa berbuat apa-apa karena dia takut kalau Fiona akan meninggalkannya. Fiona masih berbicara dan menjawab pertanyaan darinya dengan sangat singkat dan sopan. Dari sisi Dave sendiri, dia menyesali apa yang telah dilakukannya. Bagaimana dia bisa lepas kendali terhadap seorang gadis? Sedangkan selama ini, jika dia mau, dia bisa meniduri gadis-gadis yang dengan sendirinya menyodorkan dirinya sendiri. Sebagai seorang pengacara handal, Dave harus mampu mengendalikan emosi dalam keadaan apapun. Namun kali ini, dia telah gagal untuk mengontrol emosi atau bahkan fisiknya yang sangat terangsang terhadap Fiona.
Setelah selesai sarapan, Dave dan Fiona menuju ke pantai yang berada di resort ini. Mereka memutuskan untuk bersantai dan snorkeling di sekitaran pantai. Di pantai, keadaannya sangat sepi karena resort itu memiliki pantai itu hanya untuk pengunjung resort. Pengunjung yang tidak menginap di resort ini, tidak akan bisa menikmati pantai yang bersih dengan hamparan pasir putih.
Dave memutuskan untuk hanya duduk di salah satu kursi pantai dengan payung besar di atasnya sehingga terik matahari tidak akan mengganggunya yang akan bersantai. Sedangkan Fiona yang telah meminjam peralatan snorkeling dari resort, sangat bersemangat untuk mencoba snorkeling pertama kali. Fiona sangat cantik memakai bikini two-pieces dengan corak hitam putih. Dave yang melihat Fiona mengenakan bikini, sampai menelan ludah tapi mencoba untuk mengontrol diri supaya tidak menyerang Fiona lagi.
Minuman yang dipesan oleh Dave untuk Fiona dan dirinya telah datang beserta dengan snack ringan. Dave tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Fiona yang berenang. Fiona yang sangat girang karena menemukan beberapa kulit kerang yang berwarna-warni, memutuskan untuk mengumpulkannya. Dia akan membawa kulit kerang ini kembali sebagai kenangan, putusnya!
Fiona kembali ke tempat duduknya untuk mencari tas untuk menyimpan kulit kerang yang sudah dikumpulkannya. Fiona memutuskan untuk beristirahat sejenak dan meminum minumannya. Tiba-tiba ponsel Dave berbunyi.
Dave melihat ponselnya untuk melihat siapa yang telah menelponnya. Tommy!
Dave segera mengangkat ponselnya.
"Halo, ada apa?"
"Hahaha, tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang istirahat makan siang. Apakah Fiona bersamamu?" ucap Tommy.
"Iya, dia sedang berada disampingku."
"Tunggu sebentar. Akan kualihkan telpon ini menjadi video call."
"Kenapa harus video call?"
"Karena aku ingin berbicara dengan Fiona."
__ADS_1
"Tunggu, kamu ingin berbicara tapi bukan berarti Fiona mau berbicara denganmu!" jawab Dave dengan sebal.
"Biarkan aku bertanya sendiri. Aku akan mematikan telpon jika dia benar-benar tidak mau berbicara denganku."
Fiona yang mendengar percakapan Tommy dan Dave berkata. "Tidak apa-apa, Dave. Aku akan berbicara dengannya!"
Dave sebal setengah mati karena cemburu, segera mengalihkan ponselnya agar bisa video call. Ponsel Dave diberikannya kepada Fiona.
"Hi. Lagi apa?" tanya Tommy.
"Lagi habis berenang di pantai. Kamu?"
"Nih, lagi makan siang. Eh, itu kenapa lehermu?"
Fiona tersipu malu dan berusaha menutupi bekas-bekas ciuman Dave. Dave segera menjawab Tommy.
"Apakah itu betul Fiona? Berarti aku tidak ada kesempatan, dong? tanya Tommy lesu.
"Itu bukan seperti yang kamu pikirkan kok. Kami...."
"Itu seperti yang kamu pikirkan!" Dave memotong Fiona sebelum menjawab Tommy.
"Tapi gak apa-apa. Aku bukan lelaki yang kolot kok!" kedip Tommy.
Dave semakin menjadi cemburu. Dia akan membunuh rekan kerjanya ini! pikir Dave.
__ADS_1
"Fio, bagi nomer telponmu dong?" pinta Tommy.
"Hmm, 081 xxxx xxxx." jawab Fiona.
Tommy segera mencatatnya di kertas.
"Ok, Sudah duluan ya. Aku harus balik kerja. Kapan kamu akan balik?"
"Dua hari lagi. Ok bye-bye!"
"Ok bye. Nanti akan kutelpon lagi." Tommy memutus sambungan video call.
Dave tidak percaya bahwa Fiona memberikan nomer telponnya ke Tommy, menjadi sangat marah sekali.
"Kenapa kamu memberikan nomer telponmu?"
"Kenapa tidak? Aku berhak untuk berteman dengan siapapun!"
"Tetapi kamu istriku!"
"Iya, istrimu di atas kertas. Jangan lupa kalau kamu yang membuat surat perjanjian ini dan akan menceraikanku. Aku masih muda. Masa depanku masih panjang. Jika ada lelaki yang masih mau menerima aku walau tahu statusku adalah janda, maka aku akan bersyukur sekali!" jawab Fiona lantang.
"Lihat saja nanti. Kalau mau bercerai, tunggu aku yang menceraikanmu!" jawab Dave emosi.
Sisa hari itu, Dave dan Fiona saling berdiam diri dan berbicara ketika diperlukan saja. Sedangkan Tommy dan Fiona saling bertukar pesan di ponsel. Dave tidak tahu kalau yang mengirimi pesan untuk Fiona adalah Tommy. Fiona menjawab pesan-pesan dari Tommy karena menghindari Dave. Fiona juga tidak akan bisa mengendalikan perasaannya jika Dave berada di dekatnya terus menerus.
__ADS_1
Maafkan aku, Tommy. Aku menggunakanmu untuk menghindari Dave! batin Fiona.