Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Proses penyembuhan Fiona


__ADS_3

Kesadaran Fiona datang dan pergi selama beberapa hari pertama tubuhnya memulai proses lamban penyembuhan luka. Luka penusukan itu menyebabkan gadis itu kehilangan cuping bawah paru-paru dan sepotong kecil ginjal. Untunglah belatinya ada dalam jaringan rusak yang harus dibuang untuk menghentikan pendarahan.


Fiona sudah dipindahkan ke ruangan VIP untuk empat hari. Selama itu pula, Dave tidak pernah meninggalkan sisi Fiona sama sekali. Tommy rutin untuk mengunjungi Fiona setiap hari sebelum berangkat ke kantor atau setelah kembali dari kantor. Sikap Tommy yang peduli, entah kenapa membuat Dave bersyukur sekaligus sebal karena cemburu.


Mata Fiona terbuka dengan lemah dan dicarinya sosok Dave. Ternyata Dave sedang tertidur dengan kepala di bawah kaki ranjang dan tubuhnya duduk di kursi, di samping ranjang Fiona. Fiona merasa kasihan karena suaminya selalu menemaninya dan menjadi kelelahan. Fiona takut jika Dave juga akan ikut sakit karena selalu menjaga dirinya.


Fiona berusaha untuk duduk di ranjangnya. Kedua tangannya yang masih lemah, mencoba menopang tubuhnya. Tubuh Fiona semakin menjadi kurus karena bronkitis dan lukanya. Setelah berhasil duduk, diusapnya rambut Dave dengan lembut. Usapan tangan Fiona ke rambut Dave, rupanya membangunkan lelaki itu dari tidurnya.


"Kau terlihat sedikit lebih baik hari ini, sayang!" ucap Dave sambil mendekatkan kursinya ke arah Fiona.


"Kemajuannya lamban. Aku sudah bosan disini." sahut Fiona.


Ibu jari Dave mengusap bibir penuh Fiona pelan dan lembut. Teringat respons gadis itu pada malam hari sebelum ia ditusuk membuatnya bergairah. Begitu banyak yang Dave sesali sehingga tidak ada lagi ruangan untuk memuat semua penyesalannya itu.


"Tidurmu tidak nyenyak, ya kan sayang? Ada lingkaran hitam di bawah matamu!"


Fiona tertawa kecil. "Kalau aku sanggup turun dari ranjang ini, lelaki yang menusukku juga akan punya lingkaran hitam di matanya tapi itu tidak karena lelaki itu kurang tidur!"


"Tommy sedang bekerja bersama kepolisian dan juga membayar detektif swasta untuk menangkap lelaki itu. Jika lelaki itu tertangkap, ia pasti akan dipenjara dalam waktu yang sangat lama!" kata Dave menjelaskan kepada Fiona.


Mata gelap Fiona mencari-cari mata Dave, dan dipegangnya wajah Dave.


"Kata Tommy, kau tidak bisa tidur, tidak bisa makan! Juga banyak menghabiskan waktu di kapel untuk berdoa!"


Pandangan Dave beralih ke dinding yang jauh. " Fiona, Jangan menjadi seperti ini lagi. Aku sangat tersiksa, sayang! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mengira aku akan kehilanganmu untuk selamanya!"


Dave membungkuk sambil mengerang dan menekankan bibirnya keras-keras di dahi Fiona. Fiona yang masih terlalu lemah dan letih kembali berbaring di ranjang.


"Sayang, aku rasa aku akan tidur sebentar. Jangan tinggalkan aku sendirian!" pinta Fiona.


"Tidak akan sayang! Aku tidak akan pernah untuk meninggalkanmu. Tidurlah yang nyenyak, cintaku! Aku akan selalu menjagamu!"

__ADS_1


Dave tidak sanggup menanggung rasa sakit mengingat keadaan Fiona tepat setelah belati itu menembus tubuhnya. Ketika perawat datang untuk membersihkan luka Fiona dan mengganti perbannya, Dave bisa melihat seberapa besar dan dalam luka yang diakibatkan oleh tusukan belati itu. Juga, gadis itu sekarang akan memiliki bekas luka yang selalu akan Dave ingat seumur hidup. Seharusnya dia yang harus mendapatkan luka itu, karena Simon memiliki dendam kepadanya dan Tommy. Namun Fiona, gadis yang tidka bersalah ini harus menanggung luka demi kami. Walaupun belati itu tidak menusuk Dave, namun hati Dave merasa sakit mengingat momen dimana dia merasa akan kehilangan Fiona untuk selamanya.


Dave membungkuk dan menggeser bibir lembutnya ke atas bibir kering Fiona, meneguk kehangatan dalam keheningan. Pandangan Dave intens dan tersiksa, tertuju pada wajah pucat Fiona. Namun Fiona sudah jatuh tertidur, tidak menyadari tatapan Dave yang merasa bersalah dan penuh cinta terhadapnya.


Beberapa saat setelah Fiona jatuh tertidur, Tommy datang dari kantor. Tommy yang kelelahan, duduk di sofa panjang yang terletak di dekat pintu masuk.


"Bagaimana keadaannya?"


"Sudah cukup baik, tapi masih belum stabil. Dia baru saja tertidur karena obat pereda rasa sakit yang diberikan oleh perawat. Ada kabar apa dari kantor?"


"Tidak banyak. Aku sedang sibuk menyiapkan segala berkas karena besok hari persidangan perdana Lana! Aku akan meminta untuk bertemu dengannya malam ini jika ia mau."


Baru saja mengucapkan kata itu, pintu kamar VIP itu ada yang mengetuk. Lana membuka pintu dan masuk. Lana membawa buket bunga yang sangat indah dan diserahkannya kepada Dave. Di tangan satunya, Lana membawa keranjang penuh dengan aneka buah-buahan.


"Halo. Maaf, apakah aku sedang mengganggu?"


Tommy menatap gadis itu dengan rasa tidak percaya karena gadis itu sedang berdiri di hadapannya. Entah apa yang terjadi pada Tommy, di selang-selang waktunya yang sangat sibuk, Tommy merasa merindukan untuk berdekatan dengan gadis itu. Apalagi kalau malam sudah datang, Tommy akan berusaha keras untuk tidur, namun sosok Lana selalu hadir disana dan membuatnya tidak bisa tidur. Tommy mengerang dan melonggarkan dasi yang rasanya sedang mencekik lehernya.


"Bagaimana keadaannya? Apakah sudah membaik?"


"Iya sudah ada perkembangan baik. Tapi masih belum stabil!"


"Oh, puji Tuhan!" ucap Lana tulus.


Dave menghampiri Lana untuk mengambil buket bunga dan memindahkannya ke vas yang berisi air. Sedangkan keranjang penuh dengan aneka buah itu, Lana letakkan di atas meja di depan sofa. Tommy menatap dan mencari-cari mata Lana.


"Apakah kamu sudah siap dengan persidangan perdana besok?"


"Aku rasa aku sudah siap. Aku tahu kamu akan berusaha yang terbaik."


"Besok jika ada kata-kata yang menyudutkanmu dari pengacara pembela, jangan terpengaruh. Kamu harus tetap tenang. Ingat kamu memiliki aku!"

__ADS_1


Lana menatap dan mencoba mencerna kata-kata Tommy "Ingat kamu memiliki aku!". Apa maksud dari kata-kata itu? batin Lana dalam hati.


"Aku baru saja akan menghubungimu ketika kau datang tadi. Aku hendak bertanya apakah kau punya waktu malam ini?"


"Waktu untuk apa?"


"Untuk menjelaskan apa saja kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi besok. Maafkan aku jika aku terlihat seperti kurang persiapan. Tapi percayalah, aku sudah mempersiapkan segalanya walaupun pekerjaanku menumpuk!"


Lana melihat wajah Tommy yang tampan namun terlihat sangat lelah. Rasa simpatinya timbul dari lubuk hati Lana.


"Apakah kamu sudah makan? Maukah menemaniku untuk pergi makan?" tanya Lana dengan lembut untuk menandakan gencatan senjata antara dirinya dan Tommy.


"Belum makan!"


Tommy bertanya ke Dave, "Apa kamu sudah makan, bro?"


Dave yang juga belum makan, merasa dia harus berbohong untuk membiarkan Lana dan Tommy untuk memiliki waktu berdua. Dia akan memesan makanan online sehingga dia juga tidak perlu meninggalkan Fiona. Fiona akan panik jika Dave meninggalkannya hanya untuk makan malam bersama dengan Tommy dan Lana.


"Sudah makan. Tadi aku berusaha untuk menyuapi Fiona makan sesendok dua sendok. Jadi aku yang menghabiskan makanannya. Kalian pergilah! Lagipula jika Fiona nanti bangun dan tidak menemukanku, dia akan panik!" jelas Dave.


Tommy berdiri dan mengambil jas yang sudah dicopotnya dan diletakkan di atas sofa ketika sampai tadi.


"Kalau begitu, ayo kita pergi!" ajak Tommy.


Lana mengangguk kepada Tommy dan berpamitan kepada Dave.


"Kalau begitu, saya permisi. Kalau berkenan, aku akan datang lagi menjenguk lain hari!"


"Datanglah. Kami akan senang jika kau mau datang!" balas Dave.


Tommy membukakan pintu dan menunggu Lana untuk pergi bersamanya. Mereka berdua sudah meninggalkan ruang VIP dan menuju ke mobil.

__ADS_1


__ADS_2