
Sebelum jam dua siang, Fiona sudah selesai mengerjakan tes-nya dan keluar dari ruangan. Fiona berjalan ke arah lobi dimana ia akan berjumpa dengan Angie. Hati Fiona berdebar-debar karena tidak sabar menceritakan kepada sahabat satu-satunya tentang apa yang telah terjadi antara dia dan Dave! Fiona membayangkan apa yang sudah terjadi hingga dua kali dengan Dave dalam beberapa jam terakhir. Wajahnya bersemu merah! Fiona masih tidak percaya kalau hubungan mereka akan menjadi seperti ini.
Jam sudah menunjukkan pukul dua kurang sepuluh, namun batang hidung Angie masih belum kelihatan. Fiona tahu dia datang lebih awal. Suasana lobi kampus siang itu sangat sepi. Mahasiswa-mahasiswi lain masih melaksanakan tes tengah semester sehingga lobi tampak sangat lengang. Patung pendiri kampus itu berdiri kokoh di tengah-tengah ruangan. Tiba-tiba hati Fiona terasa tidak enak seolah ada yang menguntitnya. Fiona memutuskan untuk berjalan ke luar lobi dan akan menunggu Angie di sana.
Fiona sudah sampai di luar lobi dan tak lama sesudah itu, batang hidung Angie nampak. Angie melambaikan tangannya ke arah Fiona dan tersenyum. Tetapi sejenak, Angie terdiam melihat ada seorang lelaki dengan baju berwarna hitam dan memakai topi hitam berjalan di belakang Fiona. Firasat Angie sudah mengatakan ada yang tidak beres. Angie hendak menjerit ke arah Fiona untuk berlari, namun terlambat.
Lelaki itu mengeluarkan belati yang lumayan panjang dan menusuk Fiona. Angie langsung menjerit untuk meminta bantuan. Ketika Angie menjerit, lelaki itu langsung mencabut belatinya dan melarikan diri. Teriakan Angie membuat orang sekitar yang lewat dan satpam kampus mendatanginya. Angie berteriak dan menunjuk ke arah Fiona yang sudah tergeletak di lantai dan bersimbah darah. Angie berlari mendatangi Fiona! Wajah Fiona menjadi pucat karena darah yang tidak berhenti mengucur dari arah dadanya. Walaupun Angie merasa takut dan ngeri, tapi ia tetap menaruh tangannya di bawah dada Fiona yang telah ditusuk dan menekannya agar darahnya berhenti.
Fiona yang sedang kesakitan, pingsan tak sadarkan diri!
Seseorang sudah menelpon polisi dan ambulans yang tak lama kemudian datang dan membawa Fiona pergi. Angie ikut ke dalam ambulans dan dia langsung mengambil telponnya untuk menghubungi kantor Dave. Angie tidak memiliki nomor ponsel Dave, sehingga ia langsung mencari di internet nomer telpon kantor Dave. Beberapa saat setelah menemukan nomor telpon kantor Dave, Angie langsung menghubunginya.
"Halo selamat siang..." jawab Astrid.
"Halo..Halo... bisa berbicara dengan Dave?" potong Angie.
__ADS_1
"Halo, dengan siapa ini saya berbicara?"
"Halo, tolong cepat sambungkan dengan Dave. Katakan istrinya, Fiona sedang berada di ambulans!"
"Maaf, Bapak Dave sedang rapat!"
"Tolong, saya mohon. Istrinya sedang sekarat!" ucap Angie putus asa.
Nada suara Angie yang menyiratkan bahwa dia tidak sedang main-main, membuat Astrid bangkit dari kursinya dan menuju ke ruangan rapat. Dave sedang rapat dengan Tommy dan kliennya, langsung mendongak ketika Astrid datang.
Bagai disambar petir, pagi ini mereka masih bahagia dan sekarang Dave mendapatkan berita mengejutkan seperti ini. Dave langsung mengangkat telpon dan menyambungkan telponnya di saluran dua.
"Halo...Halo!" kata Dave dengan tidak sabar.
"Dave, ini Angie. Fiona tertusuk oleh seorang pria tidak dikenal. Dia kehabisan darah karena tertusuk di area dada. Bisakah kamu langsung pergi ke rumah sakit Kasih Ibu?"
__ADS_1
"Oke, aku akan langsung kesana sekarang!" ucap Dave yang langsung bangkit dari kursi.
Tommy yang juga mendengar pembicaraan itu, langsung meminta maaf dan mengakhiri rapat mereka. Tommy langsung beranjak dan berkata.
"Dave, ayo ke mobilku! Aku akan menyupir!"
Dave yang tidak mau membuang-buang waktu, segera pergi ke arah mobil Tommy. Dia langsung menaiki mobil Tommy, Tommy langsung menyetir dengan kencang.
"Kami baru saja mengetahui kalau kami saling mencintai. Kami baru saja menjadi pasangan resmi! Jika sesuatu terjadi pada Fiona, aku tidak akan sanggup hidup! ucap Dave yang terisak.
"Tidak akan terjadi apapun kepada Fiona! Kita berdoa yang terbaik, Dave!"
Perjalanan ke rumah sakit memakan waktu yang agak lama karena rumah sakit tersebut lebih jauh dari kantor Dave namu lebih dekat dari kampus Fiona. Dave yang berada di mobil merasa semakin lama mereka sampai, semakin khawatir dia terhadap istrinya! Hatinya sungguh tercabik-cabik.
Sementara itu, Mobil ambulans yang ditumpangi Angie dan Fiona sudah sampai di rumah sakit. Dengan sigap, perawat dan dokter langsung menunggu di depan IGD karena sejak tadi perawat yang di ambulans sudah menghubungi rumah sakit. Mereka langsung membawa Fiona ke ruang operasi karena luka tusukannya ternyata cukup dalam. Angie yang melihat sahabatnya dibawa ke ruang operasi dengan lemah dan wajah pucat, menangis tersedu-sedu. Angie baru menyadari bahwa Fiona bukan hanya seorang sahabat namun seperti saudarinya sendiri. Angie duduk dan berdoa kepada Tuhan untuk menyelamatkan Fiona.
__ADS_1