Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Keajaiban


__ADS_3

Tak lama setelah kepulangan Angie ke rumah, ada seorang perawat yang memanggil Dave untuk masuk ke dalam kamar dimana Fiona berada. Perawat tersebut berkata bahwa kondisi vital Fiona sudah membaik jadi gadis itu bisa dipindahkan ke kamar perawatan biasa. Mereka memerlukan tanda tangan Dave untuk memindahkan Fiona. Dave memilih ruangan VIP agar ia bisa menunggui istrinya selama ia mau.


Dua orang perawat datang dan membawa ranjang Fiona ke kamar yang baru. Walaupun keadaan Fiona sudah membaik, tapi mesin dan monitor-monitor tetap terpasang. Dave membawa barang-barang yang ditaruhnya di luar dan mengikuti perawat yang mendorong ranjang Fiona.


Setidaknya di kamar yang baru ini, aku akan bisa bersama Fiona 24 jam sehari, pikir Dave.


Kamar VIP yang dipilih Dave seperti kamar hotel degan fasilitas lengkap. Juga ada ranjang untuk penunggu pasien, sehingga bisa beristirahat lebih enak disini. Walau Dave belum berpikir untuk istirahat disana, Dave berjalan ke arah meja pantry dan membuat kopi untuk dirinya sendiri.  Dave duduk di kursi di samping ranjang Fiona sambil meminum kopi hangatnya. Setelah kopinya habis, ia mulai mengabari Tommy tentang kepindahan Fiona di kamar baru. Tommy menjawab dengan cepat bahwa ia ikut senang dan lebih lega. Tommy mengatakan kalau ia tidak bisa datang hingga malam nanti karena harus mengurus pekerjaan dan urusan di kantor polisi.


Dave tidak mengeluh karena ia tahu bahwa Tommy sedang membantunya untuk menemukan pelakunya dan menggantikan dirinya di kantor. Dave merasa sangat bersyukur bahwa ia memiliki rekan yang sangat baik seperti Tommy.


Dave membungkuk ke arah Fiona dan melihat bulu mata panjang gadis itu bergerak dan mata gelapnya terbuka. Nafas Fiona masih kasar dan gadis itu nampak lemah sekali. Namun sepertinya, Fiona sedang melihat Dave.


"Fiona." bisik Dave di telinga gadis itu.


Mata Fiona tertuju kepada wajah Dave, tetapi gadis itu tidak bereaksi sama sekali. Pandangan gadis itu seperti kosong.


"Apa kau bisa mendengarku, sayang?" tanya Dave lembut.

__ADS_1


"Sakit!" bisik Fiona serak. Gadis itu mengernyit dan meringis kesakitan.


Tangan besar Dave gemetar mengelus rambut dan wajah Fiona.


"Puji Tuhan kau masih hidup!" kata Dave, suaranya serak dan pecah meskipun kendali dirinya sekuat baja. Dave membungkukan diri dan menyapukan bibirnya ke bibir kering gadis itu.


"Terima kasih Tuhan, terima kasih. Terima kasih Tuhan sudah mengembalikanmu ke sisiku!" erang Dave.


Fiona berkedip, nyaris tidak menyadari hal lain kecuali rasa sakitnya. Ia bernapas dan kembali memejamkan mata. Wajahnya mengernyit kesakitan. "Sakit sekali!" katanya.


Dokter Rio yang saat itu baru saja menyelesaikan operasinya dan mendapat panggilan dari perawat, segera datang untuk mengecek keadaan Fiona. Dokter Rio mengangguk ke arah Dave sebelum masuk untuk memeriksa kondisi terbaru Fiona.


 Setelah melakukan beberapa pengecekan mendalam terhadap keadaan Fiona, Dokter Rio  beserta para perawat keluar dari ruangan. Dave yang sudah menanti, tidak sabar untuk mendapatkan informasi terbaru.


 "Dia akan baik-baik saja. Sekarang tinggal soal waktu. Kau bisa berhenti untuk khawatir!" kata Dokter Rio sambil menepuk pundak Dave untuk menenangkan lelaki itu.


Dave berterima kasih kepada Dokter Rio, lalu pergi ke ujung lorong dan bersandar di dinding, menvoba mengendalikan diri. Sudah terlalu lama ia ada dalam neraka hingga kelegaan yang muncul terasa sangat mengguncang. Fiona selamat. Gadis itu akan hidup. Dave menyapu matanya yang berair. Dave tidak bisa mengendalikan dirinya yang senang karena cinta dalam hidupnya akan kembali ke sisinya.

__ADS_1


Dave mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Tommy. Lelaki itu berhak tahu kalau Fiona sudah sadar! Beberapa saat setelah mendengar nada sambung, Tommy mengangkat ponselnya.


"Fiona sudah sadar!" jerit Dave penuh antusias.


"Puji Tuhan. Terima kasih Tuhan!" jawab Tommy lega.


"Iya, sekarang aku sudah lega. Kalau kamu terlalu capek, kamu tidak perlu datang malam ini. Karena Fiona juga masih memerlukan istirahat yang cukup. Datanglah besok!" ucap Dave.


"Kalau begitu aku akan menyelesaikan sesuatu di kantor polisi dulu lalu aku akan kembali ke rumah!"


"Apakah kamu sudah menemukan pelakunya?"


"Dari rekaman CCTV kampus, bisa dipastikan yang menusuk Fiona adalah Simon dan sekarang dia dalam daftar pencarian orang alias buron! Kamu tenang saja. Aku akan membereskan Simon!" janji Tommy kepada Dave.


"Terima kasih. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu!"


Dave menutup telpon dan kembali ke kamar Fiona. Dilihat gadis itu sudah tertidur lagi karena obat bius yang diberikan oleh Dokter. Dave memutuskan untuk beristirahat di kursi. Ditariknya kursi untuk mendekat ke arah ranjang Fiona. Lalu Dave menggenggam tangan Fiona dan jatuh tertidur di samping gadis itu tanpa pernah melepaskan genggamannya seolah-olah gadis itu akan meninggalkannya kalau Dave melepaskan genggamannya. Setidaknya gadis itu sudah sadarkan diri dan itu sangat membuat Dave lebih lega. Dave menyangka ia akan kehilangan Fiona untuk selama-lamanya.

__ADS_1


__ADS_2