
Sesudah selesai makan, Tommy membantu Lana untuk mencuci piring. Gadis itu akan mencucinya dan Tommy akan mengelap piring-piringnya supaya menjadi kering. Perasaan Tommy menjadi sangat aneh. Ia menikmati saat-saat ini dengan Lana. Ia tidak pernah berpikir bahwa kegiatan mencuci piring bisa menjadi sangat menyenangkan seperti ini. Seketika Tommy akan diam-diam memandang wajah gadis itu. Walaupun tanpa riasan, wajah gadis itu sungguh sangat cantik. Tommy juga berpikir jika seorang model hanya akan makan sedikit dan memakan makanan yang sehat.
Lana tertawa lepas ketika Tommy mengutarakan pendapatnya tentang kebiasaan para model dalam makan. Wajah tertawa gadis itu sungguh enak sekali dipandang. Hati Tommy berdesir ringan.
Karena tidak banyak peralatan untuk dicuci, mereka dengan cepat menyuci semuanya.
"Apakah kamu punya buah untuk dimakan? Aku terbiasa makan buah seusai makan." tanya Lana.
Tommy memutuskan untuk mengingat-ingat hal ini. Tommy berjalan ke arah kulkas dan hanya menemukan buah melon di kulkas. Dia jarang sekali makan buah. Beberapa hari lalu, sebelum menjenguk Fiona, Tommy berpikir akan membelikan buah melon ketika mengunjunginya. Namun ternyata gadis itu tidak boleh dan tidak bisa makan. Dave juga sudah dimanja oleh Fiona. Dave berkata bahwa dia malas sekali untuk mengupas dan memotong buah melon tersebut. Biasanya Fiona yang akan melakukannya, kata Dave sambil terisak. Emosi Dave menjadi sangat labil seusai peristiwa penusukan itu. Mau tidak mau, Tommy akhirnya membawa kembali buah melon itu ke rumah.
Namun saat ini, dia sungguh sangat bersyukur karena Dave, si bodoh itu, menolak buah pemberian Tommy.
"Cuma ada melon!"
Lana yang tadi sudah membuka kulkas juga mengetahui bahwa Tommy cuma punya buah melon. Dia hendak memotongnya, namun dia sudah cukup tidak sopan dengan memasak bahan-bahan makanan yang lelaki itu punya.
"Bolehkah aku mengupas dan memotongnya?"
__ADS_1
"Tentu saja. Kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu kan juga sudah menggunakan bahan makanan yang ada!" goda Tommy.
"Aku akan menggantinya!" kata Lana mantap.
"Kalau begitu, kamu harus sering-sering datang kesini!" ucap Tommy menggoda Lana.
Wajah Lana menjadi sangat merah karena malu. Gadis itu mengambil pisau dan memulai untuk mengupas melon.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan!" tanya Tommy dengan wajah yang serius.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
Raut wajah Lana yang tadinya merah karena malu, sekarang berubah pucat.
"Kamu tahu kan, aku seorang pengacara. Dave sudah bercerita tentang kasusmu, tapi aku merasa ada yang sedikit janggal! Jadi aku harap kamu mau jujur denganku!"
"Malam itu, hari sudah larut dan aku sudah sangat lelah sehabis peragaan busana. Desainer itu memang sangat terkenal. Untuk menjadi model dalam peragaannya saja, aku masih tetap harus menjalani persaingan dengan gadis lainnya. Jika mendapat pekerjaan itu, hasilnya juga bisa mencukupi untuk tidak bekerja selama setahun penuh. Berada di belakang panggung, para model sudah terbiasa untuk mengganti pakaiannya dengan cepat dan kadang harus telanjang di depan orang lain. Bagi aku telanjang masih tidak apa-apa, asal tidak dipegang." cerita Lana.
__ADS_1
Tommy mendengarkan dengan seksama cerita Lana. Namun ia menyadari, semakin Lana bercerita, semakin pucat raut wajah Lana.
"Ketika itu, aku menyuruh asistenku untuk membelikanku obat di apotik. Aku sedang sedikit sakit flu saat itu. Asistenku bilang kalau persediaan obatku di rumah juga tidak ada. Jadi aku menyuruhnya untuk membeli obat sebelum tutup. Di kamar ganti, hanya tinggal aku seorang, yang lain sudah pulang. Aku menunggu asistenku yang pergi mengendarai mobilku disana. Aku jatuh tertidur dan terbangun karena ada orang yang meraba-raba payudaraku!" ucap Lana dengan rasa jijik yang sangat tersirat dari wajahnya.
Tommy menjadi marah dan mengepalkan tangannya. Desainer itu mengambil keuntungan ketika gadis itu sendirian dan lemah. Jika ia disana, ia tidak akan bisa untuk mengendalikan amarahnya!
"Lelaki itu... berkata bahwa tidak adanya jika aku berteriak karena sudah tidak ada orang lagi. Dia mendorong tubuhku hingga jatuh ke lantai. Dia juga mulai menciumiku..." ucap Lana dengan rasa jijik.
"Aku mencoba untuk memberontak dan berteriak, tapi benar-benar tidak ada orang! Dia hampir berhasil menggagahiku namun tanganku meraba-raba dan menemukan tiang gantungan baju. Aku menarik tiang itu dan memukulnya dengan tiang itu. Kemudian aku berlari keluar dengan baju yang sobek, untungnya saat itu supir dan asistenku sedang kembali ke sana. Mereka menemukanku berlari dan aku masuk ke arah mobil. Mereka membawaku pergi dari sana. Aku masih sangat shock namunĀ asistenku membuat laporan ke polisi. Jika saja, saat itu aku tidak bisa meraih tiang itu..." ucap Lana yang terisak dan berhenti untuk meceritakan kejadian itu.
"Sejak saat itu, aku sering bermimpi. Aku juga memutuskan untuk menemui seorang psikiater!"
Tommy merasa marah sekali dan ingin menjebloskan desainer itu ke penjara dengan waktu yang sangat lama. Tommy berjanji kepada dirinya sendiri, ia akan bekerja keras untuk bisa memenjarakan lelaki itu. Tubuh gadis itu, bergetar karena rasa trauma yang dialaminya. Tommy mendatangi Lana dan memeluk tubuh gadis dari belakang untuk menenangkannya.
"Malam ini, bisakah kau tinggal disini? Jangan pulang!" bisik Tommy di telinga Lana.
Entah kenapa, berada di pelukan Tommy, Lana menjadi tenang dan merasa aman. Ia menyukai rasanya dipeluk oleh Tommy.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan apapun kecuali memelukmu malam ini!" janji Tommy ke Lana.
Lana yang semula ragu, hanya mengangguk dan mengiyakan Tommy untuk menginap malam ini. Hati Lana sedikit berbunga-bunga. Dia sendiri merasa tidak yakin apakah ini efek dari kehamilannya atau memang ini murni dari perasaannya yang terdalam!