
Sunyi sekali. Mata Lana berusaha untuk terbuka namun rasa sakit di kepalanya memaksanya untuk tetap memejamkan kepalanya. Gadis itu memutuskan untuk tetap berbaring di ranjang tersebut. Samar-samar ia teringat bahwa ia sempat pingsan dan memohon Tommy untuk membawanya kembali ke rumah.
Namun tempat dimana ia terbaring sangat ini, bukan rumahnya. Lana yakin sekali walaupun matanya masih terpejam. Bau ruangan itu sangat fresh dan maskulin seperti ruangan yang ditinggali oleh lelaki. Sedangkan jika ia sedang berada di rumahnya, bau kamarnya selalu memiliki bau bunga yang wangi dan semerbak.
Bau ruangan ini seperti bau tembakau dan rempah-rempah. Walaupun kepalanya masih sakit dan terasa berat, Lana berusaha untuk membuka matanya. Dilihatnya sekeliling ruangan yang terasa asing bagi gadis tersebut. Lana juga menyadari ada sesosok lelaki besar yang sedang tertidur membelakangi dirinya. Tommy yang masih tidur terlelap tidak menyadari bahwa Lana sudah bangun.
Lana memandangi punggung Tommy yang lebar dan kekar, seketika gadis itu teringat ketika tubuh Tommy memeluk tubuh langsing dan kecilnya. Lana terlalu gengsi untuk mengakuinya, namun tubuhnya sendiri tidak bisa berbohong. Tubuhnya suka dan bereaksi berbeda dengan apa yang dikatakannya. Tubuhnya mendamba untuk disentuh oleh lelaki yang sedang tertidur tersebut. Lana tidak ingin gairahnya bangkit, memilih untuk bangun dari ranjang pelan-pelan untuk tidak membangunkan Tommy.
Lana keluar dari kamar tersebut dan merasa asing dengan apartemen Tommy. Ciri khas apartemen yang ditinggali lelaki single. Sangat minimalis. Ia berpindah ke arah dapur dan berencana untuk membuat teh hangat manis untuk memberi tenaga bagi dirinya.
Setelah lama mencari letak peralatan dapur, Lana berhasil menemukan semua yang diperlukan. Tiba-tiba perutnya berbunyi, Lana mencari letak jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Seharian ini dia tertidur, bersama lelaki itu. Lana membuka kulkas untuk mengumpulkan bahan-bahan. Dia hanya bisa menemukan sebuah brokoli, daging bacon dan telur. Gadis itu tampak lumayan puasĀ dengan bahan makanan seadanya itu.
Dia memulai dengan menanak nasi dengan rice cooker. Sambil menunggu nasinya nanak, ia mulai mengiris dan menyiapkan segalanya untuk memasak. Daripada pergi ke club dan hidup berhura-hura, Lana lebih senang untuk berada di rumah. Memasak dan membaca buku adalah hal favoritnya ketika ia berada di rumah.
Puas dengan hasil masakannya, nasi goreng bacon dan tumis brokoli. Lana menyiapkan piringnya.
Walaupun ia sangat lapar, namun gadis itu tidak melupakan etika. Ia bergegas masuk kembali ke kamar Tommy untuk membangunkannya.
Lana duduk di tepi ranjang dan menyentuh lembut lengan Tommy.
"Tom...Tommy, bangun!" ucap Lana pelan dan lembut.
Masih tidak ada reaksi sama sekali dari Tommy. Mungkin karena sentuhannya terlalu pelan, pikir Lana. Bulu mata Tommy sangat lentik walaupun dia masih terlihat maskulin. Hidungnya mancung dan agak bengkok sedikit. Mungkin dulu dia pernah berkelahi sehingga bentuk hidungnya menjadi bengkok, batin Lana. Bibirnya kecil dan tipis. Rambutnya dipotong sangat cepak namun rapi. Wajah lelaki ini ganteng seperti bintang film asia.
"Kenapa kamu tidak memilih untuk menjadi artis aja sih dengan wajah seganteng ini?" gumam Lana lirih.
"Karena aku tidak suka menjadi pusat perhatian!" jawab Tommy yang membuat kaget Lana.
"Kamu...Kamu tidak tidur? Kenapa kamu berpura-pura tidur?" tanya Lana malu karena lelaki itu mengetahui bahwa Lana menatapnya lumayan lama.
"Bagaimana aku bisa tertidur jika kamu bergumam di sampingku dan suara perutmu sangat mengganggu!" jawab Tommy blak-blakan.
Otomatis Lana langsung memegang perutnya. Wajahnya memerah karena malu.
"Apakah kamu lapar?" tanya Tommy lembut. Ditatapnya gadis itu dengan lembut. Tangannya yang besar dan agak kasar membelai wajah Lana yang mungil.
"Iya, aku sangat lapar!"
__ADS_1
"Kalau begitu, tunggu ya. Aku akan memesan makanan!"
Tommy berdiri dan mencari-cari keberadaan ponselnya. Ia lupa dimana ia sudah meletakkan ponselnya.
Sialan, ketika aku butuh, ponsel sialan itu selalu menghilang dengan sendirinya, omel Tommy!
"Sebenarnya, aku sudah selesai memasak. Kalau kamu berkenan untuk makan masakanku, kita bisa makan sekarang!"
Wow, gadis ini sungguh memberikan kejutan bagi Tommy bertubi-tubi. Di bayangan Tommy, gadis ini tidak seperti ini. Di bayangannya, gadis ini seharusnya menjadi model yang bodoh dan egois. Model yang suka berpesta dan berhura-hura. Kenapa semua yang ada di bayangannya salah? batin Tommy putus asa.
Lana berjalan dulu ke arah dapur. Meja makan simple terletak di dapur tersebut. Tommy mengikuti Lana di belakang dan setelah sampai di dapur, ia melihat ada piring-piring yang sudah tertata dan makanan yang tampak lezat sudah menunggu mereka.
"Mau teh?" tanya Lana yang sedang menuangkan teh hangat manis untuk dirinya sendiri.
"Boleh."
"Tapi ini teh manis lho! Setiap aku merasa tidak memiliki tenaga, aku selalu membuat teh hitam kental yang manis untuk diriku sendiri." jelas Lana.
"Tidak apa-apa. Aku bukan fans nomer satu untuk yang manis-manis namun aku juga tidak menolaknya. Apalagi hari ini sangat melelahkan!" sahut Tommy.
Lana mengambil cangkir Tommy dan menuangkan teh hangat ke cangkir tersebut. Gadis itu memberikan cangkirnya ke depan Tommy. Lana juga mengambil piring Tommy dan menaruh nasi goreng bacon dan tumis brokoli di atasnya.
Gila, ini enak banget! Seperti beli di restaurant! pikir Tommy.
Tommy bangkit dan menuju ke tempat sampah. Dia mencari dengan seksama bungkusan dari restaurant. Namun dia tidak menemukan apapun kecuali batang brokoli yang dibuang dan sampah dari sisa memasak. Lana dibuat bingung dengan kelakuan Tommy.
"Kamu sedang mencari apa?"
"Aku sedang mencari bungkus makanan dari restaurant!"
Lana yang sedang kebingungan, akhirnya menyadari tingkah laku Tommy. Gadis itu tertawa lepas.
"Kamu pikir aku membeli makanan ini? Bagaimana bisa? Aku tidak tahu alamat rumahmu! Aku juga tidak mau ada untuk membuka pintu untuk orang asing dan membahayakan keadaanmu!"
"Hmmm, kamu betul juga. Kamu kan tidak tahu alamat apartemen ini. Jadi ini betul-betul masakanmu?" Tommy masih bertanya karena tidak percaya.
"Iya ini semua masakanku. Kenapa kamu tidak percaya sih?" ucap Lana sebal.
__ADS_1
"Gimana ya? Pandangan orang tentang model kadang tidak baik. Mungkin aku salah satu orang yang termakan dengan persepsi seperti itu!" Tommy mengakui.
Perasaan Lana sedikit tersinggung ketika mengetahui persepsi Tommy tentang dirinya. Namun, gadis itu tidak mau memikirkan pendapat orang lain terhadapnya. Sejak ia memutuskan menjadi model, ia harus siap dengan segala resikonya. Orang-orang ingin semakin mengetahui tentang dirinya dan kehidupan pribadinya. Dirinya juga dipuja oleh gadis-gadis remaja yang masih belum mengerti tentang betapa keras hidup sebagai model. Sedangkan untuk wanita seusianya, biasanya mereka akan iri dan berakhir menggosipkan dirinya dengan tidak benar.
Lana tidak mau ambil pusing. Dia hanya pergi keluar dan bersosialisasi ketika ia benar-benar harus melakukan hal tersebut. Dia benci dengan kehidupan sosial yang hingar bingar. Dibesarkan di panti asuhan dengan para biarawati, membuat Lana memiliki dasar hidup yang kuat. Lana tidak ingin hidup dengan menyalahi norma-norma agama yang ia yakini.
Jadi semua pemberitaan tentang dirinya, tidak semuanya benar!
"Asumsi buruk terhadap model memang bukan hal yang mengejutkanku! Aku sudah terbiasa hidup dengan gosip-gosip orang! Namun kau membuktikan sendiri bahwa aku masih perawan di malam kita menghabiskan waktu bersama!" ucap Lana.
Tommy mengingat kembali malam ketika dia memaksakan kehendak dan tubuhnya ke gadis itu. Darah segar yang mengalir malam tersebut menjadi bukti betapa polosnya gadis tersebut. Mengetahui bahwa Lana masih polos, menjadi kepuasan tersendiri di dalam benak Tommy.
"Sejak kecil, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Ibuku adalah wanita cantik yang sangat egois. Dulu ayahku adalah seorang pengusaha yang lumayan sukses, namun ketika terjadi resesi dan bisnis yang dikerjakan ayahku mengalami masalah dan akhirnya bangkrut. Ibuku bukannya menemani dan mendukung ayahku, ia malah selalu menghabiskan waktunya untuk berhura-hura. Walaupun ibu sudah melahirkanku, namun tubuh dan kecantikannya sama sekali tidak berkurang. Akhirnya, ia bertemu lelaki yang kaya. Lelaki itu dua kali lebih tua dibanding usia ibuku. Namun ibuku sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Dia menceraikan ayahku dan meninggalkanku. Ayah yang sudah kehilangan harta dan wanita yang dicintainya, tidak bisa menerima kenyataan dan menghabiskan hari-harinya dengan meminum alkohol. Ketika ayah mabuk, dia memukuliku. Ada seorang tetangga yang akhirnya melihat kejadian dia memukuli, kemudian melaporkannya ke kantor polisi. Akhirnya ayahku ditangkap dan aku dikirim ke dinas sosial. Akhirnya aku berada di panti asuhan! Para biarawati disana mengasihiku dan mencintaiku. Kadang kala ketika aku tidak bekerja, biasanya aku akan pergi kesana dan menjenguk para biarawati yang sudah merawatku. Aku bersyukur karena akhirnya aku dirawat di sana karena dengan tinggal disana, aku bisa memiliki prinsip yang kuat dan hidup berdasarkan norma agama!" ucap Lana menjelaskan cerita masa kecilnya ke Tommy.
Tommy kaget mendengar cerita masa kecil Lana yang hampir sama tragisnya dengan dirinya. Sekarang ia sadar dengan sikap Lana di malam itu. Gadis itu dengan terang-terangan berkata bahwa jika ia hamil, ia menolak untuk melakukan aborsi dan akan tetap melahirkan anak tersebut. Tommy sedikit lega dan mengagumi prinsip kuat gadis itu.
Mungkin aku harus mengenal lebih jauh tentang gadis ini, pikir Tommy.
Mereka memakan makanan dengan pelan. Lana sadar bahwa ini pertama kalinya ia terbuka kepada seorang lelaki. Selama ini, lelaki yang mendekatinya akan marah dan berakhir memutuskannya ketika ia menolak untuk tidur dengan lelaki tersebut.
"Seperti apakah pernikahan yang kamu inginkan?"
"Sederhana!" kata Lana dengan nada pasti.
"Kamu tidak ingin pesta yang besar dan mewah?"
"Tidak. Aku hanya ingin pesta di gereja dengan kenalan dekat dan keluarga saja!"
Tommy juga menginginkan pesta pernikahan yang sederhana dan sakral.
"Kamu paham kan, bagaimana aku dibesarkan! Jika aku menikah, aku tidak mungkin bercerai karena perceraian dibenci oleh Tuhan!"
"Lalu bagaimana dengan kita?" tanya Tommy.
"Jika kamu tidak yakin untuk menikahiku, lebih baik jangan. Aku tidak ingin menikah hanya karena kita akan memiliki seorang anak. Bagiku menikah itu sakral dan hanya akan aku lakukan sekali saja! Jadi aku akan memberikan waktu untukmu untuk berpikir! Gunakan waktu tersebut dengan baik-baik!"
"Walaupun tanpa cinta?" tanya Tommy.
__ADS_1
"Aku percaya dan berharap dengan cinta. Namun aku juga percaya dengan adanya komitmen. Cinta bisa pudar namun komitmen seharusnya bisa bertahan!" jelas Lana.
Dalam sehari Tommy sungguh dibuat terkejut dengan pribadi Lana yang baru saja ia ketahui. Gadis itu bukan hanya pintar, dia juga bijaksana dan juga jago memasak! Tommy menjadi semakin ingin mengenal Lana lebih jauh. Dia mulai mengagumi gadis itu!