
Tommy dan Lana sudah berada dalam mobil menuju ke restaurant dimana Tommy pernah mengajak Fiona pada hari pembukaan. Di restaurant itu, Tommy merasa mereka akan mendapatkan privasi yang cukup dibandingkan restaurant lain. Sesampainya di restaurant itu, Tommyb membukakan pintu untuk Lana dan memberikan kunci mobilnya untuk diparkirkan oleh petugas vallet.
Pelayan restaurant itu langsung mengenali mereka berdua dan mengantar mereka ke ruangan khusus. Setelah mereka duduk, pelayan memberikan buku menu dan meninggalkan mereka. Lana menutupi wajahnya dan tenggelam dalam buku menu. Lana merasa salah tingkah setiap kali berdekatan dengan Tommy. Tommy melihat kelakuan Lana dan bersikap seolah acuh tak acuh.
"Jadi kamu mau pesan apa?"
"Tommy, sebelum memesan. Aku rasa sebaiknya aku memberitahu sesuatu kepadamu."
"Beritahu saja. Kenapa menunggu?"
"Aku telat! Aku tidak mendapat menstruasi bulan ini!"
Tommy kaget mengetahui bahwa kemungkinan besar Lana sedang mengandung anaknya. Dia berpikir bagaimana gadis itu bisa hamil dengan hanya melakukannnya dua kali. Raut wajah Tommy berubah, menjadi lebih keras dan serius.
__ADS_1
"Kita harus menikah!"
"Kenapa?"
"Sudah aku bilang, aku tidak ingin anakku lahir menjadi anak haram! Kita akan membuat surat perjanjian seperti yang dilakukan Dave dan Fiona. Kalau kamu tidak tahan denganku, kita bisa berpisah dalam waktu setahun! Kita akan memberikan syarat-syarat kita masing-masing."
"Bagaimana kalau aku menolak?"
"Maka, aku akan menuntut hak asuh penuh anak itu dan jika aku mendapatkannya, kamu tidak akan pernah bertemu dengannya lagi."
"Para hakim akan melihat dari kasus yang sedang kamu jalani dan juga menilai dari gaya hidup kamu yang selalu diberitakan di media. Kamu selalu memiliki kekasih baru dalam waktu cepat. Sedangkan aku, aku bisa memberikan kehidupan yang lebih stabil kepada anak kita. Kamu akan kalah jika melawanku! Jadi putuskanlah, menikah atau tidak menikah!"
Bulu kuduk Lana bergidik mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Tommy. Situasinya saat ini memang sangat tidak bagus dengannya. Sehingga pilihan MENIKAH akan menjadi keputusan yang terbaik baginya.
__ADS_1
"Apakah jika kita menikah, kita akan tidur bersama?" tanya Lana merinding.
"Tentu saja. Kita akan menjadi suami istri! Kenapa kita harus tidur terpisah?"
"Bukan itu maksudku. Maksudku..."
"Aku tahu maksudmu. Kau akan menjadi istriku! Aku tidak akan memaksamu tetapi aku seorang lelaki normal. Alangkah baiknya dirimu jika kita bisa melakukan itu!" ucap Tommy blak-blakan.
Lana teringat akan sentuhan-sentuhan Tommy di malam itu. Kadang Lana merindukan sentuhan-sentuhan Tommy dan mencoba mencari-cari alasan agar ia bisa bertemu dengan lelaki itu. Namun jika ia tetap menemui Tommy, ia takut jika perasaannya akan berkembang menjadi cinta. Sehingga ia mengurungkan niatnya itu dan mencari kesibukan lain.
Lana belum mengetes apakah ia hamil atau belum, namun ia sudah terlambat seminggu dari jadwal yang seharusnya ia dapatkan.
"Aku akan mengetes apakah aku hamil atau tidak besok pagi-pagi. Jika aku hamil, aku akan menikah denganmu!" putus Lana.
__ADS_1
Tommy merasa lega karena Lana tidak sebodoh yang ia bayangkan. Kebanyakan model-model cantik hanya memikirkan penampilan dan bodoh. Akan tetapi, ia merasa Lana tidak seperti kebanyakan model itu. Ia cantik dan pintar.
Mereka memesan makanan dan menghabiskannya dalam keheningan yang tidak enak. Seusai makan, Tommy mengantarkan Lana kembali ke rumah dan berpamitan dengan sopan. Tommy tidak sabar untuk mengetahui hasil tes Lana besok pagi karena besok pagi juga mereka akan bertemu untuk persidangan perdana Lana. Tommy bergegas kembali ke apartemennya dan beristirahat, Besok akan menjadi hari yang melelahkan! putusnya muram.