
Selama pengambilan gambar di lokasi shooting, mata Marko selalu mengarah ke arah Lana yang sedang fokus bekerja. Marko merasa bahwa gadis itu malah semakin cantik dan bersinar. Hatinya berdebar-debar seolah dia hanya anak bau kencur yang sedang jatuh cinta. Debaran hati Marko ketika dia sedang berselingkuh, sangatlah berbeda dengan apa yang ia rasakan sekarang.
Sekarang ia baru sadar bahwa ia telah membuang sebongkah berlian demi batu yang tidak ada harganya. Rasa penyesalan menghantam hatinya lagi. Setelah sadar, Marko semakin bertekad untuk mendapatkan Lana lagi.
Marko sangat senang ketika sang fotografer mengarahkan mereka berdua untuk lebih berdekatan dan memberikan kesan romantis. Di sisi lain, Lana sungguh merasa sangat tidak nyaman dengan Marko yang dirasa berlebihan untuk pengambilan foto ini. Lana yang memang sudah lama menjadi model, tentu tahu bagaimana berpose dan bersikap profesional.
Tapi tangan Marko menarik pinggang Lana hingga membuat gadis itu mendelik ke arahnya. Sudah beberapa saat Lana mencoba mengatur wajahnya supaya wajah marahnya tidak tertangkap oleh kamera. Namun semakin kesini, makin sulit karena selain menarik pinggang Lana, Marko juga berbisik kecil ke kupingnya tentang semua yang telah mereka lalui bersama.
"Tolong kondisikan dirimu dan juga tanganmu!" perintah Lana sambil berbisik.
"Kenapa? Apa kau takut kalau kau akan jatuh cinta lagi padaku? Apakah kau baru menyadari bahwa kau telah menyesal memutuskanku? Kalau begitu, bagaimana kalau kita kembali bersama?" goda Marko padanya.
"Berhentilah bermimpi! Aku tak akan pernah kembali kepada tukang selingkuh sepertimu! Lagipula aku sudah bilang bahwa aku sudah memiliki pria yang aku cintai!" desis Lana.
"Ayolah Lana.... Aku tahu itu cuma alasanmu saja supaya aku cemburu, kan?" ejek Marko.
"Kau tidak perlu berbohong! Aku tahu perbuatanku salah dan aku menyesalinya. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita..." lanjut Marko sambil menarik tubuh Lana sehingga mereka saling berhadapan dan sangat dekat.
Sedangkan di belakang sang forografer, Tommy berdiri dengan tangan yang mengepal. Dia sedang menahan marah. Tommy tidak sengaja datang ke lokasi shooting Lana karena ketika dia sedang di kantor, dia merasa tidak bisa fokus bekerja dan terus menerus menatap cincin yang ditinggalkan Lana.
Walaupun Tommy mencoba untuk mengerti alasan Lana yang takut cincinnya hilang di lokasi, tapi Tommy berpikir bahwa itu hanyalah alasan bodoh. Sekarang Tommy sedang cemburu dan marah melihat kedekatan Lana dengan lelaki yang ia tidak kenal.
Tommy mencoba mencerna apa yang sedang terjadi, tetapi dari kedekatan Lana dan lelaki itu, sudah sangat jelas bahwa mereka bukan hanya partner kerja. Tommy menangkap bahwa mereka memiliki hubungan lebih. Terutama ketika Tommy melihat bagaimana cara memandang lelaki itu ke arah Lana.
__ADS_1
Tommy masih saja mencoba mengendalikan perasaan cemburunya. Ia berusaha berpikir bahwa itu adalah salah satu tuntutan pekerjaan untuk bersikap romantis.
Tapi sekarang Tommy sudah tidak bisa mengendalikan amarahnya, ketika lelaki itu menarik tubuh Lana untuk berhadap-hadapan dan wajah lelaki itu mendekat ke wajah Lana. Hal itu terkesan seperti lelaki itu hendak mencium Lana.
Tiba-tiba Tommy menerobos kerumunan dan berjalan menuju ke arah mereka. Tommy melayangkan tinjunya ke arah wajah Marko, lalu menarik tangan Lana dengan erat supaya gadis itu mengikutinya.
Semua orang disana menjadi kaget karena tiba-tiba ada lelaki tidak dikenal, menghajar model lelakinya. Lana juga kaget tapi dia bersyukur karena akhirnya bisa terbebas dari Marko. Lana sungguh merasa terganggu dan sedikit jijik dengan kelakuan Marko sejak tadi.
"Sayang... pelan sedikit, ingat aku sedang hamil." ucap Lana lirih namun masih bisa didengar Tommy.
Mendengar ucapan Lana, Tommy tiba-tiba sadar dan memperlambat langkahnya. Tetapi tangannya masih saja menarik tangan Lana untuk berjalan keluar dan menuju ke arah mobilnya.
Setiba di mobil Tommy, suasana menjadi dingin dan sedikit mencekam karena kemarahan Tommy. Sedangkan Lana sungguh tidak tahu apa yang harus dikatakan, memilih untuk diam.
Lana yang masih menundukkan kepalanya dan menatap ke arah perutnya yang terlihat sedikit menggembul, akhirnya menoleh ke arah tunangannya itu.
"Dia Marko... mantan pacarku yang telah berselingkuh!" jelas Lana.
"Apakah karena dia, kau tidak mau mengenakan cincinmu?" tuntut Tommy dengan nada sedikit tinggi.
Lana hanya menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengenakan cincin itu karena aku takut cincinnya akan hilang dan juga aku menghindari para wartawan atau orang yang mencari berita tentangku. Aku hanya tidak ingin mereka untuk mengganggumu. Aku ingin melindungi privasimu!" jelas Lana dengan cepat.
"Dia memang menggodaku sejak tadi dan memohon untuk kembali padaku. Tapi sungguh, aku sudah tidak ada rasa untuknya, bahkan aku merasa jijik dan bodoh karena dulu aku mau saja berpacaran dengannya." Lanjut Lana dengan cepat. Tangan Lana mencoba untuk meraih tangan Tommy dan menggenggamnya.
__ADS_1
Tommy yang memandang mata gadis itu, mencoba mencari tahu apakah Lana sedang berbohong. Tapi Tommy sungguh tidak mendapati Lana sedang berbohong. Menjadi pengacara bertahun-tahun, membuat Tommy memiliki pengalaman membaca mata ataupun gesture dari klien-kliennya, sehingga ia tahu apakah mereka sedang berbohong atau tidak!
Saat ini, pandangan netra Lana sungguh memancarkan bahwa gadis itu sedang jujur. Hal itu membuat hati Tommy berdesir dan tenang dalam sekejap. Kemudian tangan Tommy merogoh ke dalam saku celananya untuk mengambil cincin tunangan mereka. Setelah mendapatkan cincin itu, dengan segera, Tommy memasangkan cincin itu di jari manis Lana.
"Jangan pernah lagi kau lepaskan ini dan aku tidak menerima alasan apapun! Kalau perlu kita akan mengumumkan hubungan kita!" tegas Tommy.
Lana hanya menatap tangan Tommy yang sedang memasangkan cincin itu dan kemudian dia kembali menatap wajah lelaki di depannya. Lana hanya menjawab Tommy dengan anggukan kepala.
"Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan diri." ucap Tommy.
"Apakah kamu cemburu?" tanya Lana polos.
"Tidak... A...aku ti..dak cemburu! Aku hanya tidak suka milikku disentuh lelaki lain!" ucap Tommy dengan gugup.
Jawaban Tommy membuat Lana tersenyum bahagia. Tangan Lana memegang wajah Tommy dan kemudian mencium bibir lelaki itu sekilas.
"Aku akan sangat senang jika kau memang cemburu..." ucapnya malu-malu.
Mendapat ciuman tak terduga dari Lana dan melihat bagaimana imutnya gadis itu, Tommy langsung menarik tengkuk Lana dan menciumnya dengan dalam dan menuntut. Tommy mengira Lana akan menolak ciumannya, namun Lana malah mengalungkan tangannya di leher Tommy dan membalas ciumannya.
Hal itu sungguh membuat hati Tommy bahagia. Sedangkan di luar mobil, ada seorang lelaki yang melihat Lana dan Tommy sedang berciuman dengan mesra. Lelaki itu marah sekali dan mengepalkan tangannya.
"Jangan kalian pikir kalau kalian bisa bersama!" geramnya dengan licik.
__ADS_1
Hai Hai... Maaf sudah lama tidak update, karena Mak stuck dengan jalan cerita Mak sendiri. Hehehe... Mak akan berusaha menamatkan cerita novel ini dengan baik. Jadi jangan lupa dukungannya yak.. Sajen buat Mak supaya semangat. Juga jangan lupa untuk mengikuti novel baru Mak, Menaklukkan cintamu juga! Terima kasih dan selamat membaca!❤️😊