
Tuhan, tolong bantulah hamba-Mu untuk menjelaskan keadaan kepada kedua orangtuaku! Dave berdoa dalam hati untuk memohon pertolongan Tuhan untuk ikut campur dalam masalah ini.
"Pa, Ma, Dave bisa menjelaskan kenapa ada surat itu disini!" nada suara Dave sungguh memelas dan panik.
"Sudah cukup Dave! Kamu dan Fiona akan bercerai. Papa tidak akan membiarkan kamu menyakiti dan menginjak-injak harga diri Fiona. Kasihan anak itu! Dia sudah ditinggalkan kedua orang tuanya dan sebatang kara!"
"Mama sungguh tidak habis pikir kenapa kamu melakukan ini semua, Dave!" lanjut mama Dave yang juga bernada kecewa.
"Pa, Ma, Dave memang membuat surat itu dan kami berdua juga menandatanginya. Namun kami berdua akhirnya bahwa kami saling mencintai satu sama lain sebelum kejadian penusukan yang dialami Fio! Kalau tidak percaya, Papa dan Mama bisa bertanya kepada Fiona atau bahkan Tommy." jelas Dave.
Namun Papa dan Mama Dave sudah terlanjur kecewa dan marah kepada Dave dan Fiona. Tiba-tiba di benak mama Dave terbersit sebuah ide. Dibisikkan ide tersebut kepada suaminya! Papa Dave yang mendengar ide tersebut langsung senang dan raut wajahnya sedikit berubah.
"Pa, Ma, Dave mohon..." rengek Dave.
"Papa dan Mama tetap pada keputusan kami! Kita akan menunggu Fiona untuk bangun dari tidurnya dan kita akan membicarakannya nanti!" putus papa Dave.
Dave tidak bisa membantah papanya lagi, hanya diam dan duduk di samping Fiona. Sedangkan kedua orang tuanya sudah menjadi lebih tenang dan mulai untuk membuka makanan yang dibelikan oleh Dave. Mereka berbincang-bincang dan makan seolah Dave tidak berada disana.
Dave yang merasa frustasi, pergi ke kamar mandi dan mandi. Lalu setelah selesai, untuk menghabiskan waktu, Dave mencoba untuk berkonsentrasi dalam bekerja. Namun otaknya dipenuhi pikiran dan kekhawatiran bahwa kedua orang tuanya akan menjadi nekat dan tetap memaksa mereka untuk bercerai. Dave tidak ingin bercerai dari Fiona, tidak setelah mereka akhirnya menyadari perasaan mereka masing-masing.
Waktu berlalu sungguh sangat lambat kali ini bagi Dave. Dave sudah berusaha untuk meyakinkan kedua orang tuanya lagi dan lagi. Namun apes karena orang tuanya bersungguh-sungguh dengan keputusannya dan seolah-olah tidak mendengar Dave. Fiona juga tidak kunjung bangun dari tidurnya, sama sekali tidak membantu Dave dalam situasi ini.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, Fiona bangun dari tidurnya. Raut wajah gadis itu kebingungan karena melihat suaminya yang sedang tampak frustasi dan kedua mertuanya yang terlihat marah dan kecewa.
__ADS_1
"Pa, Ma, ada apa ini?" tanya Fiona.
Papa Dave mendatangi Fiona dan menyerahkan amplop surat itu kepada Fiona.
Fiona yang tidak mengetahui bahwa surat perjanjian itu berada di rumah sakit, bingung dan membuka amplop tersebut. Fiona membuka dan gadis itu hanya perlu membaca awal dari surat tersebut, akhirnya sadar kenapa Dave tampak begitu tertekan dan kedua mertuanya tampak marah dan kecewa.
"Fiona bisa menjelaskan hal ini Pa, Ma!" jawab Fiona yang mencoba tersenyum untuk menenangkan mereka.
"Papa dan Mama sudah mengambil keputusan! Kalian berdua harus bercerai. Papa dan Mama tidak akan membiarkan Dave menyakiti hatimu dan menginjak-injak harga dirimu!" kata Papa Dave dengan nada keras dan serius.
"Tapi Pa..." ucap Fiona mencoba untuk memotong mertua lelakinya.
"Atau..." lanjut papa Dave.
"Atau kalian tidak perlu bercerai dan segera memberikan kami berdua seorang cucu!" ucap mama Dave.
Dave dan Fiona sedikit lega ketika mengetahui syarat dari kedua orang tua mereka tidak lagi menyuruh mereka untuk bercerai. Wajah Fiona yang sebelumnya pucat berubah menjadi merah karena sedikit malu. Tentu saja, Fiona ingin hamil dan memberikan keturunan kepada Dave. Itu juga adalah salah satu impian gadis itu.
Dave bernafas lega! Kenapa sih mereka tidak mengatakan hal ini sejak tadi! Mereka membuatku stress dan panik! pikir Dave.
Namun Dave menyadari dengan kondisi Fiona saat ini, akan menjadi sulit untuk gadis itu untuk bisa hamil. Prioritas Dave saat ini adalah membuat istrinya kembali sehat terlebih dahulu.
"Pa, Ma, tentu saja kami akan memberikan papa dan mama seorang cucu. Namun Dave pikir untuk saat ini akan lebih bagus bagi Fiona untuk bisa memulihkan kesehatannya terlebih dahulu." ucap Dave.
__ADS_1
Kedua orang tua Dave hanya mengangguk setuju. Awalnya mereka sangat marah dan kecewa, namun ketika melihat raut wajah Dave yang panik, mereka sudah cukup melihat bahwa memang putra mereka sudah jatuh cinta kepada Fiona. Untuk Fiona, mereka tidak perlu menanyakan perasaan gadis itu kepada Dave karena hanya orang buta yang tidak bisa melihat jelas bagaimana gadis itu menatap putra mereka. Fiona sudah mencintai Dave sejak awal dan pada hari pernikahan mereka.
"Papa dan Mama capek! Kami akan naik taksi ke hotel dan kembali lagi nanti sore!"
"Pa, Ma, Dave akan mengantarkan papa dan mama pulang ke rumah. Dave sudah menyuruh Bi Ayu, asisten rumah tangga kita yang baru untuk membersihkan dan mempersiapkan kamar buat papa dan mama!"
"Tidak perlu!"
"Tidak apa-apa. Lagian baju bersih Dave sudah habis! Dave harus pulang untuk mengambil keperluan Dave dan Fiona!"
"Sayang, tidak apa-apa kan kalau harus sendirian sebentar?" tanya Dave ke Fiona.
"Tentu saja tidak apa-apa sayang. Kalau kamu mau beristirahat di rumah dulu, juga tidak apa-apa! Namun bisakah kamu menolongku?" tanya Fiona.
"Kamu mau apa, sayang?" tanya Dave bingung.
"Aku mau kamu mengambilkanku bakpau coklat yang ada di sana!" jawab Fiona sambil tersenyum jahil dan jarinya menunjuk sebuah bakpau coklat yang terletak di atas meja.
Dave mengambilkan bakpau tersebut dan kemudian mencium bibir Fiona dan berpamitan untuk mengantarkan kedua orang tuanya ke rumah. Fiona memutuskan untuk beristirahat menonton TV dan memakan bakpau coklatnya.
Anak? Siapa sih wanita di dunia ini yang tidak ingin untuk hamil dan mendapatkan anak mereka sendiri? batin Fiona.
Ketika Fiona mendengar kabar mengejutkan dari Tommy bahwa Lana sudah hamil anak mereka, Fiona sungguh merasa sedikit cemburu kepada Lana. Fiona juga ingin hamil! Namun Fiona percaya bahwa suatu hari nanti, dia akan bisa hamil juga!
__ADS_1