
Sehari setelah Fiona kembali dari rumah sakit dan kedua mertuanya kembali ke rumah mereka, Fiona merasa bosan. Saat siang, Fiona sudah kelihatan berusaha untuk memasak di dapurnya. Bi ayu yang dari tadi mencoba untuk mengingatkan Fiona, tidak didengar oleh gadis itu. Dave yang tadi pagi sudah kembali bekerja di kantor, menerima telpon dari Bi Ayu yang merasa frustasi dengan sikap keras kepala istrinya. Dave akhirnya memutuskan dia hanya akan bekerja sampai jam makan siang dan akan kembali ke rumah secepatnya.
Ketika sampai di rumah, benar kata Bi Ayu, Fiona ketahuan sedang berada di dapur dan mencoba untuk membersihkan dapur itu. Dave menggendong Fiona ke kamar, dengan bibir terkatup rapat dan tidak menghiraukan protes gadis itu.
"Aku tidak bisa hanya berbaring di ranjang seperti gundukan. Aku tidak akan bisa cepat sembuh jika aku tidak bergerak, Dave!" protes Fiona berang saat Dave mengembalikan gadis itu kembali ke ranjang.
"Dokter Rio bilang kalau aku seharusnya berlatih untuk bergerak!" tambah Fiona.
"Sedikit-sedikit, bukan dengan cara yang seperti kamu lakukan!" balas Dave ketus.
Diletakkannya kepala gadis itu diatas bantal dan ditatapnya dengan marah. Fiona sudah mandi dan keramas dengan bantuan dari Bi Ayu tadi pagi setelah Dave berangkat ke kantor, membuat Fiona tampak lebih segar dan lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Bau wangi tubuh gadis itu juga tercium oleh Dave.
"Baiklah aku akan diam saja disini seperti gundukan!" ucap Fiona yang merengek kepada Dave.
"Kalau kamu lebih sehat dan aku mendapat ijin dari Dokter Rio, kamu bisa ikut aku mennghadiri sidang di luar kota."
"Benarkah, Dave?" tanya Fiona dengan mata berbinar.
"Iya, delapan hari lagi aku harus pergi ke pulau yang kita kunjungi ketika kita bulan madu karena sidang perdana akan dimulai. Ketika aku bekerja, kamu bisa menungguku di pantai atau di kamar. Aku juga tidak berencana untuk pergi kesana sendirian tanpamu!" ucap Dave yang menatap istrinya dengan lembut.
"Tapi kamu harus menurut dulu dan beristirahat yang banyak. Dalam beberapa hari kan kita akan kontrol ulang ke Dokter Rio. Tapi sayang, maafkan aku. Kayaknya kamu harus pergi ke kontrol bersama dengan Bi Ayu karena kontrolnya di pagi hari dan bertepatan dengan sidang untuk perusahaan EE yang sedang aku tangani. Namun aku sudah minta nomer telpon Dokter Rio, jadi aku bisa mengetahui bagaimana hasilnya."
"Bisakah aku mengajak Angie untuk kontrol? Angie kayaknya tergila-gila dengan Dokter Rio, sayang."
"Boleh. Ajak Angie kalau begitu maumu!"
"Terima kasih sayang. Kamu makan siang dulu sana! Terus kamu bisa kembali ke kantor!"
"Hari ini aku tidak akan kembali ke kantor. Aku akan bekerja dari rumah!" ucap Dave singkat sambil mencium bibir lembut Fiona.
Bibirnya yang keras menekan bibir gadis itu. Dikecupnya ringan dan dipagutnya perlahan yang menimbulkan rasa gairah bagi mereka berdua.
"Bolehkah aku memakanmu siang ini?" bisik Dave di telinga Fiona.
Sudah beberapa minggu terlewati, membuat gairah Dave yang memuncak. Fiona yang masih tersipu malu tidak menyadari kalau Dave sudah melepas kemeja yang ia kenakan. Dave menunduk dan mencium bibir Fiona lagi. Dave membimbing Fiona untuk melepas pakaian yang dikenakan gadis itu dengan perlahan.
Erangan Dave semakin jelas ketika melihat tubuh gadis itu sudah tidak terhalangi oleh sehelai pakaian. Bukti gairah Dave juga sudah terpampang dengan jelas. Tubuh Fiona yang disentuh Dave menjadi sangat panas dan terasa bergelora.
"Kau tidak pernah menginginkanku seperti ini sebelumnya..." ucap Fiona.
Tangan ramping Dave terulur dan menarik Fiona mendekat lembut, melingkupinya dengan lengan berotot itu.
"Kau buta, tuli, bodoh dan lumpuh dari leher ke bawah, ya kan?" tanya Dave dengan humor pahit smbil mendorong tubuh Fiona ke tubuhnya sendiri.
Fiona merasakan ironi dari humor yang diucapkan oleh Dave. Dave sudah sangat bergairah padahal ia baru saja menyentuh tubuh Fiona. Fiona menelan ludah. Pusaran kecil kenikmatan menari-nari di bawah alam sadarnya. Ia teringat kenikmatan yang begitu dalam sampai nyaris terasa sakit, dan suara yang muncul dari tenggorokannya hampir tidak terdengar seperti suara manusia.
"Aku sudah bersikap sopan dan menutupi gairahku sendiri ketika mereka membawamu ke rumah sakit. Namun hari ini, aku tidak bisa menunggu lagi, sayangku!" desis Dave dari balik rahangnya.
"Aku lelah bersikap sopan dan menahan gairah. Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur, aku bahkan tidak bisa bekerja seperti biasanya. Aku selalu mengingat ketika kau mengerang lirih di telingaku yng terdengar seperti suara yang berasal dari dunia lain saat aku memiliki, meyatukan tubuhku ke tubuhmu!" bisik Dave dan kembali menyapukan bibirnya ke bibir Fiona.
"Kau tidak pernah puas menikmatiku. Kau tidak puas dan ingin menjadi lebih dekat denganku, ya kan? Wajahmu saat bersama denganku... Setiap kali mengingatnya, aku selalu menderita karena gairahku begitu besar dan tidak bisa tersalurkan. Dan menurutmu itu akan berlalu?"
Fiona kehilangan pegangan. Tubuhnya bereaksi sesuai perkiraan karena berada begitu dekat dengan Dave. Tubuh telanjangnya bersentuhan secara langsung dengan tubuh Dave yang kencang dan berotot. Dada Fiona sudah menjadi rata dengan dada Dave, tungkainya membawanya lebih dekat ke pusat gairah. Fiona merasakan Dave di sekeliling tubuhnya dan seperti kehilangan akal menginginkan pria itu.
__ADS_1
Ia melihat tangannya meluncur dengan mulus di dada Dave dengan perasaan ngeri, namun tidak bisa menghentikan tangannya yang menyentuh dada bidang dan kokoh tersebut. Dinaikkan pandangannya ke arah wajah Dave dan dilihatnya hasrat yang serupa dengan miliknya sendiri, tak berdaya dan tak terelakkan, tercermin dalam mata hitam berkilau pria itu.
"Kali ini aku tidak akan mematikan lampu dan kamu akan menyukai apa yang akan aku lakukan kepadamu!" kata Dave membungkuk dan mengangkat tubuh mungil milik gadis itu.
Mulut Dave membuka di bibir Fiona yang terkuak. Dalam tubuh Fiona seperti ada ledakan kegembiraan. Yang membuatnya malu, ia tidak melakukan hal apapun yang menunjukkan sikap protes. Gadis itu bergayut kepada Dave, menjawab keganasan mulut lapar pria itu dengan hasrat liar, menggerakan tubuh, mengerang mengibakan.
Saat akhirnya mereka berdua tergeletak di tempat tidur. Fiona sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Tangannya sama tidak sabarnya dengan tangan Dave untuk menyingkirkan celana yang menjadi penghalang mereka yang terakhir. Nafas mereka pendek dan menggema di dalam keheningan kamar mereka sendiri.
Fiona mengerang dalam tekanan kuat bibir Dave. Dave meninggalkan jejak-jejak bibirnya makin lama makin ke bawah, meniadakan penghalang di antara mereka dengan desakan hasrat yang tidak tertahankan lagi, sampai tubuh polos mereka saling melilit di atas seprai.
"Pelan-pelan," bisik Dave parau saat Fiona merintih akibat sapuan bibir Dave di payudaranya. "Pelan-pelan sayang. Tidak usah terburu-buru. Tidak perlu!"
Fiona tersengal, terdengar lantang dalam keheningan mutlak yang hanya dipecahkan oleh dengung AC. Fiona baru hanya akan mengatakan sesuatu namun bibir Dave dalam tungkai Fiona membuat tubuh Fiona dilanda oleh gelombang kenikmatan baru yang belum pernah gadis itu rasakan sebelumnya. Tidak pernah Fiona bayangkan gairahnya sendiri bisa memuncak dan meledak seperti ini ketika Dave menyentuhnya.
"Mungkin... mungkin aku tidak normal!" suara Fiona tercekat, bergayut kepada Dave.
"Kenapa?"
"Aku seperti terbakar. Aku sangat menginginkanmu dan aku bersedia melakukan apapun untuk mendapatkanmu!' gadis itu tertawa tersendat.
"Aku juga. Apa pun untuk menyenangkanmu, sayangku." Dave menyelipkan tubuh di sisi Fiona dan menimang kepala gadis itu di tangannya, dan dengan lembut membelai wajahnya.
"Sudah begitu lama, sayang. Begitu lama!" suara Dave berakhir dengan erangan kasar saat Fiona menyusurkan tangannya ke tubuh Dave. Fiona ingin tahu apakah tubuh suaminya bisa merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan saat Dave menyentuhnya dengan sangat intim. Didorong rasa ingin tahu, Fiona menyodorkan bibirnya di dada bidang Dave dan menciuminya. Dave melengkungkan tubuhnya dan bergidik karena rangsangan itu.
"Apakah kau menyukainya?"
"Sangat. Lakukan lagi!" geram Dave.
Fiona melakukan lagi dan mengikuti petunjuk dari Dave.Tapi saat bibirnya tiba persis di bawah pusar, sekujue tubuh Dave bergidik dan tiba-tiba pria itu menarik tubuh Fiona, menjalin tungkai mereka, sembari mencari-cari bibir gadis itu.
Dave mengangkat kepala dan memandang wajah Fiona sementara tangannya kembali menjelajahi tubuh gadis itu dengan belaian lamban yang membuat Fiona hilang akal dan tenggelam dalam kenikmatan.
"Aku belum pernah menginginkan seseorang sebesar ini!" kata Dave kasar. Ia mulai bergerak dengan sangat lembut dan menjalin keintiman dengan sepenuhnya.
"Jangan! Tidak perlu malu, sayang!" bisiknya ketika Fiona mencoba untuk menjauh. Tatapannya mencari-cari tatapan Fiona.
"Mendekatlah. Rasakan aku dengan pelan dan santai, sayang. Dengan pelan dan santai! Bukankah ini sangat menyenangkan, sayang?"
"Ya!" bisik Fiona. Dicengkeramnya pundak Dave saat gadis itu menatap wajah suaminya itu dan merasakan tubuh Dave perlahan-lahan menyatu dengan tubuhnya sendiri. Ia bersiap-siap untuk merasakan rasa tidak nyaman seperti saat pertama kali mereka melakukannya, namun sekarang ia tidak merasakan rasa penghambat tersebut. Tatapan Fiona menunjukkan rasa senang dan keterkejutan yang luar biasa.
"Kau membuatku bergairah!" kata Dave sambil mengawasi gadis itu yang sedang bergerak dibawahnya.
"Semua yang ada pada dirimu membuatku bergairah. Aku tidak akan pernah mematikan lampu lagi saat aku melakukannya denganmu. Aku ingin melihat matamu dan wajahmu ketika kita bercinta. Seperti saat ini!"
Pernyataan itu tidak terduga. Nafas Fiona terhenti di tenggorokan dan terembus gemetar saat Dave mengggerakkan tubuhnya.
"Ingat bagaimana rasanya saat aku melakukan ini?" tanya Dave, suaranya dalam dan begitu sensual.
"Ya!" jawab Fiona. Tangannya terangkat menangkup wajah Dave, mengikuti garis hidung Dave yang lurus, bibirnya yang tipis dan seksi dan dagunya yang memanjang. Mendadak ia terkesiap dan tubuhnya terlonjak merapat.
"Disitu? Kau suka disitu, kan?" bisik Dave dan kembali bergerak dengan rasa penuh percaya diri melihat air muka Fiona. Tubuhnya mulai bergerak berirama dan bersama setiap gerakan lambat itu, Fiona terkesiap dan menegang.
Kuku Fiona mencengkeram lengan atas Dave dan bergantung disana, tiba-tiba dicekam rasa kenikmatan tajam yang sekaligus menyenangkan.
"Daveeee!" pekiknya tegang, tubuhnya tiba-tiba kaku. Fiona menatap mata Dave dan nyaris panik.
__ADS_1
"Please jangan berhenti!" pinta Fiona dengan suara pecah karena kenikmatan.
Dave mengabulkan permintaan Fiona, menekan lebih keras dan lebih dalam. Giginya terkatup rapat dan matanya memejam.
Fiona sekarang bergerak bersama dengan Dave, seolah dihubungkan dengan tali yang tak kasat mata. Ia melupakan masa lalu, kepedihan dan rasa tidak kepastian dan berhenti mengkhawatirkan tentang masa depan mereka. Fiona hanya tahu satu hal, kenikmatan total hanya sedikit di luar jangkauan. Dipusatkannya semua kekuatan yang ia miliki. Nafasnya sama terengahnya dengan nafas Dave dan tubuhnya bergetar. Tubuhnya menggelenyar oleh sensasi-sensasi yang kuat dan jauh lebih nikmat daripada yang gadis itu pernah rasakan sebelumnya. Matanya nanar menatap mata Dave saat tubuhnya menuntut dipuaskan.
"Aku tidak pernah merasa seperti ini!" bisik Dave serak. Bibir Dave malahap bibir Fiona saat iramanya berubah kacau dan kasar.
"Ayo sayang!" bisik Dave di bibir Fiona yang terbuka.
Kepuasan yang datang tiba-tiba membuat Fiona tidak menyadarinya. Satu ketika ia meraih sesuatu di luar jangkauannya. Saat berikutnya, ia terisak seperti anak kecil dan bergayut pada tubuh Dave, merasa tubuhnya meledak bahagia oleh entakan yang silih berganti.
Fiona nyaris tidak bisa melihat Dave dalam kegilaan yang terjadi sesudahnya. Mata Fiona terbuka besar sama seperti dengan bibirnya yang membuka dan merekah saat merasakan siksaan kenikmatan terakhir yang seperti menggelenyar tiada henti ke sekujur tubuhnya bak gelombang panas dan keji.
Tubuh Dave berubah kaku dan ia menggeram dalam ledakan gairah tanpa akhir.
"Oh Tuhan...! Tidak pernah seperti ini... tidak pernah!" seru Dave tertahan dan gemetar.
Fiona langsung memeluknya, menimangnya dan menenangkan selagi Dave menggigil tak berdaya dan ambruk dalam pelukan gadis itu. Fiona sendiri menikmati sensasi tubuh besar Dave yang sepenuhnya bersinggungan dengan dirinya, lengannya menahan Dave disana dalam kepuasan yang memabukkan. Bibirnya mengecup ringan pundak dan leher Dave. Tangannya menyusuri punggung suaminya yang sudah basah oleh keringat, merasakan otot bergerak, tubuh Dave bergidik saat tiap gerakan kecil tubuh Fiona membangkitkan letupan kenikmatan baru setelah percintaan mereka usai.
Fiona bisa merasakan bibir Dave di telinganya, hangat dan kuat saat suaminya menggesekkan kepala mereka.
Ini selingan paling lembut yang dirasakan Fiona setelah percintaan mereka yang liar dan panas. Ia bergayut pada Dave dan mencoba untuk mengatur nafasnya kembali. Tubuhnya masih menyatu dengan tubuh Dave, kaki mereka masih saling melilit dan tubuh mereka lunglai karena kelelahan.
Dave mengangkat kepala dan menatap mata Fiona. Mencermati istrinya seakan dirinya sudah lama tidak melihat gadis itu. Tangan Dave menyibak rambut lembab Fiona, lalu menyusuri bibir gadis itu yang bengkak sepenuh hati.
"Aku bahagia sayang karena aku sudah menjadi bagian dari tubuhmu. Aku bisa merasakanmu seperti sutra yang hangat dan lembut."
Fiona yang tersipu malu, menyurukkan wajahnya di leher basah Dave. Dave melilit lembut rambut Fiona. Lalu ia berguling ke samping, membawa Fiona bersamanya.
"Apakah aku sudah menyakitimu?" kata Dave. Dada Dave naik dan turun dengan berat.
"Tentu saja tidak, suamiku sayang!" ucap Fiona manja.
Tangan Dave meraba ke sisi tubuh Fiona yang terdapat bekas luka dari tusukan yang terjadi beberapa minggu lalu.
"Apa kau yakin, sayang?"
"Dokter Rio kan sudah mengatakan kalau aku sudah bisa beraktivitas dengan rutin dan normal lagi. Kurasa itu artinya... semua bentuk aktivitas." gurau Fiona.
Dave tertawa dalam pelipis Fiona. "Ini sama sekali tidak normal ataupun rutin!" gumam Dave sambil mencium kelopak mata Fiona.
Tangan Fiona menyelinap ke bawah leher Dave sambil mendesah gemetar. Tanpa sadar, Dave membelai rambut Fiona yang sudah lebih panjang.
"Kapan kau akan memotong rambutmu? Aku tidak suka dengan gadis yang memiliki rambut panjang!"
"Kau tidak suka aku memiliki rambut panjang, sayang?"
"Tidak. Kalau kamu mau potong, sekalian tunggu aku pulang dari kerja ya. Aku akan mengantarmu sekalian kita bisa kencan untuk pertama kali."
"Sungguh?" ucap Fiona dengan semangat dan senang.
"Iya, tentu saja!" Tangan ramping Dave menyentuh bekas tusukan di tubuh Fiona dan membelainya pelan. Ia bergidik merasakan kontak intim yang nikmat dan tubuhnya mulai bergerak dengan sendirinya. Namun Dave tidak ingin membuat Fiona sakit lagi, sehingga ia menahan hasratnya yang sudah berkobar lagi dan membiarkan gadis itu untuk beristirahat dan tidur. Dipeluknya tubuh mungil istrinya dan mereka mulai memejamkan mata untuk beristirahat. Sungguh gairah di antara mereka sudah berkobar dengan besar.
__ADS_1