Ikatan Perjodohan

Ikatan Perjodohan
Tawaran Tommy!


__ADS_3

Ketika Lana terbangun dari tidurnya yang singkat, keadaan apartemen Tommy sudah berbeda, tidak sama seperti ketika ia datang tadi. Lana bangun dari ranjang dan keluar kamar karena merasa lapar. Memang tadi siang ia sudah pergi makan siang dengan Fiona, tapi ia hanya makan sedikit karena berbicara dengan Fiona ternyata lebih menarik daripada yang pernah ia pikirkan. Mereka ngobrol sampai lupa dengan waktu.


Situasi di ruang keluarga sudah rapi! Tidak ada lagi botol alhokol yang berbau menyengat, berserakan di lantai. Tidak ada lagi bungkusan makanan atau kulit kacang yang berserakan. Bau ruangan tersebut juga sudah berbeda, menjadi wangi tetapi tidak menyengat.


Tommy sedang duduk di salah satu meja kerja yang berada di pojokan ruang keluarga, menyadari kalau Lana telah bangun. Ia segera bangkit dan menghampiri Lana.


"Kamu sudah bangun! Bagaimana tidurmu?" tanya Tommy canggung.


"Lumayan tetapi kurang lama. Aku lapar! Apakah ada makanan?"


"Ada. Aku memesan beberapa makanan karena aku tidak tahu apa yang mau kamu makan! Aku juga tidak ingin membangunkanmu dari tidur!" ucap Tommy.


"Apa saja, aku tidak pernah terlalu memilih makanan."


"Ayo, kita duduk dulu di meja makan!" ajak Tommy.


Tommy dan Lana berjalan ke meja makan dan duduk di masing-masing kursi yang berada disana. Tommy sudah menyiapkan dan membuka makanan-makanan yang ia pesan di atas meja, beserta dengan piring untuk makan.


"Mau makan yang mana?" tanya Tommy.


"Aku mau makan nasi uduk sama ayam bakar. Kelihatannya enak sekali! Sayur kangkungnya juga mau! Aku mau semua!" ucap Lana.


"Apakah tadi kamu tidak makan?"


"Aku tadi pagi sampai siang berada di rumah sakit. Terus waktu di rumah sakit, aku ketemu dengan Fiona dan kita pergi makan siang sampai sore!"


"Fiona? Fiona istri Dave?"


"Iya! Yang mana lagi? Dia hamil juga!"


"Betulkah?" ucap Tommy ragu-ragu karena tidak ingin membuat masalah lagi.


"Iya. Ternyata dia sudah hamil tiga minggu. Hampir sama dengan kehamilanku!"


"Lana... aku ingin berkata sesuatu..."


"Katakan saja!" ucap Lana cuek dan mulai memakan makanannya.


"Aku ingin minta maaf atas kejadian beberapa hari yang lalu!"


"Kita tidak usah membicarakannya lagi!"

__ADS_1


"Tapi..." kata Tommy.


"Tommy, kalau aku tidak memaafkanmu atau peduli denganmu, aku tidak akan datang kesini! Fiona juga membantu untuk menjelaskan keadaan kepadaku! Kamu seharusnya berterima kasih kepadanya!" kata Lana dengan tegas.


"Jadi bagaimana dengan rencana pernikahan kita?"


"Aku belum memikirkan hal tersebut! Tetapi ada yang aku sadari... ternyata aku seorang wanita yang egois! Aku tidak ingin mengetahui bahwa lelaki yang akan aku nikahi ternyata memiliki perasaan kepada wanita lain! Aku sudah pernah bilang kan bahwa aku hanya menginginkan komitmen yang penuh ketika aku berkata kalau aku bersedia untuk menikahimu!"


"Dan kau akan mendapatkannya!" potong Tommy.


"Aku bersedia untuk berkomitmen penuh! Bahkan jika kau tidak mengijinkan aku untuk bertemu dengan Fiona lagi, aku siap!"


"Aku tidak sejahat itu! Kamu tentu saja boleh bertemu dengannya! Tapi apa yang terjadi kalau kamu merusak komitmen itu?"


"Aku bersedia untuk membuat perjanjian denganmu! Kalau aku melanggar komitmenku dan berselingkuh dengan siapa saja, maka aku akan memberikan seluruh harta bendaku dan hanya akan memakai pakaian yang aku kenakan di hari itu!"


"Aku tidak tertarik dengan harta." ucap Lana sedih.


Di dalam hati Lana, dia tidak mempedulikan jika Tommy akan memberikan seluruh hartanya kepadanya. Lana hanya menginginkan hati lelaki itu untuknya.


Apakah memang begini rasanya jatuh cinta yang bertepuk sebelah tangan? pikir Lana.


Lana tidak bisa mengucapkan kata-kata yang sudah dipikirkan di kepalanya dari tadi. Dia mencintai Tommy tetapi lelaki itu sudah mengatakan dengan jelas kalau dia tidak memiliki perasaan apapun kepadanya.


Apakah memang dengan pernikahan, aku bisa mengikat lelaki itu dan berharap kalau suatu hari Tommy akan jatuh cinta kepadanya juga? batin Lana.


"Komitmen dan... "


"Komitmen dan apa?" tanya Tommy yang sudah tidak sabar. Tommy bisa melihat raut wajah Lana yang berpikir dengan keras namun enggan untuk memberitahunya. Rasanya Tommy ingin sekali mengguncang tubuh langsing Lana. Tetapi hal itu tidak dilakukannya karena Lana sedang hamil anaknya.


"Hanya komitmen! Apakah kamu membuang cincin pertunangannya?"


Tommy masih ragu kalau hanya itu yang diinginkan gadis itu, namun ia tidak ingin untuk membuat Lana kembali marah. Maka Tommy tidak ingin bertanya lebih dan mengganggu kenyamanan gadis itu.


"Aku hampir saja membuangnya ketika mabuk, tetapi akhirnya aku menyimpannya. Ini tadi aku sudah mengambil dan menyimpannya di saku celanaku!"


Ketika Lana sedang tertidur, Tommy memandangi gadis itu dan hampir saja akan memasangkan cincin pertunangan kembali ke jari manis Lana. Namun hati Tommy terasa sesak dan ragu kalau Lana bangun dan mengetahui bahwa cincin itu sudah kembali terpasang maka gadis itu akan marah dan membuang cincinnya lagi.


"Apakah kau akan memberikan kembali kepadaku atau tidak?"


"Tentu saja! Tentu saja aku akan memberikannya kepadamu!" kata Tommy sambil mengeluarkan cincin berlian itu dari sakunya.

__ADS_1


"Itu berarti kita tetap akan menikah?" lanjut Tommy.


"Iya. Demi anak kita!" ucap Lana datar. Lana berusaha menutupi perasaannya supaya tidak diketahui oleh Tommy.


"Demi anak kita!" kata Tommy menyetujui.


"Bagaimana dengan peraturan sebelumnya tentang tidur bersama setelah menikah?" tanya Tommy lagi.


"Kita bisa tidur di ranjang yang sama tetapi untuk hal yang lebih jauh, kau tidak akan memaksaku kan?"


Di pikiran gadis itu, setiap kali mereka melakukan hubungan intim, perasaan gadis itu semakin terjerumus semakin dalam. Tetapi bagi Tommy, ketika hubungan intim, dia tidak memakai perasaannya sama sekali dan hal itu membuat Lana sedih.


"Tidak. Tentu aku tidak akan memaksamu! Kita akan melakukannya hanya dengan persetujuanmu!" kata Tommy menyetujui.


Tommy sudah mengetahui akibatnya ketika ia memaksakan kehendaknya kepada Lana. Setelah melihat ekspresi wajah Lana yang ketakutan dan merasa jijik, Tommy selalu dihantui dengan hal itu. Beberapa hari Tommy tidak bisa melupakan hal itu dan kemudian lari dari kenyataan dengan meminum alkohol setiap hari. Di saat-saat seperti itu, Tommy merasa sedih dan juga marah. Kenapa ia bisa lepas kontrol dan melakukan hal yang menjijikan tersebut. Tetapi saat ini Lana sudah berada di depannya dan tidak ingin mengungkit hal buruk itu lagi, maka Tommy tidak bisa lagi membendung perasaan bersyukurnya!


"Setelah makan aku akan pulang!"


"Ini sudah malam sekali. Tinggalah disini!"


"Tetapi aku sudah tidak memiliki baju lagi disini."


"Masih ada! Karena kamu hanya mengambil baju-baju bersih sedangkan baju kotormu masih berada di keranjang di kamar mandi. Aku sudah mencucinya!"


"Terima kasih. Kalau begitu aku akan menginap! Aku sudah selesai makan. Kenyang sekali. Terima kasih!"


"Kalau begitu pergilah mandi dan beristirahat. Aku yang akan membersihkan semua dan mencuci piringnya!"


"Benarkah tidak apa-apa? Apakah kamu tidak ingin aku membantumu?" tanya Lana ragu.


"Tidak apa-apa. Kamu kan belum mandi. Pergilah mandi dan beristirahat di kamar. Bajumu sudah berada di lemari, tempat biasa!"


Lana yang memang dilanda letih, tidak mendebat Tommy lagi dan segera pergi ke kamar untuk mandi karena kamar mandinya terletak di dalam kamar. Di tengah jalan ke arah kamar, Lana menoleh kepada lelaki yang dicintainya dan berkata "Tommy..."


"Iya?"


"Lain kali jika kita sedang bermasalah, jangan meminum alkohol lagi ya. Tidak baik untuk kesehatanmu!"


"Kalau kamu mau memasukkan itu di surat perjanjian kita, itu tidak akan menjadi masalah! Aku tidak akan minum lagi!" janji Tommy.


Lana hanya mengangguk dan kembali berjalan ke arah kamar untuk mandi. Lana lega mendengar janji Tommy kalau ia tidak akan merusak dirinya sendiri dengan meminum alkohol. Lana sedikit terkejut melihat keadaan Tommy yang sangat kacau ketika ia datang tadi dan ia tidak ingin melihat Tommy dalam keadaan seperti itu lagi. Tommy yang terlihat kacau, membuat hatinya sedih. Lana benar-benar sudah mencintai Tommy!

__ADS_1


__ADS_2