
Di pagi hari yang cerah, Dave sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Dengan adanya Bi Ayu, pekerjaan di rumah mereka terasa lebih ringan dan Dave lebih tenang untuk pergi bekerja dan meninggalkan Fiona. Setelah selesai sarapan, Fiona pergi ke depan untuk mengantarkan Dave ke mobilnya.
"Dave, hari ini jangan lupa ya!" ucap Fiona mengingatkan.
"Hari ini kenapa?" tanya Dave yang bingung.
"Lho hari ini katanya kamu mau mengantarkanku ke ginekolog yang direkomendasikan oleh Dokter Rio!"
"Oh iya iya! Hampir saja aku lupa! Aku akan kembali sebelum jam empat sore, sayang! Tenang ya. Kamu banyak istirahat ya, jangan terlalu capek!" kata Dave sambil mengecup kening Fiona.
"Iya, tenang. Aku akan banyak istirahat! Lagipula sejak kasus penikaman itu, pihak kampus menyetujui kalau aku mengambil cuti! Aku tidak memiliki kesibukan lagi kan?"
"Aku tahu. Tapi kamu suka bandel! Biarkan Bi Ayu untuk membersihkan rumah dan memasak! Kamu tidak usah!"
"Iya. Sana cepat berangkat dan cepat pulang!" kata Fiona dengan senyum yang mengembang dan senyuman itu membuat Dave enggan untuk meninggalkan istrinya.
Tidak terasa sudah hampir dua bulan sejak mereka menikah. Lika liku untuk menjadi pasangan seperti sekarang sungguh tidak mudah! Dave bersyukur karena Fiona ternyata sudah mencintainya terlebih dulu dan hal itu membuat hubungan mereka lebih mudah. Dave menaiki mobilnya dan berangkat ke kantor. Setelah mobilnya bergerak, dia masih melihat di kaca spion sosok mungil Fiona, istrinya yang sedang hamil. Dave sebenarnya merasa sangat khawatir dengan keadaan Fiona tetapi dia tidak mau untuk memperlihatkannya karena Dave takut kalau Fiona menjadi depresi atau sedih.
Ketika ia bangun tidur, Dave memandangi wajah Fiona yang pulas tertidur sambil berdoa kepada Tuhan untuk melindungi keluarga kecilnya dan jika terjadi apa-apa, Dave meminta kepada Tuhan supaya hal itu terjadi kepada dirinya dan bukan Fiona maupun anaknya.
Fiona masih berdiri dan memandangi suaminya yang berangkat pergi bekerja. Fiona bingung mau melakukan apa di rumah karena semua pekerjaan sudah dikerjakan oleh Bi Ayu. Semenjak Bi Ayu mengetahui kalau Fiona hamil, Bi ayu selalu menolak jika Fiona mau membantu. Semua pekerjaan sudah dikerjakan oleh Bi Ayu dengan cekatan.
Baru saja Fiona mau masuk ke dalam rumah, Fiona melihat mobil Angie melaju ke arah rumahnya. Fiona senang mengetahui kedatangan sahabatnya dan memutuskan untuk menunggu Angie di ayunan.
__ADS_1
Akhirnya mobil Angie sudah diparkirkan dengan rapi di pekarangan rumah Fiona. Angie keluar dari mobilnya dan menyapa sahabatnya.
"Pagi, Fio!" sapa Angie.
"Tumben kamu datang pagi-pagi! Ada apa?"
"Aku lagi galau, Fio!" ucap Angie singkat.
Dahi Fiona berkernyit, memikirkan apa yang membuat sahabatnya ini galau karena Angie jarang sekali galau. Angie itu sahabat tercuek yang pernah ia miliki. Tiba-tiba Fiona memikirkan sebab Angie merasa galau. Apakah itu mungkin karena Dokter Rio? batin Fiona.
"Galau kenapa? Selama aku menjadi sahabatmu, aku jarang sekali melihatmu galau!"
"Iya nih! Aku lagi galau memikirkan Dokter Rio! Aku menyatakan perasaanku kepadanya kemarin!"
"Apa?!" jerit Fiona kaget.
"Terus gimana?" tanya Fiona lebih jauh.
"Aku ditolak! HUHUHUHU...." ucap Angie yang sedih.
"Kenapa? Bukankan Dokter Rio juga single? Kamu juga cantik? Alasan apa yang dikatakan Dokter Rio?" Fiona memberondong pertanyaan kepada Angie karena merasa ingin tahu.
"Jadi alasan Dokter Rio adalah dia tidak percaya dengan cinta karena pernah dikhianati oleh mantan tunangannya. Mantan tunangannya juga sudah meninggal karena kecelakaan. Aku sangat cemburu walaupun mantan tunangannya sudah meninggal. Pasti Dokter Rio sangat mencintai mantan tunangannya karena sampai sekarang ia selalu menutup hatinya." kata Angie sambil duduk di ayunan di samping Fiona.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu menyerah saja. Aku takut kalau kamu hanya akan tersakiti perasaannya! Masih banyak kan lelaki yang mengejarmu?" kata Fiona yang khwatir kepada Angie dan berusaha untuk menenangkannya.
"Masalahnya... Aku tidak bisa! Aku baru ini merasakan jatuh cinta sejatuh-jatuhnya! Setiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Tiap makan aku tidak bisa makan lebih dari tiga porsi seperti biasanya. Hahaha!" canda Angie.
"Terus apa rencanamu?"
"Ya aku tetap akan mengejarnya!"
"Apakah kamu mengatakan hal itu kepada Dokter Rio? Bahwa kamu tidak akan berhenti untuk megejarnya?"
"Iya dong, Fio! Masak aku bilang kalau aku menyerah!"
"Terus tanggapan Dokter Rio bagaimana?"
"Dia hanya diam saja. Tenang saja, aku pasti akan membuat Dokter Rio jatuh cinta kepadaku. Walaupun aku harus menunggu seribu tahun lamanya!"
"Gila kamu!"
"Aku lapar! Ada makanan gak di dalam? Kalau tidak ada, yuk keluar!"
"Di dalam ada banyak makanan. Tadi aku sudah sarapan sama Dave. Bi Ayu masak soto ayam sama perkedel tuh!"
"Mau! Yuk masuk ke dalam."
__ADS_1
Angie yang kelaparan, masuk ke dalam rumah terlebih dahulu sementara Fiona mengikuti gadis itu. Fiona sangat khawatir dengan perasaan Angie karena selama Fiona berteman dengannya, Angie tidak pernah jatuh cinta terlebih dahulu apalagi sampai mengejar seperti ini. Memang sih, Dokter Rio yang tenang dan kalem memang lumayan tampan. Walaupun Fiona mengkhawatirkan keadaan Angie, tapi ia percaya kalau Dokter Rio bukan orang yang akan mempermainkan perasaan sahabatnya itu.
Setelah masuk ke dalam rumah, Fiona yang mengikuti Angie ke dalam rumah, duduk di meja makan sedangkan Angie sedang berada di dapur bersama Bi Ayu. Angie memang orang yang supel dan mudah bergaul. Baru sebentar saja, dia sudah bercakap-cakap bersama Bi Ayu sambil menunggu Bi Ayu memanasi soto ayamnya. Fiona melihat dan menunggu Angie sambil makan perkedel yang dibuat Bi Ayu. Sahabatnya itu sudah kaya, cantik lagi. Fiona sungguh berharap bahwa Dokter Rio bisa dengan cepat luluh kepada Angie.