
Selama Fiona masih berada di ruang perawatan intensif, Dave tidak pernah meninggalkan rumah sakit sama sekali. Ia hanya pergi untuk membeli makanan dan minuman, ke kamar mandi atau ke kapel untuk berdoa. Siang hari, Angie datang untuk menjenguk namun tidak diperbolehkan masuk. Angie membawakan makanan dan juga baju baru untuk Dave, karena Angie yakin bahwa Dave tidak akan mau kembali ke rumah walaupun hanya sejenak.
Baru kali ini Angie melihat Dave dalam keadaan terguncang dan bersedih.Janggut dan kumis mulai tumbuh, rambutnya acak-acakan. Baju Dave belum ganti semenjak kedatangannya ke rumah sakit. Awal mula, Angie marah dan sebal terhadap Dave karena ia berpikir lelaki itu sedang mempermainkan sahabatnya. Namun saat ini, ketika ia melihat keadaan Dave yang sama sekali tidak baik, ia percaya bahwa lelaki itu juga sangat mencintai Fiona. Maka karena hal itu, Angie sangat berharap agar Fiona bisa cepat sembuh sehingga bisa hidup bahagia bersama suaminya.
"Hai, maaf aku baru bisa datang sekarang karena tadi harus membuat memberi kesaksian di rumah sakit terlebih dahulu. Aku juga sempat bertemu dengan rekan kerjamu! Cara kerjanya menakjubkan!" ucap Angie berusaha untuk menghibur Dave.
"Ah, tidak apa-apa. Toh kita belum bisa masuk sekarang karena jadwal kunjungannya baru nanti sore. Terima kasih sudah banyak membantu!" balas Dave yang tidak bersemangat.
"Kamu sudah makan?"
"Pagi tadi sudah, siang belum!"
"Pas banget. Ini aku bawakan makanan dan minuman di botol. Juga ada peralatan mandi dan baju ganti. Masih baru kok!"
"Gak usah repot-repot. Aku tidak memperlukannya." tolak Dave.
"Aku membawakan ini bukan untuk kamu kok! Tapi demi Fiona... Coba kamu pikir jika Fiona sudah sadar dan melihatmu berantakan dan bau seperti ini. Apa yang akan dipikirkan Fiona? Dia pasti akan malah bertambah khawatir!" jelas Angie.
Karena banyak sekali pikiran yang berkelebat di kepala Dave, Dave tidak sempat memikirkan tentang dirinya sendiri. Dia akan memakan apapun yang bisa dia temukan dengan cepat. Lelaki itu banyak minum kopi dan lingkaran matanya menghitam karena tidak bisa tidur sama sekali.
"Aku akan berada disini. Lebih baik kamu segera mencari kamar mandi dan segera memakan makanannya selagi panas. Jika ada informasi dari dokter atau perawat, aku akan mengabarimu! Berikan aku nomer ponselmu!"
Dave memberikan nomer ponselnya kepada Angie dan beranjak pergi untuk mandi. Angie mencoba untuk menyibukkan diri dan berjalan di sekeliling ruang perawatan intensif. Ada sebuah taman kecil dan bangku panjang disana. Suasana ruang perawatan intensif sungguh membuat orang depresi, jadi siapapun yang membuat taman kecil ini sungguh sangat pintar dan membantu.
__ADS_1
Angie memutuskan untuk duduk di bangku panjang yang langsung menghadap ke ruang perawatan intensif, sehingga jika ada panggilan dari perawat atau dokter, ia akan langsung tahu.
"Eh kamu yang kemarin kan?" tanya seseorang yang tiba-tiba menyapa Angie.
Angie menoleh dan dilihatnya ada dokter tampan yang kemarin. Dokter itu tinggi dan berkulit putih. Walaupun masih muda, namun ada rasa wibawa yang besar. Angie terlihat sangat pendek di sampingnya walaupun Angie tidak terlalu pendek dengan tinggi 160 cm. Namun dokter ini pasti sekitar 185 cm, karena tinggi sekali! pikir Angie.
"Halo, Dok! Iya saya yang kemarin. Apakah dokter mau ke arah sana?" tanya Angie yang menunjuk ke ruang perawatan intensif.
"Oh tidak, saya sedang istirahat sebentar sebelum waktu operasi dimulai."
"Whoaaa.. keren, Dok! Anda kan masih muda namun sudah bisa jadi dokter bedah!"
Mata Angie berbinar-binar ketika menatap Dokter Rio. Dokter Rio kaget karena baru kali ini profesinya bisa membuat orang ternganga kagum. Kebanyakan orang, akan berpikir profesinya mengerikan karena dia akan selalu berhubungan dengan darah. Tetapi Dokter Rio sangat mencintai pekerjaannya karena dengan melakukan pekerjaan yang baik, ia sanggup untuk menyelamatkan nyawa orang yang berharga.
"Sebenarnya dia sahabat tapi kami dekat seperti saudara perempuan! Iya, aku sedang menjenguk tapi tidak boleh masuk karena belum jadwalnya. Aku menggantikan suaminya untuk menunggu disini jika ada kabar baru dari dokter atau perawat di dalam." ucap Angie panjang lebar menjelaskan.
"Memangnya suaminya kemana?"
"Suaminya sama sekali tidak meninggalkan tempat ini sejak kemarin, jadi aku membawakan baju dan menyuruhnya untuk mandi! Dok, bolehkah saya bertanya? Bagaimana perkembangan sahabat saya? Apakah ia akan menjadi baik-baik saja?"
"Hmmm, melihat kondisinya pasca operasi kemarin, kondisinya normal dan terbilang cukup baik. Akan tetapi saya sendiri tidak memastikan kapan Nyonya Fiona bisa sadar. Sampai waktunya ia sadar, situasi itu kita sebut kritis. Maka dari itu saya tempatkan Nyonya Fiona di ruang perawatan intensif supaya bisa dirawat secara intensif!"
"Saya mohon, Dok! Selamatkan sahabat saya!" pinta Angie.
__ADS_1
"Saya akan berusaha sebaiknya. Jangan panggil saya Dok dong. Seolah-olah saya sudah tua. Nama saya Rio Hartadi." ucap Dokter Rio sambil menyodorkan tangannya.
"Saya Angela Pramono. Panggil saya Angie!" ucap angie bersemangat.
"Senang berkenalan denganmu!"
"Saya juga, Dok! Eh , Rio!"
"Saya akan segera kembali ke ruangan saya untuk memeriksa laporan terakhir pasien sebelum pergi ke ruang bedah. Sungguh senang berkenalan denganmu."
"Eh Rio, karena kita sudah saling berkenalan, boleh aku meminta nomer ponselmu?" tanya Angie yang agresif. Kapan lagi ia akan mempunyai kenalan sekeren ini, pikir Angie.
"Boleh." jawab Dokter Rio dan memberikan nomernya.
"Selamat bertugas. Semoga berhasil. Kapan-kapan kalau ada waktu, ayo kita keluar makan?" ajak Angie.
"Okay. Hubungi saja aku." balas Dokter sambil tersenyum.
Ahhhh, senyumannya melelehkan hatiku. Pada saat itu Angie belum tahu latar belakang dari Dokter Rio, sehingga dia hanya bahagia bisa memiliki kenalan orang sekeren itu. Tak lama setelah itu, Dave datang dalam keadaan bersih dan lebih enak dipandang. Suami Fiona ini sebenarnya tampan, tapi Angie baru tahu kalau lelaki bisa merasakan kesedihan dalam seperti yang dirasakan Dave, sehingga bisa membuat penampilannya menjadi acak-acakan!
Dave duduk di samping Angie dan memulai memakan makanan yang dibawakan Angie dengan lahap. Belum selesai Dave menghabiskan makanannya, seorang perawat memanggil Dave untuk masuk. Ternyata perawat tersebut meminta tanda tangan Dave atas obat yang dianggap keras. Dave menandatanganinya dan kembali duduk. Dia sudah dijelaskan betapa keras obat tersebut, hingga membuat nafsu makannya hilang seketika.
Wajah Dave sungguh tampak tersiksa karena mengetahui betapa banyak obat-obatan yang diperlukan Fiona dan juga selang-selang yang menyambung ke monitor untuk menopang hidup istrinya. Walaupun para dokter dan perawat yang menangani Fiona tidak ingin membuat Dave lebih merasa khawatir dengan menyebut bahwa keadaan Fiona stabil, namun Dave tahu bahwa istrinya sedang koma.
__ADS_1
Kenapa aku tidak bisa menyadari keadaan Fiona yang terkena Bronkitis? Kenapa aku tidak bisa melindungi istriku? batin Dave muram. Dave menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Fiona.