
Kedua orang tua Dave sudah mendengar penjelasan dari dokter jaga yang sedang bertugas saat ini dengan seksama. Mulai dari kondisi terkini hingga macam-macam obat yang telah atau masih diberikan kepada menantu mereka. Untuk saat ini mereka bisa bernafas lega karena kondisi Fiona sudah membaik, namun cairan di paru-parunya masih perlu untuk disedot beberapa kali lagi. Proses penyedotan cairan itulah yang menyebabkan kondisi gadis itu berjalan dengan lambat.
Puas dengan penjelasan dokter jaga yang masih muda itu, mereka bergegas untuk segera ke kamar gadis itu. Setelah menemukan kamar dengan nomor yang sudah diberitahu Dave, mereka langsung masuk.
Gadis itu sedang sarapan pagi di ranjang. Walaupun raut wajahnya masih terlihat lemah, Fiona tersenyum kepada mertuanya.
"Pa, Ma, kapan datang?" tanya Fiona yang tidak mengetahui bahwa kedua mertuanya akan datang.
"Baru saja, Nak! Bagaimana keadaanmu? Maafkan papa dan mama yang terlambat datang ke sini! Ini semua karena anak yang tidak tahu diri yang tidak mengabari kami!" ucap Om Johan sambil melirik ke arah Dave.
"Hahaha, Fio baik, pa! Jangan salahkan Dave! Dave sendiri sibuk untuk merawat Fio sehingga Dave sendiri kurang beristirahat!"
"Sudah...sudah! Jangan ribut lagi. Kamu harus makan yang banyak dan minum obat yang teratur, sehingga kamu bisa menjadi sehat lebih cepat!" bujuk Tante Julia menenangkan mereka semua.
Fiona patuh kepada mertua perempuannya dan melanjutkan untuk makan. Melihat Fiona yang makan dengan lahap, papa dan mama Dave menjadi sedikit lega. Tiba-tiba perut papa Dave berbunyi karena mereka sendiri tidak sempat untuk sarapan karena terburu-buru untuk ke bandara.
"Sayang, kamu belikan papa dan mama makanan! Aku akan menemani papa dan mama disini!" ucap Fiona.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan pergi ke kafetaria di bawah untuk mencari makanan. Kamu mau sesuatu sayang?"
"Aku mau makan bakpau coklat satu!"
"Okay, aku akan membelinya untukmu!" jawab Dave yang mengecup kening Fiona sebelum pergi ke kafetaria di bawah.
Ketika Dave hendak pergi ke kafetaria yang berada di bawah, Dave berpapasan dengan perawat yang akan memberikan obat untuk Fiona di pagi hari. Tanpa perasaan apapun, Dave bergegas ke kafetaria karena ia takut akan ada banyak orang yang akan membeli sarapan.
Semenatara itu, di kamar Fiona, perawat tersebut sudah datang dan sedang mempersiapkan untuk memberikan obatnya dan menarik korden untuk menutupi proses penyuntikan obat ke dalam infus. Perawat tersebut membuka lemari dimana diletakkan obat-obat dan lupa menutupnya. Papa Dave yang sedang bosan untuk menunggu, berjalan ke arah lemari tersebut untuk melihat macam-macam obatnya. Tiba-tiba mata papa Dave tertarik dengan amplop surat yang terletak disana.
Mama Dave yang sedang membaca surat itu juga sama terkejutnya seperti suaminya. Didekap mulutnya sendiri karena rasa tidak percaya dan kecewa. Surat tersebut ditaruh di atas meja dan Mama Dave berusaha untuk menenangkan suaminya dengan menyentuh lengan suaminya tersebut.
Beberapa saat kemudian, perawat tersebut sudah selesai memberikan obat dan membuka korden pembatas. Perawat tersebut menjelaskan kepada mereka bahwa dalam beberapa menit, menantu mereka akan merasa mengantuk. Itu semua karena pengaruh obat bius yang sudah diberikan.
Mereka menganggukkan kepala dan berterima kasih kepada perawat atas kerja kerasnya. Fiona merasakan atmosfer ruangan tersebut menjadi berbeda namun rasa kantuknya mengalahkan rasa ingin tahunya. Badannya perlahan lemas dan matanya tidak kuat untuk membuka.
Kedua orang tua Dave keluar dari kamar untuk berdiskusi apa yang akan mereka lakukan kepada Dave dan Fiona!
__ADS_1
"Aku berpikir bahwa mereka akan belajar mencintai walaupun pernikahan mereka berdasarkan atas perjodohan. Namun mereka berdua telah melakukan sesuatu yang sudah ada di luar batas! Bagaimana mereka bisa membuat dan bahkan menandatangangi surat tersebut! Ini pasti ulah Si Dave!" ucap papa Dave.
"Kita tidak boleh emosi dulu, sayang. Lebih baik kita bertanya kepada mereka nanti!" ucap istrinya menenangkan.
"Mereka tidak perlu menikah kalau mereka akan berakhir seperti ini! Aku akan menyuruh mereka bercerai. Juga si Dave, tidak seharusnya dia menginjak-injak harga diri dan martabat dari Fiona. Aku tetap merasa bahwa surat perjanjian itu adalah akal dari si Dave!" ucap papa Dave dengan geram.
Istrinya tahu bahwa untuk saat ini akan percuma untuk memberitahu suaminya. Maka dari itu, dia hanya berusaha menenangkan hati suaminya. Mereka memutuskan untuk kembali ke kamar dan menunggu Dave dengan duduk di sofa panjang yang berada di sana.
Beberapa waktu sudah berlalu, Dave berjalan kembali ke kamar dengan banyak kantung makanan di tangan kanan dan kirinya! Dave membuka pintu dan melihat raut wajah kedua orang tuanya yang sudah berbeda. Dave melihat situasi kamar dan akhirnya matanya menangkap sebuah amplop yang terletak di atas meja.
Dave menjadi panik. Makanan-makanan yang sudah dibeli diletakkan di meja dan Dave duduk di kursi dihadapan sofa. Sedangkan Fiona sudah tertidur pulas karena obat bius yang sudah bekerja. Dave mencoba untuk berpikir dan memilih kata-kata yang akan digunakan untuk menjelaskan kepada orang tuanya.
Sial! Bagaimana mereka bisa menemukan surat tersebut? Juga kenapa mereka menemukannya ketika Fiona sedang jatuh tertidur! Aku dalam masalah! Bagaimana aku menjelaskan kepada mereka? batin Dave yang sedang dilanda panik.
"Papa pikir lebih baik kamu bercerai saja dengan Fiona!' ucap papa Dave.
Kata-kata papa bagaikan petir yang sedang menyambar Dave. Dave panik dan panik! Bagaimana ini? Dia tidak mau bercerai dengan Fiona.
__ADS_1