
Malam itu sangat panjang dan melelahkan, Dave yang berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya, berusaha untuk berbaring dan memejamkan matanya. Namun gagal, pikiran yang kacau dan perasaan bersalah menggema di kepalanya. Belum ada satupun dokter atau perawat memanggilnya untuk memberitahu kondisi terkini dari istrinya, Fiona. Rasa khawatir itu telah mencabik-cabik hati Dave dari dalam. Akhirnya karena kelelahan, Dave tertidur di kantung tidur yang diberikan oleh Tommy.
Panjangnya malam digantikan oleh pagi hari, seorang perawat memanggil nama Dave. Dave terbangun seketika ketika mendengar namanya dipanggil.
"Bapak Dave Emanuel!"
"Iy..Iya." jawab Dave yang langsung beranjak dari kantung tidurnya.
"Bapak bisa masuk untuk menjenguk Nyonya Fiona. Waktu Bapak hanya sepuluh menit!"
Dave langsung tidak menyia-nyiakan waktu. Dia masuk ke ruang perawatan intensif, memakai pakaian steril dan mencuci tangannya. Dave langsung menuju ke kamar dimana Fiona sedang terbaring lemah.
Melihat Fiona dalam keadaan seperti ini sungguh menyiksa hatinya.
"Sayangku, kau harus bangun dan mejadi sehat kembali! Aku belum mengajakmu untuk berkencan!" ucap Dave sedih.
Diciumnya wajah Fiona yang mungil, bibirnya berwarna biru tetapi badan Fiona masih terasa hangat. Pandangan Dave menjadi kabur karena air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Wajahnya muram, hatinya penuh beban. Dilihatnya ada cairan baru yang mengalir, tetapi ekspresi gadis itu sama pucatnya seperti sebelumnya.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang pundak Dave. Dave langsung membalikkan badannya dan melihat wanita yang berada di sebelahnya adalah Lana!
"Hi, bagaimana keadaannya?" tanya Lana.
"Masih belum sadar tapi kata dokter semalam, keadaannya masih kondusif."
"Semoga dia cepat pulih kembali." kata Lana tulus.
Lana mendengar kabar ini dari Tommy yang menghubunginya semalam. Suara Tommy terdengar sangat serak dan parau ketika menghubunginya. Itu menunjukkan bahwa Tommy ada perasaan terhadap gadis mungil yang terbaring lemah di ranjang.
__ADS_1
Dave membungkuk dan menyibakkan rambut dari wajah Fiona. Dave meringis sedih melihat gadis itu.
"Aku sangat menyesal, sayang. Sungguh sangat menyesal! Andai saja aku bisa menggantikanmu disini. Biarkan aku saja yang sakit!" ucap Dave.
Lana yang mendengar ucapan Dave kepada Fiona, menjadi sangat tersentuh. Andai saja ada lelaki yang mencintaiku seperti ini, batin Lana.
Seorang dokter mendekati mereka, dan meminta Dave untuk menemuinya untuk menjelaskan kondisi terbaru Fiona pagi ini. Lana yang merasa tidak perlu untuk mengikuti, tinggal di sisi Fiona. Digenggamnya tangan Fiona dengan tulus.
"Kita memang belum berkenalan secara langsung. Tapi aku sungguh-sungguh berharap kamu bisa sembuh!" ucapnya tulus.
Tanpa sepengetahuan Lana, Tommy sebenarnya baru saja sampai disana ketika Tommy melihat Dave pergi ke ruang dokter dan melihat Lana disana. Tommy mendengar perkataan Lana kepada Fiona.
Ternyata gadis itu tidak seburuk seperti yang aku pikirkan, pikir Tommy.
"Hi..." kata Tommy.
Tommy terlihat ganteng dengan kemeja putih, dan jas hitam. Rambutnya disisir rapi dan sudah ditata menggunakan wax. Tommy terlihat menonjol karena tinggi badannya. Kehadirannya mengintimidasi Lana.
"Hi. Kamu tidak bekerja?"
"Aku dalam perjalanan ke kantor tetapi memutuskan untuk mampir karena tidak ada kabar sama sekali dari Dave!"
Hati Lana terasa sakit karena mengetahui bahwa Tommy sangat peduli kepada gadis yang sedang lemah ini. Lana ingin mencari tahu seberapa dekat Tommy dengan gadis ini. Lana sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa perasaannya seperti ini. Setelah kejadian malam di hotel, dia selalu memikirkan tentang lelaki yang sedang berdiri di hadapannya. Namun dia tidak akan mengakuinya di depan lelaki ini.
"Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku juga harus bekerja!" kata Lana dengan cepat.
"Aku akan mengantarmu!"
__ADS_1
"Tidak perlu karena supirku sudah menunggu. Lebih baik kamu disini, menunggu Dave datang. Karena tidak baik untuk gadis ini menjadi seorang diri!"
Tommy hendak mendebat kata-kata Lana namun ketika memikirkan keadaan Fiona yang menjadi seorang diri, Tommy mengurungkan niatnya. Saat ini, gadis ini lebih penting dari apapun karena Tommy tidak pernah merasakan keceriaan hingga ia bertemu dengan Fiona. Lana tanpa menunggu lagi, langsung melangkah keluar dari ruang perawatan intensif. Ketika mengetahui bahwa Tommy benar-benar memutuskan untuk menunggu gadis itu, hatinya terasa perih. Ternyata benar bahwa gadis itu sungguh sangat berarti bagi Tommy.
Lana langsung mencopot baju sterilnya dan memaki sepatunya lagi dan beranjak keluar dan menuju ke mobilnya. Sedangkan Tommy hanya bisa menatap punggung Lana yang beranjak dari kamar. Tommy ingin mengejarnya tapi diurungkan niatnya.
Dia akan menemui Lana jika keadaan sudah menjadi lebih baik. Ditatapnya wajah Lana dan dipegang tangannya. Tommy sungguh berharap ia bisa menjadi sumber kekuatan bagi gadis yang terbaring lemah dan tidak sadarkan diri ini. Dave yang sudah kembali dari ruang dokter, melihat Tommy disana namun Lana tidak ada.
"Apakah kamu bertemu Lana? Dimana dia?"
"Iya aku tadi bertemu sebentar namun gadis itu langsung pergi karena ada pekerjaan!"
"Kenapa kamu disini? Apakah kamu tidak akan bekerja?"
"Aku hanya mampir dalam perjalanan ke kantor. Bagaimana? Apa kata dokter?"
"Keadaan Fiona masih sama karena bronkitisnya. Saat ini kita hanya bisa berharap bahwa dia akan terbangun dari tidurnya. Dokter sudah melakukan semampunya!"
Tommy melihat lingkar hitam di wajah Dave dan rambut yang sudah mulai tumbuh di wajahnya. Dave kelihatan sangat sedih dan berantakan. Tommy hendak menyarankan Dave untuk kembali ke rumah, namun hal itu pasti akan langsung ditolak oleh sahabatnya ini. Saat ini mereka tidak bisa berbuat banyak kecuali berdoa kepada Tuhan dan memohon untuk adanya keajaiban!
Dave menggenggam tangan Fiona dan menciumi pipi gadis itu. Air mata menetes dari wajah Dave. Dave sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Jika polisi tidak bisa menemukan pelakunya, aku akan mencari pelakunya dan membunuhnya jika Fiona tidak selamat!" sumpah Dave.
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin, Dave. Percayakanlah kepadaku! Tidak hanya kamu yang marah, namun aku juga! Karena seharusnya kita yang kena bukan Fiona!" kata Tommy marah.
Waktu berlalu dengan cepat, perawat datang untuk meminta pengunjung keluar dari ruangan karena waktu sudah habis dan mereka perlu untuk melakukan pekerjaan mereka. Tommy dan Dave keluar dari ruangan. Tommy tidak ingin menghabiskan waktu lagi di rumah sakit, sehingga ia langsung berpamitan untuk berangkat ke kantor dan memulai pekerjaannya. Dave yang merasa tak berdaya hanya mengangguk dan terduduk di kantung tidurnya. Setelah Tommy pergi, Dave melipat kantung tidurnya dan beranjak ke arah kapel kecil lagi untuk berdoa. Dave berdoa dan memohon tak henti-hentinya untuk meminta kesembuhan dan keajaiban bagi Fiona, istri mungil yang sangat dicintainya.
__ADS_1