
Dave dan Tommy tiba di rumah sakit, Dave langsung loncat dari mobil karena tidak sabar untuk mengetahui kondisi Fiona. Dave melihat sekeliling namun tidak menemukan keberadaan Angie, sahabat istrinya. Dengan rasa khawatir dan frustasi yang memuncak, Dave berlari menuju ke meja perawat.
"Sore, saya sedang mencari istri saya. Fiona Wijaya!" kata Dave tergesa-gesa.
"Tunggu sebentar, Bapak!" jawab perawat itu. Dia langsung mengecek data di komputer yang berada di depannya.
"Nyonya Fiona Wijaya, korban penusukan ya pak? Dia dibawa ke ruang operasi karena lukanya cukup dalam!" jelas perawat.
Jantung Dave berdetak lebih kencang, kepalanya terasa berat mendapatkan jawaban itu.
"Dimana ruang operasinya?"
"Dari pintu ruang IGD ini, bapak menuju lurus lalu sebelah kanan ada pintu. Setelah pintu itu, bapak belok aja ke arah kiri dan berjalan lurus sekitar seratus meter. Nah ruang operasi ada di pojok!"
Dave tidak bisa menunggu lagi, ia langsung berlari ke arah yang telah dijelaskan oleh perawat tersebut. Setelah menemukan ruang operasi, Dave melihat Angie yang sedang terduduk lesu dan berdoa. Dave menghampiri Angie!
"Bagaimana keadaan Fiona?"
"Aku juga belum tahu perkembangannya. Fiona sudah berada di dalam ruangan sekitar tiga puluh menit dan tidak ada seorang dokter atau perawat yang memberitahuku perkembangannya!
Begitu Angie menyelesaikan perkataannya, Tommy sudah sampai disana.
"Apakah kamu melihat wajah dari orang yang menusuk Fiona?"
"Aku tidak melihat secara jelas karena dia memakai topi berwarna hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Aku sedang melambaikan tanganku kepada Fiona dan aku melihat ada seorang lelaki yang mencurigakan. Ketika aku menyadari bahwa lelaki itu mengeluarkan belati yang cukup panjang, aku menjerit dan menyuruh Fiona untuk berlari atau menjauh, tetapi semua sudah terlambat! Aku menjerit meminta tolong dan berlari ke arah Fiona. Darah.. Darah Fiona mengucur deras sekali, aku berusaha menekan lukanya, namun..." Angie mulai menangis lagi ketika menceritakan kejadian yang sedang terjadi! Tangannya bergetar hebat, menunjukkan rasa kesedihan dan trauma yang dalam.
"Dave, kau ingat detektif yang aku pekerjakan?" tanya Tommy.
__ADS_1
"Iya. Dimana Si Brengsek itu? Kalau dia bekerja dengan benar, maka Fiona tidak akan menjadi seperti ini!" ucap Dave marah.
"Aku sudah mengetahui siapa yang menusuk Fiona dan menghubungi polisi! Simon adalah pelakunya! Dia cukup pintar untuk mengecek situasi. Pada saat itu, situasi kampus sedang lengang karena semua mahasiswa-mahasiswi yang sedang berada di kampus sedang melaksanakan ujian tengah semester. Detektif yang aku sewa, berpikir kalau Fiona juga masih berada di kelas untuk menjalankan tes dan dia pergi sebentar ke kamar kecil karena sakit perut. Dia juga merasa bersalah dan malu untuk menemuimu. Namun dia akan datang sebentar lagi!" jelas Tommy.
"Simon? Simon adalah pelakunya? Aku akan membunuhnya!" amarah Dave memuncak, menggantikan rasa kesedihan di hatinya.
Beberapa jam sudah berlalu, namun para dokter dan perawat belum juga keluar. Dave mulai menjadi lebih khawatir. Dave berpikir ini semua terjadi karena dirinya! Target Simon sebenarnya adalah dirinya dan bukan Dave.
Jika sesuatu terjadi pada Fiona, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri! batin Dave.
Setelah berjam-jam melakukan operasi, salah seorang dokte keluar. Dokter tersebut masih muda namun sudah bisa menjadi seorang dokter bedah yang terkenal.
"Siapa yang bertanggung jawab atas Nyonya Fiona Wijaya disini?"
"Saya!" Dave maju untuk mendengarkan penjelasan dokter tersebut.
"Apakah dia akan selamat? Jangan biarkan istriku mati!" ucap Dave.
"Saya telah melakukan yang terbaik. Saya rasa ia akan selamat namun ia tidak akan pulih dalam beberapa minggu. Paru-parunya sudah mengembang lagi. Dia juga kehilangan banyak darah dan kondisi kesehatannya juga tidak begitu baik. Dia menderita bronkitis. Itu akan mempersulit pemulihannya!" jelas Dokter Rio.
"Bronkitis?" ulang Dave.
"Aku merasa suaranya akhir-akhir ini memenag serak dan aku sudah menyarankan Fiona untuk pergi ke dokter dan memberitahumu. Tapi katanya, itu hanya flu biasa. Sehingga dia menolak anjuranku!" kata Angie.
Begitu kata-kata itu meluncur, Angie langsung menyesalinya. Mata Dave terpejam dan pria itu nampak tersiksa.
"Apa yang harus kita lakukan setelah ini?" tanya Dave.
__ADS_1
"Berdoa," jawab Dokter Rio singkat. " Aku tidak mau menjanjikan sesuatu yang tidak bisa aku penuhi. Sekarang kita tinggal menunggu apa yang akan terjadi. Maafkan aku. Aku sudah berusaha sebisanya."
"Saya tahu. Terima kasih! Bisakah saya menemui istri saya sekarang?"
"Dia sedang ada di ruang pemulihan. Akan lebih baik menunggu sampai kami memindahkannya ke kamar di bagian perawatan intensi."
"Aku akan menemaninya," sela Angie, persis sebelum Tommy dan Dave mengatakan hal yang sama.
"Tidak bisa. Tidak di ruang perawatan intensif. Kalian bisa menjenguknya dua kali sehari, masing-masing kunjungan tidak lebih dari sepuluh menit. Kondisinya terlalu serius. Dia harus tetap tenang dan tidak boleh terganggu!" ucap Dokter Rio tegas.
DaveĀ tampak setengah mati untuk menahan diri agar tidak membantah Dokter Rio. Namun akhirnya dia hanya mengangguk kalah. Tommy meletakkan sebelah tangan di pundak Dave.
"Jangan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Hadapilah satu demi satu. Kau pasti berhasil melewati ini." kata Tommy.
"Menurutmu begitu?" ucap Dave berat.
"Kalian tenang saja. Aku sendiri yang akan mengawasi perkembangan Nyonya Fiona!" tambah Dokter Rio mencoba untuk menenangkan semua orang yang berada disana.
Dave memandang wajah orang-orang yang berada disana bersamanya. "Aku sungguh berterima kasih dan bersyukur bahwa kalian sedang berada disini bersama. Namun jika ada kesempatan untuk masuk untuk melihat Fiona, aku akan menjadi orang pertama yang masuk." kata Dave singkat.
Tommy tampak ingin berdebat, namun dia melihat air muka Dave, sehingga menahan diri untuk mendebat Dave.
"Jika kau ingin kami tinggal bersamamu, kami tidak akan keberatan!" ucap Angie.
"Aku lebih suka kalian pulang dan beristirahatlah. Kalian sudah berada disini sejak tadi. Aku tidak akan meninggalkan rumah sakit sampai mendengar sesuatu, kabar apapun!" kata Dave.
"Aku akan mengantar Angie dan setelah itu aku akan kembali kesini!" ucap Tommy sambil menarik tangan Angie dan membawanya pergi menjauh dari depan ruang operasi ke arah parkiran mobil dimana mobilnya diparkirkan disana.
__ADS_1
Dave membalas tatapan Tommy dan tidak mendebat. Bahkan tidak berbicara, hanya menganggukan kepalanya. Dave tidak ingin sendirian namun enggan untuk menerangkan hal tersebut kepada Tommy. Dave berbalik dan mancari keberadaan ruang rawat intensif dimana Fiona sudah dipindahkan disana.