
Waktu yang Yonna pinta pada mertuanya ternyata tak sesuai harapan. Hanya berjarak satu minggu dari keputusan yang Yonna berikan, Jelita justru sudah mendapatkan orang tua baru untuk bayi itu.
Kini wanita tua itu tersenyum bahagia berbanding terbalik dengan wajah sendu Yonna yang memancarkan kesedihan. Ia seakan tak rela untuk melepaskan bayi yang ada dalam gendongan tangannya itu pada wanita kisaran umur tiga puluhan.
Tangan putih dan berisi itu menyambut bayi kecil yang tertidur pulas, membawanya dalam dekapan wanita bergaun warna army dengan aksen bros bunga lili di dada.
"Cantik ya, Pi!" seru wanita itu pada sang suami yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. Tak banyak bicara tetapi matanya yang begitu awas menghadirkan perasaan aneh di dalam hati Yonna.
"Iya, sangat cantik seperti Mami," balasnya dengan seulas senyum tipis.
Bara mengusap punggung lengan istrinya yang ada di atas paha. Yonna pun menoleh, mata teduh itu seakan berkata "it's ok, ia akan baik-baik saja dengan orang tua barunya". Namun itu tak cukup menenangkan hatinya.
"Kenapa perasaanku tak enak ya, Mas?" bisik Yonna. Matanya kembali menatap sepasang suami-istri yang tengah berbahagia itu.
Menurut Jelita mereka berdua adalah pasangan kaya. Sang suami seorang pemilik pabrik tekstil yang berada di kota sebelah, pabriknya cukup besar dengan omset ratusan juta setiap harinya. Sementara wanita berambut sebahu itu merupakan teman sesama arisan Jelita dan merupakan owner arisan berlian yang Jelita ikuti.
"Kita percayakan saja pada Mama. Aku yakin Mama tak mungkin memilihkan orang tua yang buruk untuk bayi Gisella, ya ... walaupun Mama membenci hingga wanita itu mati."
"Tapi Mas—," Gelengan pelan Bara menghentikan ucapan Yonna yang akan terlontar. Bara seakan meyakinkan istrinya jika semua akan baik-baik saja.
Yonna menghela napas pelan, matanya kini kembali beralih pada bayi kecil di hadapannya saat ini. Bayi yang selama beberapa waktu ada dalam dekapan tangannya, tak terkira betapa nyeri hatinya saat ini.
"Baiklah jenk Jelita, saya dan suami saya pamit pulang dulu."
"Kok buru-buru jenk Veny, apa nggak sebaiknya kita ngobrol santai saja dulu. Jarang-jarang loh jenk Veny datang kemari," balas Jelita ramah.
__ADS_1
"Kapan-kapan kami akan mampir lagi. Lagi pula, kasihan dengan putri kecil kami ini. Lihat! Ia sepertinya ngantuk berat sampai-sampai sedari tadi tidak bangun-bangun dari tidur nyenyaknya," ucap Veny bahagia.
"Ya Tuhan ... kenapa rasanya sakit sekali. Aku ingin memeluk bayi itu, tetapi sekarang ia tak lagi menjadi milikku. Semoga orang tua baru yang ia miliki saat ini benar-benar begitu mencintainya, hingga ia tak kekurangan kasih sayang orang tuanya," batin Yonna penuh harap. Matanya mulai memanas dan berkaca-kaca melihat sepasang suami-istri itu mulai beranjak dari duduknya.
Semua yang ada juga ikut berdiri, mereka mengikuti arah kaki Jelita dan Veny menuju pintu luar. Hingga wanita itu menghilang di balik mobil yang mulai melaju meninggalkan rumah tersebut. Yonna yang berdiri di depan pintu sepertinya masih belum rela melepaskan putrinya yang cantik.
"Ma, kenapa aku merasa tak enak dengan kepergian Arabella. Apa Mama yakin mereka orang yang baik?" ucap Yonna memberanikan diri untuk bertanya.
Pandangan mata Jelita seketika berubah tajam. "Apa kamu meragukan Ibu mertuamu sendiri?"
Yonna terdiam sembari menundukkan pandangannya.
"Bukan begitu, Ma. Aku hanya merasa sedikit takut saja," jelas Yonna agar mertuanya tak salah paham.
"Sudah Sayang. Percaya saja sama Mama. Mas yakin Mama pasti memilihkan orang tua yang baik untuk bayi kecil itu." Bara kembali mengusap punggung istrinya. Sebagai seorang suami ia tak mampu berbuat apa-apa kali ini. Ada dua hati dari dua orang wanita yang sangat i sayangi yang harus ia jaga dan dua wanita itu saat ini saling beradu punggung.
"Semoga saja, Mas," ucap Yonna lirih seraya menghela napas. Sesak di hati tak kunjung reda. Bara merangkul lengan istrinya, ia mengajak sang istri untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Baru beberapa menit yang lalu Arabella pergi meninggalkannya, namun rasa rindu kini mulai menyeruak di dalam dada. Yonna memasuki kamarnya dengan langkah yang begitu gontai meninggalkan suaminya yang masih berada di lantai bawah.
Aroma minyak telon bercampur bedak yang menjadi aroma terapi selama beberapa hari ini masih menguar dengan begitu pekat.
Yonna terduduk di pinggir ranjang. Sepasang butiran bening kini tiba-tiba meluncur di pipinya.
"Semoga saja kamu hidup bahagia dengan orang tua barumu, Nak. Mama kangen sama kamu," gumam Yonna seorang diri menyuarakan isi hati.
__ADS_1
Ia tetaplah seorang Ibu yang baru saja menambatkan cinta pada seorang bayi mungil yang lucu. Cinta yang baru saja tumbuh dipaksa patah hanya karena masa lalu kelam yang tak mampu untuk di hapus dari ingatan.
~ ~ ~
"Eh ... jenk Jelita, tumben terlambat?" tanya seorang Ibu-ibu dengan riasan wajah yang cukup menor. Perhiasan yang melingkar di badannya cukup banyak hingga terkesan berlebihan.
Jelita yang baru saja sampai hanya tersenyum tipis. "Maklumlah, macet," jawabnya memberi alasan yang sangat klise, padahal jalanan dalam keadaan lenggang. Bola pun dapat berguling tanpa hambatan. Jelita menarik kursi dengan santai dan duduk di sana, kemudian meletakkan tas mewah yang baru ia beli tiga hari yang lalu di atas meja.
Hari rabu merupakan hari di mana Jelita berkumpul bersama teman-temannya di sebuah kafe elit di pusat kota setelah makan siang. Mereka akan duduk di sana hingga sang surya beranjak pulang ke peraduan, bahkan tak jarang di sambung dengan berbelanja hingga hampir tengah malam mereka semua sampai di rumah.
"Eh ... eh, tahu nggak. Jenk Veny dan suaminya sekarang sedang menjadi buronan," celetuk wanita berambut keriting dengan hidung yang mancung memulai gosip siang ini.
Jelita tersentak kaget. Pasalnya baru satu minggu yang lalu wanita yang sedang mereka bicarakan itu datang ke rumahnya.
"Ah yang benar kamu, Vin?"
"Mana mungkin aku bohong jenk Tasya. Beneran dan naasnya suami aku kena tipu dan mengalami kerugian 500 juta sama pasangan suami-istri sialan itu!" jawab Vina geram pada wanita bergaun tosca dengan bando permata di atas kepalanya.
"Tunggu dulu, kok bisa? Bukannya suami jenk Veny itu pengusaha yang sukses, ya? Selama ini juga ia tampak baik-baik saja saat ikut arisan dengan kita." Jelita tampak sedikit panik, kedua tangannya saling meremas dan terasa dingin.
"Selama ini kita ketipu mentah-mentah. Berlian yang selama ini jenk Veny pamerkan pada kita itu ternyata palsu. Aku juga rugi ratusan juga akibat investasi bodong yang suaminya tawarkan kemarin. Sialan," timpal wanita bermake-up menor dengan banyak perhiasan tadi.
Jelita meneguk air ludahnya dalam diam. Jantungnya seakan bertabuh dengan cepat tak berjeda. Pikirannya kini mulai melayang memikirkan nasib seorang bayi yang begitu ia percaya untuk di titipkan pada mereka.
"Kenapa jadi begitu? Bisa bahaya jika Alice tahu hal ini," batin Jelita waswas.
__ADS_1