
Malam tampak begitu akrab berbincang dengan rembulan, menceritakan dua anak manusia yang terdiam satu sama lain dalam mobil yang melaju sedang.
Tak ada satu pun yang mau mengeluarkan suara, Yonna membuka jendela mobilnya sedikit, membiarkan hembusan angin malam membelai wajah mulusnya. Ia seakan larut dalam dunianya sendiri.
Mobil semakin melaju membelah jalanan kota yang masih ramai dilalui kendaraan dan orang-orang yang beraktivitas di malam hari. Cahaya lampu yang berkelip pada gedung-gedung pencakar langit seperti bintang yang bersorak menggoda.
Di persimpangan lampu merah, mobil berbelok ke arah utara lalu memasuki kawasan rumah elit yang dihuni para orang kaya. Jarak antara satu rumah ke rumah yang lain cukup jauh. Kini mobil kembali berbelok, bukan melewati jalan raya ataupun gang, melainkan memasuki pagar yang berdiri tinggi dan kokoh menutupi rumah besar dengan dua pilar itu.
“Sudah sampai!” Bara mengusap lembut pipi istrinya, membuat lamunan wanita itu terjaga. Yonna menoleh namun sedetik kemudian memalingkan wajahnya kembali. Ia membuka pintu mobil, turun tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Mommy!” seru Noah yang berlari dari dalam rumah untuk menyambut, setelah mendengar deru mobil orang tuanya.
Yonna menangkap tubuh kecil putranya yang tertawa riang dan membawanya ke dalam gendongan. Putranya tidak kecil lagi, tubuhnya yang ramping berotot kini mulai berisi hingga ia sedikit kewalahan menahan berat badan putranya yang membuat pundaknya pegal.
“Sayang, kenapa keluar Nak? Kamu sudah makan belum? Kok belum tidur?” Yonna mencecar putranya dengan beragam pertanyaan. Noah memasang ekspresi bingung harus menjawab pertanyaan Mommynya mulai dari mana.
“Jagoan Daddy sini biar Daddy saja yang gendong ya! Kasihan Mommy capek,” ujar Bara sembari mendekat dan mengambil alih tubuh putranya dari gendongan Yonna. Noah membentangkan tangannya merangkul punggung leher Bara.
“Daddy dan Mommy kenapa pulang malam?” tanya Noah. Ia sudah lupa untuk menjawab pertanyaan Yonna.
“Wajah Mommy juga kenapa pucat? Kerjaan Mommy banyak ya? Kalau gitu Mommy nggak usah kerja saja, biar Daddy yang cari duit yang banyak!” celoteh bibir itu panjang lebar. Kedua tangannya terangkat ke udara membentuk setengah lingkaran.
Yonna sampai tertegun mendengar ucapan putranya, namun sedetik kemudian ia tertawa kecil sembari mencubit pipi gembul putranya dengan sayang. Putra kecilnya itu begitu peka dan perhatian. Sifatnya yang kerap ingin tahu terkadang membuat Yonna kewalahan untuk menjawab.
Tiga orang tersebut tampak begitu bahagia, seperti keluarga kecil pada umumnya. Begitu sempurna membuat iri mata siapa pun yang memandang tawa lepas ketiganya. Seperti sepasang mata yang menatap dari atas balkon dengan hati yang dipenuhi rasa cemburu dan hasad.
Ada rasa tidak rela terhadap sesuatu yang begitu ia inginkan, akan tetapi menjadi milik orang lain. Jiwanya bergejolak hatinya menggelegak terbakar panas melihat derai tawa mereka dari lantai atas tersebut. Kedua tangannya terkepal di pagar balkon erat hingga buku-buku tangannya memutih.
Timbul bara kebencian yang tanpa disadarinya lama-kelamaan akan melebur dirinya dalam jurang kehancuran.
__ADS_1
Sudut mata Bara menangkap sosok yang memandang tajam dari lantai atas, sudut bibir Bara terangkat. Ia tak memberitahukan pada istrinya tetapi justru merangkul istrinya untuk masuk beserta putra dalam gendongannya itu.
Sesampai di ruang tamu, Noah meminta turun. Bocah itu berlari menghambur ke dalam pelukan Jelita lalu bergelayut manja di tangan Neneknya bersama Kevin yang tak mau kalah. Wajah Noah begitu riang.
Sementara Gisella yang duduk tak jauh dari mertuanya itu menatap Yonna dengan tatapan penuh permusuhan.
“Dasar perempuan busuk! Sudah memiliki suami tapi masih saja menggoda suamiku! Awas saja kamu, gara-gara kamu aku dan Gavin bertengkar. Akan aku buat perhitungan denganmu nanti!” rutuk Gisella di dalam hati. Ia mengutuk Yonna yang berdiri santai dengan wajah lelahnya.
“Kalian berdua baru pulang, sudah makan?” tanya Jelita penuh perhatian pada anak sulung dan menantunya itu.
“Sudah, Ma. Aku ke kamar dulu ya, Ma!” pamit Yonna. Tubuhnya masih terasa letih, ia ingin kembali berbaring di ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah tak karuan rasanya.
Jelita yang paham pun mengangguk, ia membiarkan Bara pergi bersama istrinya ke kamar untuk istirahat. Sedangkan dirinya lagi menikmati menjadi perebutan antara dua cucu lelaki yang ingin bermanja dengannya. Rasa bahagia yang tak dapat Jelita gambarkan dan sangat ia harapkan di usianya yang telah menua itu.
“Kamu istirahatlah dulu, aku mau keluar sebentar menghirup angin. Aku belum ngantuk,” ujar Bara pada Yonna setelah mereka memasuki kamar.
Yonna hanya mengangguk, ia membuka lemari pakaian untuk mengambil piyama yang akan ia kenakan.
“Ke mana perginya?” gumam Bara heran. Lelaki tinggi itu beralih menyusuri teras balkon yang menghubungkan bagian samping hingga ke belakang. Mencari di tempat lain, rasa-rasanya tak mungkin pergi terlalu jauh. Sekelebat bayangan ia lihat di dekat kolam renang di bawah pohon yang rindang.
Bara memicingkan matanya, sadar orang yang berdiri dengan asap mengepul dari bibirnya itu adalah orang yang ia cari. Bara langsung memilih turun melalui tangga samping tempat ia menemukan istrinya pagi tadi.
“Apa kamu mencariku?” tanya Gavin tanpa menoleh. Matanya menatap air kolam yang begitu tenang di bawah sinar rembulan, begitu cerah bersama taburan bintang yang membentuk sebuah rangkaian gugus.
Asap nikotin itu kembali melayang membentuk lingkaran putih samar-samar di kegelapan malam hingga menghilang ke udara.
“Sudah lama rasanya kita tidak berbincang berdua sebagai saudara,” jawab Bara dengan wajah datarnya.
Gavin terkekeh seraya menoleh. “Aku bahkan sampai lupa jika kita adalah saudara. Aku lihat wajah seriusmu itu sudah banyak berubah, tak setegang dulu. Menikah membuatmu banyak berubah ya," balas Gavin berbasa-basi.
__ADS_1
Gavin menjatuhkan batang rokok dari bibirnya, yang panjangnya tinggal sepertiga bagian. Lalu ia injak kuat dengan alas kakinya.
“Begitulah, aku menemukan seseorang yang begitu pas untuk menjadi pendamping hidupku. Sesuai keinginanku dan juga hatiku.” Bara beralih pada bangku taman yang tersusun tak jauh dari kolam itu.
Sementara Gavin mengikutinya dari belakang, mereka berdua duduk berhadapan dengan aura ketegangan yang begitu kentara. Setiap kata yang keluar dari mulut keduanya syarat akan makna.
“Wah ... beruntung sekali Kakakku ini! Aku jadi iri dengan kebahagiaanmu itu, sampai-sampai aku ingin mencoba berada di posisimu! Pasti akan sangat sempurna!” Gavin mengeluarkan senyuman iblisnya, memancing reaksi apa yang akan Bara lakukan padanya.
Bara memajukan punggungnya menghunjamkan tatapan tepat di kedua manik hitam Gavin. Begitu tajam dan mengintimidasi, seperti singa yang mulai waspada ketika ada kontingen baru yang mendekat.
“Dan apa kamu pikir aku akan membiarkan begitu saja dirimu mengambil istriku yang begitu sempurna? Tidak akan pernah! Aku tak akan membiarkan siapa pun menggantikan posisiku sampai kapan pun!” ujar Bara tegas.
“Lagi pula ...,” Bara menjeda ucapannya. Senyum miring pun tercetak di bibir. Terasa begitu mengejek Gavin, kedua tangan Gavin terkepal di atas meja.
“Bukankah kamu yang lebih dulu berada di posisi itu, lalu kamu mengabaikannya begitu saja. Jadi jangan pernah berharap mendapatkan kembali permata yang kamu buang percuma, Gavin.”
“Apa maksudmu dengan mengatakan aku yang lebih dulu berada di posisi itu? Apa maksudnya aku lebih dulu menjadi suami Yonna?” Gavin menajamkan matanya mendengar ucapan Bara yang terasa mengganjal hatinya. Kapan ia menjadi suami Yonna?
Tak berapa lama, wajah bingung Gavin berubah. Mata Gavin langsung melebar sempurna setelah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang baru saja hadir di kepalanya. Seakan ada batu besar yang menghempas hati dan kepalanya hingga pecah.
Gavin merangkai setiap kalimat yang Yonna ucapkan padanya, tentang hubungan wanita itu dengan mantan suaminya di masa lalu. Tentang kecurigaannya pagi hari tadi atas sikap Yonna yang mengetahui jalan keluar menuju garasi. Seolah wanita itu sudah pernah tinggal lama di rumah itu. Semuanya berkumpul menjadi potongan parzel di otaknya saat ini.
“Apa kamu tak sadar selama ini? Apa wajahnya tak membuatmu familiar sedikit pun?” Bara kembali tersenyum mengejek melihat ekspresi terkejut yang Gavin perlihatkan.
“Aku tidak perduli apa yang pernah terjadi di antara kalian di masa lalu, tapi detik ini dan di waktu akan datang. Ia adalah istriku, Mommy dari anak-anakku! Jadi aku harap jaga sikapmu dan jangan pernah mengganggunya atau kamu akan berurusan denganku!” ujar Bara penuh penekanan di setiap katanya. Aura yang ia keluarkan begitu mengerikan.
Bara menyadari keinginan Gavin dan ketertarikan lelaki itu begitu kuat saat ini. Ia sedang berada pada titik menjaga apa yang menjadi miliknya. Memukul kesadaran Gavin agar pria itu sadar jika dirinya tak memiliki kesempatan apa pun untuk mendekati istrinya itu.
Bara beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Gavin. “Kamu tahu aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, Gavin. Jadi camkan baik-baik apa yang aku katakan ini,” tandas Bara seraya menepuk pundak Gavin pelan, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Gavin dalam keterpakuannya.
__ADS_1
"Yonna adalah Alice? Mana mungkin? Mereka berdua tampak seperti dua orang yang berbeda!" lirih Gavin masih tak percaya.