
"Dasar breng-sek! Teman tak tahu diuntung!"
Gabby meradang saat ia membuka mata kekasihnya tak ada di sampingnya, justru tidur di ranjang bersama Gisella dalam keadaan tanpa busana di bawah selimut.
Melihat kondisi mereka yang seperti itu, tentu saja Gabby tahu apa yang sudah mereka lalui bersama. Hatinya bergemuruh dengan rasa cemburu yang meluap hingga ke ubun-ubun. Tanpa sadar Gabby memukul lengan Gisella dengan kuat hingga kulitnya memerah dan tercetak telapak tangannya.
"Awww sakit, bukan salahku. Pacarmu saja yang memaksaku!" teriak Gisella membela diri.
Ia menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya. Lengannya terasa perih, harga dirinya pun terlukai. Ia hanya korban di sini, lelaki itulah yang memper-kosanya. Namun Gabby memperlakukannya seakan ia adalah pelakor yang merebut pasangannya.
Alex langsung memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu memakainya dengan cepat. Hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah secepatnya kabur sebelum singa betina itu semakin mengamuk dan mencabik-cabik tubuhnya.
"Kamu mau pergi kemana, Mas? Jangan lari kamu!" seru Gabby dengan mata yang menyala bagai bara yang siap membakar lelakinya saat itu juga.
"Sayang! Mas masih ada urusan pagi ini. Nanti kita bicara lagi, ok!" Tanpa menunggu jawaban dari wanita yang kini hanya memakai tank top dan juga rok mini itu. Alex pergi begitu saja menyelamatkan dirinya.
Defenisi lelaki breng-sek yang sejati. Toh ... saat keadaan sudah mulai tenang, Gabby bisa iya bujuk kembali dengan kata-kata manis dan rayuannya yang mematikan.
Gisella merasa pengap, ia mengeluarkan kepalanya sedikit dari balik selimut. Rambutnya berantakan menutupi sebagian wajahnya. Ia melirik Gabby yang berdiri menatap ke arah pintu dengan garang. Sadar sedang diperhatikan, Gabby mengalihkan tatapan matanya dan menatap tajam.
"Apa? Lo mau berdalih apa, hah! Masih untung gue kasih lo tumpangan. Kini lo berulah lagi! Dasar wanita tak tahu diri. Pantas saja lo kabur dari suami lo yang kaya dan memilih pergi dengan selingkuhan lo. Kini malah jadi buronan karena membunuh suami sendiri. Dasar an-jing!" cecar Gabby tanpa ampun.
Kalimat demi kalimat kasar keluar begitu saja dari bibir bergincu merah yang masih tertinggal di bibirnya.
Deg!
Hati Gisella sakit. Seakan tertusuk ribuan anak panah yang terlepas dari busurnya. Matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
Ia tahu jika dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dalam hidupnya hingga hidupnya jadi semakin berantakan seperti ini. Tetapi tak patut juga Gabby menghinanya sedemikian. Padahal hidupnya dan hidup wanita yang ada di hadapannya ini pun tak jauh sama hancurnya.
"Aku memang bukan wanita baik-baik, tapi aku tak sekeji itu merebut kekasih sahabatku sendiri. Tadi malam Alex memperkosaku. Ia memaksaku untuk—"
"Di perkosa?" Gabby berdecih. "Tapi kamu menikmatinya kan, hingga terlelap di sampingnya dengan rasa puas. Aku yakin semalam pun bibirmu yang munafik itu pasti mende-sahkan namanya berulang kali," cibir Gabby kembali semakin mengoyak harga diri Gisella.
Dalam lubuk hati Gisella, ia pun mengutuk dirinya sendiri berulang kali. Apa yang dikatakan Gabby benar telak adanya. Lama tak disentuh dan oengaruh hormon hamil membuat Gisella lupa diri yang awalnya menolak lama kelamaan mulai menikmati.
Ia menarik kasar selimut yang menutupi tubuh polosnya. Gisella bangkit sembari menahan ujung selimut itu hingga terjadi tarik menarik di antara mereka. Gabby semakin tersulut emosi.
Plak!
Sebuah tamparan melayang ke pipinya hingga membekas. Terasa panas dan pedih.
"Keluar dari rumahku! Aku tak sudi ada wanita ja-lang sepertimu tinggal bersamaku," usir Gabby.
"Kenapa jadi begini?" rutuk Gisella di dalam hati. Hidupnya semakin berantakan jauh dari apa yang ia bayangkan. Ia memandangi punggung Gabby yang beranjak keluar dari kamar begitu saja.
~ ~ ~
"Tunggu apalagi?" Gabby menatap sinis Gisella yang muncul di hadapannya dengan koper yang ia seret perlahan.
"Pergi sana!"
Gabby duduk di sofa dengan majalah dan juga teh hangat di tangan. Kaki yang satu bertumpu pada kaki yang satunya lagi membuat ia terlihat seperti nyonya besar yang sedang memarahi pelayannya.
Gisella berhenti di hadaoan Gabby sejenak. Ia menatap wanita itu dengan ragu-ragu. Ia ingin meminta maaf dan memohon agar wanita itu mengizinkan ia tinggal sampai bayi dalam kandungannya itu lahir, tapi melihat Gabby yang menjelit sudah membuat Gisella mundur lebih dulu untuk mengatakannya.
__ADS_1
Gisella menggigit bibir bawahnya, kembali melanjutkan langkah kakinya keluar dari tempat itu.
Tak butuh waktu lama untuknya mendapatkan kontrakan baru berkat pertolongan tukang parkir apartemen tersebut.
Dengan perut yang mulai membesar, Gisella berjalan menyusuri gang sempit dan juga sedikit berantakan. Tujuannya saat ini adalah sebuah penginapan yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Banyak alasan kenapa Gisella tak menyewa sebuah rumah ataupun apartemen seperti milik Gabby, salah satunya karena ia takut uangnya nanti tak cukup untuk hidupnya sampai anak dalam kandungannya itu lahir.
Selama tinggal di rumah Gabby, ia tak hanya membiayai hidupnya sendiri di sana tetapi ia julaha yang mengeluarkan uang untuk membeli makan mereka berdua.
Ekor matanya melirik ke kanan dan ke kiri lalu mendengkus. Banyak coretan-coretan di dinding yang dipenuhi kalimat-kalimat kotor.
Setelah sampai di sebuah pintu plat besi yang di belakangnya langsung di suguhkan tangga semen, Gisella menaiki tangga itu secara perlahan dan susah payah. Penginapan ini berbentuk rusun dengan bayaran perbulan.
Berbagai kalangan yang menempati tempat itu, para pedangan kaki lima baik singgle maupun bekeluarga. Ada juga anak kuliah yang minim biaya ataupun kupu-kupu malam penjaja kenikmatan.
Sampai ujung tangga lantai ke tiga, Gisella menarik napasnya yang mulai ngos-ngosan. Keringat pun membasahi pelipisnya. Pintu kamar miliknya sudah tampak dari tempaknya berdiri, namun ia masih belum sanggup untuk melangkahkan kakinya kembali.
"Gila! Baru tiga lantai aja rasanya sudah mau mati seperti ini. Lututku pegal, apalagi kalau sampai dapat kamar lantai atas? Bisa beranak di tangga aku," katanya seorang diri.
Gisella mendongakkan kepalanya ke atas tampak sususnan kamar yang tesusun hingga lantai yang paling tinggi. Bangunan itu melingkar hingga menyisakan space di bagian tengah yang berpungsi sebagai taman di lantai bawah.
Sementara dari dinding yang terlihat dari lantai bawah ke atas tampak jemuran-jemuran para orang yang nanti menjadi tetangganya.
Jemuran itu ada yang tersusun rapi pakai hanger, namun ada juga yang di jemur di tembok pembatas, berjajar dari ujung ke ujung membuat penginapan ini tampak begitu kumuh.
"Nasib ... nasib, biasa hidup di rumah mewah dengan banyaknya pelayan. Kini justru tinggal di rusun yang kumuh," sedihnya.
__ADS_1