
Malam ini Yonna menunggu suaminya yang belum pulang, sementara putra satu-satunya sudah tidur nyenyak di dalam kamarnya yang nyaman.
Semenjak tidak lagi bekerja, wanita itu merasa hidupnya begitu membosankan. Tidak ada yang dapat ia lakukan di rumah itu. Semua pekerjaan rumah sudah di ambil alaih oleh dua orang pelayan yang di ambil Bara dari agensi.
Yonna sudah berulang kali menolak, ia merasa mampu jika untuk membersihkan rumah mereka seorang diri, karena waktunya memang banyak habis di rumah. Tetapi lelaki itu yang begitu ingin memanjakan istrinya justru tetap pada keputusannya.
Seharian ini, Yonna hanya menghabiskan waktunya menanam aneka sayuran di halaman belakang yang ia sulap menjadi kebun minimalis yang indah.
Saat sedang santai menunggu suami sambil membaca majalah, telinganya menangkap suara deru mobil yang kemudian disusul suara bel pintu yang terdengar berbunyi.
"Pasti itu Mas Bara," ujarnya sembari berdiri dan tersenyum. Langkah kakinya terasa begitu ringan menuju pintu depan.
Entah kenapa seminggu belakangan ini ia begitu merindukan kehadiran suaminya setiap saat. Tanpa dirinya sadari, cinta yang ia miliki perlahan-lahan berpaling pada lelaki yang halal untuknya.
Senyum di wajah Yonna langsung redup setelah melihat siapa gerangan yang ada di balik pintu yang telah terbuka sebagian itu. Gavin berdiri dengan penampilan yang begitu berantakan.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya wanita itu ketus. Raut wajahnya langsung berubah masam. Mentari yang ia tunggu justru hujan badai yang datang.
Gavin tertawa seperti orang gila, Yonna mengambil kesimpulan bahwa pria itu saat ini sedang mabuk. Yonna bisa mencium aroma alkohol yang begitu kuat dari mulutnya.
"Kamu—" Gavin menunduk ke arah wajah Yonna dengan jarinya, tubuhnya pun limbung. Tak dapat berdiri dengan tegap. "Kamu kenapa membuat hidupku berantakan, Alice?"
Gavin memukul dadanya pelan. Lelaki itu merasakan sesak yang teramat hingga ia terasa sulit untuk bernapas.
__ADS_1
Yonna mengerutkan dahi, sementara kedua tangannya mencengkram erat kedua handle pintu itu kuat.
"Pulang, Gavin!" ujar Yonna pelan. Darahnya berdesir, keberadaan Gavin di rumahnya saat malam malam mulai larut, di tambah dalam keadaan mabuk membuat Yonna takut.
Tidak hanya takut dengan tindakan nekat yang akan dilakukan laki-laki itu padanya, tetapi tanggapan masyarakat dan juga suaminya. Bagaimana jika Bara pulang dan melihat Gavin ada di rumah mereka? Pikir Yonna gelisah. Ia tidak mau ada kesalahpahaman terjadi lagi di antara mereka.
Gabin tertawa kencang sembari menyenderkan tubuhnya di salah satu pintu hingga jarak di antara mereka semakin dekat.
"Gavin? Sekarang kamu ikutan memanggilku seperti suamimu memanggilku," cemooh Gavin. Ada rasa tak suka saat ia mendengarnya.
"Jika tak ada yang penting, lebih baik kamu pulanglah! Istri dan anakmu pasti menunggu di rumah!" ucap Yonna sigap. Tangannya hendak menutup pintu yang langsung cepat di tahan Gavin dengan telapak tangannya.
Ia mendengkus kasar. Mau ia tak pulang semalaman pun, Gisella tak akan pernah menunggunya. Setiap pulang lembur kerja, lekaki itu selalu mendapati istrinya tidur nyenyak di atas ranjang seakan tak ada beban.
"Kamu kejam Sayang, kenapa kamu lebih memilih Bara daripada aku. Aku bisa memberikan yang lebih untukmu, asalkan kamu mau kembali padaku. Aku janji, aku akan menjadikanmu satu-satunya istriku," racau Gavin.
"Jangan bercanda. Kamu yang mencampakkan aku dulu, kini kamu berlagak seakan aku yang menyakitimu!" jawab Yonna kesal.
"Aku khilaf, lagi pula kamu juga curang terhadapku. Kenapa kamu tak berubah secantik ini saat bersamaku? Andai kamu sesempurna ini saat masih bersamaku, tentu aku tak akan berpaling dari wanita lain dan hanya akan setia padamu. Sebagai lelaki normal, aku juga tergoda dengan lekuk tubuh yang di pamerkan para wanita itu di hadapanku sepanjang hari," balas Gavin memberikan pembelaan atas dirinya sendiri.
Yonna tersenyum tipis, lelaki itu masih kuat akan egonya. Ia masih tak mau mengakui kesalahannya yang tidak bisa diam dengan satu hati. Tak mampu mengunci mata dan hatinya dengan kemolekan fisik seorang wanita.
"Dasar baji-ngan!" umpat Yonna pelan. Begitu pelannya hingga terdengar seperti decakan saja.
__ADS_1
"Sekarang pergilah dari sini! Rasa penyesalanmu itu sudah tak ada gunanya lagi untukku, sekarang aku sudah punya kehidupan baru yang jauh lebih bahagia dibandingkan saat hidup bersamamu!"
Yonna menepis tangan Gavin yang ingin mengusap pipinya dan mencoba mendorong dada bidang Gavin agar menyingkir dari pintu. ia ingin segera menutupnya dan terhindar dari lelaki itu. Akan tetapi tenaga Yonna yang tak seberapa tak mampu membuat lelaki itu bergerak.
Yonna menelan ludah melihat seringai terbit di sudut bibir lelaki itu. Gavin melangkah maju, tatapan matanya yang mengintimidasi membuat Yonna melangkah mundur.
"Jika kamu tak ingin kembali padaku, tak masalah. Tapi malam ini aku ingin tahu bagaimana rasanya tubuhmu berada di bawahku. Bara tak akan tahu jika kamu tak memberitahukannya. Malam ini kita akan bersenang-senang, Sayang!"
"Jangan gila kamu! Pergi dari rumah ini sekarang juga sebelum aku berteriak!" ancam Yonna. Tubuhnya kini bergetar dengan rasa takut yang merayapi seluruh hatinya.
"Teriak saja, tak akan ada yang mendengarkannya. Pelayanmu itu tinggal terpisah dari rumah utama, jadi di sini hanya ada kamu dan putri kecilmu itu. Sementara suamimu, masih sibuk di kantor berkutat dengan segala berkas yang harus ia pelajari untuk sidang besok."
Yonna tersentak kaget. Bagaimana Gavin bisa tahu seluk beluk keadaan rumahnya, bahkan ia juga tahu jika suaminya akan pulang sangat terlambat malam ini.
"Apa kamu sudah merencanakan semua ini? Dasar lelaki baji-ngan!" makinya kasar. Mata Yonna menatap Gavin jijik.
Gavin kembali tertawa. Ia semakin mendekat pada Yonna, dengan gerakan cepat mengangkat tubuh ramping itu ke bahunya bagai memikul karung beras. Yonna kembali tersenyak kaget, beberapa detik kemudian ia kembali tersadar dan langsung memukul punggung lelaki itu kuat.
"Gavin, lepaskan aku. Dasar lelaki kurang ajar! Kamu tak bisa berbuat seperti ini padaku, aku ini kakak iparmu. Istri dari kakakmu! Lepaskan aku segera! Lepaskan!" teriak Yonna. Ia semakin panik, dengan posisi kepala di bawah, matanya melihat langkah kaki Gavin membawanya ke kamar tamu yang berada tak jauh dari ruang tamu.
"Apa yang mau kamu lakukan padaku? Lepaskan aku Gavin! Arkhhhh," teriakan Yonna tersekat di tenghorokan saat tubuh rampingnya Gavin banting ke atas ranjang.
Yonna langsung meringkuk mundur diantas ranjang, tubuhnya bergetar melihat tatapan mata Gavin kini mulai berkabut penuh gai-rah melihatnya. Seperti seekor singa yang lapar dan mendapatkan makanannya di depan mata.
__ADS_1
"Ya Tuhan, lindungi aku. Mas, kumohon pulanglah!" batin Yonna berdoa. Ia terus menghindar dengan otak yang terus berputar mencari jalan keluar.