
Malam ini Yonna dan suaminya menginap di rumah keluarga Apsara. Jelita yang ingin anak serta cucunya kumpul memaksa dengan raut wajah sedih agar mereka menginap barang semalam di sana.
Yonna yang pada dasarnya pengasih akhirnya lulu, ia pun merayu suaminya yang masih enggan karena kehadiran Gavin pun tak bisa berbuat apa-apa. Walau pada akhirnya, lelaki itu terus mengintil di belakangnya bagai ekor.
Di mana ada Yonna maka di situlah Bara berada, Jelita hanya tersenyum melihat putra sulungnya yang banyak berubah. Lelaki dingin tak tergapai layaknya gunung es itu kini telah mencair dan berubah menjadi puppy yang menggemaskan. Berdiri di belakang tuannya sembari mengibas-ngibaskan ekornya.
Pagi hari mentari yang muncul disambut kicauan burung pipit yang bertengger di pohon mangga yang lagi berbunga. Beberapa putik bunga itu pun telah berubah menjadi bakal buah. Aromanya yang khas bercampur aroma embun yang menggelitik hidung. Sungguh enak di hirup.
“Arkkk.” Yonna tersentak kaget saat sepasang tangan kekar merangkul tubuhnya dari belakang. Dagu itu bersandar pada bahu kirinya dengan begitu nyaman sembari menghirup aroma fruit yang menguar dari tubuhnya.
Wanita yang kini rambutnya tergerai lembab itu tersenyum, tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa pelaku yang mengganggu kegiatan memasaknya.
“Mas, cepat lepaskan! Nanti yang lain lihat,” ujar Yonna. Punggung kirinya sedikit mendorong dada bidang suaminya afar menjauh.
Seorang pelayan muda yang membantu Yonna menyiapkan sarapan itu pun tersenyum malu. Ia memilih menghindar dengan keluar dari dapur itu, untuk tidak menggangu tuan dan Nyonya muda yang sedang masa berbunga. Pelayan itu beralih pada meja makan, menyusun piring dan gelas serta sendok ke atas meja.
“Masih terlalu pagi untuk mereka turun ke bawah.”
Bara semakin mengeratkan pelukannya, saat ini ia seperti kucing yang mendundus-endus leher tuannya, membuat Yonna merasa geli.
“Khmm …hmmm.”
Sontak sebuah suara deheman membuat mereka berdua terkejut. Yonna mendorong suaminya, mereka berdua pun berbalik ke asal suara.
“Ckk … ternyata ada pengacau,” decak Bara setelah melihat siapa yang telah mengganggu kesenangannya. Ia menatap Gavin yang telah rapi dengan stelan kerjanya.
__ADS_1
“Berhentilah memamerkan kemesraan kalian, kalian pikir kalian ini adalah pasangan terbaik sedunia. Apa di rumah tak puas, sampai harus melakukannya di dapur ini,” cemooh Gavin.
“Sepertinya hidupmu mulai membosankan hingga menyibukkan diri dengan masalah sepele,” balas Bara tak kalah mengejek. Kedua pria itu kini duduk berhadapan di meja makan. Mengobrol dengan nada santai tetapi kalimat yang keluar seakan membantai.
Yonna menghela napas panjang. Selalu seperti kucing dan anjing dan tak pernah akur. Ia melanjutkan kembali apa yang ia kerjakan bersama pelayannya agar semuanya cepat selesai.
“Sialan lelaki itu, sepertinya ia sengaja!” rutuknya dengan rahangnya yang tegang. Hatinya panas melihat kemesraan yang di pamerkan Bara padanya.
Brak! Ting!
Gavin mengebrak meja dengan kuat hingga sendok yang ada di samping piring melompat jatuh ke lantai. Gavin berdiri seraya mendorong kursinya kasar, lalu menghampiri saudaranya.
“Berani sekali kau mengomentari hidupku. Kau hanya pecundang yang merebut istri saudara sendiri, apa kau tak merasa malu. Seharusnya ia menjadi istri, karena ia adalah Alice-ku!” ucap Gavin penuh emosi. Ia menarik kerah baju Bara hingga leher lelaki itu tertarik ke atas.
“Merebut istrimu?” Bara terkekeh keras. Ia menepis tangan Gavin kasar, memperbaiki kerah bajunya kemudian berdiri tepat di hadapan saudaranya.
“Lalu apa kau mencintainya? Hanya karena dendam di masa lalu, makanya kamu mengejar Alice yang kini berubah menjadi Yonna. Kamu ingin membalasku, kan?”
Senyum culas di wajah Bara kini berganti dengan raut geram penuh ketidaksukaan. “Aku bukanlah orang yang mengagungkan masa lalu,” ujarnya datar.
“Benarkah? Jadi kamu mau bilang jika kamu benar-benar cinta pada Alice yang gendut dari dulu hingga membuat kalian memiliki anak sama besarnya dengan anakku. Bagaimana jika dia kembali, apa kamu yakin jika kamu tak akan kembali berpaling pada seseorang yang pernah mengisi hatimu itu,” tanya Gavin tajam.
“Akui saja jika apa yang terjadi saat ini dalam hubungan kalian hanyalah kebohongan saja. Kau bohong jika kamu mencintai ia seorang. Padahal hanya ingin balas dendam denganku, kan!” lanjutnya semakin menekan lawan. Wajah Bara kini berubah begitu tegang, sorot matanya pun mulai menajam.
Yonna tersentak kaget, masa lalu apa yang terjadi di antara keduanya yang tidak ia ketahui. Apa benar rasa cinta yang Bara berikan padanya hanyalah kebohongan belaka? Lalu siapa dia yang di bicarakan oleh Gavin?
__ADS_1
“Tutup mulutmu, baji-ngan!” sentak Bara kian emosi. Membuka luka lama yang susah payah ia sembuhkan adalah kesalahan terbesar yang dilakukan Gavin saat ini.
“Ada apa ini? Kenapa suara pertengkaran kalian terdengar sampai ke atas?” sentak Imanuel mengagetkan keduanya. Lelaki paruh baya itu turun bersama istri dan kedua cucunya.
“Apa kalian berdua tak bisa sehari saja tidak ribut seperti kucing dan anjing! Kekanak-kanakan sekali,” cibir pria tua itu. Mereka semua mengambil posisi duduk di kursinya masing-masing.
“Ada masalah apa di antara kalian berdua? Apa yang sedang kalian perebutkan?”
Semuanya terdiam dan tak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Immanuel. Immanuel melihat wajah kedua putranya serta menantunya itu secara bergantian. Lalu kembali menatap wajah Gavin yang tampak masih belum puas.
“Di mana istrimu Gavin? Kenapa dari kemarin siang belum juga pulang?”
“Tidak tahu, Pa,” jawab Gavin singkat. Immanuel menggelengkan kepalanya pelan, tak habis pikir dengan putra bungsunya itu.
“Kamu suaminya dan kamu tidak tahu di mana istrimu berada! Suami macam apa kamu ini, daripada kamus sibuk dengan rumah tangga kakakmu, maka lebih baik kamu urus saja rumahmu sendiri.”
Immanuel mulai meluapkan amarahnya, sejak awal ia memang tak suka putranya itu menikahi Gisella.
“Apa yang dikatakan papamu benar Gavin. Istri macam apa yang perti tanpa pamit dan nggak ingat pulang. Memangnya ia tak sadar jika dirinya punyak anak yang harus ia urus,” sungut Jelita menimpali ucapan suaminya.
“Akan aku cari dan aku tegur dirinya nanti!” balas Gavin. Ia beranjak pergi dari meja makan itu sebelum ia sempat menyentuh apa pun untuk mengisi perutnya yang kosong. Selera makannya menguar begitu saja.
“Kamu mau ke mana? Papa belum selsai bicara padaku!” teriak Immanuel kembali. Namun lelaki itu tetap berjalan mengabaikan teriakan itu.
Immanuel dan Jelita hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat punggung putra mereka yang kini pergi menjauh. Semakin dewasa seorang anak, maka akan susah bagi mereka untuk mengatur dan memberikan pengarahan.
__ADS_1
Mereka akan hidup dengan prinsip dan pemikirannya sendiri. Baik itu pemikiran baik atau pemikiran buruk.