
Imanuel dan jelita sudah datang ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar langsung dari Bara.
Gavin dibawa ke rumah sakit, dan sudah diberikan perawatan intensif, lelaki itu masih bernapas dengan baik. Hanya mengalami memar dan lebam di bagian rahang saja.
Kini di dalam ruang rawat VIP itu, Jelita duduk pada sofa panjang sembari menatap tajam anak dan menantunya secara bergantian.
Kening wanita paruh baya itu sedikit berkerut mendapati pipi istri dari anak pertamanya itu dalam kondisi yang memerah di kedua sisi. Sudut bibir juga sedikit terluka.
Yonna juga sudah mendapatkan perawatan atas luka-lukanya. Wanita itu kini tertunduk antara takut dan malu.
"Sekarang jelaskan pada kami, apa yang terjadi! Kenapa kamu memukuli adikmu hingga seperti itu?" tanya Immanuel tegas.
Ia mendapatkan penjelasan dari dokter bahwa putra bungsunya itu dalam kondisi di bawah pengaruh alkohol. Immanuel tahu dengan pasti masalah yang sedang dihadapi putranya saat ini, hanya saja ia tak menyangka jika Gavin akan berakhir seperti ini.
"Bara Alwan Apsara! Jelaskan semua ini!" ujar Immanuel lagi karena geram melihat keterdiaman keduanya.
"Jelaskan apa, Pa. Anak bungsu kesayangan Papa itu pantas mendapatkan itu semua," sahut Bara dengan rahang yang menegang.
"Kami juga berhak tahu alasan apa hingga kamu hampir saja membunuh adikmu sendiri. Apa kamu tak menganggap kami ini orang tuamu lagi!"
"Gavin datang ke rumahku ia melecehkan dan mencoba memperkosa istriku. Sekarang katakan padaku, aku tak berhak memberinya pelajaran atas sikap kurang ajarnya itu!" jelas Bara yang cukup sukses membuat Immanuel dan Jelita tersentak kaget.
"Apa? Gavin hampir memperkosa istrimu? Bagaimana mungkin?" ucap Jelita seakan tak percaya. Ia benar-benar tak menyangka putranya akan bertindak terlalu jauh hingga melakukan hal yang hina itu.
"Kenapa tidak mungkin? Kenyataannya memang begitu. Apa Mama mau membela Gavin!"
"Bukan seperti itu, maksud Mama kenapa harus istrimu. Jika Gavin membutuhkan wanita, masih banyak wanita yang sama cantiknya dengan Yonna. Kenapa harus—"
"Karena Yonna adalah Alice!" jelas Bara singkat.
"Apa?" Jelita kembali tersentak kaget. Ia menatap ke arah menantunya itu dengan tatapan tak menyangka.
__ADS_1
"Pantas saja aku merasa familiar dengan wajah itu. Jika Yonna adalah Alice maka Noah?" Hatinya berbicara.
Bara mengusap wajahnya kasar. Jiwanya masih diliputi deru amarah.
"Gavin menyesal dan baru menyadari jika ia mencintai mantan istrinya dan berniat merebutnya kembali dariku."
Jelita dan Immanuel saling berpandangan kemudian menatap anak menantunya kembali.
"Jadi benar Yonna adalah Alice, kenapa kalian menyembunyikan semua ini dari kami. Dan Noah? Bocah itu hampir seumuran dengan Bryan. Apa kalian menjalin hubungan saat Alice masih berstatus istri Gavin? Atau bocah itu justru anak Gavin?" Immanuel yang sedari tadi mendengarkan kini mulai membuka suaranya.
Bara menghela napas panjang. Cepat atau lambat ia memang harus menjelaskan apa yang terjadi di antara mereka. Sebuah hubungan yang cukup rumit.
Suasana ruang rawat inap itu sunyi dan hanya terdengar suara Bara yang menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewatkan.
Kini helaan nafas panjang kembali terdengar dari mulut Immanuel. Lelaki tua itu tampak lelah.
"Pantas saja Gavin menggila," ujar Immanuel dengan senyum tipisnya. Ia menyandarkan punggung tuanya pada sandaran sofa lalu menatap putra bungsunya yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan rasa iba.
"Perusahaan kini di ambang kebangkrutan. Beberapa proyek gagal dan ia juga terjerat kasus penggelapan dana dengan nominal milyaran rupiah. Semua itu akibat wanita yang selama ini ia perjuangkan hingga membuang istrinya sendiri. Dan kini mantan istrinya muncul dalam keadaan yang berbeda. Papa yakin ada penyesalan yang cukup dalam di hatinya hingga mendorongnya melakukan hal gila seperti ini," jelas Immanuel panjang lebar.
"Apa Pa, Gavin hampir bangkrut karena Gisella?" dada Jelita terasa senap dengan kepala yang seketika terjangkit migran.
Immanuel menganggukkan kepala pelan. "Iya, dan yang membantunya adalah Dion. Bahkan mereka berdua selama ini selingkuh. Sekarang mereka menghilang tak tahu ada di mana."
"Mama sudah sejak awal tak suka dengan wanita itu. Ternyata apa yang Mama rasakan semuanya benar. Wanita itu adalah wanita tidak baik-baik. Pantas saja beberapa hari ini wanita itu tidak pulang ke rumah. Ternyata ia kabur dengan lelaki lain!" marah Jelita.
Ia menggeleng pelan kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Meratapi nasib sial sang putra yang dikhianati istrinya sendiri hingga hidupnya emnjadi berabtakan seperti ini. Wanita itu dapat membayangkan betapa hancur hati putranya dengan kondisi hidupnya yang begitu terpuruk saat ini.
"Tapi ...," Jelita kini menyingkirkan tangan dari wajahnya, tatapan matanya beralih menatap ke arah Yonna yang masih setia menundukkan kepalanya.
"Gavin tak akan mungkin berbuat nekat seperti ini jika tak ada yang mengundangnya untuk datang, kan? Aku tahu betul bagaimana kedua putraku!"
__ADS_1
Sontak Yonna menegakkan kepalanya, ia menatap ke arah Jelita yang memandangnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.
"Apa Mama menuduhku?" ucap Yonna membuka suara.
"Bukankah sejak awal kamu datang kembali ke dalam keluarga kami. Kami sudah mencoba mendekati Gavin kan! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalian berdua berbincang akrab berdua di taman samping. Lalu apa maksudnya?"
"Ma! Jangan sembarangan Mama menuduh Yonna seperti itu! Hal biasa jika sebagai ipar saling ngobrol dan bertegur sapa. Apa Mama tidak lihat bagaimana kondisi istriku saat ini." Bara yang emosi menaikkan intonasi suaranya.
"Kamu membentak Mama, Bara! Kalian berdua menjadi bodoh hanya karena satu orang wanita. Apa kalian pikir di dunia wanita hanya dia saja hingga kamu tega memukul adikmu sampai terkapar begitu!" marah Jelita tak lagi dapat ia kontrol. Ia menunjuk-nunjuk wajah Yonna dengan sarkastis.
Yonna menggigit bibir bawahnya erat. Sakit! Itulah yang sedang dirasakan Yonna saat ini, ia ingin menjawab semua tuduhan yang dilimpahkan padanya. Siapa yang mengerti isi hatinya? Siapa yang bisa merasakan rasa sakit yang ia rasakan selama ini?
Tak akan ada yang bisa mengerti rasa yang ia rasakan kecuali orang itu pernah berada di posisi yang sama dengan dirinya.
Immanuel kembali menghela napas panjang. "Ma, cukup! Ini rumah sakit dan jangan membuat masalah ini semakin panjang," tegur Immanuel. Ia mengusap bahu istrinya agar lebih tenang.
"Bara, kamu bawa istrimu pulang. Biar ia istirahat dulu. Biar Mama dan Papa yang di sini!"
Bara meraih tangan istrinya untuk pergi dari ruangan itu tetapi Yonna menghindari tangan suaminya. Ia masih diam dengan segala sesak yang ada di dalam dada.
"Antarkan aku ke rumah orang tuaku!" pintanya setelah keluar dari ruangan. Ia terus berjalan tanpa sedikit pun menoleh.
Bara menahan lengan istrinya. Mereka berdiri di lorong rumah sakit dengan beberapa orang yang berlalu-lalang.
"Tidak, kita pulang ke rumah! Aku akan memperketat penjagaan dan aku janji hal ini tak akan terulang lagi."
"Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku untuk menenangkan pikiranku. Aku mohon!" Tatapan mata Yonna yang sendu menyiratkan luka yang dalam.
Bara terdiam sejenak, ia seperti sedang mengulang kisah lama. Kisah di mana wanita itu pulang ke rumah orang tuanya dan menghilang selama 5 tahun lamanya.
"Baiklah, tapi jangan pergi lagi dariku!"
__ADS_1