Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 70. Hati yang tak pernah puas.


__ADS_3

"Kamu benar-benar kelewatan, Mas. Apa maksud kamu membanding-bandingkan aku dengan si gendut itu!" marah Gisella setelah mereka berdua pulang dan memasuki kamar.


Gavin yang terus memandangi Yonna sepanjang acara itu berlangsung cukup mengganggu hati Gisella. Wanita itu pun mulai mengungkitnya dan protes atas sikap suaminya saat mereka memasuki mobil untuk pulang.


Bukannya menyadari kesalahan dan meminta maaf pada istrinya. Gavin justru terus memuji Yonna dan menyebutkan kelebihan-kelebihan wanita itu yang tak dimiliki oleh istrinya. Seakan sedang membandingkan dua barang yang sama rupanya dengan kualitas yang berbeda.


Cukup membuat luka yang sangat dalam di hati Gisella. Wanita mana yang bisa menerima dengan lapang dada jika suaminya membandingkan dirinya dengan istri orang lain. Apalagi secara langsung Gavin menegaskan bahwa dirinya adalah istri yang sangat buruk. Tentu saja Gisella akan meradang.


"Aku tidak membandingkan, kamu bertanya kenapa aku terus menerus melihat ke arah Yonna. Aku jawab apa adanya, lalu apa masalahnya?" jawab Gavin terlihat begitu santainya.


Tanpa peduli yang mendengarkan perkataannya akan merasakan sakit atau tidak. Ia membuka kancing lengan kemeja yang ia kenakan lalu menggulung lengannya ke atas hingga ke siku.


"Iya, tapi penjelasanmu itu penuh pujian untuknya. Sementara padaku kamu selalu saja mengungkit kekuranganku. Seakan aku tak punya sedikit pun kelebihan!" balas Gisella geram.


Gavin berbalik menghadap istrinya yang sudah sangat marah. "Oh iya, aku ingat. Ada kelebihanmu itu, bukan hanya satu tapi dua. Pertama pintar menghabiskan uangku dan kedua pintar membuat aku marah!" ucap Gavin sambil menggerakkan jari tangannya membentuk angka satu dan dua dengan jari telunjuk dan jari tengah.


"Jadi maksud kamu, kamu menyesal menikahiku dan meninggalkan mantan istrimu yang gendut itu?"


Menyesal? Gavin terdiam sejenak dengan kalimat itu. Mencari kepastian dalam dirinya, benarkan ia sedang menjadi orang bodoh yang menyesali keputusan di masa lalu. Namun nyatanya memang itulah adanya dan Gavin menyadarinya.


Menjadi sesak yang melingkupi dada lelaki itu. Seperti sekam yang terpercik serpihan bara, kecil namun mampu membakar secara perlahan-lahan. Sementara ego yang bertahta tak mampu untuk menyalahkan diri sendiri. Terus mencari pembenaran dengan menyalahkan orang lain.


Kau yang tidak sempurna! Kenapa tidak bisa cantik seperti wanita lain! Kenapa tidak bisa membuat mataku puas dengan hanya melihat dirimu seorang! Kata-kata itu yang terus keluar dari bibirnya, dulu Alice sekarang Gisella. Lalu besok siapa lagi? Padahal kenyataannya, hatinyalah yang bermasalah, ia yang tak pernah puas akan semua yang telah ia miliki.

__ADS_1


Pergi dan mencari pelampiasan adalah jalan satu-satunya yang dapat Gavin lakukan saat ini. Mencari kesenangan sesaat di luar sana untuk mengisi kekosongan hati yang tanpa Gavin sadari hanya akan menambah masalah baru terus menerus.


"Mas, kami mau kemana? Kita belum selesai bicara!" Gisella menahan lengan suaminya untuk tidak pergi.


Gavin menghujamkan tatapan tepat di kedua manik mata hitam itu.


"Itu bukan urusanmu!" Gavin menepis tangan wanita itu keras hingga Gisella limbung dan mundur dua langkah dengan perasaan kecewa. Lelaki di hadapannya itu semakin kasar.


"Kamu pasti mau pergi ke tempat pela-curan itu lagi kan Mas. Kamu anggap apa aku ini hingga dengan bebas kami keluar masuk tempat terkutuk itu dan menyakiti hatiku!" Intonasi nadanya semakin meninggi menadakan amarah yang telah semakin meluap hingga ke ubun-ubun.


"Satu langkah saja kamu keluar dari kamar ini. Awas kamu Mas!" lanjutnya penuh penekanan. Gisella menegakkan kepalanya seakan sedang menantang Gavin. Tak ada cairan bening yang menumpuk di pelupuk mata, hanya ada sorot mata kebencian.


Gavin berbalik dengan senyum sinis yang terukir di bibir. Ia terkekeh mendengar ucapan istrinya yang menggelitik perut.


"Kamu bisa hidup enak seperti ini karena aku. Karena uang yang aku berikan padamu. Jika tidak kamu hanya akan menjadi pela-cur yang menggoda dari satu lelaki ke lelaki yang lain. Dan bodohnya aku kenapa menjadikan wanita sepertimu sebagai seorang istri. Jika kamu masih mau hidup enak dan layak di rumah ini dengan uangku. Maka diam dan patuhlah, jangan ikut campur akan apa yang aku lakukan. Aku tak suka wanita yang pembangkang!" Gavin mengeram.


Rahangnya tampak begitu keras, sorot mata buas seperti ingin menerkam hidup-hidup mangsa yang ada di depan mata. Gisella tertegun.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk memprovokasinya. Bisa-bisa nyawaku melayang di tangannya," batin Gisella menasehati diri sendiri.


"Baik Mas. Aku mengerti, aku minta maaf. Aku salah." Satu kalimat itu bagai mantra sihir yang langsung menenangkan.


Gavin melepaskan cekalan tangan istri lalu langsung pergi begitu saja tanpa satu patah kata. Hanya sudut bibir yang terangkat ke atas yang Gisella tangkap dari wajah suaminya itu.

__ADS_1


Wanita itu terjerembak, jatuh ke lantai dengan kaki lemas yang tak mampu menopang tubuhnya untuk sementara.


Mata penuh kebencian itu semakin membara menatap punggung lelaki yang mulai membuka pintu dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Untuk kesekian kalinya, Gisella di permalukan seperti ini. Ia pikir menjadi istri seorang Gavin ia akan mendapatkan cinta dan kehormatan. Namun nyatanya apa yang ia pikirkan itu salah.


Jika hanya perkara uang, tanpa harus menyandang status istri pun ia bisa mendapatkan uang dalam jumlah yang banyak yang mampu membeli apa pun yang ia inginkan.


"Awas kamu, Mas. Akan aku pastikan kamu akan menyesal dengan semua yang kamu lakukan untukku!" ucapnya dengan kedua tangan mengepal erat di atas lantai hingga urat di tangan itu tercetak dengan jelas.


Gavin melangkah pergi ke luar rumah, ia masuk ke dalam mobilnya. Mengendarai mobil itu melaju pergi. Pak Iman yang membuka gerbang tinggi itu menatap kepergian mobil hitam yang melaju dengan kencang itu.


Ia melihat pertengkaran suami-istri itu ketika baru saja keluar dati mobil dan berlanjut hingga masuk ke kamar. Melihat Gavin yang pergi lewat tengah malam dengan wajah yang masam membuat Pak Iman yakin pertengakaran itu masih berlanjut dan tak menemukan titik damai.


Kini mata tua itu beralih menatap rembulan yang bersinar dengan terang.


"Saat seseorang tidak bisa menyukai rembulan, bagaimana mungkin orang itu bisa menikmati keindahan yang rembulan itu pancarkan. Terkadang rembulan yang indah sempurna pun ada masanya terlihat buruk dengan awan hitam yang menutupi pancaran kilaunya. Hanya orang-orang yang benar-benar menyukai yang akan tetap bertahan dan menunggu kilau itu kembali lagi. Seperti itu pula dengan cinta. Tak selalu harus sempurna, tetapi sudut pandang yang membuatnya tampak sempurna."


Pak Iman menghela napas berat. Sebagai orang tua yang sudah kenyang dengan banyaknya pengalaman ia cukup menyesali sikap bungsu keluarga Apsara itu.


Puluhan tahun mengabdikan diri di rumah keluarga Apsara membuat ia tahu semua yang ada di dalam keluarga itu. Bahkan ia tahu betul sifat-sifat asli yang mereka miliki.


Gavin yang tak memiliki komitmen sementara Bara yang dingin di luar namun menyimpan banyak kehangatan di dasar hatinya.

__ADS_1


__ADS_2