Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 99. Keputusan akhir.


__ADS_3

Ada dua tempat mengadu yang paling aman, pertama Tuhan dan kedua adalah orang tua. Yonna yang bimbang tak dapat mengambil keputusan apa yang harus ia ambil. Ia juga tak mau kehidupan rumah tangganya semakin buruk.


Yonna memilih berkunjung ke rumahnya. Ia sering bertukar kabar ke pada orang tuanya melalui ponsel atau sesekali pulang. Namun kali ini ada yang berbeda, ia pulang tak hanya membawa putranya Noah, melainkan juga bersama putri kecil yang telah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Anak siapa yang ada di pelukanmu itu Sayang?" tanya Maya seraya mengerutkan keningnya. Ia membawa putri dan juga cucunya itu untuk masuk.


Noah yang lincah langsung berlarian ke dalam rumah. Langkah kakinya bergegas menaiki tangga menuju lantai dua, ke arah kamar dengan pintunya bercat warna biru dan di pasang stiker Spiderman.


Bruk!


"Astaga!" Vano tersentak kaget, sontak ia menoleh ke belakang di mana Noah tampak tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih.


"Heh bocah! Tak bisakah masuk ke kamarku dengan pelan-pelan. Lama-lama pintuku jebol karena ulahmu!" omel Vano.


Lelaki kurus itu kembali mengalihkan pandangan matanya pada benda kotak yang ada di hadapannya. Jemarinya kembali menggerakkan stik yang mengendalikan objek di dalam benda kotak tersebut.


"Uncle Vano. Aku mau ikut play game. Please!" Noah langsung mendekat. Ia mengambil posisi duduk bersila di lantai tepat di samping lelaki yang masih tampak berantakan itu.


"Aishhhh ... ni bocah kalau datang pasti ujung-ujungnya ganggu saja. Ya sudahlah ayo mulai ... ketimbang nangis jadi berabe," gerutu Vano seraya memberikan salah satu stik pada keponakan satu-satunya itu.


Saat tidak bekerja, lelaki yang masih singgel diusianya yang mulai beranjak pantas untuk menikah itu kerap menghabiskan waktu liburnya hanya dengan bermalas-malasan, ketimbang harus mengejar cinta yang baginya begitu rumit.


Jika Noah dan pamannya asik bermain berdua sambil berteriak bersama. Maka Yonna duduk di taman samping menghadap kebun mini yang berisi aneka buah-buahan lokal yang mulai berbuah sebagian.


"Jadi mertuamu marah padamu saat ini karena kamu memaksa untuk mengasuh anak itu?" ucap Maya memastikan inti dari cerita yang putrinya sampaikan.


Matanya menatap bayi kecil yang kini tengah terlelap di dalam stroller hitam yang baru di ambil dari bagasi mobil.

__ADS_1


Yonna menganggukkan kepala pelan, ia bahkan tak tahu harus menjawab apalagi. Pikirannya sudah semrawut seperti kabel listrik yang melintang tak beraturan.


"Mama tahu kamu pasti berat untuk melepas bayi itu karena sudah mulai menyayanginya kan, Al?" Maya menghela napas melihat wajah lesu putrinya.


"Tetapi menurut Mama, sebaiknya kamu biarkan saja bayi itu diadopsi oleh orang lain. Mau tak mau kamu harus mengalah, karena kita tak bisa menyalahkan mertuamu dalam hal ini, apalagi mengatakan jika dirinya terlalu keras kepala dan kejam. Kehilangan seorang anak adalah pukulan terberat bagi seorang Ibu. Walau Gisella tak ada lagi, tapi anak itu menjadi bayang-bayang wanita itu," lanjut Maya menjelaskan panjang lebar.


Yonna menundukkan kepala dengan diam, kedua tangannya saling meremas kuat. Ia ingin membantah apa yang di katakan Mamanya, hanya saja kalimat itu entah kenapa tercekat begitu saja di tenggorokan.


"Mama yakin kamu ingin membandingkan bayi itu dengan Bryan, kan?"


Sontak Yonna menegakkan kepalanya menatap Mamanya seakan tak percaya. Ucapan wanita tua di hadapannya itu menebak dengan benar apa yang ada dalam otaknya. Sebagai seorang Ibu, Maya tahu betul apa yang ada di dalam hati dan pikiran putrinya itu walau tak terucap.


"Apa bedanya? Bukankah mereka berasal dari Ibu yang sama?"


"Tapi mereka berasal dari Ayah yang berbeda. Itulah perbedaannya. Darah Gavin yang mengalir dalam tubuh Bryan seakan menjadi peredam di hati mertuamu itu. Sedangkan bayi itu, kita bahkan tak tahu siapa Bapak kandungnya yang sebenarnya."


"Bisa jadi mereka berasal dari Ayah yang sama," debat Yonna masih beradu dengan argumentasinya.


"Serahkan bayi itu ke panti asuhan atau ke orang lain untuk di adopsi!" ucap Maya serius. Yonna mengalihkan pandangan matanya ke arah bayi tersebut. Tatapan matanya menyiratkan kesedihan hati yang cukup dalam seakan ia tak akan lagi bisa melihat wajah kecil nan tenang itu kembali.


"Gisella mengamanahkan anak ini padaku sebelum kematiannya. Apa aku tak berdosa jika aku justru memberikan anak ini pada orang lain, Ma?"


"Kamu tidak menelantarkannya, tetapi justru memberikannya kehidupan yang baru yang jauh dari masa lalu yang mungkin saja akan menyakiti hatinya saat dewasa nanti," balas Maya menenangkan.


Yonna kembali terdiam, hati dan pikirannya saat ini saling berperang. Mungkin apa yang dikatakan Maya masuk sebagian di di hati dan dibenarkan oleh pikiran. Namun tetap saja hatinya seakan tak rela berpisah begitu saja dengan bayi kecil yang begitu jelita.


~ ~ ~

__ADS_1


Yonna pulang ke rumah mertuanya sebelum jam pulang suaminya. Bara memang tak banyak berkomentar, lelaki itu tampak begitu tenang. Hanya saja ucapan Maya kembali terngiang di telinga.


"Jangan sampai rumah tanggamu hancur untuk kedua kalinya." Kalimat yang membuat sekujur tubuh Yonna merinding. Hatinya berdenyut nyeri, bahkan dalam mimpi sekalipun ia tak ingin hal itu terjadi.


"Noah, cucu kesayangan Grandma. Kenapa baru pulang, Grandma kan kangen sama kamu," ucap Jelita menyambut kepulangan Ibu dan anak itu. Jika dengan Noah Jelita bersikap begitu manis layaknya permen gula. Maka berbeda dengan Yonna yang di hadiah pandangan sinis dari mata keriputnya.


"Ma," sapa Yonna, tetapi Jelita mengabaikannya begitu saja. Terasa ada yang mencubit hatinya.


"Kamu sudah mandi, Nak. Kalau belum, kamu ke kamar Grandma saja ya. Biar Grandma mandikan!" tanya Jelita sumringah pada cucunya.


"Tidak Grandma, aku sudah besar!" Noah berlari menghindar saat Jelita ingin memeluknya.


"Sayang, kenapa malu. Aduh ... aduh! Cucuku sekarang sudah besar," seru Jelita dengan senyuman.


Noah berlari masuk ke dalam kamarnya dengan cepat. Di mandikan oleh salah satu keluarga adalah hal yang paling bocah itu hindari saat ini. Mulai timbul rasa malu di dalam hatinya.


Jelita tak sadar berbalik hingga ia kembali menatap Yonna beserta bayi yang ada dalam dekapannya. Senyum Jelita seketika luntur tergantikan dengan tatapan sinis penuh kebencian. Ia ingin berbalik pergi, namun suara Yonna menghentikan langkah kakinya.


"Ma, maafkan aku. Mungkin aku yang terlalu egois, dan aku memutuskan untuk memberikan anak ini pada seseorang yang mau mengadopsinya."


"Bagus, seharusnya kamu lakukan itu sejak awal."


"Tapi beri aku waktu, aku akan meminta Mas Bara mencarikan orang tua yang baik dan sayang padanya," pinta Yonna yang cukup membuat Jelita memicingkan mata menatapnya curiga.


"Ini bukan akal-akalan kamu saja untuk mengulur-ulur waktu kan?"


Yonna menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak Ma, aku mana berani. Aku hanya ingin memberikan anak ini orang tua yang baik saja, setidaknya bisa membuat aku tenang. Karena walau bagaimanapun anak ini sudah diamanahkan padaku."

__ADS_1


"Ok, terserah kamu saja!" Respons Jelita dingin sembari berlalu pergi.


Yonna menghela napas. Hubungan dingin seperti ini sungguh tak nyaman ia jalani. Seakan tinggal bersama kubu lawan dalam satu atap. 


__ADS_2