
Gisella menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang kecil dan sederhana. Berdiri di sebuah lahan yang sedikit kumuh dan padat penduduk. Rumah itu tampak lebih mengerikan dari terakhir kali ia melihatnya.
Rumput yang mulai memanjang, dengan cat yang mengelupas di bagian dinding. Atap genteng yang berubah warna menjadi hijau karena bersarang banyak lumut dan tumbuhan liar yang mengakar di atasnya.
Jendela yang pecah di beberapa bagian hanya di tambal dengan sepotong triplek bekas saja. Dan jangan lupakan jemuran tali tambang di sampingnya yang terdapat beberapa lembar pakaian yang bahkan cocok di sebut kain lap dari pada sebuah baju jika di lihat dari warna kainnya yang telah pudar.
Gisella menggigit ujung kuku jempolnya dengan gelisah, ada rasa enggan untuk turun. Tetapi apa yang bisa ia pilih saat ini?
Hanya tempat ini yang aman untuknya bersembunyi saat ini. Menempuh perjalanan ke luar kota selama 8 jam seorang diri, ia hanya beristirahat dua kali saat mengisi perutnya yang lapar, karena walau bagaimanapun masih ada janin yang harus ia besarkan di dalam perutnya.
Tubuhnya sangat letih, ia sudah ingin beristirahat, tetapi ia tak yakin dirinya bisa beristirahat dengan nyaman di tempat seperti itu.
"Aku tak ada pilihan lagi. Jika aku menginap di hotel, aku takut mereka akan menemukanku. Hanya rumah Gabby yang aman untukku," gumamnya seraya melepas seat belt yang melingkari tubuhnya.
Gisella membuka mobil dengan ransel yang terus melekat di punggungnya. Kakinya melangkah maju dengan mata yang tak henti memindai setiap sudut bagian rumah itu. Gisella dulu beberapa kali ke rumah itu, itu pun tak lebih karena wanita yang bernama Gabby itu terus memaksanya.
Tok! Tok! Tok!
Lama Gisella menunggu akhirnya pintu kayu yang sedikit keropos di bagian dinding bagian bawahnya tegak seakan bangga dengan kekeurangan yang ia miliki.
Pintu terbuka setelah lima menit menunggu. Menampilkan seorang wanita dengan rambut yang berantakan, ada tanda merah di beberapa titik di dadanya. Dahinya pun berkeringat seakan ia baru saja berlari jauh.
Wanita itu diperkirakan umurnya lebih tua beberapa tahun darinya, mengenakan celana pendek setengah paha dan crop top maron. Susunya yang besar seakan tumpah dari tempatnya.
Mata yang tajam dengan eyeliner tebal dan make up tebal membuat wanita itu tampak begitu menor walau terlihat cantik.
"Ada apa dan cari siapa?" tanyanya ketus. Kehadiran Gisella begitu mengganggunya. Matanya melirik Gisella dari atas hingga ke bawah dengan senyum meremehkan.
__ADS_1
"Ada Gabby?" tanyanya heran. Pasalnya ia tak mengenal wanita yang kini berdiri di hadapannya.
Dahi wanita itu berkerut dalam. "Gabby? Di sini tidak ada yang namanya Gabby. Kamu salah alamat."
"Sayang, siapa di luar. Ayolah! Aku sudah tak tahan lagi," teriak suara lelaki dari dalam terdengar begitu serak. Gisella sekarang mengerti kenapa wanita itu keluar dengan oenampilan begitu dan terlihat kesal.
"Oh, maaf jika saya mengganggu kalian. Mungkin saya memang salah ala—"
Brak!
Belum selesai Gisella berucap. Pintu kayu itu kembali tertutup dengan kencangnya. Untung saja jarak pintu dan wajahnya cukup jauh, walau suaranya yang berdentum cukup membuatnya tersentak kaget.
"Tidak ada etika!" umpat wanita hamil itu geram.
"Hey! Kamu mencari siapa?" seruan kini terdengar dari arah belakang. Spontan Gisella menoleh ke belekang dan kemudian memutar kakinya untuk menghadap ke sumber suara.
"Oh, Gabby. Ia tidak tinggal di sini. Lagi tapi ia pindah ke rumah besar yang ada di jalan Merpati."
"Pindah? Boleh aku minta alamatnya yang lengkap, Bu?" pinta Gisella. Wanita tua berdaster dengan rambut di sanggung itu pun mengangguk. Ia menyebutkan alamat lengkap, Gisella mencatatnya lengkap di ponsel lalu berpamitan setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Alamat yang di berikan wanita gendut tadi jaraknya cukup jauh dari tempat tadi. Gisella bahkan hampir saja tersesat jika saja ia tak bertanya pada seorang satpam di gedung tinggi itu. Gisella memang besar di kota itu, tapi sudah lama ia tak kembali ke kota itu yang kini sudah banyak sekali perubahan layaknya kota besar yang lainnya.
Kini ia sudah berada di gedung yang cukup tinggi dengan belasan lantai. Ia berdiri di dalam lift dengan rasa bingung yang sulit untuk ia ungkapkan. Apakah alamat yang ia dapatkan itu benar? Apakah ia tidak salah alamat dan nyasar saat ini?
~ ~ ~
"Jadi kamu datang padaku karena sekarang kamu lagi menjadi buronan atas kematian suamimu akibat ulah selingkuhanmu itu?" Nada kalimat yang keluar dari bibir Gabby terdengar tak enak di telinga.
__ADS_1
Wajah wanita cantik itu terlihat tak ramah sejak mendapati Gisella berdiri di depan pintu apartemennya. Gabby tentu bisa langsung mengenali Gisella saat bertemu dengannya.
Gabby mempersilakan Gisella untuk masuk, mereka pun bertukar cerita layaknya teman lama yang pernah akrab.
Sementara Gisella memandang takjub dengan penampilan wanita yang sedang memakai dress berwarna sage itu. Kulitnya yang dulu hitam dekil kini berubah putih mulus dan dagunya yang bulat telah berubah runcing dengan hidung yang sedikit mancung, bertolak belakang dengan penampilannya yang dulu.
Gabby seorang wanita yang bekerja di club malam. Wanita itu belum menikah, ia tinggal di sebuah rumah yang cukup besar dan elit. Gisella bahkan tak menyangka wanita yang dulu hidupnya biasa-biasa saja bisa menjalani hidup wah dalam hitungan beberapa tahun saja.
"Hebat sekali ya, saat senang hilang entah ke mana. Eh saat susah baru nongol dengan wajah yang—," Gabby tak melanjutkan kata-katanya. Ia berdecih memberi kode dengan tangannya ke arah Gisella seakan mengatakan. Menyedihkan.
"Aku tak tahu kenapa hidupku jadi serumit ini. Hanya kamu satu-satunya temanku yang dapat aku percaya, Gabby. Aku mohon biarkan aku tinggal sementara waktu di sini. Aku janji tak akan menyusahkanmu, karena aku punya uang sendiri. Bila perlu aku akan bayar sewa padamu, asal aku bisa tinggal bersamamu. Aku tak punya siapa-siapa lagi," ucap Gisella penuh harap pada sahabatnya.
"Uang sewa? Apa kamu pergi membawa uang?" tanya Gabby terlihat antusias.
Gisella mengangguk mantap. Kedua tangannya menggenggam erat ransel yang ada di dalam pangkuannya itu.
Gabby melirik ransel itu curiga. Melihat gelagat Gisella yang begitu menjaga tas ransel itu dengan erat, membuat senyum tipis terbit di bibir tipis Gabby.
"Baiklah kamu boleh tinggal di tempatku ini. Tetapi kamu tak bisa berlagak seperti nyonya muda keluarga Apsara lagi. Karena di tempat ini tak ada pelayan yang bisa kamu perintah."
"Baiklah, terima kasih, Gabby," ucap Gisella begitu senang.
Gabby tak menjawab ucapan Gisella, ia tampak sesekali mengabaikan wanita di hadapannya itu.
Sudut matanya masih melirik tas ransel yang ada di dalam pelukan Gisella seakan pandangan mata itu bisa menembus hingga bagian terdalam.
"Bawa banyak duit ia ternyata," pikir Gabby dengan seringai di sudut bibirnya.
__ADS_1