
Mobil hitam milik Bara berhenti di depan sebuah rumah besar. Tentu saja rumah keluarga Apsara. Tak terasa sudah satu bulan mereka pindah dari rumah itu dan menempati rumah mereka sendiri.
Bara sangat bahagia dengan kehidupan rumah tangganya saat ini. Noah yang begitu antusias langsung bergegas keluar mobil dan berlarian masuk ke dalam rumah. Apalagi yang bocah itu kejar, jika bukan bertemu dengan neneknya.
Setiap weekend Bara membuat sebuah jadwal di mana ia akan menghabiskan waktunya bersama keluarga dan berkunjung ke rumah orang tua. Tiga minggu belakangan ia dan Yonna berkunjung ke rumah orang tua istrinya itu dan di minggu ini baru ia ke rumah orang tuanya sendiri.
Bara menghela napas panjang sebelum melepas seat belt yang melingkar di pinggulnya. Ia serasa enggan jika pulang ke rumahnya sendiri, apalagi harus bertemu dengan adiknya yang menurutnya kurang ajar itu.
Bara melirik istrinya yang tampak ceria. Bara mendengkus samar. “Sepertinya sudah nggak sabar untuk bertemu seseorang?” sindirnya jelas. Hatinya sedang tersentil dengan pikiran negatifnya sendiri.
Yonna yang sudah membuka pintu menoleh, kemudian menggeleng pelan.
“Mulai lagi deh, kamu sekarang aneh, Mas.”
“Aneh kenapa?” sahut pria itu. Yonna kembali menutup pintunya. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya yang sedang cemberut itu. Tampak begitu lucu, ekspresi cemberutnya menjadi begitu menggemaskan.
“Sudah tua nggak usah ngambek-ngambek. Lagi pula Gavin itu masa lalu aku dan kamu adalah masa depanku,” goda Yonna. Tangannya mengusap pipi dan rahang yang kini mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.
Senyum itu pun terukir di bibirnya dengan rona merah muda di pipi. Yonna terpukau melihat suaminya yang tersipu malu.
Kebersamaan membuat Yonna banyak melihat sisi lain dari suaminya yang tak bisa orang lain ketahui selain dirinya.
“Ayo kita turun! Sampai kapan kita di sini, atau kita kembali ke rumah lalu masuk ke kamar,” celetuk lelaki itu mengalihkan pandangan karena malu.
Yonna tertawa, ia membuka pintu mobil dan turun bersama suaminya. Bara menggandeng mesra tangan istrinya, mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan kebahagian terpancar dari raut wajah keduanya.
__ADS_1
“Selamat malam, Pa.”
“Selamat malam, Ma,” sapa Bara dan Yonna secara bersamaan. Imanuel mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia duduk dijepit kedua cucu laki-laki kesayangannya.
“Selamat malam sayang. Wah … malam ini menantu Mama satu ini cantik sekali,” puji Jelita dengan senyum ramah. Bara menarik kursi untuk Yonna tepat di hadapan jelita dan diapit antara Noah dan dirinya. Kemudian ia menarik kursi untuk dirinya sendiri tepat di hadapan Gavin.
“Dari mana saja kalian? Noah sudah masuk sedari tadi, kanapa kalian baru masuk sekarang,” ketus Gavin. Wajahnya tampak begitu kesal.
“Gavin!” tegur Jelita. “Sudah, ayo makan! Nanti keburu makan jadi dingin.”
Jelita tak suka jika salah satu dari kedua putranya itu memulai pertengkaran. Gavin dan Bara memang sejak kecil tak pernah akur, seakan ada sekat tipis tak terlihat di antara mereka. Mereka berdua seakan seperti dua orang pesaing yang sedang berkompetisi ketimbang terlihat sebagai dua orang saudara kandung.
Bara hanya menanggapi sindiran Gavin dengan senyum tipis, ia dengan santai menarik piring yang ada di hadapannya.
“Sini aku ambilkan, Mas,” ucap Yonna pelan. Ia berusaha menghindari tatapan mata Gavin yang terus memperhatikannya. Bara mengangguk, membiarkan sang istri mengambil dan melayani dirinya. Bara mulai terbiasa dengan perlakuan Yonna yang mengistimewakan dirinya.
“Kalian berdua manis sekali,” puji Jelita jujur. Jelita menatap ke arah suaminya yang kini ikut memandang ke arah pasangan suami-isteri itu.
“Mama senang lihatnya. Kamu juga tampak banyak berubah Bara. Iya kan Pa?” ujar Jelita meminta pendapat pada suaminya itu.
“Ya, Papa setuju dengan ucapan Mamamu. Kamu tampak lebih gemuk dan ceria sekarang.”
Gavin semakin tak suka mendengar ucapan itu. Gavin sudah tak ingat lagi kapan ia merasakan perlakuan manis yang dulu Yonna berikan padanya. Dulu ia selalu risih saat wanita itu melayani dengan mengambilkan makanan untuknya, namun sekarang ia justru merindukan semua sikap itu.
“Ada Apa Gavin. Kenapa makananmu tidak kamu sentuh? Apa rasanya tidak enak?” tanya Jelita heran. Ia selalu bersikap adil untuk kedua putranya, semua masakan yang terhidang di atas meja adalah perpaduan selera antara suami dan anak-anaknya.
__ADS_1
Gavin menoleh. “Nggak ada apa-apa, Ma. Lagi sariawan saja,” jawabnya berbohong. Bara menarik sudut bibirnya sekilas. Lalu sudut matanya menatap ke arah sang istri yang pura-pura tak melihat.
Bara tak menyukai situasi saat ini. Ia tak menyukai saat Gavin terus menatap istrinya dengan pandangan mendamba. Hatinya panas dan terbakar, suami mana yang tidak cemburu jika istrinya sedang dirindukan oleh lelaki lain tepat di hadapan matanya.
“Di mana, istrimu Gavin? Kenapa ia tidak ikut makan dengan kita?” ucap Bara mulai membuka suara.
“Iya, Mama juga heran tidak melihat Gisella dari sore tadi. Biasanya jika ia pergi, ia akan pamit pada Mama atau mungkin ia ada urusan yang penting,” timpal Jelita.
“Urusan penting apa yang bisa ia lakukan. Paling juga shoping dan menghambur-hamburkan uang saja,” celetuk Gavin merendahkan istrinya.
Bibir Yonna berkedut. Seorang suami adalah tameng pelindung bagi istrinya, sebesar apa pun salah seorang istri, seharusnya suami melindunginya dari pemikiran negatif orang lain yang dapat memicu merendahkannya. Tetapi apa yang dilakukan seorang Gavin, ia justru yang lebih dulu menghina dan merendahkan istrinya di depan orang lain.
“Bukannya itu pilihanmu. Mama sudah memberikanmu istri yang baik dan pintar mengurus dirimu, tetapi kamu malah memilih wanita yang pandai memamerkan lekuk tubuh saja.”
“Ma! Jangan mulai lagi,” tegur Imanuel, ia melihat wajah Bryan yang tampak mendung. Walau kecil bocah itu mulai mengerti, tak sepantasnya membicarakan keburukan orang tua di depan anaknya.
“Mungkin mereka tidak jodoh,” balas Bara menanggapi.
Gavin menyeringai. “Masih belum pasti, bagaimana jika aku bisa kembali padanya? Aku baru sadar jika aku mencintainya, dan aku merasa bodoh baru menyadarinya sekarang. Aku juga yakin ia masih menyimpan rasa padaku. Iya kan kakak Ipar?”
Yonna tersedak dengan makanan yang ia makan. Entah apa maksud dari pria yang ada di hadapannya itu menembak pertanyaan seperti itu padanya. Untuk sejenak tatapan mata mereka bertemu, Yonna hanya terpaku mendapati binar memuja di manik hitam Gavin. Tetapi semuanya terasa hambar di hatinya.
Bara yang melihat adik dan istrinya yang saling bertatapan, sontak mengalihkan wajah istrinya ke padanya.
“Sayang, kalau makan itu pelan-pelan. Nggak ada yang akan merebutnya darimu. Sekarang minum dulu, ya!” Bara menyodorkan segelas air putih pada istrinya. Wajahnya yang berubah dingin dengan tatapan yang tajam membuat Yonna menelan ludah.
__ADS_1
Tangannya meraih gelas yang diberikan suaminya, meminumnya perlahan seraya menunduk.
Tatapan mata Bara kini beralih menghujam ke arah Gavin, sementara lekaki itu justru tersenyum simpul mendapati kecemburuan kakak lelakinya itu. Keinginan untuk mengambil apa yang pernah menjadi miliknya itu kini kembali tertantang.