Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 66. Cinta tak harus sempurna.


__ADS_3

Jika kemarahan adalah nyala apa yang meledak, maka kelembutan adalah hujan yang memadamkan.


Kasih sayang adalah pembatas untuk segala tindakan yang menyakitkan. Selama hati menyayangi seseorang, maka tindakan tak akan pernah melukai perasaan orang yang disayangi tersebut.


"Apa yang sedang kamu lihat, Sayang?" Bara mendekati Yonna yang sedang duduk diam di samping jendela kaca. Lelaki itu mencium puncak kepala istrinya dengan sayang.


Cahaya matahari pagi masuk melalui cerah jendela lantai dua itu. Menerpa wajah cantik tanpa polesan make up yang kemudian tersenyum tipis sebagai sambutan pada sang suami yang baru saja datang.


Yonna tak menjawab, namun pandangan matanya kembali pada objek yang sedari tadi ia perhatikan dengan begitu intens.


Bara mengikuti pandangan mata istrinya. Ia pun ikut tersenyum seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran sang istri sekarang.


Dua orang anak kecil, perempuan kecil sekitar umur 5 tahun sedangkan laki-laki berumur delapan atau sepuluh tahun.


Kedua bocah itu saling bekerja sama untuk mengambil jambu yang sedang tumbuh di halaman rumah sakit itu. Sesekali bocah perempuan berteriak dan mengarahkan sang kakak ke arah jambu yang lebih besar dan merah.


"Cantik ya," ucap Yonna tanpa sadar.


"Tentu, apalagi jika ia mirip denganmu." Suara Bara terdengar begitu lembut. Menggetarkan hati wanita yang masih mengenakan pakaian pasien rumah sakit itu. Pipi Yonna menghangat dengan semburat merah secerah mentari pagi yang berkilau indah.


Yonna menatap Bara bertepatan dengan Bara yang beralih menatapnya.


"Bagaimana jika mirip denganmu lagi?" ucap Yonna lirih. Mengingat betapa miripnya Noah dengan lelaki yang ada di sampingnya saat ini.


"Itu artinya kamu sangat mencintaiku, Sayang. Dan aku sangat tersanjung akan hal itu," balas Bara kemudiaan mendaratkan kecupan lembut di kening istrinya. Hati Yonna semakin menghangat. Ia memejamkan mata sejenak menikmati kasih sayang yang tak pernah ia bayangkan bisa ia dapatkan dari seorang lelaki bergelar suami.

__ADS_1


"Tetapi itu tidak adil, aku yang mengandungnya selama sembilan bulan. Tetapi semuanya justru mirip denganmu!"


Derai tawa Bara mulai terdengar begitu renyah. Ia merangkul tubuh Yonna dari belakang, membungkukkan punggungnya dan menyusupkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Mereka kembali menatap dua bocah itu yang kini tertawa riang dengan setumpuk jambu di dalam baju masing-masing yang di jadikan wadah.


"Ok, kalau begitu gayanya sedikit diubah-ubah agar cetakannya mirip denganmu, humm!"


Blusht!


Wajah Yonna semakin memerah mendengar bisikan Bara di telinganya, bahkan pria itu mengecup lehernya yang hampir saja meninggalkan bercak kemerahan walau hanya setitik tinta.


"Kita masih di rumah sakit!" tegur Yonna sembari menepuk pelan pipi suaminya. Bara kembali tertawa. Lelaki itu merasakan kegembiraan yang membuatnya seakan mampu mengarungi hidup di dunia ini untuk 100 tahun lagi.


Jika di rumah sakit ada sepasang suami-istri yang sedang menikmati kebahagian layaknya bunga yang bermekaran di musim semi. Sementara di kediaman keluarga Apsara ada sepasang suami-istri yang sedang berdebat sengit di pagi yang cerah itu.


Wanita yang memakai blouse orange dan celana kain putih itu sedari tadi inging mengomel sejak suaminya muncul dari balik pintu depan. Tetapi ia tahan karena ada kedua mertuanya yang sedang menikmati sarapan pagi di meja makan.


"Kamu ini cerewet banget! Suami pulang bukannya dilayani malah ngomel panjang seperti kereta api!" Marah Gavin. Ia membuka kancing bajunya dan melepaskannya lalu melemparnya ke dalam keranjang pakaian yang ada di depan kamar mandi.


Mata Gisella memanas melihat bercak merah yang tertinggal di dada suaminya yang tanpa disadari oleh lelaki itu.


"Kamu sama siapa semalam, Mas?" Gisella mendorong dada bidang Gavin. Menatap mata lelaki itu penuh amarah. Hatinya sakit tertusuk panah berkali-kali.


Sekelebat pikiran buruk telah muncul di dalam benaknya, ia bukan anak kecil yang tak mengerti akan tanda itu. Dan tanda itu bukan miliknya karena hampir satu bulan ini lelaki itu tidak pernah menyentuhnya kembali.


"Ya kerjalah! Apalagi," dengkus Gavin yang tak suka diintrogasi layaknya pencuri yang tertangkap maling di rumah tetangga.

__ADS_1


"Kerja? Kerja mengejar kenikmatan di atas tubuh wanita, maksudmu Mas!" balas Gisella tak kalah menyentaknya. Ia menunjuk bekas merah yang masih membekas jelas di dada bagian atas sebelah kiri lelaki itu.


Sontak Gavin terkejut. "Sial, sudah dibilang jangan meninggalkan jejak. Masih saja tak mengindahkan peringatanku. Dasar bi-cth!" rutuk Gavin di dalam hati terhadap seseorang yang semalam ia bayar untuk memuaskannya.


"I-ini ... ah, sudahlah! Nggak usah dibahas lagi. Lagi pula aku itu lelaki, selagi aku tidak membawa wanita itu ke dalam rumah ini. Kamu tak perlu khawatir, mereka hanya selinganku!" jawab Gavin begitu santainya. Gisella meremas baju di bagian dadanya.


Enak sekali lelaki itu mengatakan kalimat itu dengan nada begitu entengnya. Tap bisakah ia menghargai wanita itu sebagai istrinya sedikit saja.


"Selingan? Lalu aku kamu anggap apa, huh! Boneka pajanganmu yang bebas kamu letak dan kamu perintah untuk tersenyum tanpa memikirkan perasaanku sakit atau tidaknya!"


Gisella tak peduli lagi jika pertengkaran mereka pagi ini, akan membuat seluruh penghuni rumah ini terkejut dengan suaranya yang menggelegar. Ia sudah tak tahan lagi dengan sikap suaminya yang semakin hari semakin menyakiti hatinya. Ia juga tetap wanita yang membutuhkan perhatiaan dan kasih sayang dari suaminya itu.


Gavin menghujamkan tatapannya pada binar manik mata hitam yang kini telah berlinang air mata. Tak ada rasa kasihan di hati lelaki itu hanya ada rasa kesal karena wanita itu kian ikut campur segala urusan pribadinya.


Gavin mengangkat tangannya, meraih dagu Gisella dan mencengkramnya erat hingga bibir wanita itu menjadi monyong ke depan. Gisella meringis dengan rasa sakit yang mendera pipinya.


"Jangan sok mengatur hidupku jika kamu tidak bisa menjadi istri idaman seperti yang aku mau. Yang kamu butuhkan dariku hanya uang kan? Jadi nikmati saja uang yang aku berikan lalu patuhlah. Bukankah dulu kamu yang mengatakan padaku jika kamu bahkan bisa lebih hebat dari Alice jika kamu menjadi istriku. Sekarang apa buktinya? Bahkan seujung kuku pun kamu tak bisa di bandingkan darinya!"


"Jadi kamu menyesal telah menikah denganku, Mas? Bukannya kamu sendiri yang tidak tertarik dengan mantan istrimu itu. Bahkan selama pernikahan kalian, kamu justru mengabaikannya. Kenapa sekarang kamu justru membandingkan aku dengannya! Sekarang aku istrimu, bukan Alice ataupun Yonna itu. Dam aku tak terima kamu duakan seperti ini!" berang Gisella yang sudah dilingkupi dengan emosi.


"Lalu apa maumu sekarang? Bercerai dariku?" tantang Gavin yang kini di atas angin. Ia tak peduli apa yang diinginkan wanita itu selanjutnya. Toh ... Gisella tak akan pernah bisa lepas darinya. Perempuan itu membutuhkan uangnya untuk hidup dan memenuhi keinginannya menjadi nyonya keluarga kaya. Jadi tak akan mungkin Gisella meninggalkannya. Pikir Gavin.


Gavin menatap sinis Gisella yang terdiam dengan kedua tangan yang terkepal di bagian sisi tubuhnya. Bara api di dalam dada semakin meningkat suhunya, panas dan mengeras seperti bom waktu yang menunggu detik-detiknya untuk meledak dan menghancurkan.


Tanpa lelaki itu sadari. Wanita adalah mahkluk yang paling berbahaya ketika logikanya sudah bekerja. Ia mampu mengcopy paste dengan cepat dan menjadi fotokopian yang jauh lebih sempurna daripada aslinya.

__ADS_1


__ADS_2