
“Mama tidak memojokkan kamu, Mama hanya memberitahukan kamu bagaimana caranya agar menjadi istri yang baik. Selama kamu menikah apa pernah kamu melakukan apa yang Yonna lakukan pada suaminya. Lihat saja anak kesayanganmu itu. Masih kecil saja jam segini belum bangun, bagaimana kamu mendidiknya? Hingga hidupnya dari kecil saja sudah tidak teratur!” marah Jelita.
Kini justru wanita tua itu yang mengutarakan uneg-uneg yang ada di hatinya. Ia sudah berusaha mengajarkan Bryan agar terbiasa bangun pagi, tetapi bocah itu sangat sulit di atur. Hasilnya tak jarang bocah itu bolos masuk TK. Jelita sangat tidak suka cara didik Gisella pada cucunya itu.
Saat sedang marah seseorang terkadang lupa apa yang dikatakannya itu terasa pedih di hati, walau itu tentang kebaikan sekalipun jika dibalut dengan amarah akan terasa begitu menyakitkan. Hanya sebagian orang yang bisa menyadari ketulusan dari sebuah teguran, bagi yang tidak menyadarinya, ucapan itu hanya akan menjadi api dalam sekam yang membakar perlahan dan menimbulkan luka yang melepuh hingga dendam.
“Oh, jadi sekarang Mama sedang memuji-muji menantu baru Mama ini, ya!” Gisella menatap Ibu mertua yang ada di sampingnya itu dengan tajam lalu beralih pada Yonna yang sedari tadi hanya duduk diam.
“Bukan memuji, terapi coba kamu mengubah sedikit sikap cuekmu terhadap anak dan suamimu itu. Tugas kamu sebagai orang tua mengurus anakmu bukannya bibik!”
“Aku sudah berusaha mengurusnya dengan baik. Jika Bryan seperti itu, mungkin itu berasal dari gen Papanya yang pemalas!” balas Gisella tak terima. Dengan kasarnya melempar kesalahan pada keluarga Gavin.
Tentu saja mata Jelita melotot sama tak terimanya, semua lelaki di dalam keluarganya adalah lelaki hebat. Pembisnis handal dan pengacara ternama. Masa kecil mereka pun tak ada yang seperti Bryan, nakal dan malas bangun pagi serta mandi. Perdebatan di antara kedua wanita itu pun semakin menegang.
Diantara semua orang di meja makan itu, hanya Bara yang masih terlihat santai melanjutkan makannya. Sementara Gavin masih menghujamkan tatapan pada mantan istrinya itu. Menyampaikan kekecewaan hatinya karena Yonna memilih Bara melalui binar matanya.
Yonna mencubit paha suaminya pelan. Ia tak habis pikir bagaimana suaminya seakan tak perduli dengan kekacauan yang terjadi. Bara sedikit kaget dengan cubitan pelan istrinya, pura-pura tak mengerti, lelaki itu bahkan dengan santainya menyuapkan sendok yang berisi makanan yang ada di tangannya pada Yonna.
“Ini Enak, cobain deh. Aaaa …,”
__ADS_1
Brak!
Gavin menggebrak meja hingga menimbulkan suara yang cukup kencang. Suara hentakan tangannya yang kuat menghentikan perdebatan Jelita dan Gisella serta membuat Bara yang hendak menyuapi istrinya pun juga ikut terdiam sembari menaikkan satu alisnya. Yonna sampai terlonjak saking terkejutnya.
Dada Gavin naik-turun menderu, ia seakan melihat dua film di sampingnya saat ini. Drama perdebatan menantu dan mertua serta drama romansa Bara dan mantan istri di hadapannya membuatnya darahnya semakin menggelegak.
“Sudah cukup Gavin! Lebih baik kamu duduk di tempatmu! Sebenarnya apa yang menjadi masalah bagimu? Jika kamu menginginkan perhatian penuh maka pintalah pada istrimu itu! Papa menilai kamu gagal menjadi seorang suami. Bagaimana seorang istri itu tergantung bagaimana suami mendidiknya. Jiki istrimu saat ini seperti ini, maka salahkan saja dirimu. Bukankah dulu kamu yang memilihnya dan meninggalkan gadis baik yang telah kami pilihkan untukmu!” ucap Immanuel tegas.
“Dan kamu!” Kini Immanuel beralih menunjuk Gisella. “Kamu sebagai seorang istri dan seorang Ibu tak pernah ada waktu untuk keluarga. Belajar bagaimana menjadi ibu dan istri yang baik. Keadaan Bryan saat ini bukan karena gen dari pihak kami, tapi karena kamu yang tak bisa mendidiknya. Anak aka meniru orang-orang yang ada di dekatnya. Dan orang memiliki andil besar atas apa yang mereka tiru adalah ibunya. Tugasmu sebagai seorang Ibu bukan hanya melahirkan tetapi juga membesarkan dan mendidiknya!” marah Immanuel panjang lebar.
Immanuel yang mulai merasakan pusing di kepalanya memutuskan untuk berdiri seraya memegang kepalanya lalu beranjak pergi. Semakin tua membuat kinerja jantungnya tak sehebat dulu. Satu kali hentakan saja sudah membuat dadanya sesak. Ia tak mampu lagi menjadi wasit dalam pertengkaran keluarga besarnya.
“Kamu dengar apa yang Papamu katakan Gavin. Didik istrimu itu dengan baik, biar bisa menjadi istri idaman yang mampu menyenangkan hati dan perutmu!” ujar Jelita kembali menatap pada anak menantunya, matanya menyiratkan amarah dan kecewa. Lalu bangkit dan ikut pergi menyusul suaminya.
Gavin terdiam dengan kedua tangan yang terkepal. Kali ini kedua orang tuanya memojokkan dirinya, mengungkit kebodohannya di masa lalu. Menjatuhkan martabatnya sebagai seorang lelaki.
“Kalian berdua sengaja, kan. Dan sekarang kalian puas!” ujar Gavin geram sebelum ia berdiri dari kursinya sambil pergi begitu saja.
“Mas, tunggu! Mas!” Gisella juga ikut berdiri dan mengejar suaminya hingga ke garasi. Tangannya dengan cepat menahan pintu mobil suaminya agar tidak terbuka.
__ADS_1
“Apalagi? Apa kamu tidak lihat aku mau berangkat kerja!”
Gisella tersenyum masam, ia tak suka melihat suaminya mulai sering berbicara ketus seperti itu padanya. Walau bagaimanapun ia juga seorang wanita yang sangat suka dibelai dan di manja.
“Mas Kamu lihat sendirikan tadi, Mama kamu memojokkan aku terus. Baik dalam rumah tangga dan mengasuh anak. Dan kamu juga tak sedikit pun membela aku!”
“Apa yang harus aku bela? Apa yang Mama katakan itu benar, kamu memang gak becus mendidik anakmu itu. Kamu juga tak bisa mnegurus suamimu dengan baik! Sebaiknya kamu banyak belajar jangan cuma pintar menghabiskan uang saja!”
“Aku bisa kok melakukan semua itu, selama ini aku bukannya tak bisa. Mamamu itu selalu mengaturku untuk ini dan itu, seandainya kita punya rumah sendiri. Pasti aku bisa menjadi istri dan Ibu yang baik!” ucap Gisella mengutarakan keinginanya. Ia ingin bebas dari pondok mertua yang selalu mengekangnya.
Bukankah sudah sewajarnya jika pasangan yang sudah menikah memiliki hunian mereka sendiri. Hanya ada ia sebagai ratu pengusaha di rumahnya itu. Pikir Gisella.
“Jadi maksudmu kita pindah rumah?”
“Iya, dengan begitu mungkin rumah tangga kita bisa semakin membaik. Kamu mau kan Mas?” Gisella memegang tangan suaminya itu. Ia menatap suaminya dengan bola matanya yang berbinar penuh harap.
Gavin terdiam sebentar sebelum akhirnya memberikan jawaban.
“Baiklah, kita akan pindah rumah, aku akan membelikan rumah yang cukup untuk kita bertiga,” jawab Gavin setuju yang membuat Gisella senang.
“Terima kasih ya, Mas!” Gisella menghambur dalam pelukan suaminya yang sedikit pun tak merespon.
Dalam pikiran Gavin saat ini bukanlah bagaimana memperbaiki rumah tangganya yang hampir berantakan itu. Ia menyetujui keinginan Gisella justru demi kepentingannya sendiri. Mungkin dengan pindah rumah ia bisa sedikit melupakan wanita yang sekarang sulit untuk ia dapat.
__ADS_1
Melihat Yonna yang bermesraan dengan Bara membuat hatinya sakit, ia terbakar cemburu. Baru kali ini ia merasa menyesal telah menceraikan wanita itu begitu saja dan kini merebut wanita itu adalah hal yang mustahil baginya.
Gavin berpikir, andai waktu itu ia lebih perhatian pada Alice dan memaksa wanita itu untuk menurunkan berat badannya hingga wanita itu secantik saat ini. Maka hidupnya pasti akan sangat beruntung. Istri cantik yang memanjakan matanya, keahlian memasak yang memanjakan perutnya serta tubuh yang seksi untuk memanjakan adik kecilnya. Paket komplit yang susah untuk ia dapatkan.