
Yonna membuka matanya perlahan. Aroma obat-obatan bercampur antiseptik tercium di hidungnya membuat kepalanya yang pusing tambah berdenyut nyeri.
"Alice." Suara itu terdengar lirih di telinganya. Ada getar yang Yonna tangkap dari suara lelaki yang begitu ia hapal di dalam kepalanya.
Sontak Yonna menoleh, ia mendapati binar bahagia yang terpancar dari raut wajah suaminya ketika melihat ia tersadar. Lelaki yang duduk di sampingnya itu terus menatapnya seakan tak ingin berpaling.
"Kenapa aku ada di rumah sakit, Mas?" tanya Yonna bingung. Ia menatap tangan kirinya yang kini terpasang jarum kecil serta selang yang menghubungkan ke tabung cairan bening yang tergantung pada tiang besi kecil.
"Jangan banyak bergerak dulu!" Bara menahan tubuh istrinya agar kembali berbaring di tempat tidur.
Bara memberikan ciu-man yang panjang dan lama di kening Yonna. Semakin membuat wanita itu bingung. Memang menjadi kebiasaan suaminya suka sekali menikmati setiap inchi wajah dan tubuhnya. Namun kali ini terasa berbeda, lelaki itu tampak begitu ceria tetapi tetap menyisakan gurat khawatiran pada wajah tegasnya.
"Mulai hari ini sebaiknya kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu ya, Sayang. Aku tahu kamu masih sedih dengan kehilangan Arabella. Aku janji akan mencari keberadaan gadis kecil itu. Tetapi untuk saat ini, tolong dengarkan ucapanku."
wajah Yonna seketika kembali menjadi murung, ia tak tahu kenapa dirinya begitu menyayangi bayi mungil yang tak ada hubungan darah dengannya itu. Tetapi bukankah cinta tak memerlukan sebuah alasan untuk hadir di hati. Yonna memaksa untuk duduk dan bersandar pada sandaran ranjang kemudian meraih tangan suaminya.
"Aku mohon padamu Mas, temukan Arabella untukku. tak masalah jika ia tak bersamaku, setidaknya dengan melihat ia hidup bahagia dengan orang tua yang benar-benar menyayanginya saja sudah cukup membuat hatiku tenang," mohon Yonna penuh harap. Rasa khawatir itu terus mengganjal di dadanya.
Bara paham akan perasaan istrinya saat ini, ia tak bisa menyalahkan Yonna sepenuhnya akan maslaah ini, termasuk dengan Jelita. Kedua wanita itu sama-sama larut dengan perasaannya masing-masing. benci dan cinta yang bertolak belakang.
Bara mengusap surai hitam Yonna dengan lembut. "Kamu jangan khawatir Sayang. Mas sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari keberadaannya. Sekarang kamu cukup fokus pada kondisimu saat saja dulu!"
"Memangnya ada apa denganku, Mas? Apa aku sakit parah? Memang beberapa hari ini aku kerap merasa pusing dan tak bertenaga."
"Itu wajar untuk wanita yang sedang mengandung."
Yonna tersentak dan langsung terbangun, ia menatap mata suaminya yang terasa begitu meneduhkan hati.
"Hamil? Aku hamil lagi, Mas? Benarkah?" Yonna yang seakan tak percaya mencecar suaminya dengan beberapa pertanyaan.
__ADS_1
"Hmm, karena itu kamu harus jaga kandunganmu baik-baik. Sudah lama kita menantikan kembali kehadiran mahluk kecil di dalam perutmu itu. Maaf jika mulai hari ini aku mungkin akan membatasi kamu untuk pergi kemanapun," ucap Bara mulai menunjukkan sikap overprotektifnya.
Dirinya sudah pernah kehilangan masa tumbuh kembang anaknya di dalam kandungan, untuk kali ini ... Bara ingin merasakan melihat perut datar Yonna membesar hingga anaknya menendang-nendang dalam kandungan. Ia bahkan sudah tak sabar menantikan hal itu.
Matanya terus memperhatikan perut Yonna yang masih begitu datar dengan matanya yang berbinar.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, Mas? Apa ada yang salah denganku?" tanya Yonna heran.
Bara masih menatap istrinya dalam, senyum tipis terukir di bibirnya. Bara semakin mendekatkan dirinya, mengikis jarak di antara mereka. Sebentar saja bibirnya kini sudah mendarat pada bibir Yonna, memberikan kecupan lembut nan hangat yang kemudian berubah menjadi lu-matan yang penuh dengan ga-irah. Mereka berdua seakan lupa di mana mereka berada hingga sebuah suara mengejutkan mereka berdua.
"Khmm ... khmmm, maaf jika saya mengagetkan kalian berdua. Tetapi saya datang mau memberikan obat untuk pasien minum di rumah nantinya," ucap perawat itu dengan canggung. ia juga tak enak hati telah menjadi lalat yang menjeda kegiatan sepasang suami-istri tersebut.
"Terima kasih, Sus." Bara mendekat kemudian langsung mengambil bungkusan yang diberikan perawat tersebut. Sementara Yonna mengalihkan wajahnya tak berani menatap, rasa malu memenuhi hatinya hingga ia ingin membenamkan wajahnya saat ini ke dalam sebuah lobang dan menutupnya hingga rapat.
~ ~ ~
"Alhamdulillah ... alhamdulillah," ucapan syukur terus didengungkan oleh Jelita setelah mendengar kabar yang begitu menggembirakan untuknya.
"Akhirnya Tuhan mengabulkan doa kita semua, tak lama lagi rumah ini akan ramai dengan tangis bayi."
Jelita begitu riang hingga tak sadar jika tingkahnya saat ini sudah seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru yang sangat ia idamkan.
"Ma, ayo kita keluar! Biarkan mereka istirahat dulu. Mungkin saja Alice masih pusing dan ingin berbaring," tegur Imanuel membuka suaranya.
Immanuel menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang begitu bersemangat.
"Ya, Papa benar. Kamu istirahat saja, Mama akan masakkan makanan yang sehat untukmu." Jelita mengikuti langkah kaki suaminya untuk keluar dari kamar anak-menantunya itu lalu beralih ke arah dapur.
"Mommy, are you ok?" ucap Noah dari balik pintu yang hanya terlihat kepalanya saja.
__ADS_1
Sejak tadi kedua bocah itu hanya berdiri di luar dan mengintip dengan rasa ingin tahu yang dalam.
Yonna tersenyum tipis. Ia melebarkan kedua tangannya sebagai kode agar putranya datang padanya.
Noah menghambur di pelukan Yonna yang di ikuti Bryan dari belakang. Berbeda dengan Noah, Bryan hanya tegak berdiri di samping Bara.
"Mommy, Bibi bilang kamu sakit. Mommy sakit apa? Mommy tidak akan meninggalkan aku kan?" ucap bocah itu lagi dengan mimik sedih. Pelukannya semakin mengerat ditubuh Yonna, wajah kecil itu pun ia benamkan di dada hingga ia bisa mendengarkan detak jantung wanita yang melahirkannya itu berirama tenang.
"Mommy tidak sakit keras Sayang. Mommy sakit biasa saja. Sakit yang dulu pernah Mommy rasakan saat ada kamu di tubuh Mommy," jelas Yonna lembut. Kening Bryan mengernyit dalam.
Sementara Noah langsung mengurai pelukannya seraya menegakkan kepalanya menatap sang Mama seakan menuntut penjelasan yabg lebih lanjut atas kalimat yang masih belum bisa ia cerna.
"Kamu bakal punya adik, ia masih ada di sini!" Yonna mengusap perut datarnya dengan lembut yang diikuti dengan tatapan mata Noah.
"Adik lagi? Lalu Arabella di mana?"
Degh!
Senyum di bibir Yonna seketika meredup. Ia kembali mengingat nama itu yang membuat rasa bahagia yang ia miliki berbalut rasa sedih atas kehilangan.
"Sudah lama aku tidak melihat Arabella, dan Grandma tak pernah mau menjawab saat aku bertanya tentang adik kecilku itu?"
Bara mendekat ia duduk di pinggir ranjang. Ia mengusap kepala putranya dengan lembut. Putra kecilnya itu selalu memiliki segudang pertanyaan yang selalu ingin ia lontarkan.
"Arabella sudah tidak tinggal di sini lagi, ia sudah memiliki keluarga baru yang begitu lengkap. Dan tentunya begitu menyayanginya."
"Benarkah? Berarti Arabella kini sudah punya Papa dan Mama?" tanya Noah kembali dengan penuh semangat. Beberapa hari bersama bayi itu sudah membuatnya juga menyayangi bayi perempuan itu seperti adiknya sendiri.
Jika Noah sedang berceloteh manja dengan kedua orang tuanya dengan penuh semangat. Berbeda dengan seorang bocah lagi yang masih berdiri diam terpaku di tempat dengan wajah yang datar. Namun pandangan matanya yang tajam menyiratkan kekecewaan yang dalam.
__ADS_1
Ada ruang kosong di hatinya yang kian menyiksa perasaannya. Tangan bocah itu tergenggam erat. Tak ada satu pun yang ingin bertanya tentang dirinya, apa yang ia inginkan dan apa yang sedang ia rasakan.