Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 107. Extra part.


__ADS_3

20 tahun kemudian.


Yonna menggigit bibir bawahnya erat saat ada sesuatu yang mendesaknya begitu kuat dari bawah. Peluh membasahi seluruh tubuh yang masih ramping walau kulitnya sudah mulai mengeriput karena dimakan usia.


Sekuat tenaga ia menahan, namun de-sa-han itu pun akhirnya lolos dengan sempurna juga dari bibirnya yang dilu-mat rakus oleh suaminya.


Suami yang usianya sudah menginjak 64 tahun tetapi tubuhnya masih sehat dan bugar serta tampan, sementara seluruh rambutnya sudah memutih.


Lelaki itu seakan jatuh cinta berulang kali pada satu orang wanita, yaitu wanita yang tengah menggeliat di bawahnya.


"Errrghhh ... Mas," Suara manja itu terdengar begitu menggoda di telinganya dan selalu menghadirkan getaran yang sama di dadanya serta kenikmatan hingga pelepasan yang membuat pasangan tua itu melayang sejenak hingga suara ketukan pintu membuat mereka terkesiap.


Tok! Tok! Tok!


Yonna dan Bara saling menatap sebelum akhirnya tatapan mata itu beralih pada pintu yang untungnya sidah mereka kunci rapat.


Bara terkekeh lalu mencium pipi istrinya kemudian beranjak dari atas tubuh polos Yonna.


"Bukalah, tapi jangan lupa pakai dulu pakaianmu!" ucap Bara santai sambil melangkah ke kamar madi tanpa sehelai benang pun menutupi. Tak lupa ia mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai.


Yonna langsung mengambil pakaiannya yang teronggok di sudut ranjang kemudian memakainya dengan cepat.


"Mommy! Yuhu ...Mommy apakah kamu masih tidur? Mommy buka pintunya!" Suara gadis dari seberang pintu terdengar begitu melengking.


"Iya sebentar Sayang!" sahut Yonna. 


"Ada apa sayang?" tanya Yonna setelah mendapati wajah cemberut gadis yang beberapa bulan lagi akan merayakan ulang tahun ke 20 tahun. Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan tak sabar. 


"Mommy kenapa belum siap? Katanya pagi ini akan menjemput Mas Noah dari bandara. Ayo cepat! Aku tak ingin terlambat. Aku sudah kangen banget sama Kakak laki-laki tampanku satu itu. Aku akan pamerkan pada teman-temanku kalau aku juga punya satu lagi kakak laki-laki yang tampannya mengalahkan boy band," ceracau gadis cantik Yonna.


Yonna tersenyum melihat punggung gadis cantik yang ia beri nama Liliana. Secantik bunga lili putih yang anggun sebagai simbol cinta dan kemurnian serta pengabdian.


Yonna tertawa sendiri mengingat celoteh gadis itu yang begitu mengidolakan kedua kakak lelakinya. Di mata Lili tak ada yang bisa menandingi ketampanan Bryan dan Noah.


Suara tawa yang keluar dari bibir Yonna membuat Bara yang baru keluar kamar mandi menatap heran.


"Ada apa?" tanya Bara penuh minat apa yang membuat istrinya terlihat sebahagia itu.

__ADS_1


"Anak gadismu itu."


Yonna melenggang ke kamar mandi melewati Bara. Ia kembali tertawa mengingat bagaimana gadis itu tahu betul memperdaya ketampanan kakak laki-lakinya.


Lili kerap mempermudah segala urusannya di kampus dengan iming-iming bisa bertemu dengan kakaknya jika teman-temannya itu amu membantu tugas kuliahnya.


Siang ini mereka sekeluarga berniat menjemput Noah dari bandara. Pemuda itu baru saja pulang dari Jerman. Negara yang dulu menjadi tempat persembunyian Yonna selama lima tahun membawa bocah lelaki yang kini telah menjelma menjadi lelaki tampan.


"Mommy." Pemuda tampan dan berkulit putih itu memeluk tubuh wanita yang melahirkannya itu dengan senang. Begitu pun Yonna yang begitu bahagia akan kepulangan putranya.


"Apa kabarmu, Nak?" tanya Yonna.


"Sehat tanpa ada yang kurang kan," sahut Noah. Ia beralih memeluk Bara yang sedari tadi tersenyum padanya.


Kedua lelaki beda generasi itu berpelukan erat. Wajah Noah kini semakin mirip dengan Bara di kala muda, hanya saja rambutnya yang hitam kini telah berubah menjadi hitam kebiruan.


Setelah memeluk Bara, Noah kini beralih pada saudara sepupu yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri.


"Hello my brother. Do you miss me?"


"Tentu saja, aku rindu seseorang yang bisa membantu untuk menyelesaikan masalahku," goda Bryan. Mereka berdua berpelukan erat.


Sontak kedua pemuda itu menoleh. Noah tertawa melihat wajah cantik satu-satunya adik perempuannya itu kini tengah cemberut padanya.


Gadis dengan surai panjang itu mewarisi wajah cantik Yonna yang dibingkai rahang tegas milik Bara. Serta hidung dan mata mirip dengan Papanya. Hingga tak ada lagi yang tersisa untuk Yonna.


"Tentu saja aku merindukanmu, my little girls," balas Noah cepat sebelum akhirnya tangis pecah gadis itu membuat telinga berdengung.


"Kalau begitu, mana hadiah untukku?"


"Jangan khawatir, Kakak lelakimu ini sudah membeli semua hal yang indah untukmu dan pastinya sangat di sukai oleh wanita di Jerman."


"Benarkah?" tanya Lili memastikan. Mata itu berbinar terang.


Yonna merangkul pinggang Bara, mereka berdua begitu bahagia melihat ketiga anaknya akur satu sama lain dan saling menyayangi. Apalagi yang lebih beharga daripada semua ini.


"Lili, Bryan, Noah! Ayo kita pulang. Kita lanjutkan lagi ceritanya di rumah. Grandma pasti sudah tak sabar menunggu kita pulang. Ayo!"

__ADS_1


Semuanya yang ada pun mengikuti apa yang dikatakan Yonna. Mereka pulang ke rumah besar itu. Rumah yang telah mereka tempati selama puluhan tahun, susah senang membangun keluarga kecil mereka di sana.


Sepanjang perjalanan menuju mobil yang terparkir di halaman. Noah berjalan bersebelahan dengan Bryan.


"Katakan padaku, apa Cecilia masih mengejarmu? Dari terakhir email yang ia kirimkan padaku, katanya ia ingin melamarmu namun kamu tolak. Apa iya?" tanya Noah dengan mata yang memicing.


Bryan menghela napas. Ia menjawab hanya dengan kedua bahu yang terangkat. Tampaknya lelaki itu enggan menjawabnya.


"Kamu tak berubah dari dulu," cibir Noah.


"Dan kamu juga tak berubah, masih pemuda yang ceroboh dan asal sepertimu!" ucap Bryan membalas cibiran Noah.


"Lalu siapa yang mampu menggoyahkan hati batumu itu? Jangan bilang jika sampai saat ini kamu masih tetap setia sendiri?"


"Tentu saja tidak. Aku sudah memiliki seseorang yang mengerti akan diriku dan membuatku nyaman setiap aku berada di dekatnya."


"Apa ia cantik?"


"Sangat cantik, bahkan kecantikannya bisa menyaingi semua wanita cantik yang ada di majalah yang biasa kamu pelototi itu," jawab Bryan jujur, akan tetapi terdengar seperti gurauan belaka di telinga Noah.


Di balik itu Noah pun penasaran, wanita seperti apa yang bisa menggoyangkan benteng pertahanan hati saudaranya. Jika wanita sesempurna Cecilia saja tak cukup membuatnya tergoda.


Sepanjang perjalan, kedua lelaki itu masih berbincang yang sesekali ditimpali oleh Lili dan juga Yonna. Tanpa terasa mobil pun memasuki pekarangan rumah dan terparkir cantik tepat di depan garasi.


Jelita yang tak lagi bisa berjalan tanpa bantuan tongkat pun menyambut kedatangan cucunya yang baru saja pulang. Ia sudah berdiri di teras rumah, menantikan satu persatu penumpang dalam mobil itu keluar.


Noah keluar belakangan, namun ia yang datang lebih dulu menghambur dalam pelukan Jelita. Jelita yang sangat rindu pada cucunya itu pun menciumi wajah Noah tanpa henti yang cukup membuat pemuda itu risih.


."Grandma, stop. I'm embarrassed," ujar Noah seraya mengecilkan suara pada kalimat yang berada di ujungnya.


"Apa kamu tak makan dengan baik di sana? Kenapa tubuhmu kurus sekali. Nanti kamu makan yang banyak, Grandma masak banyak makanan kesukaanmu." Jelita merangkul salah satu cucunya menuju meja makan. Tempat yang paling pas untuk berkumpul keluarga saat ini.


"Grandma apa aku tidak diajak? Grandma pilih kasih!" seru Lili pura-pura menangis. Jelita yang mendengar langsung berbalik.


Ia menggandeng Lili dan Bryan secara bersamaan.


"Siapa bilang Grandma tidak sayang kalian. Kalian bertiga harta yang tak bernilai untuk Grandma," ujar Jelita penuh kasih sayang.

__ADS_1


Bara dan Yonna terkekeh melihat tingkah anak-anaknya. Kebahagiaan yang paling besar dimiliki seorang adalah saat ia bisa berkumpul bersama dalam canda dan tawa.


__ADS_2