Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 52. Meledaknya amarah Bara.


__ADS_3

Hati Bara meradang, ia mengendarai mobil dalam diam, masih menunggu istrinya berinisiatif menjelaskan padanya. Namun apa yang ia tunggu tak sesuai harapan, jangankan untuk menjelaskan atau membujuknya.


Yonna justru ikut diam seakan tak ada masalah yang baru saja terjadi. Amarah Bara semakin berkumpul di dalam dada.


Ujung matanya melirik tajam Yonna yang tersenyum menatap layar ponsel di tangannya, wanita itu tampak begitu bergembira. Hati Bara semakin berkecamuk dengan rasa kesal. Seribu tanda tanya muncul di benaknya.


Apa ia tak ada sedikit pun rasa bersalah padaku? Ia anggap apa aku ini? Apakah pesan itu dari Gavin? Pikirnya yang semakin membakar hatinya. Bara menekan rem begitu dalam hingga mobil pun berhenti mendadak membuat tubuh mereka sedikit terhempas ke depan.


Tangan kiri Bara dengan cepat berada di depan kaca, menahan agar kepala Yonna tidak terhantam kaca tersebut.


“Arkkk … apa kamu gila!” sentak Yonna dengan wajah yang terkejut.


Jantungnya seakan ikut melompat keluar. Yonna menoleh pada Bara yang sudah menatapnya lebih dulu dengan tatapan seperti seekor anjing pelacak yang mendapatkan buruannya. Tajam dan mengintimidasi.


“Pesan dari siapa hingga kamu tersenyum seperti itu dan apa yang sedang kamu rencanakan, hah!” Bara menekan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya.


Yonna menelan salivanya dengan susah payah. Baru kali ini ia melihat pria di sampingnya semarah itu. Selama ini pria itu selalu tampak tenang walau di hadapkan kasus serumit apa pun.


“Pesan? Pesan dari siapa maksudmu, aku tak mengerti? Dan memangnya apa yang bisa aku rencanakan? Jangan asal tuduh kamu, Mas!” Yonna memasang wajah bodoh. Baru saja jemarinya menekan tombol of agar layar ponsel yang menyala itu padam, Bara sudah lebih dulu merampas ponsel itu cepat.


“Apa kamu lupa jika aku adalah seorang pengacara Alice! Instingku tak bisa kamu bohongi. Aku tak suka jika istriku menyimpan rahasia dariku!” Bara menekan tombol on agar ponsel yang padam itu menyala.


Bara usapkan jarinya ke atas layar sentuh tersebut, seketika muncul titik-titik yang membentuk kombinasi sandi. Bara kembali menoleh ke arah Yonna.


Mata lelaki itu semakin mendelik tajam, urat-urat muncul di bagian rahangnya yang menegang. Matanya yang menyala bagai bara api membakar tak hanya membuat Yonna takut tetapi suasana di mobil itu pun terasa panas.

__ADS_1


Mata Bara menangkap sudut lipstik Yonna sedikit berantakan, tentu Bara bisa langsung menebak siapa pelakunya. Bara melempar ponsel itu dengan asal pada jok penumpang.


Sontak Yonna membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan, ia hampir saja berteriak histeris melihat barang kesayangannya terbang melayang lalu mendarat pada lantai mobil setelah beberapa kali memantul di kursi berlapis jok kulit itu.


“Ponselku, kamu memang gi—“ ucapan Yonna terpotong seketika, Bara membungkam bibirnya dengan bibir tebal pria itu sebagai pelampiasan amarah yang kini merajai hatinya. Bara mencium Yonna dengan kasar, hingga punggung wanita itu tertekan pada kursi.


Kaca jendela yang tertutup rapat serta jalanan yang masih sepi membuat tindakan lelaki bertubuh tinggi besar itu semakin leluasa. Salah satu tangannya kini menarik pedal yang ada di samping bagian bawah kursi sebelah kiri Yonna, membuat kursi yang di duduki Yonna mundur kebelakang hingga wanita itu kini berada di posisi setengah berbaring.


Bara pun menggeser duduknya, sehingga tubuh bagian atasnya sedikit menghimpit Yonna yang ada di bawahnya.


“Eeummph, Mas!” Yonna meronta, memukul-mukul dada bidang suaminya yang masih menciumnya dengan amarah. Namun perlahan ciuman itu berubah menjadi penuh naf-su tak memberi jeda untuk Yonna menarik napas ataupun terlepas darinya.


Tangan kekar itu mulai berkelana, meremas kedua bukit kembar itu secara bergantian. Lengkuhan terdengar dari bibir Yonna di sela-sela tautan bibir mereka. Dada Yonna sesak, pasokan oksigen telah habis di paru-parunya.


Menyadari istrinya yang kehabisan napas, Bara melepaskan tautan mereka untuk memberi Yonna waktu menarik napas sebentar.


Yonna terdiam ia menarik napas dengan rakus, deru napas yang kian memburu membuat dadanya yang menonjol naik-turun dengan cepat. Penampilannya kini sungguh berantakan. Yonna pikir semuanya telah selesai dengan ucapan marah Bara barusan, tetapi ternyata ia salah. Kini Bara justru memulai aksinya dengan mencum-bu ceruk lehernya yang mulus.


Blazer yang menutupi kemeja kerjanya sudah terlepas bersamaan dengan tiga kancing kemeja bagian atas. Desir rasa yang begitu familiar hadir di dalam dirinya. Tak munafik, rasa itu membuat Yonna kelimpungan. Bara begitu pandai memantik api bi-rahi dalam tubuhnya.


Kini jemari tangan kekar itu mulai menyapu paha putih Yonna dan merayap masuk di balik rok span yang ia kenakan. Mata Yonna melotot, kali ini Bara benar-benar hilang kendali. Yonna berusaha mendorong tubuh Bara untuk menjauh darinya.


Ia tak mungkin membiarkan pria itu melakukan hal itu padanya saat ini. Di dalam mobil dan di pinggir jalan raya seperti ini.


Yonna tak ingin kejadian enam tahun itu terulang kembali. Walau keadaan kali ini berbeda, status mengizinkan mereka malakukan hal itu.

__ADS_1


“Mas sadar! Apa kamu mau kita menjadi tontonan orang sekitar!” ujar Yonna berusaha menghindar dari serangan suaminya.


Bara mengangkat kepalanya, ia memandang mata sang istri dengan binar matanya yang begitu sayu dipenuhi kabut ga-irah.


“Aku menginginkanmu saat ini! Dosa bagi seorang istri menolak suaminya berulang kali!”


Yonna menggigit bibir bawahnya ragu, tetapi justru tampak begitu sensual di mata Bara yang sudah hilang akal. Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, lelaki itu langsung kembali pada posisinya.


Mengemudi mobil itu dengan cepat ke sebuah tempat yang Yonna sendiri tak tahu. Selama perjalanan wanita itu memperbaiki tempat duduk dan kancing kemejanya.


Setidaknya ia bisa bernapas lega karena tak harus menjadi tontonan ero-tis orang banyak di pinggir jalan. Ternyata ketenangan Yonna tak berlangsung lama. Mobil itu kini telah memasuki sebuah komplek perumahan mewah, lalu berhenti pada sebuah rumah minimalis yang tidak terlalu besar namun juga tidak dapat dikatakan kecil.


Rumah bertingkat dua dengan halaman yang cukup luas, dibandingkan rumah-rumah yang lain yang Yonna lihat di daerah itu saat masuk tadi. Warna hijau rumput, tanaman dan pepohonan yang tumbuh sekitar begitu kontras dengan rumah yang berwarna putih.


Bara keluar mobil dengan terburu-buru, lalu beralih ke arah di mana istrinya yang masih terpaku menatap rumah yang ada di depannya saat ini.


Bara membuka pintu, dengan tak sabar Bara menarik istrinya ke dalam gendongannya, wanita itu tercengang dengan posisi kepala yang ada di bawah di balik punggung Bara.


“Mas, apa kamu gila! Lepaskan aku! Aku bisa jalan sendiri!” marah wanita itu. Ia memukul punggung suaminya dengan kuat, meronta-ronta. Bara memperlakukannya layaknya karung beras yang di panggul untuk dibawa masuk ke dalam rumah.


Bara tak memperdulikan amarah istrinya. Setelah membuka pintu rumah, lelaki itu membawa istrinya masuk dan berjalan menaiki tangga hingga ke sebuah kamar yang ada di lantai atas. Bara seperti seorang penjahat yang baru saja melakukan kejahatan dengan menculik seorang wanita.


“Mas, lepaskan aku! Kamu benar-benar gila! Lepaskan!” teriak Yonna lagi. Bara seakan menutup telinga akan teriakan itu.


“Nggak akan pernah aku melepaskanmu, karena kamu istriku! Dan selamanya akan menjadi milikku!” tandas Bara.

__ADS_1


Lelaki itu memasuki kamar lalu menguncinya dan langsung melemparkan tubuh istrinya ke atas ranjang empuk berseprai putih. Sementara dirinya langsung membuka baju yang ia kenakan hingga memamerkan dada bidang dengan perut yang berbentuk empat balok kotak coklak. Yonna menelan ludah.


"Mati aku! Bagaimana caranya aku kabur!" batin Yonna was-was.


__ADS_2