Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 49. Kedatangan anggota baru.


__ADS_3

Alarm ponsel berbunyi di atas nakas tepat di samping Yonna. Wanita cantik itu pun tersentak bangun, matanya terbuka perlahan. Tangan berjemari lentik itu menggapai dan mematikannya segera. Gerakan Yonna yang hendak beranjak dari ranjang langsung tertahan oleh sebuah tangan kekar.


“Lepaskan! Aku mau mandi dan bersiap,” ujar Yonna pada suaminya yang menempel terus sejak semalam. Mereka hanya tidur, tidur dalam arti yang sebenarnya.


Yonna masih enggan memberikan hak yang seharusnya pada suaminya. Bara juga tak memaksa, ia mencoba untuk mengerti dan juga memberikan waktu untuk wanita itu membuka hati terlebih dahulu. Walau terkadang Bara mencuri-curi kesempatan.


Yonna menggeser tangan suaminya, tetapi tangan itu justru semakin melingkar erat. Tubuhnya tertarik kebelakang hingga punggung polosnya bisa merasakan hembusan nafas suaminya yang hangat.


“Masih terlalu pagi, Sayang,” ujar Bara. Suara bassnya yang serak terdengar seksi menggelitik telinga.


Bohong jika Yonna tak merasakan perubahan pada jantungnya, setiap sentuhan yang lelaki itu berikan menggetarkan tubuhnya. Darah Yonna berdesir, jantungnya pun aerobik di pagi hari.


“Aku juga harus menyiapkan sarapan untuk Noah terlebih dulu sebelum berangkat kerja!”


“Tak bisakah si kurus itu memberimu libur sehari saja! Atau kamu berhenti saja dari pekerjaanmu itu!”


Yonna berdecak. Entah sejak kapan bayi besarnya ini memberikan gelar baru untuk bosnya itu.


“Ia punya nama! Lagi pula aku tak bisa main berhenti begitu saja, kontrak kerjaku masih panjang. Aku juga baru bekerja di perusahan itu. Sekarang cepat lepaskan aku! Kamu membuat dadaku sesak!”


“Sepuluh menit lagi, please!” pinta Bara dengan suara yang begitu lembut.


Yonna menghela napas. Ia enggan berdebat di waktu sepagi ini. Pandangan matanya beralih pada jam yang tergantung di dinding. Masih pukul lima lewat dua puluh menit.


“Baiklah, tapi hanya sepuluh menit. Tidak lebih!”


“Hmm,” Bara tersenyum simpul. Kedua tangannya kini tergelung melingkar di pinggang Yonna semakin erat, bibir itu dengan tanpa permisi langsung mengecup punggung leher istrinya lembut. Tubuh Yonna seketika meremang.


“Jangan nakal!” tegur Yonna sembari menepuk lengan Bara pelan. Lelaki itu pun tertawa, bukan Bara jika hanya diam tanpa tak mengusili istrinya. Menggoda Yonna menjadi kesenangan tersendiri bagi pria itu saat ini.

__ADS_1


~ ~ ~


“Pagi, Ma,Pa,” sapa Gavin yang baru saja turun dari tangga. Matanya melirik bocah lima tahun yang mirip dengan Bara seperti yang di katakan Gisella padanya tadi malam.


"Tampan juga bocah ini. Ia memang mirip tapi tidak sama persis. Kenapa Bara begitu beruntung mendapatkan putra setampan ini!" Hati Gavin menggerutu.


“Pagi juga Sayang. Kamu tumben turun dari kamar Bryan, apa ada masalah lagi dengan istrimu itu?” tanya Jelita sembari mengambilkan lauk untuk cucunya itu.


“Tak ada apa-apa, mungkin karena lelah aku sampai tak sadar memasuki kamar Bryan,” jawab Gavin asal.


Ia memilih duduk di hadapan sang Mama. Imanuel melipat koran yang sedang ia baca. Berita pagi ini begitu menarik perhatiannya.


Tak lama, Gisella juga turun bersama putra kesayangannya itu. Hari ini Bryan begitu manja, ia tak mau mandi jika tidak dimandikan oleh ibunya. Sedangkan Gisella yang sudah berdandan rapi enggan memandikan putranya yang pasti akan membuat ia basah.


Jelita menghela napas melihat penampakan cucunya yang masih kusut dengan piyama tidur yang melekat di tubuh kecilnya itu. Kontras dengan penampilan ibunya yang mengenakan dres peach tanpa lengan sepanjang lutut dengan tali selebar tiga jari yang menjadi pita di bagian depan perut.


Ia tidak menyalahkan cucunya yang masih kecil, tetapi ibunya yang tak perduli pada cucunya itu. Berbeda dengan Noah yang turun dengan keadaan yang sudah bersih dan wangi. Umur mereka berdua sama, hanya saja Noah lebih mandiri. Bocah itu sudah bisa mandi dan berpakaian sendiri.


“Pagi semua!” sapa Gisella dengan senyum manisnya.


“Pagi!” jawab Jelita dan Immanuel singkat secara bersamaan.


“Ada apa, Ma? Kenapa menatapku seperti itu. Apa ada yang salah padaku?” Gisella menarik kursi di samping suaminya. Begitupun dengan Bryan yang duduk di sebelah Mamanya.


“Tak bisakah kamu biasakan memandikan putramu itu terlebih dahulu sebelum ia bergabung ke meja makan ini!”


“Sudahlah Ma, namanya juga anak-anak. Tadi pelayan sudah mau memandikannya, tetapi ia yang menolak,” Jawab Gisella begitu santai. Ia tak menghiraukan tatapan tak suka mertuanya itu.


“Oh ya, Ma. Anak siapa itu?” Gavin menyela perdebatan antara Gisella dan Jelita.

__ADS_1


“Selamat pagi Ma, Pa!” Suara Bara mengalihkan pandangan mata Jelita dan beberapa orang yang ada di meja makan itu kecuali Gavin dan Bryan. Immanuel mengangguk pelan sebagai jawaban.


“Pagi Nak, cepat duduk!” sahut Jelita sumringah.


Yonna menatap kedua mertuanya itu dengan senyum canggung. Ia tak enak hati turun ke meja makan tanpa membantu menyiapkan makanan untuk sarapan terlebih dahulu.


Sepuluh menit yang Bara katakan padanya hanyalah bualan belaka. Karena nyatanya pria itu menahannya dan membuat ia kesal dengan tingkahnya yang nakal. Menggoda dirinya hingga meninggalkan bercak merah di bagian atas tubuhnya.


Bara duduk di sebelah mamanya sementara Yonna duduk di sampingnya. Wanita itu hanya menunduk tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sontak napas Gavin tertahan saat wanita yang ia pikirkan beberapa hari ini kini muncul di hadapannya. Ia menatap Bara dan Yonna secara bergantian


Bara cukup tak nyaman dengan pandangan mata Gavin, rahangnya mengetat. Suami mana yang rela istrinya ditatap sedemikian rupa oleh lelaki lain. Apalagi pandangan mata Gavin menyiratkan makna yang membuat hatinya tak nyaman. Sebagai seorang lelaki, ia tahu persis apa arti tatapan mata pria itu terhadap istrinya. Rindu.


“Kenapa? Oh ya, aku mau memperkenalkan padamu. Ia istriku sekarang. Jadi tolong sedikit turunkan pandangan matamu! Aku tipe suami yang cemburuan walau itu adikku sendiri!” ujar Bara sembari terkekeh.


“I-istri! Jadi kalian sudah menikah? Kenapa kamu tidak memberi tahu padaku? Maksudku ka-kabar pernikahan kalian terlalu dadakan. Tanpa adanya acara dan pemberitahuan terlebih dahulu.” Gavin terkejut hingga ia tak sadar apa yang ia katakan salah. Namun dengan cepat ia meralat ucapannya cepat. Ini terlalu mengagetkan untuknya.


“Aku sedang ingin membuat kejutan. Apa kalian saling mengenal?” Bara memicingkan mata menyelidik pada saudara lelakinya itu.


“Iya, kami mengenal cukup dekat, dekat sebagai seorang …,”


“Aku bertemu dengannya di bandara saat baru saja datang ke Indonesia. Aku tak sengaja menabraknya,” potong Yonna cepat.


Gavin kembali menatap wanita di hadapannya itu, pandangan mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Bara yang tak suka langsung menggenggam tangan istrinya erat. Sontak memutuskan pandangan mata Yonna pada Gavin dan beralih menatap suaminya.


Gisella menatap Gavin curiga, pria itu masih menatap Yonna dengan tatapan yang sulit untuk ia artikan. Kedua tangan lelaki itu yang terkepal di bawah meja cukup menjelaskan jika saat ini ada rasa sakit yang lelaki itu rasakan melihat pemandangan yang menyesakkan dada. Dan semua itu untuk wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Yonna yang tak nyaman lebih memilih untuk menghindar dari tatapan Gavin. Wanita itu dengan lihainya mengubah ekspresi wajahnya seakan-akan mereka berdua adalah orang asing yang tak saling mengenal.


“Mereka saling kenal. Tetapi apa hubungan mereka berdua, kenapa pandangan mata Mas Gavin tampak kecewa?” batin Gisella bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2