
Bara kembali menikmati manisnya bibir istrinya, namun kali ini Yonna membalas apa yang ia lakukan. Mereka kini hanyut dalam gelombang kenikmatan yang sedang mereka jelajahi.
Musim dingin yang panjang akan berganti menjadi musim semi yang membawa keindahan. Daun muda mulai bermunculan yang disusul kelopak bunga yang mulai menampakkan pesonanya.
Tangan lebar itu mulai merayap di balik baju yang Yonna kenakan. Yonna pun tersentak kaget seakan alarm di kepalanya berbunyi menyadarkannya atas apa yang sedang ia lakukan saat ini. Dengan cepat wanita itu mendorong dada bidang suaminya yang sedang menghimpitnya agar menjauh.
Tangannya merasakan jantung yang berdetak dengan cepat, nafas yang memburu seakan lelaki itu baru saja habis berlari mengelilingi komplek sepuluh putaran.
“Ada apa?” tanya Bara dengan suara seraknya. Ia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya di antara tubuh Yonna. Binar matanya sudah berkabut gelap. Ada rasa tak rela di hatinya saat wanita itu mengehentikan permainan yang sudah membuatnya sangat memanas.
“Cukup sampai di sini! Kita tak boleh melanjutkannya lagi!”
“Kenapa? Kamu yang memulai maka kamu juga yang harus bertanggung jawab padaku! Aku sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya, Sayang.”
Yonna mengikuti arah pandangan mata Bara yang seakan menunjuk pada adik kecilnya yang menekan di balik celana hingga tampak menggembung tinggi.
Yonna tersenyum manis. “Tidak bisa, Baby. Aku lagi datang bulan!” jawab Yonna sukses meluluh lantakkan naf-su yang sedari tadi sudah menggebu.
Mata Bara terbelalak seakan ingin melompat dari tempatnya. Nafas yang tadi memburu langsung berhenti seketika seiring tubuhnya yang terpaku di tempat.
“Apa? Kamu pasti ingin mempermainkan aku kan?” ujar Bara tak percaya sembari terkekeh. Ia pikir istrinya saat ini sedang mencoba permainan tarik-ulur dengannya.
“No, aku serius. I am sorry!”
Bara kembali terkekeh tanpa suara melihat wajah istrinya yang seakan tak berdosa, ia yang tak percaya langsung menggerakkan tangannya ke arah bawah untuk memeriksa. Sontak Yonna tersentak kaget dengan aksi suaminya yang sungguh di luar pemikirannya. Ia tak menyangka suaminya itu akan langsung memeriksa.
__ADS_1
Menyadari apa yang dikatakan istrinya benar, Bara langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping tubuh istrinya dengan perasaan sangat kecewa.
Gunung berapi sudah siap memuntahkan lahar panasnya, tiba-tiba langsung dilempar batu besar untuk menyumbat agar gunung itu tidak jadi meledak. Seketika pria itu merasakan pusing di kepalanya.
“Kenapa memancing kalau ujung-ujungnya umpan tak dapat di makan. Kamu sengaja mau membuatku tersiksa sepanjang malam, Heh!” ucap Bara dengan raut wajah yang susah untuk di jelaskan. Ia ingin marah dan berteriak, tapi tak tahu harus melakukan hal itu pada siapa.
“Kok malah menyalahkan aku! Salahkan saja dirimu yang mau dipancing tanpa melihat dulu umpannya bisa di makan atau tidak,” balas Yonna santai.
Bara geram mendengar ucapan istrinya yang tidak ada sedikit pun rasa berdosa itu. “Lihat saja nanti, saat kartu merahmu selesai aku akan menghukummu tanpa ampun. Akan aku buat kamu menjerit meminta ampun di bawahku.”
Yonna mengeluarkan smirk devilnya. Malam ini ia berubah menjadi iblis wanita yang membuat suaminya semakin gelisah.
“Benarkah? Menjerit seperti apa, apa seperti ini.” Yonna menurunkan tali bajunya dengan gaya yang sensual, lalu ia mulai mengeluarkan suara mende-sah dan merintih yang dibuat-buat hingga tubuh Bara semakin bergetar.
Ia tak mampu lagi melanjutkan ucapannya karena rudal yang ia miliki sudah ingin lepas landas namun masih tertahan di tempat. Terasa menyiksa.
Sumbu yang sudah habis terbakar tak dapat lagi dimatikan membuat kepalanya terasa semakin berdenyut nyeri. Bara yang tak dapat lagi menahan, ia langsung bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi. Ia hanya bisa menuntaskan urusannya seorang diri.
Yonna tertawa geli melihat tingkah suaminya yang tampak merajuk seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan baru yang ia inginkan. Yonna sadar apa yang dilakukannya saat ini mungkin akan membuatnya dilaknat para malaikat hingga pagi. Tetapi bersenang-senang dengan Bara dengan berbagi kenikmatan di atas ranjang bukanlah menjadi tujuannya atas pernikahan ini.
Masih ada banyak hal yang harus ia lakukan selanjutnya, bermain-main dengan Bara sebagai awal permulaan terasa begitu menyenangkan untuknya. Tanpa ia sadari, bermain dengan api maka harus siap untuk terbakar hidup di dalamnya.
Dari kamar mandi Yonna mulai mendengar gemericik air yang jatuh membasahi lantai. Ia juga mendengar sayup-sayup suara rintihan yang memanggil namanya berulang kali.
Bulu kuduk wanita itu merinding darahnya pun ikut berdesir. Yonna mulai membayangkan Bara bersolo ria sambil menjadikan dirinya objek fantasi pria itu. Seketika ada gelegar rasa familiar yang juga hadir di tubuhnya. Wajahnya kembali memanas.
__ADS_1
“Bisakah kamu tutup mulutmu itu. Berisik!” dengkus Yonna kesal. Tak ada jawaban, seakan tak peduli Bara justru semakin mengencangkan suaranya seperti seseorang yang sedang membalas dendam padanya.
Yonna langsung berbaring di ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut hingga batas dada, lalu meraih bantal untuk menutupi telinganya. Ia risih dengan suara desa-han dan juga rinti-han suaminya yang mengganggu pendengarannya. Untung saja kamarnya sedikit berjauhan dari kamar orang tua dan adiknya sehingga ia tak perlu khawatir bakalan ada yang mendengar.
Matahari keluar dengan senyum yang cerah secerah wajah Yonna pagi ini. Burung-burung pipit yang berkicau di bawah dahan batang mangga di balik jendela, seperti sedang bernyanyi merdu menggodanya. Namun bertolak belakang dengan wajah Bara yang tampak begitu gelap seakan hujan badai akan datang turun disertai gemuruh.
Lingkaran hitam di bawah mata dengan pandangan mata yang sayu cukup menjelaskan jika pria itu tak tidur dengan nyenyak semalam. Belum lagi kepala yang masih terasa sedikit pusing membuatnya tak nyaman.
Bara menghirup kopi hitamnya dalam diam, mencium aromanya yang pekat sedikit merileksasikan ketegangan di pusat syaraf otaknya. Moodnya benar-benar buruk pagi ini.
“Kenapa kakak Ipar, tak puas atau gagal semalam?” cibir Vano.
Ia sedari tadi memperhatikan raut wajah tak sedap dipandang milik lelaki yang memakai stelan santai di hadapannya itu. Sangat bertolak belakang dengan raut wajah Kakak perempuannya yang sumringah.
Pria itu paham, pasti sudah ada kejahilan pertama yang kakaknya itu lakukan pada suaminya. Bara menghujamkan tatapan pada mata Vano pertanda apa yang ia pikirkan itu benar dan seakan mengatakan "jangan dibahas atau kamu mau mati!" lewat tatapan matanya itu.
“Vano! Tidak sopan!” tegur Maya pada putra bungsunya. Robert tampak tak peduli, ia asik menyuapi cucu kesayangan yang duduk disampingnya tersebut.
“Apa ada masalah? Apa kalian berdua bertengkar?” tanya Maya mencoba berpikiran positif. Pandangan Mata Bara mengendur, ia mencoba tersenyum pada mertuanya walau senyum itu terasa hambar.
“Tidak ada apa-apa, Ma. Aku hanya sedang sedikit sakit kepala saja. Mungkin karena banyak kasus yang harus menjadi perhatianku akhir-akhir ini,” dalih Bara.
Vano tersenyum simpul melihat kakak perempuannya menutupi senyum jahil dari balik punggung tangan yang bagian siku bertopang pada meja.
“Apa kamu sedang bermain-main dan menggali kuburanmu sendiri, Kak? Atau sedang mengikat dirimu sendiri dengan simpul tali yang tak akan pernah bisa kamu lepaskan.” Batin Vano merutuki tindakan berani yang dilakukan saudarinya itu.
__ADS_1