
"Bryan tunggu aku!" teriak Noah dengan napas yang terengah-engah sembari memegang kedua lututnya. Berlarian dari rumah Cecilia hingga pulang ke rumah cukup membuatnya lelah hingga keringat mengalir di pelipisnya.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah melalui pintu samping dan kini berhenti di teras dekat kolam. Noah mendudukkan tubuhnya di pinggir lantai teras sembari mengatur napas. Wajahnya yang putih tampak memerah seperti kepiting yang baru saja tercelup air panas.
"Ngapain kamu ikut aku? Kenapa nggak main aja sama gadis cengeng itu," ucap Bryan dengan wajah datarnya.
"Malaslah, nggak dengar tuh ... suara tangisnya aja masih terdengar hingga ke sini," kata Noah. Bryan tersenyum tipis, samar-samar memang masih terdengar suara tangis Cecilia tetapi suara itu lambat laun semakin menghilang.
"Kenapa sih kamu nggak suka main dengannya? Cecilia itu baik dan lucu."
"Tapi manja serta nyebelin," timpal Bryan cepat.
"Ckkk ... iya sih, kadang-kadang ia memang nyebelin. Apa semua wanita seperti itu ya?"
Yonna yang lewat pintu samping tak sengaja mendengar percakapan kedua bocah lelaki yang sejak tadi ia cari keberadaannya.
"Mana aku tahu," jawab Bryan semakin malas, ia pun melanjutkan kembali langkah kakinya menuju rumah. Noah yang sadar akan ditinggal pun ikut beranjak dari duduknya dengan langkah malas.
"Kata Mama, wanita itu makhluk paling sensitif yang harus disayang dan dimanja. Jadi wajar aja kalau Cecilia manja pada kita. Kitakan anak lelaki," celoteh Noah masih mengikuti saudaranya dari belakang.
Bryan tampak mengabaikan ucapan saudaranya itu begitu saja. Hingga akhirnya mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan wajah yang terkejut karena mendapati Yonna berdiri di depan pintu.
"Mommy, what are doing in here?" tanya Noah kaget.
"Tidak ada apa-apa, kalian dari mana?" tanya Yonna pura-pura tidak mendengarkan perbincangan kedua bocah tersebut.
__ADS_1
"Dari rumah Cecilia."
"Mommy, kami ke kamar dulu. Ayo Bryan!" Noah mengajak Bryan menuju kamar, Yonna menggelengkan kepala pelan melihat punggung dua lelaki kecil itu yang mulai menjauh.
"Bryan sekarang jauh berbeda dari Bryan yang dulu. Bocah yang dulu begitu manja dan egois kini menjadi bocah yang mandiri dan banyak memendam perasaannya sendiri. Aku bahkan tak tahu kapan bocah itu merasa senang ataupun sedih," gumam Yonna seorang diri.
Anak adalah korban sesungguhnya atas setiap tindakan yang diambil orang tuanya. Tanpa bisa menolak dan membantah. Luka di hati mereka nyata tapi tak semua orang bisa mengerti, saat anak berubah menjadi sedikit tak terkendali maka dunia akan mengecapnya sebagai anak yang tak punya etika serta di anggap seperti sampah masyarakat.
Ketimbang harus bersikap lepas kontrol dan kendali, Bryan justru lebih memilih untuk menjadi pendiam. Terlihat lebih dewasa, jauh dari umurnya.
"Aku takut saat dewasa nanti, ia jadi pria dingin dan tak tersentuh. Entah kenapa aku merasakan ada bara yang membakar perasaan anak itu secara perlahan-lahan," gumam Yonna lagi.
Ia meninggalkan tempat tersebut menuju dapur, mencari cemilan untuknya siang ini.
Rasa lapar di perutnya mulai tak terkendali. Baru satu setengah jam yang lalu ia makan siang, namun kini perutnya kembali lapar kembali.
Jelita mendekati menantunya yang tengah duduk pada kursi rotan yang ada di samping tak jauh dari kolam ikan.
Yonna yang malas makan nasi beralih pada sepotong roti yang ada di tangannya. Kunyahan di mulutnya terhenti seketika, ia yang duduk sembarangan mulai merapikan duduknya dengan sopan.
"Apa Mama menganggu istirahatmu?" tanya Jelita basa-basi. Beberapa hari tak bertegur sapa membuat hubungan mereka menjadi canggung.
"Tidak, Ma. Apa Mama membutuhkan sesuatu?" tanyanya balik.
Jelita menghela napas lelah. " Apa kamu masih marah pada Mama, Alice?"
__ADS_1
Yonna menoleh kemudian menggelengkan kepalanya pelan. Namun tatapan matanya menyiratkan makna yang berbeda. Dan Jelita tahu itu.
"Tak perlu membohongi Mama. Mama tahu kamu masih marah pada Mama soal bayi itu. Dan Mama sadar apa yang Mama lakukan salah. Tetapi Mama tidak menyesal ...," Jelita menjeda ucapannya. Ia menatap Yonna yang kini juga tengah menatapnya.
"Kamu tahu kenapa?"
"Karena bayi itu anak Gisella dan Mama membenci Gisella," jawab Yonna lirih.
"Bukan, karena melihat anak itu membuat Mama terus tersadar akan kesalahan Mama di masa lalu. Kesalahan terbesar yang Mama lakukan adalah membiarkan Gisella masuk ke dalam keluarga ini hanya karena Mama menginginkan seorang cucu hingga membuatmu berpisah dari Gavin." Jelita kembali menarik napas dan melepasnya secara perlahan sebelum akhirnya melanjutkan kembali ucapannya.
"Semenjak kamu bercerai dari Gavin, tak ada lagi ketenangan di rumah ini. Keributan-keributan kecil selalu terjadi, Mama juga merasa kesepian di rumah yang besar ini. Itu sebabnya saat kamu kembali Mama adalah orang pertama yang bahagia akan hal itu. Apalagi saat itu kamu membawa seorang putra yang sangat Mama rindukan kehadirannya. Anak Bara."
"Mungkin itu sudah menjadi jalan takdirku, Ma. Jika dulu aku tidak berpisah dari Mas Gavin, mungkin aku tak akan bersama Mas Bara," sela Yonna merespon ucapan mertuanya itu.
Selalu ada alasan dalam setiap peristiwa dan semua itu tak lepas dari rencana yang Kuasa. Itulah hal yang Yonna yakini hingga saat ini tentang rumah tangganya yang dulu pernah kandas.
"Mungkin ... dan mungkin itu pula yang terjadi pada bayi itu. Mama tidak pernah bermaksud membuat hidup bayi itu menderita karena alasan apa yang dilakukan ibunya. Mama pikir jika ia tinggal di rumah ini dan mengetahui asal-usulnya yang sebenarnya, mungkin anak itu akan malu dan sakit hati. Itu sebabnya Mama mendesak kamu untuk memberikan anak itu pada orang lain yang mungkin akan menyayanginya layaknya anak kandung sendiri."
"Anak itu juga bisa hidup dengan status yang baru. Tanpa harus terluka dengan masa lalu kedua orang tuanya. Tetapi ... semuanya justru terjadi diluar kendali," lanjut Jelita mengutarakan isi hatinya.
Mereka berdua berbicara dari hati ke hati layaknya dua orang teman. Jelita menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Matanya menatap lurus ke arah kolam. Ikan beraneka warna meliuk mengikuti arah air dan saling menari lincah.
Yonna kembali menghadap ke depan, ia tak mampu mengeluarkan kata-kata. Lidahnya terasa kelu, otaknya tak mampu untuk merangkai beberapa huruf menjadi kalimat.
"Sama seperti takdirmu bersama Bara. Mama yakin takdir bayi itu juga saat ini bersama orang tua yang begitu mencintainya. Dan Tuhan mengobati kesedihan hatimu dengan janin yang kini tumbuh di dalam rahimmu. Cukup fokus pada anak-anakmu saja. Jangan hancurkan apa yang kamu miliki saat ini hanya untuk sesuatu yang memang bukan milikmu!" tandas Jelita.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu pun kembali menghela napas panjang, kemudian beranjak pergi meninggalkan Yonna yang kini masih terdiam mencoba mencerna kata-kata yang terlontar.