Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 92. Penyesalan dan keinginan.


__ADS_3

"Siapa namamu, Nak?"


Gisella meraih gelas bening yang di sediakan di atas meja. Air yang terasa payau itu mendorong singkong rebus yang terasa seret di tenggorokan.


"Lia, Bu," jawabnya singkat. Gisella terpaksa membohongi wanita tua itu. Namanya yang kini menjadi buronan sudah tersebar di mana-mana. Wajahnya bahkan sudah terpampang di surat kabar serta telah tersiar di beberapa stasiun televisi swasta.


"Lia, nama yang cantik. Kalau boleh tahu, di mana suamimu, Nak. Dan berapa bulan kandunganmu itu?" Wanita tua itu kembali mencecarnya dengan banyaknya pertanyaan.


Seorang wanita hamil berkeliaran di malam gelap hingga ke pinggiran desa, pasti ada sesuatu hal yang terjadi hingga wanita di hadapannya kini melakukan hal itu. Pemikiran itu yang terlintas di benak wanita tua itu saat ini.


"Su-suami saya sudah me-meninggal, Bu."


Gisella tampak menggigit bibir bawahnya erat. Untuk menutupi satu kebohongan, ia kembali membuat kebohongan yang baru. Gisella mengalihkan pandangan matanya ke sisi lain hanya untuk menghindari kontak mata dengan wanita yang telah menolongnya.


Matanya terpaku pada tumpukan kardus yang ada di sudut ruangan dekat pintu masuk yang ia lewati tadi. Di sebelah kardus yang terikat rapi itu, terdapat karung yang tampak penuh dengan botol-botol bekas di dalamnya.


"Maafkan Ibu, Nak. Ibu tak bermaksud menyinggung perasaanmu."


Gisella kembali menoleh, wajah wanita tua itu tampak begitu teduh. Ia menjadi tak tega karena telah membohongi.


"Bu, bolehkah saya tinggal barang semalam saja di sini?" Ia tak punya pilihan lagi saat ini. Berada di luar dalam keadaan cuaca yang begitu dingin dan dalam kondisi hamil membuatnya tak berani mengambil resiko.


Bisa saja ia terkena hipotermia yang mengakibatkan dirinya kehilangan anak yang sedang ia kandung saat ini.

__ADS_1


"Tentu saja boleh. Bahkan Ibu sangat senang hati menerimanya, asalkan kamu tak keberatan dengan rumah Ibu yang jelek ini. Ibu tinggal sebatang kara di sini, Nak. Jika kamu mau, kamu bisa tinggal sampai kapanpun di gubuk ini."


Wanita tua itu tersenyum. Ia mengusap tangan Gisella lembut, mengantarkan kehangatan di hati wanita hamil itu. Tuhan tak begitu jahat padanya. Walau dirinya sudah melakukan kejahatan berulang kali, tetapi Tuhan masih menghadirkan seseorang yang dengan tulus membantunya agar ia mengerti arti kebaikan.


Gisella kembali menitikkan butiran kristal di pipi. Sesal yang tiada berguna, di saat mulai menyadari kesalahan. Namun tak mampu berbuat apa-apa untuk mengubahnya.


"Panggil saja Ibu dengan sebutan Ibu Darmi. Kamu pasti sangat lelah. Kamu bisa membersihkan dirimu di kamar mandi belakang dan kamu bisa menggunakan baju Ibu untuk mengganti pakaianmu yang kotor," tawar Ibu tua itu. Gisella menganggukkan kepalanya cepat.


Tubuhnya tak hanya penat, tetapi juga lengket yang membuatnya merasakan gatal di sekujur tubuh. Terdapat ruam-ruam merah di lengan dan pahanya.


Bu Darmi mengantarkan Gisella ke kamar mandi yang berada di dapurnya yang kecil. Semua bagian rumah itu terbuat dari papan tempelan. Tak hanya permukaannya yabg kasar, tetapi potongan papan itu pun tak sama rata hingga sebagian dinding masih memiliki celah yang dapat di gunakan untuk mengintip.


Gisella membasuh tubuhnya. Air yang terasa segar menerpa kulit tubuhnya. Ia tak bisa mandi dengan begitu bebasnya, air yang sedikit harus ia hemat agar cukup.


Gisella berbaring seorang diri menatap langit-langit dengan bohlam lambu bulat kecil. Pijarnya yang berwarna kuning keemasan menjadi satu-satunya penerang yang masih hidup di ruangan ini selain yang berada di depan.


Bunyi jangkrik yang berdenging menjadi lagu pengantar tidur yang sumbang. Jika dulu Gisella akan memarahi pelayan hanya karena lambat melakukan apa yang ia perintahkan. Bahkan tak jarang ia mengusir dari rumahnya. Namun kini, semuanya telah berbalik semudah membalikkan telapak tangan.


Cicak yang berlarian di dekat lampu itu pun seakan mengejek. Mencibir kebodohan dirinya atas kesalahan yang tak dapat ia putar kembali.


"Andai waktu dapat kuputar kembali. Andai aku tidak terlalu serakah, andai ...," Gisella menangis dalam diam.


Berandai-andai dengan sesuatu yang telah telah terjadi. Seperti mengharapkan bulan jatuh ke dalam pangkuan tangan.

__ADS_1


~ ~ ~


"Mas, jangan seperti itu. Geli." Yonna terkikik merasakan kumis Bara yang mulai panjang terasa menusuk, menggelitik lehernya saat lelaki itu kian mencumbu.


Mereka berdua berdiri di balkon dengan hamparan pohon pinus. Angin yang berhembus menerpa tubuh mereka berdua. Pelukan Bara terasa begitu hangat menghalangi dinginnya angin.


Yonna menikmati bersandar di dada bidang suaminya dengan kedua tangan pria itu yang mengalungkan kedua tangannya ke depan perutnya yang mulai membuncit seperti orang kekenyangan.


Dua insan yang sudah memiliki seorang putra itu seakan lupa jika mereka tak lagi muda. Namun jiwa yang bergelora mengantarkan semangat yang tak pernah padam.


"Sayang, salahkan saja dirimu sendiri yang terlalu cantik hingga suamimu ini tak mampu lepas darimu," bisik Bara di telinga. Lelaki itu tak henti-hentinya mengempur istrinya dengan rayuan. Entah ia belajar dari mana.


"Sekarang kamu pintar berbicara manis ya, Mas. Cantik bagaimana jika sekarang aku gendut begini." Yonna memutar tubuhnya. Kini wajah mereka saling berhadapan, kedua tangannya kini melingkar di balik punggung leher suaminya.


Yonna jadi tersenyum sendiri mengingat bagaimana sikap mereka berdua saat baru pertama kali bertemu dan membandingkannya dengan saat ini. Mengingat lelaki dingin yang dulu selalu ia hindari justru menjadi lelaki yang begitu ia cinta yang kini begitu erat memeluknya dan memberikan kenyamanan untuknya.


"Aku ingin selalu berada dalam pelukan kokoh ini Tuhan," batin Yonna. Ia tersenyum begitu manis.


"Bagiku kamu selalu cantik, kau tak perlu mengubah dirimu menjadi siapa pun. Aku mencintaimu Alice, menyayangimu dari dulu hingga sekarang. Dan aku akan mencurahkan perasaan hanya padamu. Jadi kau hanya perlu tersenyum manis seperti ini saja padaku. Itu lebih dari cukup."


Yonna menginjitkan kakinya, ia menarik tengkuk suaminya agar sedikit menunduk padanya. Kedua bibir mereka menyatu, menyalurkan perasaan cinta yang kian tersimpul erat.


Tangan besar dan berotot itu dengan cepat mengangkat tubuh istrinya ke udara tanpa melepaskan tautan di bibir mereka. Ia menggendong Yonna ala bridal style, melangkahkan kaki memasuki kamar.

__ADS_1


Ini bukan malam pengantin mereka, namun dua insan yang halal itu seakan ingin menghabiskan malam yang begitu panjang seperti sepasang kekasih yang selalu saja mengikrarkan janji sehidup semati untuk kesekian kali.


__ADS_2