Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 40. Bocah pintar.


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, terhitung sudah sepuluh hari Yonna menghabiskan waktunya di pulau Lombok itu. Hari ini ia akan berangkat dengan penerbangan pagi untuk pulang ke rumah. Bara harus pulang lebih dulu karena ada yang harus lelaki itu lakukan.


Yonna tidak tahu dan wanita itu pun juga tak mau mencari tahu. Hubungannya dengan Bara setelah malam itu mulai sedikit ada kemajuan. Walau Yonna terkadang masih enggan untuk bertemu pria itu yang mulai tak canggung lagi menunjukkan perhatiannya di depan Tama.


Tama juga sudah mengetahui bagaimana rumitnya hubungan dua insan itu, hanya bisa menghela napas panjang. Ia juga mencoba meredam perasaannya, tak ingin perasaannya semakin tumbuh dan membuat hubungan yang ada tambah semakin rumit lagi.


Tepat pukul 4 sore pesawat mereka lending di bandara tujuan setelah cukup lama mengalami delay.


Yonna menarik kopernya dengan langkah bersemangat. Ia sudah tak sabar ingin bertemu buah hatinya yang ia rindukan siang dan malam.


Tama meminta supir untuk mengantarkan Yonna terlebih dahulu. Mereka sedikit berbincang santai untuk menikmati perjalanan.


"Kamu bisa mengambil cuti selama dua hari untuk istirahat, masalah pekerjakan jangan khawatir. Masih ada Samuel yang menghandle pekerjaanmu selama dua hari nanti," ujar Tama.


Yonna merasakan perubahan pria itu yang jauh dari biasanya. Akan tetapi wanita itu tak terlalu memperdulikan, ia rasa mungkin itu lebih baik daripada mereka larut dalam perasaan yang mungkin tak berbalas. Bukankah itu jauh lebih menyakitkan.


"Terima kasih banyak, Pak."


Mobil hitam itu sudah memasuki halaman rumah milik kedua orang tua Yonna. "Saya sudah sampai, Pak. Saya masuk dulu, terima kasih banyak sudah mengantarkan saya sampai rumah."


Tama mengangguk, Yonna membuka pintu mobil dan keluar. Pak sopir juga ikut keluar dari mobil, lalu membantu Yonna untuk mengeluarkan barang-barang miliknya di bagasi. Satu koper yang ia bawa saat pergi kini justru beranak menjadi dua buah plus satu buah tas besar yang berisi aneka oleh-oleh.


"Terima kasih Pak Udin," ucap Yonna pada supir tersebut. Lelaki tua yang diperkirakan berumur 42 tahun itu menganggukkan kepala sembari tersenyum. Kemudian kembali pada posisinya semula, di balik kemudi mobil.


Yonna berjalan mendekati kaca jendela mobil, menundukkan sedikit kepalanya untuk menatap bosnya.


"Terima kasih banyak, Pak. Sampai ketemu lusa," jawabnya sopan. Senyum manis terukir di wajahnya.


"Bisa nggak jangan senyum seperti itu padaku. Kamu tidak tahu jika senyummu itu membuatku tak bisa tidur setiap malam," batin Tama.

__ADS_1


Pria itu meringis di dalam hati, menekan perasaan pada seseorang yang hampir setiap hari bertemu itu lebih sulit daripada menjauh dari orang yang disayang.


"Jalan Pak!" Tama meminta supirnya untuk pergi tanpa menjawab ucapan Yonna. Mobil hitam metalik itu pun kembali melaju, meninggalkan halaman rumah yang asri itu.


Yonna menghela napas menatap kepergian mobil itu yang kini telah menghilang dari pandangan mata. Ia tahu bosnya itu sedang berusaha menjaga jarak padanya sejak mengetahui kenyataan yang ada tentang hubungannya.


Ada rasa tak enak hati yang mulai menghampiri, namun cinta tak dapat di paksakan begitu saja hanya karena balas budi ataupun kasihan.


Ketimbang pusing, Yonna memilih untuk masuk ke dalam rumah. Ia memanggil satpam untuk membawakan barang-barangnya ke dalam rumah.


"Mommy, i miss u!" seru Noah ketika Yonna baru saja memasuki rumah. Bocah itu datang dari halaman belakang dengan satu ikat buah mangga yang masih ada tangaki dan daun di tangannya. Sepertinya bocah itu baru saja panen dari pohon yang ada di halaman belakang.


Vano menyusul dari belakang Noah. Wajah pemuda single itu tampak terkejut, raut bahagia tentu saja terbias dari wajahnya.


"I miss u, Son. Putra kesayanganku!" balas Yonna cepat. Ia langsung menghampiri putranya dan langsung menggendong tubuh kecil, kurus, tinggi dan putih itu. Ia ciumi wajahnya dengan sayang.


Kerinduan yang Yonna simpan hampir setengah bulan lewat itu membuatnya begitu senang. Noah tertawa, apa yang Yonna lakukan padanya membuat bocah kecil itu merasakan geli. Noah meminta turun dari gendongan tangannya.


Ia menghampiri Yonna. Kedua saudara itu berpelukan hangat dan saling bersalaman layaknya teman lama yang sudah lama tak berjumpa.


"Tak perlu berlebihan." Tawa wanita cantik bergaun vintage itu berderai.


"Mommy, mana hadiah untukku. Aku sudah bersikap baik saat dirimu tak ada," pinta bocah pintar itu.


"Tentu saja, ambil di koper warna biru," jawabnya. Bocah kecil itu pun langsung berlari ke lantai atas, tempat di mana koper-koper Yonna berada. Pak satpam di bantu pelayan membawa barang-barang tersebut langsung ke kamarnya.


"Ia selalu bersemangat." Yonna kembali tersenyum melihat tingkah anaknya.


"Ya, sama sepertimu," balas Vano menatap wajah Kakak perempuannya itu dalam. Vano merasa raut wajah kakaknya jauh lebih ceria dari sebelum berangkat.

__ADS_1


Yonna menatap ke sekeliling ruangan mencari pasangan paruh baya yang sedari tadi tak tampak di matanya.


"Mama dan Papa mana?"


"Oh, Mama dan Papa sedang berkunjung ke rumah temannya. Ada acara, entah aku juga tak tahu acara apa. Memangnya kenapa?"


"Tidak ada, aku cuma kangen saja," jawab Yonna.


"Paling sebentar lagi mereka pulang, sekarang istirahatlah! Aku yakin pasti kamu masih capek, kan." Yonna kembali tersenyum, pemuda yang ada di hadapannya itu begitu perhatian dan dewasa. Ketampanan yang di milikinya pasti membuat banyaj wanita yang jatuh hati padanya.


Yonna beranjak pergi menuju kamarnya, sedangkan Vano kembali ke dapur yang menjadi tujuannya tadi.


Sesampainya di kamar, Yonna cukup tercengang melihat apa yang terjadi. Semua barang yang ada di dalam kopernya sudah keluar dari tempatnya. Koper yang berisi baju walau tidak terbongkar namun telah terbuka dan teronggok begitu saja di sudut ranjang.


"Kenapa berantakan seperti ini, Sayang?"


Noah yang duduk di lantai dengan koper biru di hadapannya itu pun menoleh, senyum lebar terukir di wajah tampan duplikat Bara versi kecil itu.


"Maaf Mommy, aku penasaran ingin tahu isinya. Ternyata hanya pakaian mommy saja. Tetapi kenapa ada jas dan kemeja pria. Itu milik siapa Mommy? Kenapa ada di dalam koper Mommy? Itu tidak seeprti pakaian baru, milik siapa itu Mommy?"


Degh!


Yonna tersentak kaget mendengar Noah mencecarnya dengan banyak pertanyaan, mata bulat bocah itu menatapnya dengan penuh minat. Yonna kembali menoleh pada kopernya yang terbuka itu. Kemeja dan jas itu tersusun di bagian atas, tentu saja bocah itu langsung melihatnya. Kemeja dan jas itu milik Bara. Saat lelaki itu beberapa kali bertindak gila memasuki kamarnya tanpa izin.


Pria itu lupa mengambil pakaiannya kembali saat keluar kamarnya. Yonna lupa untuk mengembalikannya, hingga ia sendiri juga tak mengerti kenapa membawa pakaiannya itu kembali. Kini ia sendiri yang bingung harus mengatakan apa pada putra pintarnya itu.


"Oh, itu ... itu, kemeja dan jas milik bos Mommy yang tertinggal. Jadi mau mommy kembalikan nanti," jawab Yonna sembari terkekeh caanggung.


"Bos Mommy? Kenapa pakaiannya bisa sama Mommy, apa di abuka baju di depan mommy?" Noah memiringkan wajahnya, tatapan matanya berubah tak percaya membuat Yonna gelagapan. Bocah itu terkadang berbicara seperti bukan bocah lima tahun saja.

__ADS_1


"Ini anak kenapa bertanya sudah seperti pengacara, persis bapaknya saja. Aduh ... aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku bilang jika bapaknya hampir saja memperkosaku saat itu." Yonna menggusap punggung lehernya bingung.


__ADS_2