Istri 108kg Tuan Bara

Istri 108kg Tuan Bara
Bab 51. Baru permulaan.


__ADS_3

Gavin tersentak kaget saat berbalik badan, Gisella berdiri tegak di belakangnya dengan wajah yang tak sedap di pandang serta tangan yang terlipat di dada. Entah sejak kapan wanita itu ada di tempat itu, Gavin juga tak peduli.


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Gavin dengan santai. Ia mendorong bahu istrinya agar menyingkir dari hadapannya. Bukannya menyingkir, Gisella justru meraih tangan sang suami dan menatap wajahnya serius.


“Ada hubungan apa kamu dengan wanita itu, Mas?”


“Hubungan apa?” Gavin terkekeh. “Kamu lupa atau memang bodoh, ia istri Bara dan itu artinya hubungan kami adalah saudara Ipar!” Pria itu mendengkus. Menepis tangan istrinya begitu saja.


“Ipar mana yang berciuman di tempat tersembunyi seperti ini, Mas!”


Langkah kaki Gavin seketika terhenti, ia kembali membalikkan badannya. Terlihat Gisella memandanginya dengan tatapan mata yang mulai berkaca-kaca. Menggenggam dada yang terluka, luka tak berdarah menimbulkan rasa perih yang teramat sakit.


“Aku melihat semuanya, Mas. Bagaimana kamu begitu mesra membelai rambut wanita itu, kalian seperti sepasang kekasih yang terpisahkan, lalu tak sengaja di pertemukan kembali dalam sebuah hubungan yang tak diinginkan.”


“Kamu terlalu banyak berhalusinasi akibat kecemburuan yang tidak beralasanmu itu. Sudahlah! Aku mau berangkat ke kantor dulu. Aku malas meladeni omong kosongmu.”


“Kamu bilang omong kosong! Omong kosong apa jika aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku tidak berhalusinasi!” balas Gisella cepat.


Ia melangkahkan kakinya mendekat pada sang suami. Menarik kedua kerah baju Gavin erat, tatapan matanya kini menghujam pada kedua bola mata Gavin. Hati Gisella semakin berdenyut nyeri, tak ia dapati lagi sorot mata memuja yang Gavin berikan padanya dulu. Semuanya telah berubah.


“Katakan padaku jika kamu masih mencintaiku, Mas. Wanita itu hanyalah selinganmu sebagai penghibur di tengah masalah yang terjadi di antara kita saja.”


“Lepaskan tanganmu, jangan kurang ajar!” Gavin menepis kasar tangan Gisella dari kerah bajunya itu.

__ADS_1


“Apa wanita itu yang membuat sikapmu akhir-akhir ini berubah, Mas? Apa karena ia, jawab aku Mas!” hardik wanita itu dengan suara yang semakin meninggi.


Tak Gisella pedulikan lagi jika ada yang akan mendengar perdebatan mereka pagi ini. Hatinya sudah terlanjur begitu sesak dan ingin segera diluapkan saat itu juga. Ia tak terima Gavin akan mencampakkannya begitu saja, Gisella tak rela seumur hidupnya berbagi apa yang ia miliki kepada orang lain.


“Kalau iya kenapa? Apa kamu ingin mengadukan ini pada semua keluarga, atau melaporkan ini pada Bara, hemmm?”


“Itu justru bagus, berarti aku tak perlu bersusah-susah payah lagi membuat rumah tangga mereka yang baru hitungan hari itu berakhir, dan dengan begitu aku bisa langsung menjadikan Yonna menjadi milikku saja!” lanjut Gavin dengan santainya. Mengeluarkan senyum tipis yang tampak seperti senyum iblis di mata Gisella.


Gisella terbelak mendengarkan penuturan Gavin yang tak berperasaan itu. Seakan ada batu besar yang menghantam hatinya, ia masih istri Gavin yang sah tetapi dengan entengnya lelaki itu mengatakan akan menikahi wanita lain di hadapannya.


“Kamu tak punya otak, Mas. Kamu ingin merebut istri dari kakakmu sendiri dan ingin mencampakkan aku yang merupakan istri sahmu! Apa kamu lupa aku telah memberikanmu seorang putra!”


Gisella memberontak tentu ia tak terima di perlakukan layaknya tissue bekas sekali pakai. Harga dirinya terkoyak, hatinya sakit dan amarahnya naik sampai ke ubun-ubun hingga mampu membuat jantungnya memompa dengan begitu cepat.


“Gavin!” Gisella mengangkat tangannya ke udara, belum sempat tangan itu mendarat ke pipi Gavin. Lelaki itu lebih dulu menahan tangan itu, pandangan matanya tajam. Lengan Gisella ia remas kuat hingga wanita itu kini meringis sakit, tangannya seakan remuk dalam genggaman Gavin.


“Jika kamu masih ingin hidup nyaman dalan rumah ini, maka jangan ikut campur urusanku. Bersikaplah seperti orang buta dan tuli! Jika tidak, aku bisa membuangmu kejalanan hingga hidupmu lebih buruk dari seorang gelandangan!”


Gavin menghempas kembali tangan Gisella kasar, menyebabkan wanita itu sedikit jatuh terjerembak ke lantai. Matanya nanar memandang tubuh Gavin yang pergi menjauh, mengabaikan dirinya begitu saja.


Bulir bening kristal turun mengalir di pipi dan bemuara di dagu runcing maha karya sang dokter berkualifikasi tinggi. Bibir berlipstik merah itu bergetar, giginya mengerat kencang, sampai urat-urat di leher menegang. Namun tak mampu mengeluarkan kata walau hanya sebait kalimat.


Karma? Gisella mengira tak sepantasnya Gavin mengatakan hal itu padanya. Jika memang rasa sakit ini adalah karma, seharusnya bukan hanya ia yang di hukum tetapi Gavin pun juga.

__ADS_1


Lelaki itu yang punya andil besar dalam hal menyakiti hati istri. Di balik air matanya, Gisella mengutuk Gavin atas apa yang lelaki itu lakukan, sudah banyak hal yang ia korbankan untuk lelaki itu, sekarang dengan mudahnya lelaki itu ingin mencampakkannya hanya untuk wanita lain.


Gisella tak terima. Ia tak terima jika miliknya di rebut oleh orang lain. Apa yang menjadi miliknya akan tetap berada di sampingnya.


“Yonna! Kamu harus membayar air mataku saat ini. Akan aku pastikan kamu keluar dari keluarga ini dan merasakan sakit hati yang aku rasakan sekarang! Dasar wanita murahan!” umpat wanita berwajah sembab itu dalam hati yang mulai dihinggapi rasa benci.


Kedua tangannya menggenggam rumput hingga tercabut beberapa di dalam genggaman tangan.


Di waktu yang sama, Bara mengendarai mobilnya dalam diam. Rahang yang mengerat dan tangan yang mencengkram stir kuat menandakan jika saat ini diri lelaki itu sedang dilingkupi amarah.


Yonna tak memperdulikan hal itu. Ia menggenggam ponsel di tangannya, berulang kali ia mengintip layar ponselnya seperti sedang menunggu sesuatu.


Layar ponsel yg gelap kini menyala, pada bagian atas layar terdapat tanda balon bergambar telpon berwarna hijau yang berarti sebuah pesan dari aplikasi hijau masuk. Segera Yonna membuka kunci layar.


Membuka balon percakapan itu dan membacanya. Dadanya berdebar seakan sedang menunggu sesuatu yang sangat istimewa dan penting.


[Seperti yang anda inginkan Nyonya. Mereka bertengkar hebat. Ulat itu menangis!]


Satu kalimat yang membuat dada Yonna membuncah bahagia. Senyum simpul terbit di bibirnya. Ini yang ia inginkan.


“Bagus! Ini baru permulaan, sebentar lagi aku akan menunjukkan pada kalian berdua panasnya neraka yang sesungguhnya!” batin Yonna berbicara. Tanpa sadar ia menarik bibirnya hingga membuat lengkungan ke atas.


Yonna sengaja meninggalkan tasnya di kamar sebelum beranjak ke meja makan. Ia tahu bagaimana Gavin sebenarnya. Lelaki itu termasuk pria over posesif jika hatinya sudah terpikat dengan seorang wanita. Ibarat piala, ia tak akan berhenti sampai apa yang diinginkannya itu bisa ia dapatkan.

__ADS_1


Yonna juga tahu Gavin tak pernah ingin kalah dari Bara, dengan merebut hati Gavin dan menikah dengan Bara, maka Yonna bisa menghabisi dua manusia pengkhianat itu dalam satu permainan.


__ADS_2