
Sesuai permintaan Yonna, mereka berdua honeymoon hanya sebatas keluar kota. Dataran tinggi yang disugguhi hamparan kebun teh yang menghijau, terasa adem di mata. Yonna membuka jendela mobil, ia biarkan angin yang lewat menerpa wajahnya.
Matahari yang mulai berubah keorangean menandakan sebentar lagi senja yang indah akan menyapa.
“Udara kebun teh memang beda, harum dan sejuk,” ujar wanita itu dengan senyum yang merekah.
“Kebanyakan wanita meminta suaminya unttuk membawa mereka unuk menikmati pemandangan puncak menara eifel yang gemerlap di malam hari atau menikmati terbang dengan balon udara langit cappadokia. Istriku ini justru hanya ingin menginap di penginapan yang ada di kebun teh,” ujar Bara mengomentari tingkah istrinya.
Yonna tampak begitu bahagia hanya dengan sesuatu yang begitu sederhana, sementara suaminya mampu memberikan dirinya lebih dari apa yang dipinta.
Yonna menoleh, senyum itu tak sedikit pun luntur dari bibirnya yang merah. Angin yang berhenmbus menyapu anak-anak rambut di dekat telinga, membuat wanita itu sesekali merapikan rambutnya dengan jemarinya yang kini mulai berisi.
“Aku hanya ingin menikmati alam yang tenang bersama suamiku yang kini mulai cerewet. Lagi pula jika yang sederhana saja bisa membuat kita bahagia, kenapa harus merepotkan diri dengan keriwehan berangkat keluar negeri,” jelasnya. Mereka berdua berbincang santai mengisi pejalanan agar tidak membosankan.
“Apa kamu keberatan, Mas? Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?” Yonna bertanya, ia tak ingin egois dengan hanya mengunjungi tempat yang ia suka saja. Perjalanan ini adalah perjalanan liburan mereka berdua, ia tak ingin suaminya terpaksa hanya karena demi memenuhi keinginnanya saja.
“Keberatan? Karena apa? Selagi itu pergi dengan istriku yang cantik, jangankan ke kebunteh, nginap di pinggir tebing jurang aja aku ikut.”
“Dasar gombal.” Pipi Yonna merona mendengar rayuan suaminya yang begitu receh, namun mampu menggetarkan hatinya.
Tawa Bara berderai. Ia bukan lelaki yang pandai mengeluarkan perkataan manis, namun seiring berjalannya waktu. Apa yang keluar dari mulutnya seakan seperti permen gulali.
__ADS_1
Mobil yang mereka memasuki halaman rerumputan yang tertata rapi. Sebuah rumah dua lantai dari material kayu jati. Warna coklat bangunan itu menyatu dengan serasi pada alam. Yonna turun dari mobil, matanya mengedar ke sekitar, hamparan pohon pinus yang menjulang menjadi pemandangan pertama yang memanjakan mata.
“Bagaimana, apa kamu suka? Ini villa yang baru saja aku beli.”
“Kenapa harus beli, Mas? Kan bisa sewa saja, toh kita ke sini cuma menginap beberapa hari saja,” balas Yonna. Ia menatap suaminya yang baru keluar dari mobil dengan pandangan seakan tak pecaya jika suaminya akan membeli tempat itu hanya untuk bulan madu mereka. Walau dalam hati Yonna menyukai tempat tersebut.
Suasananya begitu pas untuk melepas penat setelah berjibaku penatnya kehidupan di kota yang begitu sesak.
“Kebetulan yan punya villa ini membutuhkan uang, dan kebetulan kamu ingin berlibur di tempat ini. Anggap saja aset, kapan-kapan kita bisa kembali berlibur di tempat ini. Bersama anak-anak kita nanti,” jelas Bara. Ia mengajak istrinya masuk.
Di depan pintu, mereka berdua telah disambut pasangan suami-istri yan diperkirakan berumur 35 tahunan yang tersenyum ramah padanya. Dengan rasa hormat.
Yonna menyalami sepasang suami-istri itu. Ia berbincang santai dengan Bu Narmi. Wanita itu begitu ramah dengan bahasa jawanya yang medok, membuat siapa pun nyaman mengobrol dengannya.
Sementara Pak Sigit membantu Bara untuk mengeluarkan dua buah koper besar yang ada di bagasi.
~ ~ ~
Angin malam behembus kencang, menyapu dedaunan yang bergesekan menimulkan bunyi bergemerisik menyapa bulan yang seakan besembunyi malu-malu di balik selimut hitam. Wanita berbaju lusuh berjalan terseok-seok dengan perutnya yang kian membuncit. Wajah itu pucat pasi, tubuhnya pun terasa lemas karena taka da asupan gizi yang mengisi lambungnya.
“Aku harus ke mana lagi sekarang? Perutku lapar. Aku sudah tak sanggup lagi berjalan.”
Wanita itu meringis dalam kegelapan malam yang dingin. Rasa penyesalan dan banyangan kehidupan yang berkecukupan selama ini mengisi pikirannya.
Air yang telah tertumpah di tanah tak dapat di ambil kembali. Begitu pula kehidupan yang Gisella jalani. Ya … wanita itu bernama Gisella.
__ADS_1
Gisella yang tak dapat membayar sewa kamar terpaksa terusir begitu saja. Tak ada sepeser pun uang di tangan membuat ia dengan terpaksa menjual barang-barang yang ia miliki hanya untuk dapat membeli makanan untuk mengisi perutnya yang kosong. Namun sayang hanya mampu bertahan selama beberapa hari.
Setelah itu hidupnya tak lebih buruk dari seorang gembel yang terlunta-lunta di pinggir jalan tanpa tujuan. Lama kaki itu berjalan hingga berdiri di depan sebuah rumah tua yang jauh dari perkampungan.
Lampu berwarna kuning yang redup menerangi rumah itu. Begitu remang-remang. Tak ada lagi rasa takut di hati Gisella jika kelaparan dan kematian sudah ada di depan mata.
Tangan kurus itu mengetuk pintu papan kasar itu dengan kuat. Sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
“Siapa? Tunggu sebentar,” teriak suara dari dalam. Suara seorang wanita.
Gisella menunggu sembari memeluk kedua lengannya. Angin malam begitu menusuk tulang, giginya pun mulai bergemerutuk.
Kret!
Pintu terbuka, menampilkan seorang wanita yang terlihat sudah tua. Namun posisinya yang membelakangi cahaya membuat wajah wanita tua itu pun tak terlihat dengan jelas.
“Kamu siapa? Dan ada perlu apa?” tanya wanita tua itu bingung. Ia menatap Gisella dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Gisella terpaku, ada rasa ragu yang tergambar di wajahnya. Mungkinkah wanita tua itu memiliki apa yang ia butuhkan? Sementara rumahnya saja yang reot terlihat hampir roboh.
“Ma-maafkan aku, Bu. Ta-tapi … bolehkah aku meminta sedikit makanan. Perutku lapar sekali. Makanan sisa pun tak apa, asalkan bisa mengganjal perutku yang lapar ini,” pinta Gisella memohon.
Hatinya berdenyut nyeri, seumur hidup baru kali ini ia mengemis pada orang lain hanya untuk sepiring nasi.
“Astaqfirullah, Nak. Kamu sedang hamil? Di mana suamimu? Ayo masuk!” Wanita tua itu mengajak Gisella untuk masuk. Sebuah rumah papan yang tak begitu besar seketika memberikannya kehangatan dari dinginnya angin malam.
Ibu tua yang tak ia ketahui siapa namanya itu mengajaknya untuk duduk pada sofa yang tak hanya usang. Namun terdapat sobekan di setiap sisinya. Busanya yang tipis tak lagi memberikan keempukan bagi yang mendudukinya.
“Kamu dari mana dan mau kemana?” tanya wanita tua itu. Gisella bingung harus menjawab apa, ia langsung menjadi orang bodoh.
“Ya ampun, Ibu sampai lupa. Kamu tunggu di sini ya. Jangan sungkan-sungkan, jangan takut!”
Wanita tua itu langsung berjalan ke arah belakang di balik lemari yang mulai keropos. Tak butuh waktu lama, wanita dengan rambut yang tersanggul itu keluar dengan piring kecil yang berisi sesuatu berwarna putih di tangan serta segelas air putih di tangan satu lagi.
“Ibu ini orang miskin, Nak. Tak ada apa-apa yang bisa Ibu berikan padamu selain singkong rebus ini. Makanlah, mumpung masih hangat! Ini bisa mengenyangkan perutmu yang lapar.”
__ADS_1
Tanpa banyak protes, Gisella yang lapar langsung menerima apa yang wanita tua itu berikan. Begitu terburu-buru swakan ada orang lain yang akan merebut darinya. Air mata yang mengalir berlomba turun seiring dengan potongan singkong yang memasuki kerongkongannya. Miris.