
Vano berjalan setengah berlari, ia berjalan lebih dulu di depan kedua orang tuanya. Setelah mendapat kabar dari Jelita, pemuda itu pun langsung bergegas datang ke rumah sakit. Robert dan Maya yang mendengar juga ikut datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi anaknya.
Ceklek!
Pintu rawat Yonna terbuka. Vano melihat Bara duduk di samping ranjang Yonna sembari menggenggam tangannya erat.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Vano. Amarahnya seketika menguap begitu saja setelah melihat bagaimana Bara tampak begitu sedih menatap kakaknya.
"Sudah mulai mendingan!" jawab Bara singkat.
Tak berapa lama Maya dan Robert tiba, kedua orang tua itu dengan napas sedikit tersengal-sengal masuk ke dalam ruangan putih yang hanya terisi satu ranjang pasien dan sofa panjang di sudut ruangan.
Bara menghampiri kedua mertuanya dan memberikan salam. Mereka berbincang sebentar membicarakan kondisi Yonna saat ini. Maya mendekati ranjang putrinya, menciumi kening dan mengusap wajah putrinya sayang. Hatinya sebagai seorang Ibu pilu melihat putri yang ia sayang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang.
"Bisa ikut aku keluar sebentar!"
Bara menoleh pada Vano, ia mengangguk dan mengajak Vano untuk ke taman kecil yang ada di bagian samping gedung rumah sakit itu.
Mereka berdua duduk di batu-batu besar dekat air mancur. Langit yang gelap menbentang sepanjang angkasa. Hanya ada dua bola lampu besar seperti lolipop tertancap di tanah dalam posisi yang berlawanan.
Lampu itu tak mampu menerangi seluruh taman, hanya sinar rembulan yang membuat taman gelap itu menjadi remang-remang.
__ADS_1
Vano mengeluarkan kotak berwarna putih yang berisi batangan kecil nikotin. Mengeluarkannya sebatang dan menjepitnya di antara kedua bibirnya. Lalu menghidupkan pemantik dan menyulutkan ujungnya hingga keluar asap putih menggumpal dari bibir dan hidungnya.
"Mau? Ini cukup ampuh meredakan segala rasa yang berkecamuk di hatimu," tawar Vano pada saudara iparnya itu. Ia tahu Bara tidak perokok, tetapi sekedar basa-basi ia menawarkan barang itu padanya.
Entah apa yang mendorong Bara, ia menerimanya dan melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan Vano. Kini dua lelaki masing-masing dengan sebatang rokok di tangan sedang berbincang dari hati ke hati. Tak ada amarah ataupun emosi.
"Maafkan kakakku, ia mungkin tak sadar apa yang dilakukannya berdampak buruk pada calon anaknya. Atau mungkin ia pun juga tak sadar jika sedang mengandung saat itu."
Vano mulai membuka pembicaraan. Sebagai sesama lelaki ia tahu apa yang dirasakan Bara saat ini, dari pancaran mata dan keterdiaman Bara cukup menjelaskan semua tanpa harus mengeluarkan kata.
Bara menarik napas panjang, ia kembali menghisap batangan nikotin itu dan menghembuskannya ke udara. Ia cukup mahir untuk seseorang yang tidak pernah menyentuh benda tersebut.
Vano tersenyum tipis. Mereka berdua kini berbincang bukan lagi sebagai seorang ipar namun sebagai sahabat yang saling bertukar cerita.
"Kamu mau tahu sebuah kisah, bagaimana tranformasi dari seorang Alice menjadi Yonna!" tanpa menunggu jawaban dari Bara, Vano mulai bercerita perjalannan kakaknya menuju luar negeri membawa janin yang sedang tumbuh dalam rahim.
Dalam ketidakberdayaan, rasa sakit, malu dan juga rasa sakit atas sebuah pengkhianatan melebur menjadi satu dalam diri seorang wanita gemuk berbobot melebihi 100kg. Harga diri dan kepercayaan dirinya hancur berkeping-keping, bahkan saat itu Alice gemuk takut melihat dirinya sendiri di depan cermin.
Bara mendengarkan dengan begitu khidmat, meresapi setiap kalimat yang pemuda itu tuturkan. Hati Bara bergetar dengan rasa sakit yang cukup kuat, ia tak pernah menyangka perjalanan hidup Alice begitu menyedihkan.
"Saat hamil Noah mentalnya sudah mulai terganggu, di tambah berat tubuhnya yang semakin meningkat membuatnya semakin histeris. Merutuki dirinya sendiri atas ketidaksempurnaan fisik yang ia alami. Dokter sempat menyarankan untuk menggugurkan kandungan, karena depresi Alice yang bertambah parah, dokter mengharuskan ia mengonsumsi obat-obatan yang mungkin akan mengganggu perkembangan janin. Namun Kakak menolak. Lahirnya anakmu sebuah anugrah atas alam bawah sadarnya terhadap janin yang terus berkembang di dalam rahim, di tengah mentalnya yang bermasalah."
__ADS_1
"Setelah Noah lahir, Alice tak dapat merawat anaknya sendiri karena ia mengalami kelumpuhan sementara akibat tubuh yang terlalu besar, ia melakukan segala macam olah raga serta mengatur pola makan, tetapi itu tidak membuat tubuhnya menjadi kurus, hanya sebatas menjaga tubuhnya menjadi stabil hingga pada pertengahan musim semi. Aku berkunjung ke Jerman dan mendapati sesuatu yang mengejutkan. Ia berhasil memangkas hampir setengah bobot tubuh yang ia miliki, ia juga mulai bisa bebas berlarian kesana kemari mengejar Noah yang sedang aktif di usia dua tahun."
"Apa ia menjalani operasi? Seperti sedot lemak atau pemotongan usus?" tanya Bara penasaran. Ia ingin mengetahui banyak tetang istrinya.
Vano menggelengkan kepala. "Ia mengonsumsi pil pelangsing dan memangkas habis asupan makanannya hingga aku pikir ia mungkin bisa mati dengan obsesinya itu. Tapi lihatlah, babi putih itu kini telah berubah menjadi kupu-kupu, kan," ujar Vano sembari terkekeh.
"Babi putih?" Bara sedikit terganggu dengan kalimat yang menurutnya tak pantas di berikan pada seorang manusia.
"Ya ... gelar yang selalu diucapkan mantan suaminya selama 2 tahun pernikahan mereka. Serta banyak gelar yang lainnya. Lidah memang tidak bertuan tapi satu kalimat cukup tangguh untuk mematikan mental seseorang!"
Bara mengepalkan kedua tangannya. Ia marah pada Gavin, Bara tahu selama pernikahannya dengan Alice. Gavin tak pernah bersikap baik tetapi memberikan gelar dengan nama hewan seperti itu sangat tidak pantas menurutnya. Hatinya panas dan menggelegak.
Vano menjatuhkan puntung rokoknya ke tanah dan menginjaknya secara kuat agar Bara itu mati tak bersisi.
"Seseorang tak akan pernah tahu penderitaan orang lain sebelum ia merasakan sendiri apa yang orang lain itu rasakan. Kakakku saat ini sedang kehilangan kepercayaan dirinya, ia diliputi ketakutan tak akan ada orang yang mencintainya jika ia tidak lagi sempurna. Baginya, cinta tak ada yang tulus. cinta dapat ia dapatkan asalkan ia bisa terus menarik di depan mata setiap orang."
"Jika kamu benar-benar menyayangi kakakku dengan tulus, tolong obati lukanya. Ia hanya butuh di cintai dengan segenap hati terlepas ia sempurna ataupun tidak!" lanjut Vano dengan mata yang mulai berkaca. Sebagai seorang adik yang selalu memantau kondisi sang kakak, Vano tahu betul keinginan yang tak terucap dari hati Yonna yang paling dalam.
Vano berdiri dan menepuk pundak kakak ipar yang berbeda usia cukup jauh darinya itu.
"Aku yakin kamu lelaki yang cocok untuk kakakku. Jadi tolong ya kakak Ipar, tolong jaga kakakku yang keras kepala itu," ujar Vano sembari tersenyum. Ia pun berlalu pergi meninggalkan Bara dalam kebekuannya.
__ADS_1